Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Kunjungan Bush di Kawasan

January 08, 2008
1575

Pertanyaan: Presiden AS George Bush besok, Rabu, akan memulai kunjungannya ke Timur Tengah mulai dari Palestina pada 9/1/2008, kemudian ke Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, lalu Mesir pada 16/1/2008, dan setelah itu kembali ke Washington.

Kunjungan ini dibarengi dengan kampanye propaganda, khususnya dari Otoritas Abbas, bahwa Bush datang untuk mewujudkan sebuah negara bagi Otoritas Palestina yang memiliki kedaulatan dan kekuasaan di samping negara Yahudi. Sejauh mana kebenaran hal tersebut?

Jawaban: Siapa pun yang mencermati kondisi seputar kunjungan yang dilakukan oleh Bush akan menemukan hal-hal berikut:

1 - Kunjungan ini dilakukan pada tahun pemilu di Amerika Serikat, di mana kemampuan Presiden AS dalam mengambil keputusan internasional berada pada level minimal. Oleh karena itu, ketika Inggris dahulu memainkan peran langsung sebagai pesaing Amerika dalam politik internasional, khususnya pada tahun 50-an dan 60-an abad lalu, mereka sering kali merekayasa peristiwa untuk menghadapi Amerika pada tahun pemilihan presiden AS, karena fokus para presiden dan partai-partai mereka sebagian besar tersedot untuk tujuan pemilu. Jarang sekali ada presiden AS yang berhasil mengambil keputusan vital dalam politik internasional pada tahun pemilu.

2 - Kunjungan ini dilakukan saat negara Yahudi sedang khawatir dengan "dinginnya" sikap militer Amerika Serikat terhadap krisis nuklir Iran, terutama setelah laporan intelijen Amerika yang "membebaskan" Iran dari upaya memiliki senjata nuklir. Masalah ini merupakan pusat perhatian bagi negara Yahudi. Oleh karena itu, mereka menyiapkan berkas khusus mengenai isu nuklir Iran untuk kunjungan Bush, setelah melakukan diskusi "rahasia" antara perangkat keamanan dan politik Israel yang diadakan pada 6/1/2008, sebagaimana diberitakan oleh surat kabar Yedioth Ahronoth. Negara Yahudi telah mengerahkan upaya keras untuk memanaskan suasana internasional, khususnya Amerika, terhadap apa yang mereka klaim sebagai senjata nuklir Iran. Di sisi lain, Amerika Serikat tidak menginginkan pemanasan militer terhadap Iran; karena mengatur situasi dengan Iran melalui jalur politik adalah hal penting bagi Amerika, mengingat posisi positif Iran terhadap Amerika dalam masalah Afghanistan, serta untuk tahap negosiasi yang berulang terkait Irak.

Setelah laporan tersebut, kaum Yahudi menyadari bahwa Amerika menemukan jalan keluar yang tepat dalam laporan itu untuk tidak melakukan pemanasan militer terhadap Iran, yang membuat negara Yahudi khawatir dan menimbulkan reaksi dari lobi Yahudi di Amerika Serikat. Pernyataan terbaru Bush tidak mampu menenangkan mereka: "Penting bagi penduduk di kawasan ini untuk menyadari bahwa semua opsi terhadap Iran masih tetap ada di atas meja," yang mengisyaratkan opsi militer, namun kemudian dia menambahkan, "Akan tetapi, saya percaya bahwa kita bisa menyelesaikan masalah ini secara diplomatis."

3 - Kunjungan ini datang di saat Partai Demokrat sedang melancarkan perang "pemilu" yang sengit atas kegagalan Bush dan Partai Republik dalam kebijakan luar negeri. Mereka menyatakan bahwa Amerika telah menjadi dibenci di kawasan Timur Tengah yang vital bagi Amerika karena cadangan minyaknya. Selain itu, Partai Demokrat juga mengangkat isu bahwa pemerintahan Bush telah membahayakan tentara Amerika di daerah konflik dan kurang memberikan perhatian kepada mereka.

Pada saat inilah kunjungan Bush ke Palestina yang diduduki, ke Teluk, lalu ke Mesir dilakukan:

Adapun ke Palestina yang diduduki, yakni ke negara Yahudi, Bush ingin meredam kekhawatiran negara Yahudi akibat laporan intelijen tersebut, serta memberikan janji dan jaminan kepada mereka bahwa Amerika tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, di samping memasok mereka dengan senjata canggih dan bantuan keuangan.

Selain itu, kunjungan ini bertujuan untuk memberikan keamanan bagi mereka melalui tindakan Otoritas Abbas yang menghadang setiap gangguan keamanan terhadap negara Yahudi di Tepi Barat. Kemudian Bush menugaskan Mubarak untuk melakukan pembicaraan gencatan senjata dengan Hamas di Gaza, di samping masalah tawanan Shalit.

Dengan demikian, ia telah menenangkan ketakutan Yahudi terhadap senjata nuklir Iran dan memberikan layanan keamanan bagi mereka: melalui Otoritas Abbas di Tepi Barat dengan mencegah gangguan keamanan apa pun terhadap negara Yahudi, dan melalui Hamas di Gaza melalui pembicaraan Mesir dengan mereka mengenai masalah gencatan senjata dan tawanan Shalit.

Semua ini akan berdampak positif bagi lobi Yahudi di Amerika Serikat dari sisi situasi pemilu.

Adapun ke Teluk, kunjungan ini ditujukan untuk merespons apa yang diangkat oleh Partai Demokrat. Melalui kunjungannya, Bush ingin menunjukkan kepada mereka bahwa posisi Amerika di kawasan tersebut diterima secara bersahabat dan tidak dibenci seperti yang "diklaim" oleh Partai Demokrat. Selain itu, Bush juga mengunjungi tentara Amerika di negara-negara tersebut untuk menunjukkan perhatian kepada mereka. Tidak mustahil ia juga akan melakukan kunjungan ke Irak, meskipun tidak diumumkan dalam jadwal kunjungannya, untuk bertemu dengan para tentara di sana.

Sedangkan Mesir adalah penutup yang manis bagi Bush, karena Mubarak adalah pemegang amanah bagi kepentingan Amerika di kawasan dan menjadi payung Arab baginya, serta menjadi "pegas" politik untuk menyingkirkan atau membatasi pengaruh Eropa yang menyaingi pengaruh Amerika.

Apa yang dilakukan oleh Otoritas Palestina dengan memberi ilusi kepada rakyat bahwa kunjungan Bush akan membawa kemakmuran (manna dan salwa), mewujudkan sebuah entitas, negara, perbatasan, dan kedaulatan bagi mereka... adalah seperti orang yang merentangkan kedua telapak tangannya ke air agar sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak akan sampai! Bush datang untuk menyenangkan Yahudi dengan memberikan layanan materi dan keamanan bagi mereka, bukan untuk menciptakan kedaulatan dan kekuasaan bagi Mahmoud Abbas. Bahkan apa yang diisukan tentang pengosongan pemukiman—yang mereka bicarakan itu hanyalah rumah-rumah portabel yang tersebar yang didirikan memang untuk tujuan tersebut, guna dibarter dengan konsesi yang menghinakan dari Otoritas dengan imbalan satu rumah portabel di sini dan di sana. Bahkan orang Yahudi sendiri menyebutnya sebagai pos-pos pemukiman liar yang tidak "legal"!

Adapun inisiatif Bush yang diumumkannya untuk membentuk negara kecil bagi Otoritas di samping negara Yahudi yang menduduki Palestina, Bush sendiri mulai menyadari bahwa tahun pemilu bukanlah tahun untuk melaksanakan inisiatifnya, betapapun buruknya inisiatif tersebut. Dia menyatakan menjelang perjalanannya: "Bahkan jika para pemimpin Israel dan Palestina tidak mencapai kesepakatan damai pada akhir tahun ini, saya optimis bahwa kita dapat menetapkan garis-garis besar bagi negara Palestina!" Diketahui bahwa garis-garis besar itu berarti berlanjutnya negosiasi yang menghinakan dengan Yahudi, dengan satu demi satu konsesi, hingga garis-garis besar itu menjadi jalan-jalan lebar yang penuh dengan konsesi.

Bush datang ke Palestina untuk menenangkan dan menjamin keamanan bagi Yahudi, serta meyakinkan mereka bahwa Bush dan Yahudi itu bagaikan dua tanduk yang melekat, dan mereka berada dalam satu garis pertahanan menghadapi apa yang diklaim sebagai senjata nuklir Iran.

Ia datang ke Teluk untuk meremehkan pendapat Partai Demokrat dalam kampanye pemilunya yang menyebut bahwa pemerintahan Amerika dibenci di wilayah minyak yang vital.

Ia menutup kunjungannya ke Mesir, negara Arab terbesar di kawasan, untuk menunjukkan seberapa besar bobot pemerintahan Bush dan Partai Republik!

Bush sedang melakukan kampanye pemilihan untuk Partai Republik dengan berangkat dari negeri-negeri kita: dari Palestina yang diberkati, Teluk yang vital, dan Mesir Al-Kinana... Negeri kita tidak hanya menjadi bagian dari kebijakan luar negeri negara-negara penjajah, tetapi juga menjadi bagian dari kebijakan dalam negeri mereka! Kehinaan ini tidak akan terjadi jika bukan karena para penguasa di negeri kita yang telah menjual agama mereka demi dunia mereka, bahkan demi dunia orang lain. Maka celakalah mereka atas apa yang mereka perbuat.

Palestina tidak akan kembali dengan merapatnya para penguasa dan Otoritas untuk menyambut Bush, tidak pula dengan kegilaan mereka untuk bernegosiasi dengan Yahudi. Akan tetapi, yang mengembalikan Palestina adalah pergerakan pasukan tentara dan keberangkatannya untuk berjihad melintasi perbatasan.

Yang mengembalikan Palestina adalah penguasa yang ikhlas dan mujahid, yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala salah satu dari dua kebaikan (kemenangan atau syahid).

Yang mengembalikan Palestina adalah Khalifah yang dijadikan perisai dan orang-orang berperang di belakangnya.

Yang mengembalikan Palestina adalah kekuasaan yang mulia dan terhormat, Khilafah Rasyidah yang mengikuti Manhaj Kenabian.

Demikianlah Palestina kembali, dan inilah jalan lurus yang menghubungkan kepada Palestina, seluruh Palestina.

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ

"Sesungguhnya (berita) ini adalah suatu keyakinan yang benar." (QS Al-Waqi'ah [56]: 95)

30 Dzulhijjah 1428 H. 08/01/2008 M.

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda