Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Syarat-Syarat Thalabun Nushrah Tidak Terpenuhi pada Quraisy Sebelum Fathu Makkah

September 13, 2021
2942

Seri Jawaban Al-Alim Al-Jalil Ata bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan di Akun Facebook Beliau "Fiqhi"

Jawaban Pertanyaan

Kepada Ghaith Ghaith

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Syaikh kami, saya memiliki sebuah pertanyaan. Diketahui bahwa Nabi saw. mencari nushrah (dukungan/pertolongan) dari kabilah-kabilah, tetapi apakah Quraisy termasuk di antara kabilah-kabilah yang diminta nushrah-nya oleh Nabi saw.?

Semoga Allah membalas Anda dengan segala kebaikan.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Thalabun nushrah (mencari dukungan/pertolongan untuk kekuasaan) dilakukan kepada pihak yang menyambut seruan Islam lalu masuk Islam... serta harus merupakan ahlul quwwah wal man’ah (pemilik kekuatan dan perlindungan) sehingga mampu menolong Islam dan menegakkan hukum berdasarkan apa yang diturunkan Allah... Kedua syarat ini wajib terpenuhi pada pihak yang diminta nushrah-nya.

Jika mereka tidak menyambut seruan Islam (tidak masuk Islam), atau tidak termasuk ahlul quwwah wal man’ah yang mampu melakukan perubahan—baik secara mandiri bersama kabilahnya atau bergabung dengan yang lain—maka mereka bukan termasuk ahlun nushrah (orang yang layak dimintai nushrah).

Pada kaum Quraisy, syarat tersebut tidak terpenuhi sebelum Fathu Makkah. Saat itu, ahlul quwwah wal man’ah di kalangan mereka yang mampu melakukan perubahan belum masuk Islam. Oleh karena itu, Rasulullah saw. tidak meminta nushrah dari mereka. Sebaliknya, beliau berdakwah di Makkah mengajak kepada Islam, namun yang masuk Islam hanyalah orang-orang yang lemah, atau beberapa orang kuat secara individu tanpa diikuti kabilahnya, sehingga mereka tidak mampu melakukan perubahan (politik), seperti Umar dan Hamzah.

Oleh karena itu, tidak ada thalabun nushrah dari penduduk Makkah karena tidak terpenuhinya dua syarat tersebut. Yang ada di Makkah hanyalah dakwah menuju Islam, dan tidak ada sambutan terhadap Islam dari ahlul quwwah wal man’ah di Makkah yang mampu melakukan perubahan. Oleh sebab itu, tidak ada thalabun nushrah di Makkah, melainkan Makkah akhirnya dibebaskan melalui penaklukan (fathan).

Itulah sebabnya Rasulullah saw. menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah yang memiliki kekuatan dan perlindungan (dzati quwwatin wa man’ah). Beliau menyeru mereka kepada Islam terlebih dahulu, kemudian meminta nushrah mereka jika mereka telah masuk Islam. Berikut adalah beberapa riwayat mengenai hal tersebut dalam Sirah:

Pertama: Dari Sirah Ibnu Hisyam:

1- Mencari nushrah dari Bani Thaqif:

[Ibnu Ishaq berkata: Ketika Abu Thalib wafat, kaum Quraisy semakin meningkatkan gangguan mereka terhadap Rasulullah saw., sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan selama paman beliau, Abu Thalib, masih hidup. Maka Rasulullah saw. pergi ke Thaif untuk mencari nushrah dari Bani Thaqif dan perlindungan mereka terhadap kaumnya, dengan harapan mereka mau menerima apa yang beliau bawa dari Allah Azza wa Jalla. Beliau pergi ke sana sendirian.

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ziyad menceritakan kepadaku dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, ia berkata: Ketika Rasulullah saw. sampai di Thaif, beliau menuju kepada sekelompok orang dari Bani Thaqif, yang saat itu merupakan para pemimpin dan bangsawan Thaqif. Mereka adalah tiga bersaudara: Abdu Yalail bin Amr bin Umair, Mas’ud bin Amr bin Umair, dan Habib bin Amr bin Umair bin Auf bin Uqdah bin Ghirah bin Auf bin Thaqif. Di salah satu rumah mereka terdapat seorang wanita Quraisy dari Bani Jumah. Rasulullah saw. duduk bersama mereka, menyeru mereka kepada Allah, dan berbicara kepada mereka tentang tujuan kedatangan beliau untuk mendapatkan pembelaan bagi Islam dan dukungan untuk menghadapi orang-orang dari kaumnya yang menyelisihinya.

Salah satu dari mereka berkata: "Ia seolah merobek-robek kelambu Kakbah jika benar Allah mengutusmu." Yang lain berkata: "Apakah Allah tidak menemukan orang lain untuk diutus selain dirimu?" Dan yang ketiga berkata: "Demi Allah, aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya. Jika engkau memang seorang utusan Allah seperti yang engkau katakan, maka kedudukanmu terlalu agung bagiku untuk membantah bicaramu. Namun jika engkau berdusta atas nama Allah, maka tidak pantas bagiku untuk berbicara denganmu." Maka Rasulullah saw. berdiri meninggalkan mereka dalam keadaan putus asa terhadap kebaikan dari Bani Thaqif...]

2- Rasulullah menawarkan diri kepada Bani Amir:

[Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri menceritakan kepadaku bahwa beliau mendatangi Bani Amir bin Sha’sha’ah, lalu menyeru mereka kepada Allah Azza wa Jalla dan menawarkan dirinya kepada mereka. Salah seorang dari mereka yang bernama Bayharah bin Firas berkata—Ibnu Hisyam berkata: Firas bin Abdullah bin Salamah (al-Khair) bin Qusyair bin Ka’ab bin Rabi’ah bin Amir bin Sha’sha’ah—: "Demi Allah, sekiranya aku mengambil pemuda dari Quraisy ini, niscaya aku akan menguasai bangsa Arab dengannya." Kemudian ia berkata: "Bagaimana pendapatmu, jika kami membaiatmu atas urusanmu ini, lalu Allah memenangkanmu atas orang-orang yang menyelisihimu, apakah urusan kekuasaan itu akan beralih kepada kami setelahmu?"

Beliau bersabda: "Urusan itu milik Allah, Dia meletakkannya di mana saja yang Dia kehendaki." Orang itu berkata: "Apakah kami harus menyerahkan leher-leher kami kepada bangsa Arab demi membantumu, lalu setelah Allah memenangkanmu, kekuasaan itu diberikan kepada orang lain? Kami tidak butuh urusanmu itu." Maka mereka pun menolaknya...]

Kedua: Dari kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir ad-Dimasyqi:

[Ia berkata: Kemudian kami sampai di sebuah majelis yang diliputi ketenangan dan wibawa, di sana terdapat para syekh yang memiliki kedudukan dan penampilan yang baik. Abu Bakar maju dan memberi salam—Ali berkata: Abu Bakar selalu terdepan dalam setiap kebaikan—lalu Abu Bakar bertanya kepada mereka: "Dari kaum manakah kalian?" Mereka menjawab: "Dari Bani Syaiban bin Tsa’labah."

Lalu Abu Bakar menoleh kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Demi ayah dan ibuku, tidak ada lagi kemuliaan pada kaum mereka setelah orang-orang ini."

Dalam sebuah riwayat: "Tidak ada lagi uzur bagi kaum mereka selain mereka, mereka adalah pemimpin di kaumnya, dan mereka adalah pemimpin manusia."

Di antara kaum tersebut terdapat Mafruq bin Amr, Hani bin Qabishah, Al-Mutsanna bin Haritsah, dan An-Nu’man bin Syarik. Yang paling dekat posisinya dengan Abu Bakar adalah Mafruq bin Amr. Mafruq bin Amr adalah orang yang paling fasih bicara dan tutur katanya di antara mereka, ia memiliki dua kepangan rambut yang jatuh di dadanya, dan ia duduk paling dekat dengan Abu Bakar.

Abu Bakar bertanya kepadanya: "Bagaimana jumlah personel di antara kalian?" Ia menjawab: "Kami berjumlah lebih dari seribu, dan seribu orang tidak akan terkalahkan karena jumlah yang sedikit." Abu Bakar bertanya lagi: "Bagaimana kekuatan pertahanan (al-man'ah) di antara kalian?"

Ia menjawab: "Kami telah berusaha keras, dan setiap kaum memiliki kesungguhan." Abu Bakar bertanya: "Bagaimana peperangan antara kalian dengan musuh kalian?" Mafruq menjawab: "Kami sangat bersemangat dalam pertempuran saat kami marah. Kami lebih mengutamakan kuda-kuda pilihan daripada anak-anak, dan senjata daripada unta perah. Kemenangan itu dari sisi Allah; terkadang kami menang dan terkadang kami kalah. Mungkinkah engkau saudara dari Quraisy?" Abu Bakar menjawab: "Jika telah sampai kabar kepada kalian bahwa beliau adalah utusan Allah, maka inilah beliau..."

Mafruq berkata: "Telah sampai kepada kami bahwa beliau menyebutkan hal itu. Lalu kepada apa engkau menyeru wahai saudara Quraisy?" Kemudian ia menoleh kepada Rasulullah saw., beliau pun duduk sementara Abu Bakar berdiri menaunginya dengan bajunya. Beliau saw. bersabda:

أَدْعُوكُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شريك لَهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، وَأَنْ تؤوونى وَتَنْصُرُونِي حَتَّى أُؤَدِّيَ عَنِ اللَّهِ الَّذِي أَمَرَنِي بِهِ، فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ تَظَاهَرَتْ عَلَى أَمْرِ اللَّهِ، وَكَذَّبَتْ رَسُولَهُ، وَاسْتَغْنَتْ بِالْبَاطِلِ عَنِ الْحَقِّ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

"Aku menyeru kalian untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa aku adalah utusan Allah. Dan hendaknya kalian melindungiku serta menolongku sehingga aku dapat menunaikan apa yang diperintahkan Allah kepadaku. Sebab, kaum Quraisy telah bersekongkol melawan urusan Allah, mendustakan Rasul-Nya, dan merasa cukup dengan kebatilan daripada kebenaran. Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."...

Mafruq berkata: "Dan ini adalah Al-Mutsanna, syekh kami dan pemimpin perang kami." Al-Mutsanna berkata: "Aku telah mendengar perkataanmu dan aku menyukainya, wahai saudara Quraisy. Apa yang engkau sampaikan sangat mengagumkanku. Jawabanku adalah jawaban Hani bin Qabishah; bahwa meninggalkan agama kami dan mengikuti dirimu hanya karena satu majelis pertemuan seperti ini adalah hal yang sulit. Apalagi kami tinggal di antara dua perbatasan, yang satu adalah Yamamah dan yang lainnya adalah Samawah."

Rasulullah saw. bertanya kepada beliau:

وَمَا هَذَانِ الصَّرَيَانِ؟

"Apakah dua perbatasan tersebut?"

Ia menjawab: "Salah satunya adalah tepian daratan dan tanah Arab, sedangkan yang lainnya adalah tanah Persia dan sungai-sungai Kisra. Kami telah terikat janji dengan Kisra bahwa kami tidak akan melakukan perkara baru dan tidak melindungi pelaku perkara baru. Barangkali urusan yang engkau serukan ini termasuk hal yang dibenci oleh raja-raja. Adapun di wilayah yang berbatasan dengan tanah Arab, maka dosa pelakunya diampuni dan uzurnya diterima. Namun di wilayah yang berbatasan dengan tanah Persia, maka dosa pelakunya tidak diampuni dan uzurnya tidak diterima. Jika engkau ingin kami menolongmu dan melindungimu dari wilayah yang berbatasan dengan Arab, maka kami akan melakukannya."

Maka Rasulullah saw. bersabda:

مَا أَسَأْتُمُ الرَّدَّ إِذْ أَفْصَحْتُمْ بِالصِّدْقِ، إِنَّهُ لَا يَقُومُ بِدِينِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ حَاطَهُ مِنْ جَمِيعِ جَوَانِبِهِ

"Kalian tidak berbuat buruk dalam menolak karena kalian telah berbicara dengan jujur. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menegakkan agama Allah kecuali orang yang menjaganya dari segala sisi."]

Kemudian terjadilah Baiat Aqabah Pertama dan Kedua, diikuti dengan Hijrah dan penegakan Daulah... Kesimpulannya adalah bahwa ahlul quwwah wal man’ah di Makkah tidak memenuhi kriteria tersebut selama tahun-tahun pertama Rasulullah saw. di Makkah. Islam belum merasuk pada mereka, begitu pula kesiapan untuk menolong Rasulullah saw. Oleh karena itu, Rasulullah saw. tidak meminta nushrah mereka untuk menegakkan Daulah di Makkah melalui jalan nushrah. Beliau mencarinya dari pihak yang memenuhi kriteria tersebut, yaitu mereka yang menyambut Islam dan termasuk ahlul quwwah wal man’ah yang mampu melakukan perubahan... Akhirnya kaum Ansar mendapatkan kemuliaan agung ini di dunia dan akhirat, serta kemenangan yang besar. Setelah itu, barulah Daulah Islam menaklukkan Makkah melalui fath...

Semoga penjelasan ini mencukupi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Saudara Kalian, Ata bin Khalil Abu al-Rashtah

06 Safar 1443 H 13 September 2021 M

Link jawaban dari halaman Facebook Amir (semoga Allah menjaganya): https://www.facebook.com/HT.AtaabuAlrashtah/posts/3016028208643183?_rdc=1&_rdr

Link jawaban dari situs web Amir (semoga Allah menjaganya): http://archive.hizb-ut-tahrir.info/arabic/index.php/HTAmeer/QAsingle/4166

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda