Serangkaian Jawaban Al-Alim Al-Jalil Atha’ bin Khalil Abu ar-Rashtah Amir Hizbut Tahrir atas Pertanyaan Para Pengunjung Halaman Facebook Beliau "Fiqhi"
Jawaban Pertanyaan
Kepada: Drmusab Al-froukh
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pertanyaan: Sejauh mana kebenaran pernyataan ini?
Telah terjadi diskusi antara salah seorang ulama Nahwu dan salah seorang ulama Balaghah—yaitu Ibnu al-Atsir—mengenai huruf (أنْ) dalam firman Allah Ta'ala:
فَأَصْبَحَ فِى ٱلْمَدِينَةِ خَآئِفاً يَتَرَقَّبُ فَإِذَا ٱلَّذِى ٱسْتَنصَرَهُۥ بِٱلْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُۥ قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰٓ إِنَّكَ لَغَوِىٌّ مُّبِينٌ * فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا قَالَ يَا مُوسَىٰ أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْساً بِالْأَمْسِ
"Karena itu, Musa menjadi ketakutan di kota itu sambil waspada (menanti-nanti akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kepadanya kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya (lagi). Musa berkata kepadanya: 'Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (perbuatannya)'. Maka tatkala Musa hendak memukul dengan keras orang yang menjadi musuh bagi keduanya, berkatalah orang yang musuh itu: 'Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia?'" (QS. Al-Qashash [28]: 18-19)
Ahli Nahwu berkata: Sesungguhnya (أنْ) yang pertama adalah zaidah (tambahan), dan jika dihapus sehingga dibaca: falamma arada an yabtisya, maka maknanya akan sama saja. Bukankah Anda melihat firman Allah Ta'ala:
فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ
"Maka tatkala telah datang pembawa kabar gembira itu, diletakkannya (baju itu) ke wajahnya." (QS. Yusuf [12]: 96)
Para ahli Nahwu telah sepakat bahwa (أنْ) yang terletak setelah lamma dan sebelum kata kerja adalah zaidah.
Bagaimana tanggapan Ibnu al-Atsir? Ibnu al-Atsir berkata menanggapi ahli Nahwu tersebut: Para ahli Nahwu tidak memiliki otoritas fatwa dalam hal-hal terkait kefasihan (fashahah) dan balaghah, dan mereka tidak memiliki pengetahuan tentang rahasia-rahasianya, sejauh kapasitas mereka sebagai ahli Nahwu. Tidak diragukan lagi bahwa mereka mendapati (أنْ) muncul setelah lamma dan sebelum kata kerja dalam Al-Qur'an al-Karim dan dalam perkataan orang-orang fasih, lalu mereka menyangka bahwa maknanya dengan keberadaan huruf tersebut sama saja dengan maknanya jika huruf itu dihilangkan, sehingga mereka berkata: "Ini adalah zaidah". Padahal kenyataannya tidak demikian. Justru, jika muncul lamma dan setelahnya ada (أنْ) kemudian kata kerja, hal itu menjadi dalil bahwa bersegeranya Musa 'alaihis salam untuk membunuh orang kedua tidaklah secepat bersegeranya beliau untuk membunuh orang pertama. Sebaliknya, ada perlambatan dalam menggerakkan tangannya. Oleh karena itu, Al-Qur'an mengungkapkannya dengan firman-Nya: ﴿فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ﴾ dengan tambahan (أنْ) setelah lamma. Dan jika kata kerja muncul setelah lamma dengan tanpa (أنْ), hal itu menjadi dalil bahwa perbuatan tersebut terjadi seketika (fauran). Ibnu al-Atsir mengakhiri diskusinya dengan berkata: "Ini adalah poin-poin halus yang tidak diambil dari ahli Nahwu, karena hal itu bukan bidang mereka."
Maksudnya: Apakah yang dikatakan Ibnu al-Atsir itu akurat? Dan jika tidak, apakah dalam Al-Qur'an ada kata yang berlebih (zaidah)?
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Tampaknya ada sesuatu yang belum tuntas dalam apa yang dikatakan Ibnu al-Atsir dan apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya dalam diskusi tersebut... Masalah ini, sebagaimana yang saya lihat, adalah sebagai berikut:
Sesungguhnya ayat yang mulia ﴿فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا﴾ mengandung dua hal yang harus dipahami, yaitu: (أن يبطش) dan (فلما أن):
1- Adapun yang pertama, yaitu huruf nasab "أن" yang masuk pada kata kerja mudhari', ia adalah harf mashdariyah, nasab, dan istiqbal:
Huruf ini menjadikan kata setelahnya dalam takwil mashdar. Sebagai contoh:
يُرِيدُ اللهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ
"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu" (QS. An-Nisa [4]: 28)
Dapat ditakwilkan menjadi (yuridullah ut-takhfifa 'ankum)... Huruf ini menashabkan kata kerja mudhari'... Adapun statusnya sebagai harf istiqbal adalah karena ia menjadikan kata kerja mudhari' murni menunjukkan waktu yang akan datang (istiqbal), "demikian pula seluruh huruf yang menashabkan mudhari'". Namun, kata kerja mudhari' tanpa masuknya huruf nasab akan tetap mengandung kemungkinan waktu sekarang (hal) dan akan datang (istiqbal)... Berdasarkan makna huruf nasab di atas, maka makna ﴿أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا﴾ cenderung menunjukkan bahwa Musa 'alaihis salam tidak langsung memukul dengan keras saat itu juga, melainkan mulai berpikir terlebih dahulu, karena teksnya adalah ﴿أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ﴾ dan bukan (arada yabtisya). Jika teksnya (arada yabtisya), maka akan mengandung kemungkinan waktu sekarang (hal) dan akan datang (istiqbal), yakni seketika atau berpikir untuk mengambil keputusan, yang kemudian memerlukan qarinah (indikator) untuk menguatkan salah satu perbuatannya, apakah hal atau istiqbal. Sedangkan ﴿أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ﴾ menunjukkan waktu istiqbal bukan hal, yaitu setelah adanya jeda untuk berpikir meskipun sedikit.
2- Adapun penggunaan "أن" setelah "لما" berarti zaidah secara bahasa, karena "لما أن أراد" dari sisi formulasi bahasanya sama seperti "لما أراد", namun ia menjadi zaidah untuk suatu makna, yaitu taukid (penegasan) atas sikap perlahan dalam memukul, yakni taukid bagi kata setelahnya "أن يبطش", yaitu penegasan atas ketiadaan ketergesaan dalam memukul, melainkan dengan berpikir dan menimbang meskipun sedikit.
3- Dengan demikian, "أن" yang pertama dalam ayat mulia tersebut, yaitu "أن أراد", adalah zaidah dari sisi formulasi bahasa tetapi memiliki makna, yaitu untuk taukid atas sikap menahan diri dalam memukul yang disebutkan setelahnya "أن يبطش". Tidak boleh dikatakan bahwa taukid mengharuskan pihak yang menegaskan (muakkid) berada setelah pihak yang ditegaskan (muakkad), baik secara waktu maupun formulasi, seperti ﴿فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ﴾ sebagai penegasan waktu sebagaimana dijelaskan di bawah ini, atau seperti (jaa-a jaa-a 'Aliyun) atau (laa, laa abuhu bis-sirri) sebagai penegasan secara formulasi... Hal ini benar kecuali jika taukid tersebut termasuk bab taukid mutaradif (penegasan yang sinonim), maka keduanya boleh ada bersamaan tanpa syarat didahului atau diakhiri dalam taukid mutaradif. Contohnya Anda berkata (ata jaa-a 'Aliyun), maka (ata) dan (jaa-a) termasuk bab taukid mutaradif, dan urutan sebelum-sesudah tidak berlaku di sini... Demikian pula (فلما أن أراد) memberikan faedah menahan diri dan memberi tempo, yakni tidak seketika, begitu pula yang setelahnya (أن يبطش) yang merupakan kata kerja mudhari' manshub, di mana nasab tersebut memurnikannya untuk masa depan, yakni tidak seketika. Ini termasuk bab taukid mutaradif... Oleh karena itu, "أن" dalam (فلما أن أراد) dapat dikatakan sebagai zaidah secara bahasa namun memiliki makna, yaitu taukid mutaradif terhadap (أن يبطش), yang berarti Musa 'alaihis salam tidak memukul musuhnya seketika, melainkan menahan diri dan memikirkan perkara tersebut...
4- Adapun apakah dalam Al-Qur'an al-Karim terdapat huruf-huruf zaidah, jika yang dimaksud adalah zaidah tanpa makna, maka menurut saya tidak demikian. Tidak ada huruf zaidah dalam Al-Qur'an tanpa makna. Hal ini telah saya sebutkan dalam buku saya (At-Taisir fi Ushul at-Tafsir - Surah al-Baqarah), di mana disebutkan saat menafsirkan ayat yang mulia:
فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ
"maka buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Quran itu" (QS. Al-Baqarah [2]: 23)
Disebutkan di dalamnya: (Tidak ada di dalam Al-Qur'an pengulangan atau tambahan tanpa makna. Oleh karena itu, setiap hal yang disebutkan dalam Al-Qur'an seolah-olah pengulangan atau tambahan, sebenarnya ia berfungsi untuk menambah makna, seperti (مِن) di sini yang memberikan faedah tambahan makna yaitu taukid, yakni penegasan terhadap tantangan sebelumnya.)
Adapun jika yang dimaksud adalah huruf-huruf tambahan untuk suatu makna, maka ini memang ada. Firman Allah Ta'ala dalam surah al-Baqarah: ﴿فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ﴾, di sini "من" mungkin dikatakan zaidah secara bahasa namun ia bukan tanpa makna, melainkan memberikan faedah taukid zamani (penegasan waktu) terhadap urusan yang telah mendahuluinya. Ini berarti tantangan ini telah turun sebelum ayat ini, kemudian datanglah ayat ini untuk menegaskan tantangan sebelumnya tersebut. Dengan mentadaburi ayat-ayat Al-Kitab, menjadi jelas bahwa tantangan ini telah turun sebelum itu di Makkah al-Mukarramah dalam surah Yunus 'alaihis salam:
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُل فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ
"Atau (patutkah) mereka mengatakan: 'Muhammad membuat-buatnya'. Katakanlah: '(Kalau benar demikian), maka cobalah datangkan sebuah surah seumpamanya'" (QS. Yunus [10]: 38)
Surah Yunus adalah Makkiyyah dan surah al-Baqarah adalah Madaniyyah, artinya setelah Yunus. Maka ayat al-Baqarah menjadi penegas bagi ayat Yunus sebelumnya, yaitu dengan adanya tambahan "من" pada ayat surah al-Baqarah dibandingkan dalam surah Yunus, sehingga ia memberikan faedah penegasan atas apa yang sebelumnya dan bukan tanpa makna.
Begitulah yang saya pahami bahwa tidak ada tambahan dalam Al-Qur'an tanpa makna. Wallahu a'lam wa ahkam.
Saudaramu, Atha’ bin Khalil Abu ar-Rashtah
04 Rabiul Awwal 1444 H 30 September 2022 M