Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Pengumuman Presiden Sri Lanka tentang Kemenangan Pemerintahnya atas Pejuang Tamil

May 23, 2009
1347

Pertanyaan:

Pada 19 Mei 2009, Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa mengumumkan melalui layar televisi kemenangan pemerintahnya atas pejuang Macan Tamil dengan mengatakan, "Tanah air kita telah sepenuhnya bebas dari separatis teroris." Televisi pemerintah juga telah menayangkan jasad pemimpin pejuang Macan Tamil setelah berhentinya pertempuran yang berlangsung antara pemerintah dan Macan Tamil. Kepala Staf Jenderal Sarath Fonseka mengomentari peristiwa ini dengan mengatakan, "Beberapa jam yang lalu, jasad pemimpin teroris Velupillai yang telah menghancurkan negara ini telah ditemukan." Presiden juga mencoba menenangkan penduduk Tamil yang khawatir dengan mengatakan, "Tujuan kami adalah menyelamatkan penduduk Tamil dari cengkeraman pemberontak, dan sekarang kita semua harus hidup setara di negara yang merdeka ini."

Lantas, apa hakikat konflik di Sri Lanka? Apakah ini konflik lokal, regional, atau internasional? Demi kepentingan siapakah hasil konflik ini? Dan apakah dapat dikatakan bahwa konflik di pulau tersebut telah berakhir atau masih memiliki buntut di kemudian hari?

Jawaban:

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami sampaikan hal-hal berikut:

1- Konflik yang berlangsung antara pemerintah Sri Lanka dan gerakan pejuang Macan Tamil telah digambarkan sebagai konflik terpanjang. Hakikatnya, ini adalah konflik antara Amerika dan Inggris untuk mengendalikan perairan strategis Sri Lanka. Konflik ini dipicu melalui kekuatan regional di kawasan tersebut, yaitu Pakistan dan India.

2- Pentingnya Sri Lanka terletak pada letak geografisnya. Sri Lanka berjarak 19 mil dari pesisir selatan India, yang berarti terletak di salah satu jalur air terpenting yang menghubungkan Asia Barat dan Asia Timur. Jaraknya hanya 22 mil pada titik tersempit dari anak benua India yang disebut Selat Palk (Palk Strait). Amerika telah berulang kali berupaya mengendalikan Selat Palk untuk mengubahnya menjadi pangkalan militer Amerika guna membantunya menguasai Samudra Hindia dan mengendalikan jalur minyak Timur Tengah serta Afrika yang menuju ke Cina, sehingga membatasi ambisi ekspansi maritim Cina ke arah Barat. Segera setelah serangan 11 September, Menteri Pertahanan AS Rumsfeld menumpang kapal untuk memperkokoh hubungan Amerika-Sri Lanka. Sebab, pengendalian atas Selat Palk mengancam jalur air yang menghubungkan India dengan negara-negara bagian timurnya, yang akan memaksa India untuk berlayar memutari Sri Lanka. Hal ini berarti memperpanjang jarak tempuh untuk mencapai negara-negara bagian tersebut dan meningkatkan biaya perjalanan secara signifikan. Selain itu, pengendalian atas Selat Palk membatasi ambisi India sebagai kekuatan regional dan membatasi ekspansinya ke arah Timur. Hal inilah yang mendorong Cina untuk memperkuat hubungan militernya dengan pemerintah Sri Lanka serta menyuplai senjata dan peralatan militer. Perlu dicatat bahwa kegagalan India dalam mengendalikan Selat Palk berarti terganggunya kepentingan Inggris di kawasan tersebut. Selama ratusan tahun, Inggris telah berupaya menguasai Samudra Hindia untuk mengendalikan jalur-jalur air di kawasan itu guna memasok barang-barang ke pasar-pasar Timur. Sebaliknya, kendali Amerika atas Samudra Hindia dan Selat Palk merugikan Eropa di samping Inggris. Artinya, penguasaan atas Sri Lanka adalah tujuan yang sangat penting bagi Amerika yang memungkinkannya mengendalikan ancaman Cina serta membatasi pengaruh Inggris dan Eropa di Asia Selatan dan Timur Dekat.

3- Konflik ini bermula ketika Inggris mendatangkan warga Tamil dari provinsi Tamil Nadu, India, untuk bekerja di perkebunan kopi dan teh, di mana Inggris mengubah pulau tersebut menjadi perkebunan utama untuk memproduksi teh dan kopi. Namun, mayoritas penganut Buddha Sinhala membenci perlakuan rasis Inggris, terutama pengutamaan penganut Hindu Tamil atas mereka. Kemerdekaan Sri Lanka dari Inggris pada tahun 1948 menjadi penegas pahitnya hubungan antara kedua kelompok tersebut. Pemerintah-pemerintah Sinhala yang silih berganti sengaja menunda pemberian hak-hak politik yang layak bagi warga Tamil yang tinggal di utara Sri Lanka. Karena alasan ini, warga Tamil kehilangan kepercayaan kepada para pemimpin politik mereka dan pada tatanan politik Sri Lanka yang tidak pernah berlaku adil kepada mereka. Hal ini menjadi penyebab munculnya berbagai gerakan bersenjata, yang paling terkenal adalah gerakan Macan Tamil yang dibentuk pada tahun 1976 di bawah pimpinan pendirinya, Velupillai Prabhakaran. Tujuan gerakan ini adalah menciptakan negara Tamil yang merdeka bernama "Tamil Eelam" di utara dan timur pulau tersebut. Gerakan ini baru memperoleh dukungan rakyat secara luas pada tahun 1980-an, terutama setelah kegagalan upaya reformasi konstitusi pada tahun 1983.

Gerakan ini sempat disusupi oleh agen-agen Inggris, India, dan Amerika, yang menyebabkan mereka diarahkan untuk memerangi gerakan bersenjata lainnya. Namun, Inggris memiliki pengaruh yang lebih besar, terutama pada masa pemerintahan Partai Kongres di India. Pada tahun 1980, Inggris mendorong India untuk campur tangan dalam masalah gerakan Macan Tamil dan pemerintah Sri Lanka guna merespons pertumbuhan pengaruh Amerika di pulau tersebut. Hal itu dilakukan dengan kedok yang dapat diterima oleh pemerintah Sri Lanka, yaitu mencegah warga Tamil India bergabung dengan warga Tamil di utara Sri Lanka untuk memisahkan wilayah utara dari bagian pulau lainnya. Padahal, kenyataannya adalah pemerintah Partai Kongres di India saat itu melihat bahwa tentara Sri Lanka hampir saja menumpas gerakan Macan Tamil. Intervensi India berlanjut dalam bentuk politik di permukaan, dan dalam bentuk dukungan kepada Macan Tamil di balik layar, hingga pemerintah India berhasil pada 29 Juli 1987 menyepakati perjanjian damai antara Presiden India Rajiv Gandhi dan Presiden Sri Lanka Jayewardene. Melalui perjanjian ini, pemerintah Sri Lanka memberikan sejumlah konsesi kepada warga Tamil, termasuk melibatkan wilayah Tamil dalam kekuasaan, dan mengizinkan keberadaan pasukan perdamaian India sebagai imbalan atas penghentian dukungan India terhadap gerakan bersenjata Tamil.

4- Kegagalan India dalam menduduki sebagian wilayah Sri Lanka menyebabkan penarikan pasukan India yang memalukan. Kemudian Amerika memanfaatkan perasaan benci terhadap India untuk ikut campur antara gerakan Macan Tamil dan pemerintah Sri Lanka. Namun, Amerika lebih memilih untuk memperkuat hubungannya dengan pemerintah daripada dengan gerakan tersebut. Karena itu, hubungan antara Amerika dan pemerintah Sri Lanka semakin tumbuh, terutama setelah peristiwa 11 September. Amerika kemudian memberikan lampu hijau kepada pemerintah baru-baru ini untuk menumpas Macan Tamil dalam kerangka perang global melawan teroris (war on terrorism), sebagaimana Amerika memandang perlunya membangun ikatan militer dan ekonomi yang kuat dengan Sri Lanka. Pada tahun 2002, Washington berhasil mencapai kesepakatan yang memungkinkan kapal perang dan pesawat tempur Amerika menggunakan wilayah Sri Lanka. Pada tahun 2002 pula, Presiden AS Bush bertemu dengan Perdana Menteri Sri Lanka Wickremesinghe di Gedung Putih dan mendapatkan kesepakatan untuk perdamaian dan pembangunan ekonomi di Sri Lanka. Amerika dan Sri Lanka menandatangani kesepakatan perdagangan bersama (TIFA) pada tahun 2002. Pihak yang paling dirugikan dari pendekatan antara kedua negara ini adalah Inggris, yang mendapati dirinya terisolasi karena dua alasan. Pertama: kekalahan Partai Kongres India dalam pemilu India dan kemenangan Partai Janata yang menentang sikap memusuhi kesepakatan militer dan ekonomi Amerika dengan Sri Lanka. Alasan kedua: bahwa pemerintah Sri Lanka telah berada di bawah pengaruh Amerika, yang berarti satu-satunya pilihan Inggris adalah mendukung gerakan Macan Tamil hingga gerakan tersebut akhirnya ditumpas baru-baru ini.

5- Amerika menunggu terpilihnya Presiden Mahinda Rajapaksa sebagai Presiden Sri Lanka pada tahun 2005 untuk memastikan dukungan pemerintah Sri Lanka guna menumpas gerakan Macan Tamil. Faktanya, kampanye pemilihan Mahinda Rajapaksa didasarkan pada janjinya untuk menumpas gerakan Macan Tamil, terutama karena Mahinda Rajapaksa telah membentuk aliansi dengan partai ekstremis Jathika Hela Urumaya dan dengan para biksu Buddha radikal. Amerika menyambut baik terpilihnya kembali Mahinda Rajapaksa, di mana Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Adam Ereli dalam konferensi pers yang diadakan di Washington mengatakan, "Kami akan terus menjaga hubungan historis kedua negara kita, kami menantikan kerja sama dengan Presiden Mahinda Rajapaksa karena ia telah menghadapi berbagai tantangan kualitatif." Amerika melalui Mahinda Rajapaksa dan saudaranya yang menjabat sebagai menteri pertahanan telah berhasil menumpas pejuang Macan Tamil. Menyadari langkah kesepakatan Amerika dengan Sri Lanka tersebut, Inggris, India, dan Eropa telah berupaya sekuat tenaga untuk mencegah pemerintah Mahinda Rajapaksa menumpas pejuang Macan Tamil.

6- Amerika telah mendukung pemerintah Mahinda Rajapaksa dengan senjata yang efektif melalui Pakistan. Pada Maret 2006, Sri Lanka meminta Pakistan untuk menyediakannya sistem peluncur roket saat Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa mengunjungi Pakistan. Pada Mei 2008, Panglima Angkatan Darat Sri Lanka Fonseka menyepakati perjanjian dengan Pakistan untuk membeli 22 tank Pakistan jenis Al-Khalid senilai 100 juta dolar. Di samping itu, otoritas Pakistan menyuplai banyak senjata kepada Sri Lanka senilai 65 juta dolar. Pada 19 Januari 2009, dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan Pakistan Syed Athar Ali dan rekannya dari Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa di Rawalpindi, kedua belah pihak sepakat untuk memperkuat kerja sama militer dalam kerangka latihan militer bersama dan pertukaran informasi intelijen untuk memerangi terorisme.

7- Ketika kemenangan beruntun melawan Macan Tamil tercapai, Inggris dan kaki tangannya, India, bersama Eropa berupaya mewujudkan rekonsiliasi antara pemerintah Mahinda Rajapaksa dan Macan Tamil. Tujuan mereka mengadakan perdamaian adalah untuk mencegah penumpasan Macan Tamil. Inggris dan India menyaringkan suara mereka dengan dalih pembunuhan warga sipil Tamil dalam konflik yang sedang berlangsung. Inggris, India, dan Eropa aktif dalam beberapa hari terakhir untuk mendesak gencatan senjata dan mendorong para demonstran Tamil di seluruh dunia untuk berdemonstrasi menentang pembunuhan warga sipil oleh pemerintah Mahinda Rajapaksa. Adapun Amerika, ia bermain kata-kata tentang perdamaian dan gencatan senjata, namun sebenarnya mendorong pemerintah Sri Lanka untuk menolak hal tersebut, lalu mendukungnya melalui Pakistan. Semua itu membuat Mahinda Rajapaksa menolak tawaran perdamaian dan gencatan senjata. Dengan demikian, pemerintah Sri Lanka telah mengabaikan seruan-seruan tersebut, dan akhirnya berhasil menghancurkan kekuatan Macan Tamil—organisasi militer yang pernah menguasai wilayah luas di utara pulau, mengendalikan aparat kepolisian, serta membanggakan kekuatan angkatan laut dan angkatan udara mereka.

Kekalahan Macan Tamil berarti bahwa pengaruh India dan Inggris di utara pulau tersebut telah menyusut secara signifikan. Hal ini memberi Amerika peluang untuk memperkuat kendalinya atas Sri Lanka dan membangun pangkalan militer permanen di negara tersebut. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi Amerika untuk mengendalikan Selat Palk dan mengintensifkan kehadiran angkatan lautnya di Samudra Hindia guna menghadapi ancaman Cina. Lebih dari itu, Amerika dapat menggunakan Sri Lanka untuk menekan India—terutama setelah kembalinya Partai Kongres di India untuk berkuasa selama lima tahun ke depan—agar mengikuti kebijakan Amerika di kawasan itu sekali lagi. Bagaimanapun, banyak hal yang menanti Mahinda Rajapaksa untuk memperbaiki hubungan dengan warga Tamil dan menyelaraskan dengan tuntutan politik mereka. Karena Amerika menyadari hal itu, ia telah mendahului keadaan dengan memberikan bantuan kepada pemerintah Mahinda Rajapaksa melalui Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund) untuk memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut. Sebab, stabilitas Sri Lanka adalah kepentingan vital bagi Amerika. Melihat sejarah kawasan ini menunjukkan bahwa Inggris dan kaki tangannya, India, akan bekerja untuk membangun kembali pengaruh mereka di Sri Lanka. Mungkin konflik Anglo-Amerika telah mereda saat ini, namun ia belumlah berakhir.

28 Jumadal Ula 1430 H 23 Mei 2009 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda