Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Gelombang Kenaikan Harga yang Besar di Yordania

June 06, 2022
2642

Pertanyaan:

Yordania sedang dilanda gelombang kenaikan harga yang besar, mencakup komoditas pangan pokok seperti unggas, minyak goreng, dan daging merah, serta barang-barang lainnya. Apakah krisis biaya hidup ini bersifat sementara, ataukah ada penyebab yang menekan sistem ekonomi di Yordania sebagai akibat dari hubungan regional dan internasionalnya? Sejauh mana kebenaran rumor bahwa pandemi Corona dan perang Rusia-Ukraina adalah penyebab kenaikan harga tersebut?

Jawaban:

Dengan meninjau situasi ekonomi di Yordania, tampak hal-hal sebagai berikut:

Pertama: Penyebab umum dari gelombang kenaikan harga di Yordania dapat diringkas pada ketiadaan pengurusan (ri’ayah) negara terhadap warga negaranya. Di saat Laut Mati mengering karena eksploitasi air Sungai Yordan oleh entitas Yahudi—di mana mereka membangun fasilitas industri kesehatan dan mineral di pesisirnya—sebaliknya Yordania hanya membangun fasilitas kecil yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. Yordania juga menahan diri dari eksplorasi minyak dan gas secara efektif di sekitar Laut Mati, padahal beberapa sumber memperkirakan bahwa sumber energi di sana merupakan kekayaan yang sangat besar dan berkualitas tinggi. Di saat kas negara menanggung kerugian besar untuk mengimpor gas dari entitas Yahudi guna mengoperasikan pembangkit listrik dan penggunaan gas lainnya, di sisi lain Yordania tidak memberikan perhatian untuk mengimpor gas dari negara-negara Teluk yang kaya akan gas. Yang lebih penting lagi, Yordania tidak membangun pembangkit listrik tenaga nuklir untuk memproduksi listrik dan memanfaatkan cadangan uranium yang sangat besar di dalam tanah Yordania. Meskipun ada beberapa "kebisingan" mengenai studi di bidang ini, namun jika rezim Yordania jujur dan ikhlas, ia mampu menjadi pemasok listrik utama di seluruh kawasan melalui energi nuklir yang tersimpan di tanahnya.

Kedua: Ketika masyarakat di Yordania mulai bergantung secara parsial pada energi surya untuk menutupi sebagian tagihan listrik di rumah dan pabrik mereka, pemerintah justru mulai mengincar mereka dan mengancam akan mengenakan pajak atas matahari dan udara (energi angin). Hal ini dilakukan untuk menghentikan tren tersebut dan membatasi pemanfaatan energi gratis oleh warga. (Para ahli di bidang energi dan ekonomi mengecam rencana pemerintah untuk mengenakan biaya sebesar dua dinar untuk setiap kilowatt kapasitas pembangkit dari panel surya yang digunakan warga di rumah, mengingat panel tersebut tidak membebani pemerintah sedikit pun dan dipasang atas biaya warga sendiri. Situs Jo24, 3/3/2022).

Ketiga: Di antara penyebab gelombang kenaikan harga saat ini adalah pengikatan ekonomi Yordania dengan negara-negara Kapitalis. Dolar AS adalah cadangan Bank Sentral Yordania yang menyokong dinar, sehingga nilai dinar Yordania berfluktuasi seiring dengan dolar. Ini berarti ketidakmampuan negara untuk mengadopsi cadangan emas telah menjadikan ekonomi Yordania sebagai salah satu pengikut internasional bagi ekonomi Amerika. Salah satu bentuk ketergantungan ini adalah ketika Amerika, setelah pandemi Corona, mulai menaikkan suku bunga (riba) pinjaman setelah sebelumnya menyentuh angka nol. Hal ini mendorong Bank Sentral Yordania untuk turut menaikkan suku bunga (riba): (Keputusan Bank Sentral Yordania untuk menaikkan suku bunga pada semua instrumen kebijakan moneternya sebesar 50 basis poin sejak Minggu lalu, sejalan dengan keputusan Federal Reserve AS, telah memicu kekhawatiran para debitur bank dari kalangan individu dan sektor ekonomi akan langkah bank-bank untuk menaikkan suku bunga fasilitas kredit termasuk pinjaman pribadi. Al-Araby Al-Jadeed, 13/5/2022). Dengan demikian, Bank Sentral Yordania mengikuti keputusan Federal Reserve AS, sehingga sekelompok warga Yordania tiba-tiba mendapati bahwa bunga riba pada pinjaman lama mereka di bank komersial telah naik dan cicilan riba yang harus mereka bayar pun meningkat!

Keempat: Ditambah lagi, negara telah membebani rakyat Yordania dengan utang. Utang negara di Yordania meningkat (menurut data terbaru Bank Sentral Yordania pada akhir November tahun lalu sebesar 2,32 miliar dinar hingga mencapai 35,35 miliar dinar, atau sekitar 110,3 persen dari PDB, dibandingkan dengan 33,03 miliar dinar pada akhir tahun 2020, yang setara dengan 106,5 persen dari PDB periode tersebut... Al-Araby Al-Jadeed 16/4/2022), artinya total utang sekitar 50 miliar dolar. Itu adalah utang dalam negeri dari bank-bank Yordania dan utang luar negeri. Berdasarkan informasi dari sumber yang sama, Yordania membayar lebih dari 2,7 miliar dolar per tahun dari pajak yang dikumpulkan negara hanya untuk pelayanan utang (riba). Ini adalah angka yang besar dan mewakili 37% dari nilai pajak tahunan yang dipungut negara dari warga Yordania. Menurut surat kabar Independent Arabia, 12/1/2022: (Warga Yordania mengeluhkan kenaikan terus-menerus dalam volume pajak dan biaya yang dibebankan kepada mereka dalam beberapa tahun terakhir, yang mulai menyita sebagian besar pendapatan mereka. Warga Yordania menyebut negara mereka sebagai yang paling banyak mengenakan pajak di kawasan tersebut, di mana persentase pajak pada beberapa barang dan jasa, seperti mobil dan bahan bakar, mencapai lebih dari 70 persen, sementara seperempat pendapatan warga Yordania habis untuk membayar pajak...). Dengan demikian jelaslah bahwa negara di Yordania bekerja untuk menguras dana ekonomi yang diperlukan bagi pertumbuhan ekonomi dan membayarkannya sebagai riba atas utang luar negeri dan dalam negerinya. Hal ini semakin membebani institusi ekonomi dan menambah beban warga Yordania yang membayar pajak pada setiap transaksi pembelian, baik kecil maupun besar. Artinya, hasil pajak yang terkumpul di negara hilang seperti debu yang beterbangan, terutama kepada para pemberi utang luar negeri tanpa ada manfaat bagi rakyat. Warga Yordania tidak merasakan layanan pengurusan yang seharusnya diberikan negara setelah memungut pajak. Tidak hanya itu, sebagai tambahan penyesatan, negara berdalih bahwa pengungsi Suriah adalah salah satu penyebab kelemahan ekonomi dan kurangnya pertumbuhan. Semua ini hanyalah upaya untuk melempar abu ke mata; sebab jika negara di Yordania ingin memanfaatkan para pengungsi Suriah untuk mendukung ekonomi, mereka bisa menjadi faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi sebagaimana dilakukan negara lain seperti Jerman misalnya. Namun, negara di Yordania justru mengurung sebagian besar dari mereka di kamp-kamp tertutup seolah-olah mereka adalah tahanan!

Kelima: Penyebab terkait lainnya adalah bahwa fondasi vital bagi kehidupan masyarakat di Yordania telah diserahkan oleh rezim ke tangan Yahudi, di mana ia mengimpor air dari mereka:

  1. ("Seorang pejabat Yordania mengatakan bahwa Israel 'memberikan' Yordania 30 juta meter kubik air per tahun berdasarkan perjanjian perdamaian yang ditandatangani antara kedua negara pada tahun 1994." BBC, 9/7/2021). Debit Sungai Yordan menurun hingga ke tingkat kekeringan karena persetujuan rezim Yordania agar Yahudi menjarah Sungai Yordan dari hulu-hulu bagian atasnya, sementara air warga Yordania tunduk pada kerelaan entitas Yahudi yang memberi, menahan, menambah, atau mengurangi. ("Seorang pejabat Israel dikutip mengatakan bahwa perjanjian Yordania-Israel secara praktis akan menggandakan jumlah air yang akan dipasok Israel ke Yordania tahun ini—selama periode dari Mei 2021 hingga Mei 2022. Israel telah memasok Yordania dengan 50 juta meter kubik sejauh ini, menurut pejabat Israel tersebut." BBC, 9/7/2021). Adapun harga air yang "diimpor" Yordania dari entitas Yahudi biasanya dirahasiakan karena harganya yang fantastis dan korupsi yang nyata di dalamnya. Namun, beberapa berita bocor bahwa harga tersebut mencapai 40 sen Amerika per meter kubik, ditambah biaya pemompaan dan pemurnian yang mahal mencapai 22 sen per meter kubik (Al-Jazeera Net, 6/6/2011). Dengan harga-harga tersebut, air menjadi salah satu hambatan besar bagi ekonomi setelah pemerintah menyerahkan dirinya dan rakyatnya kepada entitas Yahudi untuk mengambil air Sungai Yordan yang murni dan memberikan Yordania air yang diragukan kemurniannya.

  2. Demikian pula, rezim Yordania sengaja mengaitkan Yordania dengan gas dari entitas Yahudi setelah sebelumnya mengambilnya dari negara-negara Teluk. Seolah-olah Yordania sedang menunggu penemuan gas alam oleh Yahudi di Mediterania Timur, sehingga ia memutus tali perjanjiannya dengan negara-negara Teluk dan menjalinnya dengan Yahudi. ("Perjanjian 'Yordania/Israel' mengenai impor gas menetapkan pasokan kepada Yordania sekitar 45 miliar meter kubik gas selama 15 tahun, mulai Januari 2020. Perjanjian ini muncul di tengah ketegangan politik antara Israel dan Yordania serta penolakan rakyat dan parlemen terhadap perjanjian ini." Independent Arabia, 1/1/2020). Meskipun demikian, perjanjian tersebut tetap dilaksanakan meski ada ketegangan dan penolakan!

Keenam: Dengan hal-hal di atas, menjadi jelaslah penyebab sebenarnya dari keterpurukan ekonomi Yordania, yang tingkat penganggurannya mencapai 42% (Independent Arabia, 1/3/2019), dan bahwa omong kosong tentang reformasi ekonomi hanyalah hampa tanpa tindakan nyata, terlebih lagi korupsi pemerintah semakin meningkatkan pemborosan dan pengurasan uang! Keterpurukan ekonomi yang terus menerus di Yordania ini adalah inti dari kebijakan ekonomi yang diperintahkan oleh negara-negara kafir Amerika dan Inggris agar Yordania mengikutinya, serta inti dari apa yang diminta oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dari Yordania. Kebijakan ini terus berlanjut, hingga jika negara-negara tersebut khawatir rakyat akan bangkit melawan rezim, mereka memberikan sedikit bantuan. Di antara bantuan tersebut adalah beberapa hibah yang diberikan oleh IMF untuk meringankan beban pelayanan utang, yaitu untuk membayar bunga pinjaman riba yang dipinjam oleh negara di Yordania. Salah satu jenis bantuan tersebut juga adalah ketika Inggris mengumpulkan lebih dari 60 negara dan 450 lembaga keuangan dalam konferensi internasional yang diadakan di London untuk mendukung ekonomi Yordania, yang dihadiri oleh pemerintah Yordania dengan sebagian besar menterinya... (Independent Arabia, 1/3/2019). Namun semua bantuan ini ditujukan untuk mencegah revolusi umat dalam mengambil kembali hak-haknya.

Ketujuh: Demikianlah menjadi jelas penyebab yang mendasari gelombang kenaikan harga saat ini yang menghantam rakyat Yordania. Inilah penyebab utama dan sebenarnya di balik gelombang kenaikan harga ini. Adapun penyebab lain dari gelombang kenaikan harga global yang diramaikan oleh media di seluruh dunia akibat pandemi Corona, serta penyebab terkait perang Rusia di Ukraina, meskipun memiliki dampak ekonomi, namun hal itu dapat diatasi atau diringankan jika penyebab kerusakan ekonomi yang dijelaskan di atas ditangani dengan benar sesuai dengan hukum syarak. Jika tidak, maka negeri ini akan semakin sengsara dan harga-harga semakin melambung tinggi. Benarlah firman Allah:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." (QS Thaha [20]: 124)

Hal ini akan terus berlanjut hingga umat mengambil keputusan tegas, menambatkan hatinya pada akidahnya, berpegang teguh pada tali Allah, menyerahkan kepemimpinannya kepada putra-putranya yang ikhlas dan sadar, serta meruntuhkan kebijakan negara-negara besar dengan menumbangkan agen-agen mereka dan menegakkan Khilafah Rasyidah di atas manhaj kenabian. Maka Khilafah akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, dan saat itulah kehidupannya akan berubah menjadi kemuliaan setelah kehinaan, kemakmuran setelah kemiskinan, dan kekuasaan setelah ketundukan dan ketergantungan.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS Qaf [50]: 37)

7 Zulkaidah 1443 H 6 Juni 2022 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda