Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Mengenai Cara Hizbut Tahrir dalam Menjelaskan Dirinya

June 03, 2013
4673

(Seri Jawaban Al-Alim Atha' bin Khalil Abu ar-Rasytah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan para Pengikut di Laman Facebook-nya)

Jawaban Pertanyaan:

Mengenai Cara Hizbut Tahrir dalam Menjelaskan Dirinya

Kepada Dede Tahboub


Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,

Saya memiliki komentar terhadap salah satu halaman dalam kitab Hizbut Tahrir yang menjelaskan tentang profil Hizb (At-Ta'rif) yang ditulis pada tanggal 9/5/1985. Di halaman 20, saya mendapati bahwa cara Hizb dalam mengekspresikan dirinya menjadikannya seolah-olah mendekatkan dirinya pada derajat Tuhan. Mungkin inilah yang menjadi sebab tertundanya pertolongan (nashr) kepada kita hingga saat ini. Di dalam kitab tersebut dikatakan, "Hizb telah menghindari seluruh kekurangan dan sebab-sebab yang menyebabkan kegagalan kelompok-kelompok (takatul) yang berdiri untuk membangkitkan kaum Muslim dengan Islam." Di sini, Hizb menafikan sifat salah dari dirinya, padahal ini adalah sifat Rabbul 'Alamin, karena setiap makhluk pasti bersalah. Namun, seandainya ia mengatakan hal tersebut dan menambahkan kalimat bi-idznillah (dengan izin Allah), mungkin itu akan menjadi sebab turunnya bantuan Allah kepada kita.

Juga dikatakannya: "Bahkan wajib bagi umat untuk memeluknya dan berjalan bersamanya, karena ia adalah satu-satunya partai yang mencerna idenya..." Meskipun kata "satu-satunya" (al-wahid) di sana dikaitkan dengan sifat-sifat tertentu, namun saya mendapati bahwa sifat wahdaniyah (keesaan/tunggal) adalah khusus bagi Allah Rabbul 'Alamin. Tidak ada makhluk yang "satu-satunya" (tunggal) terpisah dari yang lain dalam sifat apa pun, kecuali yang dikhususkan oleh Allah SWT dengan mukjizat. Oleh karena itu, saya melihat bahwa kata "satu-satunya" mengandung suatu kesalahan, yang mungkin saja merupakan kesalahan besar yang menunda pertolongan Allah bagi kita.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Tampaknya telah terjadi kerancuan pada diri Anda dalam memahami maksud dari ungkapan yang disebutkan. Ungkapan yang ada adalah: "Hizb telah menghindari seluruh kekurangan dan sebab-sebab yang menyebabkan kegagalan kelompok-kelompok yang berdiri untuk membangkitkan kaum Muslim dengan Islam." (At-Ta'rif)

Hizb menyebutkan hal itu dalam kitab At-Ta'rif (Mengenal Hizbut Tahrir) setelah sebelumnya merinci sebab-sebab kegagalan gerakan-gerakan tersebut dalam kitab At-Takatul (Pembentukan Partai), di mana disebutkan:

"Pengamat terhadap upaya-upaya ini, dan pengkaji terhadap gerakan-gerakan ini, akan melihat bahwa sebab utama kegagalan mereka semua—dari sisi pengorganisasian (takatul)—kembali kepada empat hal:

Pertama: Gerakan-gerakan itu berdiri di atas pemikiran umum yang tidak ditentukan (muhaddadah), bahkan samar atau semi-samar, di samping kehilangan kristalisasi (tabalwur), kemurnian (naqa’), dan kejernihan (shafa’).

Kedua: Gerakan-gerakan itu tidak mengetahui metode (thariqah) untuk melaksanakan pemikirannya, melainkan pemikirannya berjalan dengan sarana-sarana yang improvisasi dan berliku, serta diliputi oleh kesamaran dan ketidakjelasan.

Ketiga: Gerakan-gerakan itu bersandar pada orang-orang yang belum sempurna kesadaran yang benar pada diri mereka, dan belum terpusat kemauan (iradah) yang benar pada mereka, melainkan mereka hanyalah orang-orang yang memiliki keinginan dan semangat belaka.

Keempat: Orang-orang yang memikul beban gerakan-gerakan tersebut tidak memiliki ikatan (rabithah) yang benar di antara mereka selain sekadar pengorganisasian yang mengambil bentuk-bentuk amal dan berbagai istilah nama." (At-Takatul)

Kemudian Hizb berijtihad dan menghindari sebab-sebab tersebut. Lalu di mana letak kesalahan dalam perkataan "telah menghindari seluruh kekurangan dan sebab-sebab tersebut"? Apa hubungannya hal itu dengan pernyataan bahwa setiap makhluk bisa bersalah, dan hanya Allah semata yang terjaga dari segala kekurangan?

Sekarang saya bertanya kepada Anda: Jika Anda adalah seorang guru sekolah, lalu Anda berkata kepada seorang siswi setelah melihat jawabannya, "Ada kekurangan dalam jawabanmu begini dan begitu," dan Anda menentukan kekurangan itu pada poin 1, 2, 3... dan seterusnya, lalu Anda berkata, "Pergilah dan lengkapi kekurangan itu." Kemudian siswi itu pergi dan memperbaiki kekurangan tersebut, lalu kembali kepada Anda seraya berkata, "Saya telah memperbaiki semua kekurangan yang Ibu Guru sebutkan tadi, dan inilah jawaban saya yang baru." Apakah siswi tersebut telah menyematkan sifat-sifat Rabbul 'Alamin pada dirinya sendiri? Apakah demikian...?

Adapun catatan Anda yang lain, Anda mengatakan: "Bahkan wajib bagi umat untuk memeluknya dan berjalan bersamanya, karena ia adalah satu-satunya partai yang mencerna idenya...", saya akan kutipkan untuk Anda paragraf sebelum kalimat ini, kemudian paragraf yang Anda kutip dalam pertanyaan. Di sana disebutkan sebagai berikut:

"Maka ia (Hizb) memahami ide (fikrah) dan metode (thariqah) dengan pemahaman intelektual yang teliti dari wahyu yang diturunkan, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya berupa Ijmak Sahabat dan Qiyas. Hizb tidak menjadikan realitas (waqi’) sebagai sumber pemikirannya, melainkan sebagai objek pemikiran untuk diubah sesuai dengan hukum-hukum Islam. Hizb berkomitmen pada metode Rasulullah ﷺ dalam perjalanannya mengemban dakwah di Mekah hingga beliau menegakkan negara di Madinah, dan menjadikan ikatan yang menghubungkan antar anggotanya adalah akidah serta ide-ide dan hukum-hukum Islam yang diadopsinya.

Dengan demikian, Hizb layak untuk dipeluk oleh umat dan berjalan bersamanya. Bahkan wajib bagi umat untuk memeluknya dan berjalan bersamanya karena ia adalah satu-satunya partai yang mencerna idenya, melihat dengan jelas metodenya, memahami persoalannya, dan berkomitmen mengikuti jejak perjalanan Rasulullah ﷺ tanpa menyimpang darinya, dan tanpa ada satu hal pun yang memalingkannya dari mewujudkan tujuannya." (At-Takatul)

Anda mengomentari perkataan "karena ia adalah satu-satunya partai yang mencerna idenya, melihat dengan jelas metodenya...", dengan mengatakan bahwa "wahdaniyah" adalah sifat Al-Khaliq Subhanahu.

Persoalannya berbeda, wahai saudari yang mulia. Hizb tidak mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya dalam segala hal. Namun, Hizb telah melakukan istinbath (penggalian hukum) terhadap suatu ide dan metode dengan penggalian yang benar berdasarkan dalil-dalil syarak sesuai dengan kaidah usul. Maka secara alamiah, Hizb-lah yang mencerna ide yang telah digalinya sendiri tersebut. Pembicaraan di sini bukan tentang individu, melainkan tentang partai yang mengadopsi ide dan metode ini. Setiap orang yang mencerna ide dan metode ini, maka ia adalah bagian dari Hizb dan sifat itu berlaku padanya.

Dengan demikian, adalah benar jika dikatakan terhadap partai yang menggali metode dan idenya sendiri bahwa ia adalah satu-satunya yang mencerna ide tersebut. Sebab, dialah yang menggali, mengkaji, mengamalkan, dan memperjuangkannya. Lalu apa salahnya jika dikatakan bahwa ia adalah satu-satunya yang mencerna ide ini? Dan apa hubungannya perkataan ini dengan keesaan (wahdaniyah) Allah SWT, yang Maha Esa (Al-Ahad), tempat bergantung (Ash-Shamad), yang tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya?

Saya memohon kepada Allah SWT agar memberikan petunjuk kepada Anda menuju urusan yang paling lurus, dan melapangkan dada Anda kepada apa yang baik. Dan Allah SWT adalah Pemberi Petunjuk ke jalan yang lurus.

Saudaramu, Atha' bin Khalil Abu ar-Rasytah

Link Jawaban dari Laman Facebook Amir: Facebook

Link Jawaban dari Situs Web Amir: Situs Web Amir

Link Jawaban dari Laman Google Plus Amir: Google Plus

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda