Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Soal: Kaum Nabi Isa AS

June 03, 2023
5717

Seri Jawaban Ulama Al-Jaliil Atha’ bin Khalil Abu ar-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan Para Pengunjung Halaman Facebook Beliau "Fikri"

Jawaban Pertanyaan

Kepada Anis Tardaeh

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Syekh kami yang mulia dan Amir kami yang utama, saya memohon kepada Allah semoga Anda senantiasa dalam keadaan sehat dan afiat.

Pertanyaan saya: Apakah Nabi Isa as. memiliki kaum, padahal beliau tidak memiliki ayah? Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Naqdu al-Fikri al-Gharbi ar-Ra’smali halaman 138?

Semoga Allah membalas Anda dengan segala kebaikan dan menguatkan Anda dengan pertolongan-Nya. Anis Tardaeh – Palestina.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Bagian yang Anda tanyakan adalah pernyataan dalam kitab Naqdu al-Fikri al-Gharbi ar-Ra'smali halaman 138: "Sang Khalik Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan tata cara pengaturan hubungan-Nya dengan makhluk, maka Dia mengutus para rasul kepada umat manusia. Di antara mereka adalah Musa as. kepada kaumnya, Isa as. kepada kaumnya, dan Muhammad saw. kepada seluruh manusia." Selesai.

Anda bertanya apakah tepat jika dikatakan bahwa Isa as. memiliki kaum sementara beliau tidak memiliki ayah, dan Anda merujuk pada apa yang ada di dalam kitab Naqdu al-Fikri al-Gharbi ar-Ra'smali pada kalimat: "dan Isa as. kepada kaumnya". Seolah-olah Anda berpendapat bahwa pernyataan ini tidak tepat atau tidak sesuai...!

Untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan ini, mari kita merujuk pada sumber-sumber berikut:

1- Bahasa:

  • Disebutkan dalam Lisanul Arab (12/496): "...dan al-qawm adalah sekelompok laki-laki dan perempuan secara bersama-sama. Ada yang berpendapat itu khusus untuk laki-laki, bukan perempuan... dan kaum bagi setiap orang adalah para pengikutnya dan kerabatnya (asyirah)..." Selesai.

  • Al-Qamus al-Muhith (3/275): "Al-Qawm adalah sekelompok laki-laki dan perempuan bersama-sama, atau laki-laki saja, atau perempuan termasuk di dalamnya sebagai pengikut... istaqama: lurus/adil. Qawwamtuhu: aku meluruskannya, maka ia qawim (lurus) dan mustaqim..."

  • Mukhtar ash-Shihah (hal: 264): "(q-w-m) Al-Qawm adalah laki-laki bukan perempuan, tidak ada bentuk tunggal dari lafaznya... Allah Ta’ala berfirman: 'Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain', kemudian Dia berfirman 'dan jangan pula perempuan mengolok-olok perempuan lain'. Terkadang perempuan termasuk di dalamnya sebagai pengikut karena kaum setiap Nabi itu terdiri dari laki-laki dan perempuan... aqama asy-syai’a artinya melestarikannya. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala: 'dan mereka mendirikan shalat'..."

Maka secara bahasa, al-qawm adalah sekelompok orang, atau kelompok laki-laki tanpa perempuan, atau pengikut seseorang dan kerabatnya... Tidak diragukan lagi bahwa Isa as. diutus kepada sekelompok manusia, laki-laki dan perempuan mereka, yaitu Bani Israil. Penisbatan kaum kepada Isa as. dengan ungkapan (kaumnya), tidak mengharuskan adanya ayah dari Bani Israil sehingga mereka bisa disebut kaumnya. Sebab, nisbat kepada kaum tidak selalu berarti dia berasal dari garis keturunan mereka secara nasab, melainkan cukup dalam penyebutan "kaumnya" itu bahwa beliau diutus kepada mereka, yaitu mereka adalah kelompok orang yang diperintahkan kepadanya untuk menyampaikan risalah.

Jadi, qawm dalam makna "kerabat seseorang" (asyirah) adalah salah satu makna dari kata "qawm", namun ia juga bermakna jamaah (kelompok), yaitu sekelompok orang (nafar dan rahth), dan juga bermakna pengikut seseorang, yang tidak mengharuskan adanya kedekatan nasab di antara mereka...

2- Nas-Nas Syarak: Penyebutan kaum bagi Rasulullah Isa as. sangat jelas dalam nas-nas syarak:

  • Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

"Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan kepada mereka." (QS Ibrahim [14]: 4)

Tidak diragukan lagi bahwa Isa as. diutus kepada kaumnya yaitu Bani Israil. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ

"Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, 'Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu...'" (QS Ash-Shaff [61]: 6)

Maka kaum Isa as. berdasarkan kedua ayat tersebut adalah Bani Israil.

  • Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Nabi saw. bersabda:

أُعْطِيتُ خَمْساً لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِداً وَطَهُوراً فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

"Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku: aku ditolong dengan rasa takut (pada musuh) sejauh perjalanan satu bulan; bumi dijadikan bagiku sebagai tempat sujud dan suci, maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat maka hendaklah ia shalat; dihalalkan bagiku ghanimah dan tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku; aku diberikan syafaat; dan dahulu seorang Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia secara umum." (HR Bukhari)

Sabda beliau saw.: "dan dahulu seorang Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus", mencakup pula Isa as. tanpa keraguan, karena beliau diutus kepada Bani Israil, sehingga mereka berdasarkan hadis tersebut adalah kaumnya.

  • Dari Al-Irbadh bin Sariyah as-Sulami, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

إنِّي عَبْدُ اللَّهِ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِنَّ آدَمَ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَتِهِ وَسَأُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِ ذَلِكَ دَعْوَةِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبِشَارَةِ عِيسَى قَوْمَهُ وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ

"Sesungguhnya aku adalah hamba Allah di dalam Ummul Kitab sebagai penutup para Nabi, sementara Adam masih terkapar dalam tanahnya. Aku akan memberitahukan kepada kalian tentang awal mulanya: doa ayahku Ibrahim, kabar gembira Isa kepada kaumnya, dan mimpi ibuku yang melihat seberkas cahaya keluar darinya hingga menyinari istana-istana di Syam." (HR Ahmad dalam Musnad-nya dan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya dan ia berkata "Hadis ini shahih sanadnya...").

Dalam hadis ini, Nabi saw. menegaskan adanya kaum bagi Isa as. dan menisbatkan mereka kepadanya, di mana beliau bersabda: "kabar gembira Isa kepada kaumnya". Hal ini merujuk pada firman Allah Ta’ala:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

"Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, 'Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.' Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, 'Ini adalah sihir yang nyata.'" (QS Ash-Shaff [61]: 6)

  • Disebutkan dalam Dala'il al-Nubuwwah karya Al-Bayhaqi (5/17) dari Hatib bin Abi Balta’ah ra., ia berkata: Rasulullah saw. mengutusku kepada Muqawqis, Raja Iskandariah. Ia berkata: Lalu aku menyapanya dengan surat dari Rasulullah saw., kemudian ia menjamuku di kediamannya dan aku tinggal bersamanya. Kemudian ia memanggilku setelah mengumpulkan para panglimanya dan berkata: Sesungguhnya aku akan berbicara kepadamu dengan suatu perkataan dan aku ingin engkau memahaminya dariku. Aku berkata: Silakan. Ia berkata: Beritahukanlah kepadaku tentang sahabatmu itu, bukankah dia seorang Nabi? Aku menjawab: Benar, dia adalah utusan Allah. Ia berkata: Mengapa ketika dia diperlakukan demikian, dia tidak mendoakan keburukan bagi kaumnya saat mereka mengeluarkannya dari negerinya ke negeri lain? Aku menjawab: Isa putra Maryam, bukankah engkau bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah? Mengapa ketika kaumnya menangkapnya dan hendak mengalahkannya, dia tidak mendoakan keburukan bagi mereka agar Allah membinasakan mereka, hingga akhirnya Allah mengangkatnya ke sisi-Nya di langit dunia? Muqawqis berkata: Engkau bijaksana, datang dari sisi orang yang bijaksana...

Inilah Hatib bin Abi Balta’ah, utusan Rasulullah saw., menetapkan saat berargumen dengan Muqawqis dengan mengatakan tentang Isa as.: "Mengapa ketika kaumnya menangkapnya dan hendak mengalahkannya, dia tidak mendoakan keburukan bagi mereka agar Allah membinasakan mereka."

3- Demikianlah, tidak ada halangan secara bahasa untuk menisbatkan kaum Bani Israil kepada Isa as. dengan ungkapan kami (dan Isa as. kepada kaumnya), karena mereka adalah kelompok masyarakat yang kepadanya beliau diutus. Keadaan beliau yang tidak memiliki ayah tidak menghalangi hal tersebut, sebagaimana telah kami jelaskan dalam makna bahasa di atas...

Al-Qur'anul Karim mengisyaratkan bahwa Isa as. memiliki kaum melalui firman-Nya: "Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan kepada mereka"... Isa as. adalah seorang Rasul yang diutus kepada Bani Israil, maka mereka adalah kaumnya...

Rasul saw. juga menyabdakan sesuatu yang mengharuskan adanya kaum bagi Isa as.: "dahulu seorang Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia secara umum." Bahkan beliau saw. menegaskan penisbatan kaum kepada Isa as. dengan sabdanya: "dan kabar gembira Isa kepada kaumnya"...

Serta utusan Rasulullah saw. kepada Muqawqis berargumen kepadanya dengan mengatakan tentang Isa as.: "ketika kaumnya menangkapnya"...

4- Oleh karena itu, apa yang tercantum dalam kitab Naqdu al-Fikri al-Gharbi ar-Ra'smali pada kalimat (dan Isa as. kepada kaumnya) adalah perkataan yang benar dan lurus.

Semoga persoalannya sudah menjadi jelas.

Saudara Kalian, Atha’ bin Khalil Abu ar-Rashtah

13 Dzulqa'dah 1444 H 2 Juni 2023 M

Tautan jawaban dari halaman Facebook Amir (semoga Allah menjaga beliau): Facebook

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda