Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Apa Aktivitas Hizb Setelah Berdirinya Daulah Khilafah Rasyidah yang Kedua?

July 12, 2021
2797

Seri Jawaban Al-Alim Al-Jalil Ata bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan para Pengunjung Halamannya di Facebook "Fikhi"

Jawaban Pertanyaan

Kepada Abu Muso

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wahai Amir kami, bagaimana kabar Anda? Ketika Daulah Islam tegak, di tahapan (marhalah) mana Hizbut Tahrir berjalan?

Sebagian orang mengatakan Hizb berjalan seperti kondisi marhalah ketiga, dan sebagian lagi mengatakan bahwa ketika berpindah ke tampuk kekuasaan, marhalah ketiga telah berakhir dan Hizb memulai aktivitas yang sepenuhnya baru, yaitu mengoreksi (muhasabah) para penguasa dan melakukan kepemimpinan (qawamah) atas masyarakat... Pendapat mana yang benar dan lebih kuat?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Kami telah menyebutkan di dalam kitab At-Ta’rif hal-hal berikut: [8- Metode (Thariqah) Hizbut Tahrir:

  • Metode perjalanan dalam mengemban dakwah adalah hukum-hukum syariat yang diambil dari metode perjalanan Rasulullah ﷺ dalam mengemban dakwah, karena beliau wajib diikuti berdasarkan firman Allah Ta’ala:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS Al-Ahzab [33]: 21)

Dan firman Allah Ta’ala:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Ali Imran [3]: 31)

Dan firman Allah Ta’ala:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (QS Al-Hasyr [59]: 7)

Serta banyak ayat lainnya yang menunjukkan kewajiban mengikuti Rasulullah ﷺ, meneladani beliau, dan mengambil risalah darinya.

  • Karena kaum Muslim saat ini hidup di darul kufr disebabkan mereka diperintah dengan selain apa yang diturunkan Allah, maka negeri mereka menyerupai Makkah saat Rasulullah ﷺ diutus. Oleh karena itu, periode Makkah dalam mengemban dakwah harus menjadi tempat peneladanan.
  • Siapa pun yang menelusuri sirah Rasulullah ﷺ di Makkah hingga beliau mendirikan Daulah di Madinah, akan jelas baginya bahwa beliau melewati tahapan-tahapan yang memiliki ciri-ciri yang menonjol, di mana beliau melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang nyata. Maka Hizb mengambil metodenya dalam berjalan, tahapan-tahapan perjalanannya, dan aktivitas yang harus dilakukannya dalam tahapan-tahapan ini dari sirah tersebut, sebagai bentuk peneladanan terhadap aktivitas yang dilakukan Rasulullah ﷺ dalam tahapan-tahapan perjalanannya.

Berdasarkan hal tersebut, Hizb menetapkan metode perjalanannya dalam tiga tahapan (marhalah):

Pertama: Tahap Pembinaan (Marhalah at-Tathqif) untuk melahirkan orang-orang yang beriman pada ide (fikrah) dan metode (thariqah) Hizb guna membentuk blok kepartaian (kutlah hizbiyyah).

Kedua: Tahap Interaksi (Marhalah at-Tafa’ul) dengan umat agar umat mengemban Islam, hingga umat menjadikannya sebagai masalah utamanya guna berupaya mewujudkannya dalam realitas kehidupan.

Ketiga: Tahap Pengambilalihan Kekuasaan (Marhalah Istilam al-Hukm), penerapan Islam secara menyeluruh dan total, serta mengembannya sebagai risalah ke seluruh dunia.

- Adapun Tahap Pertama: Telah dimulai oleh Hizb di Al-Quds pada tahun 1372 H - 1953 M di tangan pendirinya, seorang ulama yang mulia, pemikir besar, politisi yang ulung, dan hakim di pengadilan banding Al-Quds, Ustaz Taqiuddin an-Nabhani rahimahullah. Dalam tahapan ini, Hizb melakukan kontak dengan individu-individu umat, menawarkan ide dan metodenya secara individual. Siapa pun yang menyambutnya, Hizb akan membina mereka dalam studi yang terpusat dalam lingkaran-lingkaran (halaqah) Hizb, hingga ia melebur dengan ide-ide dan hukum-hukum Islam yang diadopsi oleh Hizb, menjadi kepribadian Islam (syakhshiyyah islamiyyah), berinteraksi dengan Islam, memiliki pola pikir Islam (aqliyyah islamiyyah) dan pola jiwa Islam (nafsiyyah islamiyyah), serta bergerak mengemban dakwah kepada manusia. Jika seseorang telah mencapai level ini, ia akan memantapkan dirinya pada Hizb dan Hizb akan memasukkannya sebagai anggotanya. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ pada tahap pertama dakwah beliau yang berlangsung selama tiga tahun, yaitu dengan mendakwahi orang-orang secara individu, menawarkan apa yang Allah utus kepadanya, dan siapa pun yang beriman maka beliau akan menghimpunnya bersama beliau atas dasar agama ini secara rahasia, serta bersungguh-sungguh mengajarkan Islam kepadanya dan membacakan apa yang telah dan sedang diturunkan dari Al-Qur'an hingga mereka melebur dengan Islam. Beliau bertemu dengan mereka secara rahasia dan mengajar mereka secara rahasia di tempat-tempat yang tidak terlihat, dan mereka melakukan ibadah dengan cara bersembunyi. Kemudian sebutan Islam tersebar luas di Makkah, orang-orang membicarakannya dan masuk ke dalamnya secara berbondong-bondong...

  • Setelah Hizb mampu membentuk blok kepartaian (kutlah hizbiyyah) ini, dan masyarakat mulai merasakannya, mengenalnya, serta mengenal ide-idenya dan apa yang didakwahkannya, Hizb berpindah ke:

Tahap Kedua: Yaitu tahap interaksi dengan umat untuk memahamkan Islam kepada umat, serta menciptakan kesadaran umum (wa'yu 'am) dan opini umum (ra'yu 'am) di tengah umat berdasarkan ide-ide dan hukum-hukum Islam yang diadopsi Hizb, sehingga umat menjadikannya sebagai ide-idenya sendiri, berupaya mewujudkannya dalam realitas kehidupan, dan berjalan bersama Hizb dalam aktivitas mendirikan Daulah Khilafah serta mengangkat seorang Khalifah untuk melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Pada tahap ini, Hizb berpindah untuk menyeru massa secara kolektif. Dalam tahap ini, Hizb melakukan aktivitas-aktivitas berikut:

  1. Pembinaan terpusat (at-tathqif al-murakkaz) dalam halaqah-halaqah bagi individu untuk menumbuhkan tubuh Hizb, memperbanyak jumlahnya, dan melahirkan kepribadian Islam yang mampu mengemban dakwah serta terjun ke dalam pergulatan pemikiran (shira’ fikri) dan perjuangan politik (kifah siyasi).
  2. Pembinaan kolektif (at-tathqif al-jamā’i) terhadap massa umat dengan ide-ide dan hukum-hukum Islam yang diadopsi Hizb melalui pelajaran di masjid-masjid, klub-klub, ceramah, tempat-tempat pertemuan umum, serta melalui surat kabar, buku, dan selebaran untuk menciptakan kesadaran umum di tengah umat dan berinteraksi dengannya.
  3. Pergulatan pemikiran (shira’ fikri) terhadap akidah-akidah, sistem-sistem, dan ide-ide kufur, serta terhadap akidah yang rusak, pemikiran yang salah, dan pemahaman yang keliru dengan menjelaskan kepalsuannya, kesalahannya, dan pertentangannya dengan Islam agar umat terbebas darinya dan dari pengaruhnya.
  4. Perjuangan politik (kifah siyasi)...
  • Ketika masyarakat menjadi jumud di hadapan Hizb akibat hilangnya kepercayaan umat terhadap para pemimpin dan tokoh yang tadinya menjadi tumpuan harapan mereka, akibat kondisi sulit yang dialami wilayah tersebut untuk meloloskan rencana-rencana konspirasi, akibat penguasaan dan penindasan yang dilakukan para penguasa terhadap rakyatnya, serta akibat beratnya gangguan yang ditimpakan penguasa kepada Hizb dan para pemudanya; ketika terjadi kejumudan akibat semua itu, maka Hizb melakukan aktivitas thalabun nushrah (mencari pertolongan) dari orang-orang yang mampu memberikannya...

Bersamaan dengan Hizb melakukan aktivitas thalabun nushrah ini, Hizb terus melanjutkan seluruh aktivitas yang selama ini dilakukan, mulai dari studi terpusat di dalam halaqah, pembinaan kolektif, fokus pada umat agar mereka mengemban Islam dan menciptakan opini umum di tengah umat, memerangi negara-negara kafir penjajah serta menyingkap rencana dan membongkar konspirasi mereka, menentang para penguasa, serta mengadopsi kepentingan umat dan mengurus urusan mereka.

  • Hizb terus melakukan semua itu dengan penuh harap kepada Allah agar Allah mewujudkan kemenangan dan kesuksesan bagi Hizb dan umat Islam, sehingga tercapailah:

Tahap Ketiga: Yaitu tegaknya Khilafah Rasyidah, dan saat itulah orang-orang mukmin bergembira karena pertolongan Allah.] Selesai kutipan dari kitab At-Ta'rif.

Oleh karena itu, ketiga tahapan tersebut adalah ketika Daulah tidak ada, sehingga aktivitas Hizb adalah melaksanakan kewajiban tiga tahapan tersebut. Adapun ketika Daulah telah tegak, maka segala hal yang berkaitan dengan pendirian Daulah tidak lagi menjadi aktivitas Hizb. Misalnya, thalabun nushrah di akhir tahap kedua untuk mendirikan negara tidak lagi ada, demikian pula tahap ketiga yaitu mendirikan negara, semuanya tidak lagi ada karena negara sudah tegak. Sebaliknya, posisi semua itu digantikan oleh aktivitas mengoreksi penguasa (muhasabah al-hakim) sesuai dengan dalil-dalil syariat. Sedangkan tahapan lainnya tetap berlanjut dengan kekuatan yang lebih besar dan aktivitas yang lebih luas karena keadilan setelah tegaknya Daulah akan menggantikan kezaliman, dan terciptanya suasana yang kondusif bagi aktivitas Hizb akan menggantikan pengejaran yang keras terhadap Hizb. Benar, saat itulah orang-orang mukmin bergembira karena pertolongan Allah.

Kami telah menjelaskan dalam kitab-kitab kami, khususnya di dalam Al-Kurasah, bagaimana cara melakukan muhasabah sesuai dengan hukum-hukum syariat... Dan dalam penjelasan ini sudah mencukupi, Wallahu a’lam wa ahkam.

Saudaramu, Ata bin Khalil Abu al-Rashtah

01 Dzulhijjah 1442 H Bertepatan dengan 11/07/2021 M

Link jawaban dari halaman Amir (semoga Allah melindunginya) di Facebook

Link jawaban dari halaman Amir (semoga Allah melindunginya) di Web

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda