Seri Jawaban Al-Alim Al-Jalil Ata bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan Para Pengunjung Halaman Facebook Beliau "Fikihi"
Jawaban Pertanyaan kepada: Islam Zidan
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Bagaimana saya menghindari kekafiran (kufr) atau kesyirikan (shirk) dan mati sebagai seorang Muslim? Karena saya tidak ingin menjadi orang yang paling merugi amal perbuatannya... Dan apakah kekafiran itu hanya berupa perbuatan, ucapan, atau keyakinan?
Mohon jawabannya, semoga Allah memberkati Anda.
Jawaban:
Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh,
Sesungguhnya pertanyaan Anda terdiri dari dua bagian:
Pertama: Bagaimana seseorang menghindari syirik dan kufur serta mati sebagai seorang Muslim.
Kedua: Apakah kekafiran itu berupa perbuatan, ucapan, atau keyakinan.
Kami akan mulai dengan menjawab bagian kedua dari pertanyaan tersebut, karena jawaban untuk bagian pertama didasarkan padanya.
- Jawaban Bagian Kedua Pertanyaan:
Sesungguhnya akidah dan iman memiliki makna yang sama, yaitu at-tashdiq al-jazim al-muthabiq lil waqi’ ‘an dalil (pembenaran yang pasti, yang sesuai dengan fakta, dan berdasarkan dalil). Tempat iman adalah di dalam hati. Iman bergantung pada pembenaran yang pasti (tashdiq jazim), bukan sekadar pembenaran biasa, serta harus sesuai dengan fakta dan berdasarkan dalil, sehingga ia menetap kokoh di kedalaman hati; saat itulah seseorang menjadi mukmin. Demikian pula kekafiran (kufr), tempatnya adalah di hati, karena ia berkaitan dengan pembenaran, dan tempat pembenaran adalah hati. Allah SWT berfirman:
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آَمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُم
"Orang-orang Arab Badui itu berkata: 'Kami telah beriman'. Katakanlah: 'Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu'." (QS. Al-Hujurat [49]: 14)
Sebab, iman tersebut belum menetap di dalam hati mereka.
وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
"Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus." (QS. Al-Hujurat [49]: 7)
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar." (QS. An-Nahl [16]: 106)
Oleh karena itu, poros iman dan kufur terletak pada pembenaran hati dan keyakinannya (i'tiqad), bukan semata-mata pada ucapan dan perbuatan. Sebab, ucapan dan perbuatan adalah aktivitas anggota badan dan lisan, yang keduanya berbeda dari pembenaran hati. Namun, ada dua perkara yang harus diperhatikan dalam konteks ini, yaitu:
Ucapan dan perbuatan, meskipun keduanya bukan keyakinan (i'tiqad), terkadang keduanya mencerminkan dan menunjukkan suatu keyakinan. Dalam kondisi ini, ucapan dan perbuatan tersebut mengambil hukum keyakinan, dan seseorang bisa menjadi kafir karenanya. Seorang Muslim bisa menjadi kafir dalam empat keadaan:
a. Dengan keyakinan (i'tiqad): Seperti meyakini sesuatu di luar Islam, contohnya meyakini adanya kenabian seseorang setelah Muhammad ﷺ, seperti orang yang meyakini kenabian Mirza Ghulam Ahmad (Al-Qadiyani). Maka ia kafir karena keyakinannya ini, sebab hatinya terikat pada sesuatu di luar Islam.
b. Dengan keraguan (syak): Yaitu meragukan perkara yang sudah pasti (yaqini) dalam urusan Islam. Siapa saja yang ragu akan kenabian Muhammad ﷺ, maka ia menjadi kafir karena hatinya tidak lagi terikat pada pembenaran atas kenabian Muhammad ﷺ.
c. Dengan ucapan (qawl) yang menunjukkan keyakinan: Seperti seseorang yang mengatakan bahwa Pencipta itu tidak ada atau bahwa Al-Qur'an al-Karim bukan kalamullah. Siapa yang mengucapkan perkataan seperti ini menjadi kafir karena ucapannya tersebut menunjukkan keyakinannya. Namun, disyaratkan dalam hal ini bahwa ucapan tersebut tidak mengandung kemungkinan takwil (makna lain), melainkan kekafiran di dalamnya jelas dan bersifat pasti (qath'i).
d. Dengan perbuatan (fi'l) yang menunjukkan keyakinan: Seperti bersujud kepada berhala atau melakukan sembahyang orang Yahudi dan Nasrani. Perbuatan semacam ini menunjukkan akidah pelakunya. Siapa yang bersujud kepada berhala atau melakukan sembahyang Yahudi atau Nasrani, maka ia telah kafir karena perbuatannya tersebut menunjukkan keyakinannya yang menyelisihi Islam. Demikian pula dalam kasus ini, perbuatannya tidak boleh mengandung kemungkinan takwil, melainkan kekafiran di dalamnya harus jelas dan pasti.
Inilah empat keadaan yang dapat menyebabkan seorang Muslim menjadi kafir. Adapun meyakini sesuatu di luar Islam dan meragukan sesuatu yang sudah pasti (qath’i) dalam Islam, jelas bahwa keduanya adalah perbuatan hati karena keyakinan dan keraguan berkaitan dengan pembenaran (tashdiq). Namun, ucapan dan perbuatan pada dasarnya bukan perbuatan hati, melainkan perbuatan anggota badan dan lisan. Akan tetapi, karena keduanya berkaitan dengan perbuatan hati melalui indikasi atas keyakinan yang ada di dalam hati, maka keduanya diperlakukan sama seperti keyakinan dalam contoh-contoh yang telah disebutkan di atas.
Adapun ucapan dan perbuatan lainnya yang tidak menunjukkan keyakinan pelakunya, maka tetap berada di luar lingkaran kufur dan iman, seperti orang yang melakukan maksiat namun ia tetap mengakui Islam dan akidahnya. Oleh karena itu, prinsip yang dijalani oleh kaum Muslim adalah tidak mengafirkan seorang Muslim karena dosa yang dilakukannya, kecuali jika di dalamnya terdapat pengingkaran (inkar). Contohnya, orang yang tidak berpuasa tetapi ia mengingkari kewajiban puasa, maka ia kafir karena hal itu. Sedangkan orang yang tidak berpuasa namun tetap mengakui kewajiban puasa, maka ia adalah fasik, bukan kafir. Sebab, pengafiran (takfir) tidak boleh dilakukan kecuali dengan keyakinan yang pasti. Takfir adalah perkara besar dalam Islam, dan Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا
"Jika seseorang berkata kepada saudaranya, 'Wahai Kafir', maka sebutan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya." (HR Bukhari dari jalur Abu Hurairah). Dalam riwayat Ahmad dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
مَنْ كَفَّرَ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا
"Siapa saja yang mengafirkan saudaranya, maka sebutan itu kembali kepada salah satu dari keduanya."
- Pembenaran yang pasti (at-tashdiq al-jazim) secara bahasa mengandung konsekuensi keterikatan (dilalah iltizam), yaitu kesesuaian antara lisan dan hati. Maka, ia tidak boleh mengingkari apa yang ia benarkan secara pasti. Seseorang tidak mungkin berkata, "Saya beriman kepada Allah, saya yakin Dialah Pencipta alam semesta ini dan tidak ada sekutu bagi-Nya," kemudian ia berkata bahwa Allah bisa salah, atau memiliki sekutu, atau bukan Pencipta. Tidak mungkin pula ia mengingkari apa yang diwajibkan oleh Allah SWT Sang Pencipta alam semesta, jika telah terbukti secara pasti (yaqin) bahwa Allah SWT telah mewajibkannya. Seperti orang yang berkata "Saya beriman kepada Allah" tetapi ia mengingkari shalat, puasa, atau perkara apa pun yang telah diketahui sebagai bagian dari agama secara pasti (ma'lum minad din bid dharurah). Orang seperti ini menjadi kafir karena ia mendustakan perintah Allah yang bersifat pasti (qath'i).
Oleh karena itu, Iblis la'natullah 'alaihi menjadi kafir karena ia mengingkari kebenaran perintah Allah kepadanya untuk bersujud kepada Adam, padahal ia beriman kepada keberadaan Allah. Namun, ia mengingkari kebenaran perintah-Nya, sebagaimana firman Allah SWT:
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
"Allah berfirman: 'Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku memerintahkanmu?' Iblis menjawab: 'Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah'." (QS. Al-A'raf [7]: 12)
Iblis menyatakan bahwa Allah SWT salah dalam memerintahkannya untuk bersujud. Iblis berpendapat bahwa yang benar adalah Adam yang bersujud kepadanya, bukan dia yang bersujud kepada Adam. Maka ia mengingkari kebenaran perintah Allah, sehingga ia termasuk golongan kafir yang berdosa. Begitu pula kekafiran orang-orang yang hatinya meyakini kebenaran mukjizat yang dibawa oleh Musa AS, namun lisan mereka mengingkarinya dan menyebutnya sebagai sihir. Allah SWT berfirman:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. An-Naml [27]: 14)
Kesimpulan:
Hukum asal kekafiran adalah keyakinan (i'tiqad) pada selain Islam, dan ia bukan sekadar ucapan atau perbuatan, kecuali jika ucapan atau perbuatan tersebut menunjukkan suatu keyakinan atau mengandung pengingkaran terhadap perkara yang sudah pasti (qath’i) dalam Islam. Dalam kondisi-kondisi ini, ucapan dan perbuatan tersebut mengambil hukum keyakinan dan menjadi kekafiran, wal'iyadzu billah.
- Jawaban Bagian Pertama Pertanyaan:
Adapun bagaimana seseorang menghindari kekafiran dan kesyirikan serta mati sebagai seorang Muslim, maka hal itu merujuk pada dua perkara mendasar:
Menempuh jalan yang benar dalam mengambil akidah sesuai dengan manhaj yang telah dijelaskan oleh Al-Qur'an al-Karim dan Sunnah Nabawiyah yang suci. Kita dapat merangkum poin-poin terpentingnya sebagai berikut:
a. Mengambil akidah berdasarkan keyakinan (yaqin), bukan dugaan (zhann), yaitu dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut harus bersifat pasti (qath’i), baik dari segi sumbernya (thubut) maupun maknanya (dilalah).
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنْثَى * وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran." (QS. An-Najm [53]: 27-28). Jadi, persangkaan (zhann) tidak cukup dalam akidah, melainkan harus berupa keyakinan yang pasti.
b. Bersandar pada dalil-dalil rasional (aqli) untuk memahami akidah dalam hal-hal yang terjangkau oleh indra, seperti memikirkan makhluk-makhluk ciptaan Allah; serta bersandar pada dalil-dalil penukilan (naqli) yang dibawa oleh wahyu untuk perkara-perkara gaib yang tidak terjangkau oleh indra, dan cukup berhenti pada apa yang disebutkan dalam teks (nash). Artinya, tidak merumitkan pembahasan akidah Islam dan filsafatnya, melainkan mengambil dan memahaminya dengan mudah, sederhana, namun mendalam dan cemerlang (mustanir), persis seperti yang dipahami oleh para sahabat Rasulullah ﷺ:
Seseorang berpikir dan merenungkan makhluk-makhluk serta memperhatikannya, sehingga ia menyadari bahwa makhluk tersebut memiliki Pencipta. Allah SWT berfirman:
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ * وَإِلى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ * وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ * وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (QS. Al-Ghashiyah [88]: 17-20).
Allah SWT juga berfirman:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ* أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ
"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)." (QS. At-Tur [52]: 35-36).
Allah SWT juga berfirman:
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ * وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
"Dan di bumi itu terdapat tanda-anda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat [51]: 20-21).
Kemudian merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an al-Karim, yang telah dimudahkan oleh Allah bagi siapa yang dikehendaki-Nya:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar [54]: 17).
Dan mengimani segala hukum serta perkara gaib yang ada di dalamnya tanpa masuk ke dalam rincian perkara gaib yang tidak terjangkau oleh indranya, melainkan cukup mengimaninya sebagaimana wahyu menyampaikannya. Misalnya, mengimani nama-nama Allah yang indah (Asmaul Husna) sebagaimana yang disebutkan, tanpa mencoba masuk ke dalam pembahasan tentang zat Allah SWT:
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am [6]: 103).
Serta mengimani segala perkara gaib lainnya: hari akhir, surga, neraka, dan sebagainya, dengan membatasi diri pada apa yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah yang tetap (tsabit) dari Rasulullah ﷺ, tanpa menambah atau mengurangi. Allah SWT berfirman:
تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
"Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Hud [11]: 49).
Allah SWT juga berfirman:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah', dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (QS. An-Naml [27]: 65).
Seorang Muslim harus ikhlas niatnya karena Allah SWT, jujur kepada Rasul-Nya ﷺ, bertawakal kepada Allah, mengikuti petunjuk-Nya, bertakwa kepada-Nya dengan menjauhi kezaliman dan kemaksiatan, serta senantiasa berdoa kepada Allah agar meneguhkannya di atas kebenaran dan iman. Sebagaimana dalam hadis mulia yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunannya dari Anas (ra), ia berkata: Rasulullah ﷺ sering mengucapkan:
يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."
Maka dengan izin-Nya, Allah akan meneguhkannya dengan perkataan yang teguh:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحياةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki." (QS. Ibrahim [14]: 27).
Setiap kali seseorang bertakwa, ikhlas, dan jujur, maka Allah akan memudahkan urusannya. Allah SWT berfirman:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى * وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى * وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى * وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى * إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى * وَإِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولَى
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia." (QS. Al-Layl [92]: 5-13).
Sebagai penutup, saya ingin menarik perhatian penanya bahwa seorang Muslim adalah ia yang beriman kepada akidah Islam, yaitu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qadha dan qadar yang baik maupun yang buruk, sebagaimana yang tercantum dalam kitab Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisa' [4]: 136).
Juga sebagaimana tercantum dalam hadis Rasulullah ﷺ yang dikeluarkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah, dan dikeluarkan oleh Muslim dari Abdullah bin Umar, dan lafaznya milik Muslim. Abdullah bin Umar menceritakan: Ayahku, Umar bin al-Khattab menceritakan kepadaku: "Suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah ﷺ, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Tidak terlihat padanya bekas perjalanan dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Hingga ia duduk di hadapan Nabi ﷺ, lalu ia menyandarkan kedua lututnya ke lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau, lalu berkata: 'Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam'. Rasulullah ﷺ menjawab:
«الْإِسلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا»
'Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah ﷺ, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu menempuh perjalanannya'.
Ia berkata: 'Engkau benar'. Kami pun heran kepadanya, ia bertanya namun ia juga yang membenarkannya. Ia berkata lagi: 'Beritahukanlah kepadaku tentang iman'. Beliau menjawab:
«أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»
'Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk'.
Ia berkata: 'Engkau benar'. Ia berkata lagi: 'Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan'. Beliau menjawab:
«أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»
'Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu'...
Kemudian orang itu pergi, dan aku terdiam beberapa saat. Lalu beliau ﷺ bertanya kepadaku: 'Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?'. Aku menjawab: 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui'. Beliau bersabda:
«فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ»
'Sesungguhnya dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian'."
Sebagai penutup dari segala penutup, saya memohon kepada Allah SWT bagi penanya agar diberikan kehidupan yang baik yang dihabiskan dalam ketaatan kepada Allah SWT dan ketaatan kepada Rasul-Nya ﷺ, sehingga ia meraih kemenangan di dunia dan akhirat, dan itulah kemenangan yang besar.
Saudara Kalian, Ata bin Khalil Abu al-Rashtah
3 Sya’ban 1438 H 30 April 2017 M
Link Jawaban dari Halaman Facebook Amir: Facebook
Link Jawaban dari Halaman Google Plus Amir: Google Plus
Link Jawaban dari Halaman Twitter Amir: Twitter
Link Jawaban dari Situs Web Amir: Amir Web