Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Soal: Mus'ab bin Umair dan Thalabun Nusrah

August 30, 2018
5976

(Seri Jawaban Syekh Al-Alim Atha bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir atas Pertanyaan di Laman Facebook Beliau "Fikihi")

Jawab Soal Mus'ab bin Umair dan Thalabun Nusrah Kepada Jihad Jihad dan Atiyah al-Jabarin

Pertanyaan dari Jihad Jihad:

Assalamu’alaikum,

Mohon maaf, apa dalil bahwa Mus'ab bin Umair melakukan thalabun nusrah (mencari pertolongan/dukungan kekuatan), padahal keberadaannya di Madinah hanyalah sebagai pengemban dakwah? Mohon penjelasan yang memuaskan.

Pertanyaan dari Atiyah al-Jabarin:

Amir kami dan Syekh kami Abu Yasin... Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh...

Telah disebutkan dalam jawab soal (Mereka yang Meninggalkan Dakwah dan Tertundanya Kemenangan) mengenai topik thalabun nusrah ("...atau apakah Mus'ab lebih baik dalam melakukan thalabun nusrah melebihi kebaikan Rasulullah saw.?") dan disebutkan pula ("...Rasulullah saw. telah melakukan thalabun nusrah belasan kali namun tidak dipenuhi, padahal beliau melakukan amal dengan sebaik-baiknya... sedangkan Mus'ab radhiyallahu 'anhu dipenuhi dukungannya..."). Wahai Syekh kami yang mulia, kami berharap Anda menyebutkan dalil bahwa Mus'ab bin Umair radhiyallahu 'anhu melakukan thalabun nusrah dari penduduk Madinah... Sebab yang kami ketahui menurut kitab-kitab sirah dan juga kitab Ad-Dawlah al-Islamiyyah karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah adalah bahwa Mus'ab bin Umair berada di Madinah untuk menyeru manusia kepada Islam, dan tidak pernah terlintas bagi kami bahwa beliau meminta nusrah (pertolongan/dukungan kekuasaan) dari mereka. Barakallahu fika dan semoga Allah mengumpulkan kami bersama Anda dalam Daulah Islam segera.

Saudaramu, Atiyah al-Jabarin – Palestina

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Pertanyaan kalian berdua serupa, dan berikut adalah jawabannya:

  1. Sungguh saya heran dengan pertanyaan ini. Kalian berdua meminta dalil bahwa Mus'ab radhiyallahu 'anhu melakukan thalabun nusrah di Madinah, padahal ia berada di Madinah sebagai pengemban dakwah (seperti yang dikatakan Jihad), atau menyeru manusia kepada Islam (seperti yang dikatakan Atiyah)! Benarkah demikian?! Apakah thalabun nusrah itu bukan bagian dari mengemban dakwah? Apakah thalabun nusrah itu bukan bagian dari menyeru manusia kepada Islam?

    Sesungguhnya pengemban dakwah menyeru manusia kepada Islam, baik masyarakat umum maupun ahlul quwwah wal man'ah (pemilik kekuatan dan perlindungan) di antara mereka. Aktivitasnya terhadap masyarakat umum hanyalah mengemban dakwah (menyampaikan Islam), sedangkan aktivitasnya terhadap ahlul quwwah wal man'ah adalah mengemban dakwah sekaligus thalabun nusrah... Oleh karena itu, setelah Allah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa memerintahkan Rasulullah saw. untuk melakukan thalabun nusrah, beliau mendatangi para kepala kabilah dari kalangan pemilik kekuatan dan perlindungan. Beliau menyeru kepala kabilah tersebut kepada Islam, jika ia masuk Islam... dan seterusnya, barulah beliau mengajaknya untuk memberikan nusrah (pertolongan). Adapun jika kepala kabilah tersebut bukan termasuk pemilik kekuatan, melainkan hanya tokoh masyarakat biasa, atau kabilahnya kecil dan tidak memiliki kekuatan serta perlindungan, maka Rasulullah saw. hanya menyerunya kepada Islam tanpa meminta nusrah darinya.

  2. Demikian pula yang dilakukan oleh Mus'ab radhiyallahu 'anhu. Beliau menyeru penduduk Madinah kepada Islam dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka hingga Islam tersebar luas. Mus'ab berkata kepada Rasulullah saw. bahwa tidak ada satu rumah pun melainkan Islam telah memasukinya dan ada orang dari penghuninya yang masuk Islam. Artinya, jumlah kaum Muslim sudah banyak, namun ahlul quwwah wal man'ah di antara mereka jumlahnya terbatas, yaitu 73 laki-laki dan 2 wanita... Ketika kekuatan ini telah siap bagi Mus'ab, beliau kembali pada musim haji tahun ke-11 kenabian kepada Rasulullah saw. dan memaparkan perkara tersebut kepada beliau saw., bahwa para pemilik kekuatan ini akan datang pada musim mendatang (yaitu musim haji tahun ke-12) agar Rasulullah saw. memberikan syarat apa pun yang beliau kehendaki kepada mereka, dan mereka telah siap dengan izin Allah...

  3. Saya kutipkan untukmu apa yang ada di dalam kitab Ad-Dawlah mengenai topik ini: ("...hingga ketika datang musim haji tahun ke-11, ia kembali ke Mekah dan menceritakan kepada Rasulullah saw. berita tentang kaum Muslim dan kekuatan mereka, kabar tentang Islam dan persebarannya yang semakin luas. Ia menggambarkan masyarakat di Madinah bahwa tidak ada lagi pembicaraan kecuali tentang Rasulullah saw., tidak ada sesuatu pun di atmosfernya kecuali Islam, dan bahwa kekuatan kaum Muslim serta perlindungan mereka di sana memiliki pengaruh yang menjadikan Islam sebagai pemenang atas segala sesuatu, dan bahwa tahun ini akan hadir beberapa orang Muslim yang memiliki iman kepada Allah yang paling agung, serta kesiapan untuk mengemban risalah Allah dan membela agama Allah. Maka Nabi saw. sangat gembira dengan berita dari Mus'ab tersebut dan beliau memikirkan perkara itu cukup lama, serta membandingkan antara masyarakat Mekah dan masyarakat Madinah. Sebab, di Mekah beliau telah menghabiskan waktu menyeru kepada Allah selama dua belas tahun berturut-turut tanpa lelah dalam berdakwah, tidak membiarkan satu kesempatan pun kecuali beliau mencurahkan segala kemampuan, dan menanggung segala bentuk gangguan, namun masyarakatnya tetap membatu dan dakwah tidak menemukan jalan ke sana... Adapun masyarakat Madinah, berlalunya satu tahun setelah masuk Islamnya beberapa orang dari Khazraj, kemudian baiat dua belas laki-laki, serta upaya Mus'ab bin Umair selama satu tahun berikutnya, hal itu sudah cukup untuk mewujudkan atmosfer Islami di Madinah dan masuknya manusia ke dalam agama Allah dengan kecepatan yang menakjubkan...").

  4. Sebagaimana yang Anda lihat, Mus'ab radhiyallahu 'anhu sebelum mengirimkan para pemilik kekuatan dan perlindungan tersebut kepada Rasulullah saw., ia terlebih dahulu datang kepada Rasulullah saw. dan menginformasikan kepada beliau tentang tersebarnya Islam di Madinah, bahwa di antara mereka ada pemilik kekuatan dan perlindungan, serta mereka siap untuk hadir pada musim mendatang agar Rasulullah saw. mengambil janji (baiat) apa pun yang beliau kehendaki dari mereka... Maka Rasulullah saw. merasa gembira dengan apa yang dikatakan Mus'ab, dan beliau menetapkan serta menyetujui agar mereka hadir pada musim mendatang. Demikianlah yang terjadi, mereka hadir pada musim haji tahun ke-12 kenabian dan terjadilah Baiat Aqabah Kedua...

  5. Sekarang kita lanjutkan dari kitab Ad-Dawlah: ("...Beliau menunggu kedatangan para jemaah haji, yaitu pada tahun kedua belas kenabian yang bertepatan dengan tahun 622 Masehi. Jemaah haji saat itu memang banyak, dan di antara mereka terdapat tujuh puluh lima orang Muslim: tujuh puluh tiga laki-laki dan dua wanita, yaitu Nusaibah binti Ka'ab (Ummu Umarah) dari Bani Mazin bin an-Najjar, dan Asma binti Amru bin Adi dari Bani Salamah (Ummu Mani'). Rasulullah saw. menghubungi mereka secara rahasia... lalu menjanjikan mereka untuk bertemu di Aqabah pada tengah malam, di pertengahan hari Tasyrik. Beliau berpesan kepada mereka: 'Janganlah kalian membangunkan orang yang tidur, dan janganlah menunggu orang yang tidak ada.' Pada hari yang telah ditentukan, setelah berlalu sepertiga malam yang pertama, mereka keluar dari tempat persinggahan secara diam-diam karena takut ketahuan. Mereka menuju Aqabah dan mendaki gunung semuanya, termasuk kedua wanita tersebut, lalu mereka menunggu Rasulullah saw... Kemudian mereka berkata: 'Berbicaralah wahai Rasulullah, ambillah untuk dirimu dan untuk Tuhanmu apa yang engkau sukai.' Maka Rasulullah saw. menjawab setelah membacakan Al-Qur'an dan memberikan motivasi kepada Islam:")

    «أبايعكم على أن تمنعوني مما تمنعون منه نساءكم وأبناءكم»

    "Aku membaiat kalian untuk melindungiku sebagaimana kalian melindungi wanita-wanita dan anak-anak kalian." (Hadis)

    ("Maka Al-Bara' mengulurkan tangan untuk membaiat beliau atas hal itu dan berkata: 'Baiatlah kami wahai Rasulullah, demi Allah kami adalah putra-putra peperangan dan ahli senjata (ahlul halqah), kami mewarisinya turun-temurun...' Kemudian mereka bertanya: 'Apa yang akan kami peroleh wahai Rasulullah jika kami memenuhi hal itu?' Maka Rasulullah saw. menjawab dengan jiwa yang tenang:")

    «الجنة»

    "Surga." (Hadis)

Dari semua ini jelaslah bahwa:

Bahwa Rasulullah saw. mengutus "Mus'ab" radhiyallahu 'anhu bersama dua belas laki-laki setelah Baiat Aqabah Pertama pada tahun kesepuluh kenabian... Maka beliau radhiyallahu 'anhu menyeru manusia kepada Islam di Madinah, dan di antara mereka terdapat para pemilik kekuatan yang beliau seru untuk memberikan nusrah (pertolongan) bagi agama Allah... Dan bahwa "Mus'ab" kembali kepada Rasulullah saw. pada tahun kesebelas, memaparkan fakta di Madinah kepada Rasulullah saw. terkait penyebaran Islam dan keberadaan para pemilik kekuatan di antara mereka, serta kesiapan mereka untuk hadir pada musim haji tahun kedua belas agar Rasulullah saw. mensyaratkan apa pun yang beliau kehendaki untuk menolong agamanya... Maka Rasulullah saw. menyetujui dan menetapkan perbuatan Mus'ab yang ia lakukan di Madinah, serta gembira dengan hasil-hasil baik yang tercapai di sana dengan izin Allah. Maka pada musim haji tahun ke-12, datanglah tujuh puluh tiga laki-laki dan dua wanita, lalu terjadilah Baiat Aqabah Kedua, kemudian hijrah dan tegaknya negara...

Oleh karena itu, amal Mus'ab di Madinah adalah rukun (pilar) mendasar dalam aktivitas-aktivitas nusrah. Allah telah memberikan kemenangan melalui tangannya dengan adanya para pemilik kekuatan dan perlindungan yang bersiap menolong agama Allah. Saya ulangi lagi apa yang dikatakan Mus'ab kepada Rasulullah saw.: ("...dan bahwa kekuatan kaum Muslim serta perlindungan mereka di sana memiliki pengaruh yang menjadikan Islam sebagai pemenang atas segala sesuatu, dan bahwa tahun ini akan hadir beberapa orang Muslim yang memiliki iman kepada Allah yang paling agung, serta kesiapan untuk mengemban risalah Allah dan membela agama Allah.")

Semoga Allah merahmati Mus'ab dan meridhainya, karena Allah telah memberikan kemenangan yang agung melalui tangannya yang membuahkan Baiat Aqabah Kedua bagi Rasulullah saw., yang kemudian diikuti dengan hijrah dan tegaknya negara. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Semoga jawaban ini memadai, insya Allah.

Saudaramu, Atha bin Khalil Abu al-Rashtah

18 Dzulhijjah 1439 H 29/08/2018 M

Link jawaban dari laman Amir (semoga Allah menjaganya) di Facebook: https://web.facebook.com/AmeerhtAtabinKhalil/photos/a.122855544578192/903762103154195/?type=3&theater

Link jawaban dari laman Amir (semoga Allah menjaganya) di Google Plus: https://plus.google.com/u/0/b/100431756357007517653/100431756357007517653/posts/ao56pCg5T5y

Link jawaban dari laman Amir (semoga Allah menjaganya) di web: http://archive.hizb-ut-tahrir.info/arabic/index.php/HTAmeer/QAsingle/3896

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda