Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Soal: Pelengseran Musharraf dari Kekuasaan

August 19, 2008
1463

Pertanyaan:

Sebelumnya sering terdengar dari lisan para pejabat Amerika bahwa Musharraf adalah "aset berharga" (treasure) bagi Amerika Serikat dalam menjaga kepentingan mereka dan memperkuat pengaruh mereka di kawasan tersebut. Ia juga menjadi faktor penentu bagi mereka dalam menduduki Afghanistan. Namun kemarin, 18/08/2008, Amerika membiarkannya tersingkir dari kekuasaan (mengundurkan diri). Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ataukah ada konflik politik dengan Inggris yang mengakibatkan keberhasilan Inggris dalam melengserkan Musharraf? Lalu, siapa yang diharapkan akan menggantikan Musharraf dalam kursi kepresidenan?

Jawaban:

Ya, Musharraf memang merupakan "aset berharga" bagi Amerika Serikat, benar-benar sebuah aset. Ia telah memberikan layanan kepada Amerika di Afghanistan dan kawasan tersebut. Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa Amerika mungkin tidak akan bisa menduduki Afghanistan tanpa bantuan Musharraf. Hal ini ditambah lagi dengan tindakannya terhadap kaum Muslim yang melakukan perlawanan terhadap penjajahan, dengan dalih "pemberantasan terorisme", yang memudahkan Amerika untuk menangkap sejumlah Muslim yang melawan penjajahan tersebut.

Semua itu benar, namun Musharraf dalam beberapa tahun terakhir, khususnya sejak setahun yang lalu atau lebih, tidak lagi mampu melaksanakan rencana-rencana Amerika. Ia menjadi tidak berdaya karena kedudukannya yang mulai goyah, baik di mata rakyat, di militer, maupun di parlemen. Hal itu disebabkan oleh banyaknya kejahatan yang ia lakukan terhadap kaum Muslim, terutama pembantaian di wilayah suku-suku dan Lembah Swat, serta pembantaian di Masjid Merah (Lal Masjid). Selain itu, sikapnya yang secara terang-terangan menjatuhkan diri ke pelukan Amerika dan memberikan segala layanan yang ia mampu, telah menantang tidak hanya pemikiran dan pemahaman kaum Muslim, tetapi juga perasaan mereka.

Pernyataan beberapa pejabat Amerika telah mengungkapkan ketidakmampuan Musharraf untuk melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan cara yang diinginkan Amerika akibat goyahnya posisi dia dalam pemerintahan, militer, dan umat. Di antara pernyataan tersebut adalah apa yang dikatakan oleh komandan pasukan Amerika di Afghanistan, Jenderal David McKiernan, pada 7/8/2008 kepada stasiun televisi Amerika CNN: "Apakah saya percaya ada bentuk kolusi dari pihak badan intelijen Pakistan? Ya, saya percaya." McKiernan menambahkan: "Kami melihat peningkatan jumlah pejuang asing di selatan dan timur Afghanistan tahun ini, dan kami menunggu otoritas di Pakistan untuk bertindak melawan tempat perlindungan aman mereka."

Surat kabar The New York Times juga menyebutkan bahwa Stephen Kappes, orang nomor dua di dinas intelijen pusat Amerika (CIA), pergi ke Islamabad untuk meminta klarifikasi dari otoritas Pakistan dan memberikan bukti kolusi intelijen Pakistan dengan jaringan pemberontak yang dipimpin oleh Jalaluddin Haqqani.

Surat kabar tersebut menegaskan: "Bahwa pihak Amerika memantau komunikasi yang tampaknya membuktikan keterlibatan beberapa elemen intelijen Pakistan dalam serangan terhadap kedutaan India di Kabul yang menewaskan enam puluh orang."

Demikianlah, menjadi jelas bagi Amerika bahwa goyahnya posisi Musharraf dalam hubungannya dengan militer, pemerintah, dan rakyat membuatnya tidak mampu menjalankan tugasnya sebagaimana yang diinginkan Amerika, meskipun Musharraf telah melakukan pengorbanan dan dedikasi yang besar dalam melayani Amerika.

Oleh karena itu, Amerika berpendapat bahwa Musharraf telah menghabiskan perannya, dan harus ada alternatif yang tampak bagi rakyat sebagai penyelamat mereka dari kediktatoran Musharraf, namun kemudian tetap mewujudkan kepentingan Amerika, menjaga pengaruh mereka, dan terus memerangi kaum Muslim dengan dalih pemberantasan terorisme. Artinya, mengulangi perjalanan hidup Musharraf dalam melayani Amerika saat ia masih memegang kekuasaan dengan kuat, sebelum bintangnya meredup dan ia mengundurkan diri!

Perlu dicatat bahwa penyingkiran (pengunduran diri) Musharraf kemarin bukanlah kejadian yang tiba-tiba, melainkan bintang Musharraf mulai memudar secara bertahap melalui empat tahapan. Bintangnya meredup sedikit demi sedikit pada setiap tahapan hingga akhirnya padam dengan pengumuman pengunduran dirinya pada 18/8/2008.

Tahapan-tahapan tersebut adalah:

Tahap Pertama: Terjadi ketika Amerika mengadakan kesepakatan dengan Inggris yang mengizinkan Benazir Bhutto, pemimpin Partai Rakyat (PPP), untuk kembali dari pengasingannya di Inggris ke Pakistan. Hal yang paling menonjol dalam kesepakatan tersebut ada dua hal:

  1. Partai Rakyat tidak akan menentang pemilihan kembali Musharraf sebagai presiden.
  2. Pembagian kekuasaan dengan Musharraf, di mana Benazir menjadi perdana menteri dengan wewenang yang efektif.

Artinya, Amerika menyadari bahwa Musharraf tidak dapat melanjutkan kekuasaannya kecuali dengan dukungan Partai Rakyat yang sekuler, karena pembantaian yang dilakukan Musharraf terhadap kaum Muslim dan kebencian mereka terhadapnya. Demikianlah Amerika memandang kesepakatan ini sebagai upaya menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan dari masa jabatan Musharraf, meskipun wewenangnya berkurang.

Perlu dicatat bahwa Partai Rakyat adalah partai "kumpulan" (tajammu'i) dan bukan partai "blok ideologis" (takatulli). Artinya, ia tidak memiliki pemikiran tertentu yang diyakini oleh para anggotanya dan menjadi dasar pengelompokan mereka. Sebaliknya, ia adalah kumpulan orang-orang berdasarkan kepentingan tertentu dan kondisi yang saling terkait. Oleh karena itu, penyusupannya sangat mudah. Inilah yang tampak jelas; pada era Bhutto ayah, Amerika berada di belakangnya, namun Inggris selama tahun-tahun pengasingan Benazir Bhutto di sana, berhasil memenangkan loyalitasnya dan loyalitas para pemimpin berpengaruh di Partai Rakyat. Inggris pun mulai memengaruhinya agar berpihak kepadanya, setelah sebelumnya pada masa Bhutto ayah partai tersebut loyal kepada Amerika.

Oleh karena itu, tahap pertama adalah kesepakatan yang mengembalikan Benazir Bhutto ke Pakistan, dengan pengurangan wewenang Musharraf.

Tahap Kedua: Yaitu hari ketika Amerika mengizinkan Nawaz Sharif kembali ke Pakistan. Nawaz Sharif termasuk orang Amerika, namun Amerika marah kepadanya ketika ia tidak mencegah militer Pakistan menduduki dataran tinggi Kargil di India pada masa pemerintahan Partai Janata pimpinan Vajpayee, mantan Perdana Menteri India.

Telah diketahui bahwa Amerika telah mengerahkan segala upaya hingga memenangkan loyalitas Partai Janata setelah bertahun-tahun India dipimpin oleh Partai Kongres yang loyal kepada Inggris. Amerika mendukung Vajpayee secara ekonomi, politik, dan militer untuk memperpanjang masa jabatannya. Maka, pendudukan dataran tinggi Kargil ibarat menancapkan duri dalam popularitas Partai Janata.

Oleh karena itu, Amerika berada di balik kudeta Musharraf terhadap Nawaz Sharif dan pengusirannya. Amerika tetap marah kepadanya dan tidak mengizinkannya kembali.

Namun, melonjaknya popularitas Partai Rakyat secara drastis "terutama setelah pembunuhan Benazir Bhutto", kenaikan ini telah menimbulkan ketakutan di pihak Amerika bahwa Partai Rakyat akan menyapu bersih suara pemilih, dan kemudian tidak berkomitmen pada poin-poin kesepakatan serta menguasai pemerintahan sendirian, sehingga pengaruh Inggris akan kembali.

Oleh karena itu, Amerika mengizinkan Nawaz kembali ke Pakistan agar partainya dapat berbagi kebencian rakyat terhadap Musharraf bersama Partai Rakyat. Dengan demikian, suara tidak semuanya jatuh ke Partai Rakyat, tetapi mayoritas terbagi antara partai Bhutto dan partai Nawaz Sharif.

Ini adalah tahap kedua, dan jelas dari kembalinya Nawaz Sharif bahwa segala sesuatunya mulai dipersiapkan untuk masa setelah Musharraf.

Tahap Ketiga: Adalah instruksi Amerika kepada Musharraf agar ia melepaskan kepemimpinan militer guna memudahkan pemilihannya kembali, padahal posisi itulah yang ia gunakan sebagai sumber kekuatan setiap kali menghadapi krisis rakyat atau parlemen.

Tahap Keempat (Penentu): Yaitu kunjungan Perdana Menteri Pakistan saat ini, Raza Gilani, ke Amerika Serikat, dan pertemuannya yang lama dengan Bush, kemudian ia kembali ke Pakistan dan segera memulai prosedur untuk memakzulkan Musharraf.

Siapa pun yang mengikuti kunjungan tersebut akan melihat bahwa Raza Gilani telah tunduk kepada Amerika, dan bahwa Amerika telah menjamin dukungan Partai Rakyat bagi kandidat yang diajukan Amerika untuk kursi kepresidenan. Tentu saja, dukungan partai Nawaz Sharif sudah terjamin.

Sebagai hasil dari kunjungan tersebut, Amerika telah memberikan lampu hijau kepada koalisi pemerintah untuk melakukan prosedur pemakzulan Musharraf, setelah menjamin persetujuan Raza Gilani, dan konsekuensinya Partai Rakyat, untuk mendukung kandidat Amerika dalam pemilihan presiden, sehingga Partai Rakyat tidak akan menghalangi terpilihnya orang yang diinginkan Amerika sebagai presiden.

Raza Gilani, sebagai agen Inggris, mungkin telah menunjukkan persetujuan kepada Bush untuk tidak menghalangi terpilihnya orang yang diinginkan Amerika sebagai presiden, sebagaimana yang dilakukan Inggris dalam kebijakan mereka untuk tidak mengonfrontasi Amerika secara terbuka. Namun yang lebih kuat kemungkinannya adalah Amerika telah menggiurkannya dengan posisi penting dalam otoritas baru, dan bahwa ia telah menjadi dekat dengan Amerika.

Meskipun demikian, diperkirakan bahwa Inggris tidak akan tinggal diam atas hilangnya kesempatan yang terbuka baginya untuk berpartisipasi dalam pemerintahan di Pakistan sejak kesepakatan tersebut. Oleh karena itu, Inggris akan bekerja melalui para pemimpin di Partai Rakyat yang setia kepadanya untuk menghalangi pemilihan presiden mendatang, kecuali jika Inggris dijamin mendapatkan partisipasi efektif dalam pemerintahan seperti pada kesepakatan sebelumnya.

Inggris tidak berambisi untuk menguasai pengaruh penuh di Pakistan, namun ia tidak akan membiarkan kesempatan yang terbuka baginya hilang begitu saja. Oleh karena itu, hambatan terhadap pemilihan presiden yang diinginkan Amerika sangat mungkin terjadi dan sangat kuat, kecuali jika negosiasi kesepakatan baru dilakukan kembali.

Adapun mengenai siapa presiden berikutnya yang diharapkan, terlepas dari nama-namanya, peran penentu dalam pencalonan dan pemilihan presiden akan berada di tangan Amerika. Ada tiga kemungkinan:

Kemungkinan Pertama: Bahwa orang tersebut adalah Raza Gilani, yaitu jika Amerika merasa yakin bahwa ia telah benar-benar loyal kepadanya, bukan sekadar basa-basi ala cara Inggris yang baru dalam menampakkan sikap setuju terhadap kebijakan Amerika namun kemudian menikam dari belakang. Jika Amerika merasa tenang bahwa Raza Gilani benar-benar telah menjadi loyal, maka ia adalah kandidat yang paling berpeluang. Namun hal ini memerlukan upaya untuk menenangkan Inggris yang tidak akan tinggal diam dengan mudah dalam masalah ini, dan mungkin Inggris akan menimbulkan masalah bagi Raza Gilani melalui para pemimpin Partai Rakyat yang loyal kepada Inggris.

Kemungkinan Kedua: Dari partai Nawaz Sharif, dan prioritasnya adalah salah satu pemimpinnya, bukan Nawaz Sharif sendiri. Meskipun ia adalah orang Amerika, namun ia relatif dibenci di kalangan rakyat. Selain itu, krisis Kargil jejaknya belum terhapus dari ingatan Amerika. Amerika tidak akan mencalonkan Nawaz Sharif kecuali jika mereka tidak menemukan kandidat kuat lainnya dari partainya, barulah saat itu Amerika akan berpaling kepadanya.

Kemungkinan Ketiga: Yaitu jika kedua kemungkinan sebelumnya sulit diwujudkan, Amerika mungkin akan berpaling kembali ke militer. Apalagi Kayani telah diangkat sebagai panglima militer atas rekomendasi dari Musharraf dan dengan persetujuan dari Amerika. Amerika tidak akan kehabisan cara untuk mempolitisasi militer sesuai dengan demokrasi Amerika yang aneh!

Terakhir, kami katakan, andai saja para agen itu berpikir dan mengambil pelajaran dari apa yang menimpa para pendahulu mereka akibat ulah negara-negara penjajah yang membuang agennya sebagaimana membuang biji kurma ketika perannya telah habis. Di mana agen yang terbuang ini akan merugi di dunianya setelah sebelumnya ia merugi dalam agamanya karena menjadi agen bagi kaum kafir dan mengkhianati umatnya.

Kami katakan, andai saja para agen itu menyadari hal ini, niscaya mereka akan menjaga dunia mereka setidaknya dengan mendekatkan diri kepada rakyat mereka, bukan kepada para penjajah. Namun, mereka tidak berpikir.

18 Sya'ban 1429 H 19/08/2008 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda