Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Kepulauan Diaoyu Jepang

September 29, 2012
2326

Pertanyaan:

Menteri Pertahanan AS menyatakan saat kunjungannya ke Jepang pada 16-17 September 2012, "Bahwa perselisihan antara Cina dan Jepang mengenai masalah kepulauan ini dapat meluas." (AFP, 17/9/2012). Ia juga berkata: "Saya khawatir karena ketika negara-negara ini saling melakukan provokasi terkait kepulauan yang dipersengketakan ini, hal itu akan meningkatkan kemungkinan pengambilan keputusan yang salah dari satu pihak atau pihak lainnya yang dapat mengarah pada kekerasan dan menghasilkan konflik." (Sumber yang sama). Hal ini terjadi menyusul pengumuman Jepang pada 11 September 2012 bahwa mereka telah membeli tiga pulau dari sebuah keluarga Jepang di kepulauan di Laut Cina Timur yang diklaim miliknya dan dinamakan Senkaku. Hal ini memicu ketegangan antara Jepang dan Cina yang mengklaim bahwa pulau-pulau tersebut adalah miliknya dan menamakannya Diaoyu. Cina pun mengirimkan dua kapal perang ke arah pulau-pulau tersebut...

Pertanyaannya adalah: Mengapa Jepang mengambil langkah ini pada saat sekarang? Apakah Amerika memiliki peran dalam sengketa ini? Dan mungkinkah hal ini akan berujung pada pecahnya perang di antara keduanya, ataukah ini hanya badai yang akan mereda?

Jawaban:

Jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi jelas dengan meninjau hal-hal berikut:

  1. Cina mengklaim bahwa tiga dari lima pulau tersebut adalah miliknya yang dikuasai Jepang dalam perang yang berlangsung antara keduanya selama tahun 1894-1895. Amerika kemudian menguasainya pada Perang Dunia II setelah mengalahkan Jepang, di mana mereka memasukkan pengelolaan pulau-pulau ini ke dalam administrasi Pulau Okinawa Jepang yang mereka duduki dalam perang tersebut dan mendirikan pangkalan militer AS yang besar di sana. Namun, mereka menyerahkan pulau-pulau itu kepada Jepang pada tahun 1972 melalui penyerahan kepada sebuah keluarga Jepang yang membelinya dari keluarga Jepang lainnya yang telah memilikinya sejak tahun 1890-an. Luas seluruh kepulauan ini sekitar 6 km², beberapa di antaranya hanyalah bebatuan yang dikelilingi air laut dan tidak berpenghuni. Namun, pulau-pulau ini memiliki kepentingan strategis di Laut Cina Timur karena dekat dengan jalur pelayaran laut, selain perairannya kaya akan sumber daya ikan, serta adanya laporan mengenai kemungkinan adanya cadangan minyak dan gas yang besar. Masalah kepulauan ini telah mencuat antara kedua negara beberapa kali, yang terakhir adalah pada tahun 2010 saat terjadi ketegangan serupa.

  2. Amerika Serikat secara resmi memberitahu Jepang pada 29 Juni 2012 bahwa mereka ingin menempatkan "12" pesawat tipe Osprey di pangkalan AS Futenma di Pulau Okinawa, Jepang, dan penempatan pesawat-pesawat ini akan dilakukan pada akhir bulan ini (MENA - Masress - Al-Mashhad, 1/7/2012). Pasukan AS mengumumkan bahwa salah satu pesawat ini akan memulai perjalanannya pada 21 September 2012 (Arabic News CN World, 20/9/2012). Semua ini terjadi di tengah suasana protes warga Jepang terhadap keberadaan Amerika, di mana keberadaan ini mulai dipandang tidak menyenangkan oleh warga Jepang. Sebagian dari mereka menuntut hengkangnya Amerika dari negara mereka, di mana terdapat 47 ribu tentara AS di sana berdasarkan perjanjian keamanan bilateral yang ditandatangani tahun 1960 dengan pemerintah Jepang di bawah pendudukan Amerika. Ini adalah metode Amerika yang digunakan untuk mengubah bentuk pendudukannya dan mempertahankan pengaruhnya di negara yang didudukinya, sebagaimana yang dilakukannya di Irak saat menandatangani perjanjian keamanan AS dengan pemerintahan Al-Maliki tahun 2008 di bawah pendudukan resmi Amerika, demikian pula perjanjian keamanan strategis AS dengan pemerintah Afghanistan yang ditandatangani beberapa bulan lalu di bawah pendudukan Amerika yang masih berlangsung di sana.

    Dalam suasana ketidaksenangan rakyat Jepang terhadap keberadaan Amerika di negara mereka, Amerika justru mengumumkan penempatan pesawat-pesawat tersebut! Tentu saja, pengumuman ini akan meningkatkan penolakan warga Jepang. Amerika melihat bahwa menciptakan suasana provokasi dengan Cina dan menunjukkan bahwa perang dengan Cina sudah dekat akan membuat rakyat Jepang menerima penempatan pesawat-pesawat ini, serta meredakan protes mereka terhadap keberadaan Amerika, dengan dalih bahwa Amerika berdiri bersama Jepang menghadapi Cina! Inilah yang terjadi; melalui kesepakatan dengan pemerintah Jepang yang terkait erat dengan kebijakan Amerika, masalah kepulauan ini dimunculkan kembali sebagai milik Jepang, padahal masih dipersengketakan dengan Cina. Hal ini memicu provokasi terhadap Cina dan menciptakan suasana menyesatkan seolah akan terjadi benturan dengannya dan perang akan pecah. Inilah yang meredam penolakan warga Jepang terhadap keberadaan militer AS di negara mereka karena dianggap sebagai bantuan bagi mereka dalam menghadapi Cina.

  3. Oleh karena itu, memicu masalah kepulauan sekarang, setelah pengumuman penempatan pesawat, adalah langkah yang disengaja oleh pemerintah Jepang atas perencanaan Amerika untuk memprovokasi Cina sehingga muncul ketegangan antara Jepang dan Cina. Dengan demikian, rakyat Jepang akan takut terhadap Cina dan tunduk pada rencana-rencana Amerika yang dilaksanakan di kawasan mereka. Karena itulah, pernyataan para pejabat Amerika menunjukkan kedekatan konfrontasi atau tanda-tandanya! Menteri Pertahanan AS saat kunjungannya ke Jepang pada 16-17 September 2012 mengatakan, "Bahwa perselisihan ini dapat meluas." (AFP, 17/9/2012). Ia juga berkata: "Saya khawatir karena ketika negara-negara ini saling melakukan provokasi terkait kepulauan yang dipersengketakan ini, hal itu akan meningkatkan kemungkinan pengambilan keputusan yang salah dari satu pihak atau pihak lainnya yang dapat mengarah pada kekerasan dan menghasilkan konflik." (Sumber yang sama). Ia pun menyerukan "kedua belah pihak untuk tenang dan menahan diri." Menteri Pertahanan AS menggambarkan keadaan seolah-olah perang akan segera pecah antara kedua negara demi melayani kepentingan Amerika. Ia juga mengingatkan tentang perjanjian keamanan antara negaranya dan Jepang untuk menunjukkan bahwa Amerika siap berdiri di pihak Jepang dengan mengatakan: "Kami menghormati komitmen kami terkait perjanjian-perjanjian tersebut, yang telah ada sejak lama dan tidak akan berubah." (Sumber sebelumnya). Semua eskalasi ini terjadi pada saat Menteri Pertahanan AS memfokuskan pembicaraannya dengan pemerintah Jepang pada rencana Amerika untuk menempatkan 12 pesawat tipe Osprey di pangkalan AS di Okinawa di tengah penolakan keras dari penduduk pulau selatan tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh AFP pada 16 September 2012.

  4. Reaksi Cina bersifat emosional, di mana mereka mengizinkan demonstrasi massa untuk memenuhi jalan-jalan kota guna memprotes langkah Jepang terhadap kepulauan yang secara resmi belum dikuasai oleh negara Jepang sebelumnya. Namun, ketika Jepang mengumumkan pembelian tiga pulau dari keluarga Jepang agar menjadi milik negara, kedaulatan di pulau-pulau tersebut secara resmi menjadi milik negara Jepang, sehingga dianggap seolah-olah Jepang telah mencaploknya kembali. Hal ini memprovokasi Cina sehingga mereka menggerakkan beberapa kapal penjaga wilayah perairannya di Laut Cina Timur menuju pulau-pulau tersebut. Perdana Menteri Cina, Wen Jiabao, menyatakan dengan penuh emosi: "Era penghinaan terhadap rakyat Cina telah berlalu tanpa kembali lagi." (AFP, 17/9/2012). Rakyat Cina teringat akan kehinaan yang menimpa mereka dari pihak Jepang, baik dalam perang yang pecah di tahun 1890-an maupun di bawah pendudukan langsung Jepang atas Cina di tahun 1930-an yang berlangsung hingga kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II di hadapan Amerika, sehingga Jepang keluar dari Cina dan meninggalkannya untuk Amerika. Kompleksitas kekalahan dan penghinaan yang menimpa Cina di hadapan Jepang masih menjadi faktor pemicu bagi mereka. Memicu hal semacam ini pada rakyat Cina sangatlah mudah.

  5. Dengan demikian, Amerika telah "memukul dua burung dengan satu batu" dengan mendorong Jepang menuntut kepulauan tersebut. Di satu sisi, Amerika memanaskan suasana antara Cina dan Jepang agar kebutuhan Jepang terhadap keberadaan Amerika tetap ada dan mudah diterima oleh rakyat Jepang. Di sisi lain, Amerika ingin selalu menyibukkan Cina dengan isu-isu regional yang tegang guna memutus ambisi Cina terhadap politik internasional global, kecuali hanya dalam batas kawasannya saja. Artinya, kelanjutan rencana Amerika untuk mengepung Cina, membatasi pengaruhnya, dan menghambat rencana Cina untuk memperkuat posisi regionalnya menuju posisi global, khususnya terhadap Amerika. Demikianlah rencana Amerika di kawasan regional sekitar Cina bertujuan untuk mencapai target ini. Amerika sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk memperkuat keberadaannya di Asia-Pasifik dalam strategi baru, di mana Menteri Pertahanannya, Leon Panetta, pada 1 Juni 2012 mengumumkan strategi negaranya di kawasan Asia-Pasifik dengan mengirimkan enam kapal induk dan memindahkan 60% kapal perangnya ke kawasan ini dalam tahun-tahun mendatang hingga tahun 2020. Amerika bekerja untuk menyulut semua konflik di hadapan Cina: di kawasan Laut Cina Timur seperti yang terjadi dengan Jepang, juga di Laut Cina Selatan di mana terdapat ketegangan antara Cina dan Filipina mengenai kepulauan dan penangkapan ikan, serta antara Cina dan Vietnam atas perselisihan kepulauan di mana Cina pernah mengusir Vietnam dari sana pada tahun 1988. Semua itu agar Cina tetap sibuk di dua kawasan tersebut!

    Sebagaimana Amerika berdiri di belakang negara-negara tersebut di dua kawasan itu kecuali Korea Utara, dan menghasut mereka melawan Cina agar Cina, seperti yang kami katakan, tetap sibuk dengan urusan regionalnya dan tidak melampauinya. Apalagi Amerika memiliki kendali penuh atas banyak negara tersebut seperti Korea Selatan di Laut Cina Timur, Filipina di Laut Cina Selatan di mana terdapat pangkalan-pangkalan AS, Indonesia yang mengekor pada kebijakan Amerika, kemudian Jepang yang berjalan dalam orbit Amerika.

  6. Ini mengenai peran Amerika dalam masalah tersebut dan pemicuan masalah kepulauan saat ini. Adapun mengenai apakah provokasi ini akan berujung pada pecahnya perang antara Cina dan Jepang terkait kepulauan tersebut, hal itu sangat kecil kemungkinannya, setidaknya dalam jangka pendek. Sebab, ada pulau-pulau yang lebih besar dan lebih penting seperti Pulau Taiwan (Formosa sebelumnya), di mana Cina tidak mengobarkan perang demi pulau itu, mengingat Amerika telah sepakat dengannya untuk mengembalikannya secara damai. Kemudian ada perselisihan dengan Filipina, Vietnam, dan lainnya atas kepulauan di Laut Cina Selatan tanpa masuk ke dalam perang, karena jika tidak, Cina akan membuka pintu yang tidak dapat ia tutup! Cina tidak akan mengorbankan kepentingan besarnya dengan Jepang demi pulau-pulau ini, di mana volume perdagangan antara keduanya mencapai sekitar 300 miliar dolar per tahun. Perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di Cina mempekerjakan lebih dari 20 juta tenaga kerja Cina, dan Cina pun berusaha mengambil manfaat dari teknologi dan keahlian Jepang. Oleh karena itu, bukan kepentingan Cina untuk menyulut perang dengan Jepang demi pulau-pulau itu. Menteri Pertahanan Cina, Liang Guanglie, dalam pertemuannya dengan Menteri Pertahanan AS pada 18 September 2012, saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai apakah Beijing berniat menggunakan kekuatan, menyatakan: "Kami tetap berharap pada solusi negosiasi yang damai." (AFP, 18/9/2012). Hal ini menunjukkan bahwa kecil kemungkinan Cina akan menyulut perang dengan Jepang demi pulau-pulau ini.

  7. Jika Cina tetap sibuk dengan masalah regionalnya, maka Amerika telah berhasil menjauhkan Cina dari politik internasional. Namun, yang benar adalah Cina seharusnya melakukan ancaman efektif terhadap kebijakan Amerika di skala dunia dan menciptakan masalah-masalah yang mengancam kepentingannya. Artinya, Cina harus menerapkan kebijakan ancaman efektif terhadap kebijakan Amerika di setiap kawasan di dunia, sehingga Cina akan mudah memberikan pengaruh efektif di wilayah regionalnya, khususnya di kawasan Laut Cina Timur dan Selatan.

    Namun, yang terlihat nyata dalam kebijakan Cina adalah mereka masih tertipu bahwa keterlibatannya dalam politik dunia secara berpengaruh bukan demi kepentingannya, dan hanya peduli pada wilayah regionalnya saja... tanpa menyadari bahwa mereka tidak akan mampu menguasai secara regional jika tidak memiliki ambisi politik global dengan menciptakan masalah bagi Amerika guna memaksanya mengurangi tekanan terhadap Cina di kawasannya. Selama Cina tidak menempuh kebijakan ini, ia akan tetap jalan di tempat, dan Amerika akan terus menciptakan ketegangan regional baginya satu demi satu.

    Bagaimanapun, mungkin sejarah akan berulang atau sebagian darinya berulang! Maka Khilafah akan berdiri dengan izin Allah, dan aksi politik internasionalnya "sebelum aksi militernya" dalam mengusir Barat dan Amerika dari kawasan Islami akan menjadi model yang diikuti oleh Cina dalam mengusir pengaruh Amerika dari sekitar Cina. Maka aksi politik Khilafah akan mewujudkan keamanan bagi Cina secara tidak langsung, sebagaimana Khilafah sebelumnya telah mewujudkan keamanan bagi Cina secara langsung. Sumber-sumber Cina dan Islam menyebutkan bahwa negara Cina pernah meminta bantuan kepada Negara Khilafah Islam pada masa Khalifah Abbasiyah Abu Ja'far al-Mansur untuk membantunya memadamkan kerusuhan dan kekacauan yang melanda negeri itu pada tahun 756 M. Khalifah pun mengirimkan pasukan sebanyak 4 ribu tentara Muslim sehingga keadaan menjadi stabil di sana dan mereka mewujudkan keamanan bagi penduduk negeri. Orang-orang Cina pun kagum dengan akhlak para tentara Muslim serta perilaku dan tindakan mereka yang baik, sehingga mereka meminta para tentara tersebut untuk tetap tinggal bersama mereka. Maka tinggallah para tentara Muslim tersebut di sana dengan menyandang sifat pengemban dakwah, menyebarkan Islam, petunjuk, dan cahaya di antara penduduk Cina. Di antara keturunan mereka saat ini adalah Muslim Turkistan Timur yang saat ini ditindas oleh Cina, alih-alih membalas budi kepada mereka!! Maka, akankah Cina menyadari hal ini dan mengakhiri pendudukannya terhadap Turkistan tanpa mengingkari budi baik tersebut?!

4 Dzulqa’dah 1433 H Kamis, 20 September 2012 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda