Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Implikasi Virus Corona

March 31, 2020
17554
استمع للمقال

Jawaban Pertanyaan

Implikasi Virus Corona

Pertanyaan:

Cina pertama kali mengumumkan pada 4/1/2020, khususnya di kota Wuhan, mengenai puluhan orang yang terinfeksi penyakit corona yang kemudian disebut Covid-19. Penyakit ini kemudian menyebar ke hampir seluruh negara di dunia. Banyak negara mengambil tindakan penutupan perbatasan, pemberlakuan jam malam, hingga penghentian salat Jumat dan jamaah. Penyakit ini telah memberikan pukulan telak bagi ekonomi global. Amerika mulai saling tuduh dengan Cina...

Lantas, apa sumber wabah ini? Sejauh mana dampak aktualnya terhadap ekonomi dunia? Kemudian, apa pengobatan yang benar untuk wabah ini? Dan apakah boleh menghentikan salat jamaah dan salat Jumat karena penyakit ini?

Jawaban:

Virus corona diberi nama ini dalam bahasa Inggris (Crown) yang berarti mahkota dalam bahasa Arab, karena bentuknya yang menyerupai mahkota saat dilihat melalui mikroskop elektron. Penemuan pertamanya terjadi pada tahun 1960 dengan nama Coronaviridae. Dari keluarga virus ini, muncul virus yang disebut SARS pada tahun 2003 di wilayah Hong Kong, Cina, yang mencatat 8.422 kasus infeksi dengan 916 kematian. Pada tahun 2004 dan 2005, muncul varian baru, dan terus muncul pada tahun-tahun berikutnya, terutama pada tahun 2012 dan 2014, namun terbatas di beberapa negara dengan persentase kecil. Virus ini muncul kembali pada awal Desember 2019 di kota Wuhan, Cina, dan memiliki kemiripan 96% dengan virus SARS-2, sehingga disebut Corona 2019 atau disingkat Covid-19 merujuk pada tahun kemunculannya. Banyak kasus awal terkait dengan pasar makanan laut dan hewan di Wuhan, lalu menyebar ke banyak negara tetangga. Ditemukan kemiripan 96% dengan virus corona pada kelelawar, yang memperkuat dugaan bahwa asalnya adalah kelelawar. Jumlah kematian terus meningkat, mayoritas di Cina, hingga mencapai lebih dari 81.193 infeksi dengan lebih dari 3.000 kematian. Kemudian menyebar ke Italia, Iran, Spanyol, Prancis, Amerika Serikat... Teror pun menyebar ke seluruh dunia karena kecepatan penularannya hingga jumlah infeksi pada 24/3/2020 mencapai sekitar 404.000 kasus terkonfirmasi, dengan kematian mendekati 20.000 orang... (Deutsche Welle, 25/3/2020). Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan: "Pandemi Covid-19 dapat membunuh jutaan orang jika penyebarannya tidak dikendalikan"... (Euro News, 19/3/2020). Oleh karena itu, banyak negara menutup sekolah, universitas, dan pertemuan, serta menyerukan jam malam, karantina massal, hingga pembatalan salat Jumat dan jamaah... Dari hal ini muncul perkara-perkara yang membutuhkan penjelasan:

Pertama: Apakah penyakit ini muncul karena perbuatan manusia atau seperti penyakit lainnya yang merupakan qada dari Allah akibat apa yang diperbuat tangan manusia?

Kedua: Apakah dunia kapitalis menangani masalah ini dengan benar? Dan apa pengobatan syar'i dalam kondisi seperti ini?

Ketiga: Apa dampak penyakit (corona) ini terhadap harga minyak dan ekonomi global?

Keempat: Apakah boleh karena penyakit ini salat jamaah dan salat Jumat dilarang?


Pertama: Kemunculan penyakit ini dan siapa di baliknya:

  1. Awal penyebaran Corona Covid-19 berasal dari Cina. Studi ilmiah dan medis menyatakan bahwa virus ini berpindah dari hewan ke manusia, karena di Cina lazim memakan segala jenis hewan bahkan yang kotor (khabaits) mengingat mereka adalah orang-orang kafir musyrik yang tidak membedakan antara yang buruk dan yang baik... Sebagaimana telah disebutkan, laporan media menunjukkan bahwa kota Wuhan di Hubei, Cina, merupakan pusat perdagangan daging buruk ini, dan merupakan titik awal penyebaran penyakit.

Begitulah penyakit corona menyebar di Cina, kemudian berpindah ke Iran melalui pekerja Cina di perusahaan kereta api Cina yang sedang membangun jalur kereta api melalui kota Qom... Iran dianggap sebagai pusat penyebaran di Timur Tengah. Demikian pula Italia membuka berbagai sektor untuk investasi Cina, mulai dari infrastruktur hingga transportasi... Laporan menunjukkan bahwa Lombardy dan Tuscany adalah dua wilayah yang menerima investasi Cina terbesar. Wilayah Lombardy pada 21 Februari lalu mencatat kasus corona pertama dan merupakan salah satu wilayah yang paling terdampak...

  1. Amerika menyerang Cina atas kelalaiannya dalam memerangi wabah, menyembunyikannya sejak awal, dan kegagalannya dalam menanganinya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian, menanggapi dengan emosional melalui akun Twitter-nya pada 13/3/2020: "Militer AS mungkin yang membawa virus corona ke Wuhan"... (Asharq Al-Awsat, 13/3/2020). Presiden AS Trump mengulangi serangannya terhadap Cina dengan mengatakan: "Dunia membayar harga mahal atas kelambanan Cina dalam memberikan informasi mengenai corona baru"... (Euro News, 19/3/2020). Trump mendeskripsikan virus corona sebagai "Virus Cina" dalam cuitannya pada 16/3/2020: "Amerika Serikat memberikan dukungan kuat bagi sektor-sektor yang terdampak paling besar oleh virus Cina seperti penerbangan". Cina membalas melalui juru bicara kementerian luar negerinya pada 17/3/2020: "Komentar ini mencoreng citra Cina, kami sangat marah dan menolaknya dengan keras"... (Russia Today, 18/3/2020). Ketika Cina mulai menyebarkan tuduhan awal bahwa Amerika di balik penyebaran virus, Washington memanggil duta besar Beijing pada 13/3/2020. Pejabat Luar Negeri AS mengatakan: "Menyebarkan teori konspirasi itu berbahaya dan konyol. Kami ingin memperingatkan pemerintah Cina bahwa kami tidak akan menoleransi hal itu, demi kepentingan rakyat Cina dan dunia. Cina ingin menangkis kritik atas perannya dalam memulai wabah global ini." Sementara itu, kantor berita Xinhua menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil Beijing, termasuk karantina ketat pada jutaan orang, telah memberikan dunia "waktu yang berharga" untuk bersiap, yang diakui oleh komunitas internasional... (Russia Today, 15/3/2020).

  2. Demikianlah perang kata-kata meletus antara Amerika dan Cina karena penyebaran virus corona Covid-19 (SARS-CoV2)... Masing-masing negara melontarkan tuduhan bahwa pihak lain adalah faktor langsung penyebaran penyakit ini. Meskipun kedua sistem yang diterapkan di Cina dan Amerika Serikat tidak mustahil berada di balik penyebarannya, namun setelah penelitian, cenderung tidak ada bukti konkret bahwa Amerika Serikat atau Cina yang memindahkan virus atau memproduksinya lalu mulai menyebarkannya ke negara lain, karena dua alasan utama:

Pertama, kedua negara tersebut tenggelam dalam penyakit ini hingga ke telinga mereka!

Cina, selain yang telah disebutkan, statistik terakhir penyakit corona di sana menunjukkan jumlah terinfeksi mencapai 81.272 dan jumlah kematian 3.273 sebagaimana dalam pengumuman Komisi Kesehatan Nasional Cina... (Youm7, 23/3/2020). Seandainya mereka yang di balik penyebaran penyakit ini, setidaknya mereka akan melindungi diri sendiri.

Sedangkan Amerika, menurut statistik CNN Health, jumlah kematian akibat virus telah meningkat menjadi 704, sementara total infeksi terkonfirmasi mencapai 52.976 (CNN Arabic, 25/3/2020). Amerika Serikat menempati urutan ketiga dalam hal jumlah infeksi setelah Cina dan Italia... Berdasarkan prosedur terbaru, sepertiga warga Amerika berada di bawah perintah untuk tetap di rumah di tujuh negara bagian. Negara bagian Louisiana dan Ohio pada hari Minggu mengumumkan jam malam yang diperluas, bergabung dengan New York, California, Illinois, Connecticut, dan New Jersey. (Al Jazeera, 23/3/2020). Demikian pula, seandainya mereka yang di balik penyebaran penyakit ini, setidaknya mereka akan melindungi diri sendiri.

Kedua, tidak benarnya anggapan bahwa salah satu dari kedua negara tersebut memproduksinya, karena tidak ada bukti bahwa virus tersebut dibuat di laboratorium. Majalah Nature Medicine menyatakan: "Dengan membandingkan data urutan genom yang tersedia untuk jenis virus corona yang dikenal, kami dapat menegaskan dengan kuat bahwa virus corona berasal dari proses alami." Majalah tersebut juga menyatakan: "Pandangan ini didukung oleh data tentang tulang punggung virus dan struktur molekul keseluruhannya; barangsiapa yang ingin membuat virus di laboratorium, maka hal itu akan terlihat pada tulang punggung virus tersebut." [https://www.npr.org]. Hal yang sama berlaku untuk negara lain seperti Rusia, Eropa, Iran, dan negeri-negeri kaum Muslim lainnya, mereka kemungkinan besar terdampak oleh salah satu dari kedua negara tersebut, Cina atau Amerika, dalam hal perpindahan penyakit...

Maka, tidak ada yang tersisa kecuali bahwa hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS Ar-Rum [30]: 41)

Kita semua menyadari apa yang dilakukan oleh kaum kapitalis dan sekutu mereka berupa keburukan yang merajalela di dunia. Mereka tidak mementingkan apa pun kecuali kepentingan dan keserakahan mereka... Para penguasa Amerika, Cina, Rusia, Eropa, dan lainnya, adalah penyebab kesengsaraan dunia dan rakyat mereka. Kejahatan mereka terhadap kemanusiaan sangat banyak. Merekalah yang membom orang-orang yang tidak bersenjata dengan bom nuklir, depleted uranium, bom napalm yang membakar, memperbudak suku-suku Afrika secara brutal dan menjadikannya ladang uji coba biologis dan kimia mereka. Perang genosida terhadap suku Indian adalah noda hitam di dahi mereka. Kejahatan Cina terhadap Muslim Uighur telah mengguncang cakrawala, kejahatan Rusia dan Serbia terhadap Muslim di Asia Tengah, Balkan, dan Syam masih berlanjut, kejahatan Inggris di India terhadap Muslim dan non-Muslim masih terasa dampaknya hingga hari ini. Kejahatan-kejahatan ini menegaskan bahwa para penguasa yang mengendalikan rakyat dunia ini adalah penyebab kesengsaraan umat manusia... Benarlah sebagaimana firman Allah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa:

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَؤُلَاءِ سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ

"Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka (kaum musyrik Mekah) juga akan ditimpa akibat buruk dari apa yang mereka usahakan dan mereka tidak dapat melepaskan diri." (QS Az-Zumar [39]: 51)


Kedua: Kesalahan pengobatan Kapitalis dan sekutunya terhadap masalah ini, dan bahwa pengobatan yang benar adalah pengobatan syar'i:

  • Kaum kapitalis dan sekutunya menangani masalah ini dalam tiga tahap:

Pertama: Merahasiakan masalah...

  1. Laporan Cina mengungkapkan bahwa otoritas Cina menyembunyikan fakta penyakit mematikan ini dari rakyatnya dan dunia, padahal otoritas telah mengetahui penyebarannya sebelum pertengahan Desember 2019, namun mereka merahasiakannya dan tidak mengakuinya hingga akhir tahun setelah jumlah kasus meningkat. Jurnalis Cina-Amerika, Zhang Wei Wang, menegaskan bahwa otoritas tidak menutup pasar penjualan makanan laut di Wuhan tempat penyakit menyebar kecuali pada bulan Januari. Laporan mengungkapkan bahwa 8 warga ditangkap karena menyebarkan informasi tentang penyakit tersebut di awal krisis dan dianggap sebagai orang-orang yang melanggar hukum karena menyebarkan informasi yang tidak terkonfirmasi. Ia melanjutkan, otoritas lokal di Wuhan masih mengklaim bahwa keadaan normal dan mengizinkan penyelenggaraan ritual tradisi lokal pada 18 Januari lalu yang dihadiri sekitar 40.000 keluarga. (Sabq, 1/2/2020).

  2. Demikian juga, pejabat Cina tidak memperingatkan rakyat tentang bahaya krisis di bulan Desember hingga 31 Desember saat Beijing memberi tahu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)... Pemerintah Cina saat itu mengatakan: "Penyakit ini dapat dicegah dan dikendalikan." Pada 23 Januari lalu, otoritas menutup kota Wuhan, dan dikeluarkan keputusan pelarangan perjalanan total... (Masrawy, 23/3/2020).

Kedua: Karantina kesehatan dan isolasi parsial...

  1. Pejabat sektor kesehatan di Amerika Serikat mengonfirmasi pada hari Sabtu kasus infeksi kedelapan virus corona baru. Departemen Pertahanan AS mengatakan akan menyediakan tempat perlindungan bagi mereka yang datang dari luar negeri yang mungkin memerlukan karantina... Kota Wuhan dan provinsi Hubei di Cina tengah, tempat virus muncul, berada di bawah karantina aktual... (Sky News Arabic, 12/2/2020).

  2. Di Amerika Serikat, Gubernur Negara Bagian New York, Andrew Cuomo, mengatakan: "Kami berada dalam karantina," menegaskan bahwa itu adalah "tindakan paling keras yang dapat kita ambil." Dengan diberlakukannya karantina di New York, California, New Jersey, dan Illinois, lebih dari 85 juta orang harus menetap di rumah kecuali untuk berbelanja dan jalan-jalan singkat... (Deutsche Welle, 21/3/2020).

Ketiga: Isolasi hampir total di rumah-rumah...

Ratusan juta orang di dunia berada dalam isolasi di rumah mereka dengan harapan membatasi penyebaran virus corona yang mengakibatkan kematian lebih dari 11.000 orang. Tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia ini dilaksanakan dengan derajat yang bervariasi tergantung negara... Lebih dari 800 juta orang di lebih dari 30 negara diserukan untuk menetap di rumah, baik karena keputusan karantina umum, rekomendasi, atau jam malam, menurut penghitungan yang dilakukan AFP... Di Jerman, otoritas sedang mempertimbangkan pengetatan prosedur guna membatasi kehidupan publik dan mewajibkan sebagian besar penduduk untuk tetap di rumah... Italia, negara yang paling terdampak di Eropa oleh virus yang menelan 4.000 nyawa di sana dan merupakan negara pertama di benua biru yang memerintahkan penduduk untuk dikarantina, bersiap memperkuat prosedurnya dalam menghadapi penyebaran penyakit. Semua taman dan cagar alam akan ditutup bagi publik di akhir pekan dengan memberlakukan pembatasan lain untuk mendorong warga Italia tetap di rumah, setelah otoritas mengumumkan kematian 627 orang akibat virus dalam 24 jam di negara tersebut, yang merupakan puncak sejak awal krisis... (Deutsche Welle, 21/3/2020).

  • Dengan merenungkan tiga penanganan ini, jelas bahwa hal tersebut tidak menyelesaikan masalah, melainkan akan menambah kegagalan ekonomi, melipatgandakan penyakit ini, serta kebosanan dan kejenuhan yang menimpa orang-orang sebagaimana yang mulai kita dengar tentang kasus-kasus di masyarakat kapitalis...

Oleh karena itu, pengobatan yang benar untuk penyakit ini adalah sebagaimana yang datang dalam syariat Allah SWT, yaitu negara memantau penyakit sejak awal dan berupaya melokalisasi penyakit di tempat kemunculannya sejak awal, sementara orang-orang yang sehat di wilayah lain tetap melanjutkan pekerjaan dan produksi...

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Usamah bin Zaid, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا

"Jika kalian mendengar wabah tha'un di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika tha'un terjadi di suatu wilayah sedangkan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya." (HR Bukhari)

Dalam hadis lain di Bukhari dan Muslim, dan lafaznya milik Muslim, dari Usamah bin Zaid, Rasulullah ﷺ bersabda:

الطَّاعُونُ رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ

"Tha'un adalah kotoran (siksaan) atau azab yang dikirimkan kepada Bani Israil atau kepada orang-orang sebelum kalian. Maka jika kalian mendengarnya di suatu wilayah, janganlah kalian mendatanginya. Dan jika tha'un terjadi di suatu wilayah sedangkan kalian berada di dalamnya, janganlah kalian keluar karena lari darinya." (HR Muslim)

Dalam riwayat lain milik Al-Bukhari dari Aisyah RA, istri Nabi ﷺ, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang tha'un, lalu beliau mengabarkanku:

أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يقع الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

"Bahwa tha'un adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan bahwa Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang tertimpa tha'un lalu ia menetap di negerinya dengan sabar dan mengharap pahala, seraya menyadari bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan baginya, melainkan ia akan mendapatkan semisal pahala syahid." (HR Bukhari)

Ini adalah jenis karantina kesehatan dalam sebuah negara yang telah maju melampaui seluruh negara lainnya, dan dalam sebuah negara berperadaban kelas satu yang dipimpin oleh Nabi Allah dan Rasul-Nya ﷺ yang mendapatkan wahyu dan beliau menerapkan Islam agar menjadi teladan yang baik dalam penerapan. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari bahwa Umar RA keluar menuju Syam, ketika sampai di Sargh, sampai kepadanya berita bahwa wabah telah terjadi di Syam. Abdurrahman bin Auf mengabarkannya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika kalian mendengarnya di suatu wilayah maka janganlah mendatanginya, dan jika terjadi di suatu wilayah sedangkan kalian berada di dalamnya maka janganlah keluar karena lari darinya." Maka Umar bin Khattab pun kembali... Artinya, ketika sampai berita kepadanya bahwa tha'un telah menyebar, beliau membawa kaum Muslim kembali.

Oleh karena itu, bagi negara dalam Islam, wajib melokalisasi penyakit di tempatnya, penduduknya tetap di sana dan penduduk lain tidak masuk ke sana... Negara harus menjalankan kewajiban syar'inya karena ia adalah negara pemelihara (ri'ayah) dan amanah. Sebagaimana negara melakukan tindakan-tindakan ini saat wabah menular menyebar, ia juga menjamin perawatan kesehatan berupa pengobatan dan obat-obatan secara gratis bagi seluruh rakyatnya, mendirikan rumah sakit, laboratorium medis, dan kebutuhan dasar lainnya bagi rakyat negara seperti pendidikan dan menjaga keamanan...

Demikianlah tindakan yang benar, yaitu mengisolasi penyakit menular di tempatnya, mengarantina orang yang sakit secara medis serta memantau mereka dengan perawatan dan pengobatan gratis. Sementara orang yang sehat tetap melanjutkan pekerjaan mereka dan kehidupan sosial serta ekonomi berlanjut sebagaimana sebelum adanya penyakit menular. Bukannya menghentikan kehidupan umum masyarakat dan mengisolasi mereka di rumah-rumah sehingga melumpuhkan kehidupan ekonomi atau hampir melumpuhkannya, yang pada gilirannya memperparah krisis dan memunculkan masalah-masalah lainnya...


Ketiga: Dampak penyakit (corona) ini terhadap harga minyak dan ekonomi global:

Ekonomi global mengalami perlambatan pertumbuhan bahkan dalam situasi normal tanpa wabah... Lantas bagaimana jika prosedur dunia cenderung pada karantina kesehatan dan isolasi total maupun parsial? Tindakan-tindakan ini akan menambah perlambatan ekonomi global jika tidak sampai membawanya pada keruntuhan:

Virus ini telah melumpuhkan pergerakan perdagangan global dan menjatuhkan harga minyak ke titik nadir, di mana harga minyak turun ke level yang sangat rendah. Hal ini menciptakan perang harga antara Rusia dan Arab Saudi karena Rusia terpaksa meningkatkan produksi minyaknya mengingat ketergantungannya yang besar pada minyak. Amerika kemudian menggerakkan Arab Saudi untuk meningkatkan produksinya guna menghadapi Rusia. Presiden AS Trump pada 19/3/2020 mengancam Rusia dengan mengatakan: "Bahwa dia akan campur tangan dalam perang harga yang sedang berlangsung antara Arab Saudi dan Rusia pada waktu yang tepat"... (Alhurra, 19/3/2020). Arab Saudi melakukan pertempuran demi kepentingan Amerika melawan Rusia atas pangsa pasar setelah kesepakatan mereka sebelumnya untuk menahan produksi yang berlangsung selama tiga tahun runtuh bulan ini. Kedua negara memompa minyak dengan kapasitas maksimal di saat permintaan global mengalami penurunan tajam akibat penyebaran virus corona, sehingga harga turun ke level terendah dalam sekitar 20 tahun minggu ini, di mana harga per barel turun menjadi 28,75 dolar untuk minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka. Meskipun Rusia menyadari keterkaitan Arab Saudi dengan Amerika [Mikhail Leontyev, juru bicara perusahaan Rosneft, mengatakan kepada kantor berita Rusia (RIA): "Seluruh jumlah minyak yang dikurangi sebagai hasil dari perpanjangan kesepakatan OPEC+ beberapa kali, telah diganti sepenuhnya dan dengan cepat di pasar global oleh minyak serpih (shale oil) Amerika..."] (Reuters, 8/3/2020), namun mereka tidak dapat mengambil tindakan apa pun terhadap hal itu. Bahkan, Arab Saudi memperparah krisis terhadap Rusia dengan memutuskan tidak memperpanjang kesepakatan sebelumnya (pengurangan 2,1 juta barel) dan memutuskan untuk meningkatkan produksi (harga minyak kehilangan hingga sepertiga nilainya pada hari Senin dalam kerugian harian terbesarnya sejak Perang Teluk 1991... demikianlah kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 22 persen pada 37,05 dolar per barel setelah sebelumnya turun 31 persen menjadi 31,02 dolar, level terendah sejak 12 Februari 2016. Reuters, 9/3/2020). Kemudian Saudi menurunkan harga minyak untuk pelanggannya di Asia sebesar 6 dolar! Hari ini, Rusia mencari jalan untuk kembali ke kesepakatan "OPEC Plus" dan menunjukkan fleksibilitas untuk pengurangan baru!

Demikianlah ekonomi global telah terguncang hebat akibat penyebaran virus corona dan penurunan harga minyak yang mengikutinya. Jika keadaan terus berlanjut seperti ini, ekonomi dunia benar-benar terancam runtuh...


Keempat: Adapun apakah boleh melarang pelaksanaan salat Jumat dan jamaah di masjid-masjid...?

Meninggalkan salat jamaah dan Jumat dalam kondisi penyebaran wabah menular tidaklah dilakukan secara umum. Melainkan, orang yang sakit diisolasi dan tidak diizinkan masuk ke masjid untuk jamaah maupun Jumat. Segala tindakan pencegahan mulai dari kebersihan, sterilisasi, dan jika perlu pemakaian masker serta lainnya harus diambil... Kemudian orang-orang yang sehat tetap melanjutkan salat Jumat dan jamaah tanpa henti. Jika diperlukan keberadaan tim medis di masjid untuk memeriksa siapa saja yang dicurigai sakit di antara jamaah, maka tindakan itu dapat diambil namun tanpa menghentikan salat Jumat dan jamaah bagi kaum Muslim yang sehat. Dalil-dalil yang ada mengenai jamaah dan Jumat tidak mengandung perintah penghentian permanen, melainkan tidak mensyaratkan jumlah yang besar untuk melaksanakannya sebagaimana akan kami jelaskan... Sebagian kaum Muslim diberikan uzur untuk tidak menghadirinya karena alasan khusus mereka sebagai berikut:

1. Mengenai salat jamaah, hukumnya adalah fardhu kifayah:

Salat jamaah adalah fardhu kifayah yang harus ditampakkan kepada orang-orang. Abu Darda' RA meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ، عَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْخُذُ الذِّئْبُ مِنَ الْغَنَمِ الْقَاصِيَةَ

"Tidaklah ada tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan di dalamnya salat berjamaah, melainkan setan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, karena serigala hanya memangsa kambing yang terpencil (sendirian)." (HR Abu Dawud dengan sanad hasan).

Ini mengenai salat jamaah. Hukumnya fardhu kifayah karena sebagian kaum Muslim pernah tertinggal dari salat jamaah bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau membiarkan mereka setelah sebelumnya mengancam akan membakar rumah mereka. Al-Bukhari mengeluarkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقاً سَمِيناً أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ

"Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berniat memerintahkan mencari kayu bakar lalu dikumpulkan, kemudian aku memerintahkan salat lalu dikumandangkan azan, kemudian aku memerintahkan seorang laki-laki mengimami orang-orang, lalu aku mendatangi orang-orang (yang tidak salat jamaah) dan membakar rumah-rumah mereka. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka tahu akan mendapatkan tulang yang berdaging gemuk atau dua kuku kambing yang baik, niscaya ia akan menghadiri salat Isya." (HR Bukhari).

Seandainya itu fardhu ain bagi setiap Muslim, niscaya beliau tidak akan membiarkan mereka. Hadis ini tentang jamaah karena menyebutkan salat Isya... Dan jumlah minimal jamaah adalah dua orang, imam dan makmum, berdasarkan hadis Malik bin Al-Huwairits yang berkata: "Aku mendatangi Nabi ﷺ bersama seorang temanku, ketika kami hendak pulang dari sisinya, beliau bersabda kepada kami: 'Jika waktu salat telah tiba, maka azanlah kalian berdua kemudian iqamahlah, dan hendaklah yang tertua di antara kalian berdua menjadi imam'." (HR Muslim). Salat jamaah tidak gugur kecuali dengan uzur syar'i yang memiliki nas seperti malam yang sangat dingin atau hujan, berdasarkan hadis Bukhari bahwa Rasulullah ﷺ: "Pernah memerintahkan muazin mengumandangkan azan, kemudian beliau bersabda setelahnya: Ingatlah, salatlah di kendaraan (tempat tinggal) kalian pada malam yang dingin atau hujan dalam perjalanan."

2. Adapun salat Jumat, hukumnya adalah fardhu ain yang tidak gugur kecuali dengan uzur, dan dalil-dalil mengenai hal itu sangat banyak, di antaranya:

Firman Allah SWT:

إِذَا نُودِي لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

"Apabila diserukan untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli." (QS Al-Jumu'ah [62]: 9)

Perintah dalam ayat ini menunjukkan kewajiban (wujub) dengan dalil adanya qarinah larangan terhadap hal yang mubah (jual beli), sehingga menunjukkan tuntutan yang tegas (thalab jazim). Al-Hakim mengeluarkan dalam Al-Mustadrak 'ala ash-Shahihain dari Thariq bin Syihab, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةٌ: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيضٌ

"Salat Jumat adalah hak yang wajib bagi setiap Muslim dalam jamaah kecuali empat golongan: hamba sahaya, wanita, anak-anak, atau orang sakit."

Al-Hakim berkata: "Hadis sahih sesuai syarat Syaikhain (Bukhari-Muslim)". Salat Jumat juga tidak wajib bagi orang yang ketakutan (khā'if) berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يُجِبْهُ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إلَّا مِنْ عُذْرٍ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْعُذْرُ؟ قَالَ: خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ

"Barangsiapa mendengar seruan (azan) lalu tidak memenuhinya, maka tidak ada salat baginya kecuali karena uzur. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apa uzurnya? Beliau menjawab: Rasa takut atau sakit." (HR Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra).

Demikianlah, Jumat wajib bagi setiap Muslim kecuali bagi yang disebutkan dalam nas syar'i yang mengecualikannya... Selain mereka yang tidak disebutkan dalam nas pengecualian, maka salat Jumat adalah fardhu ain baginya. Inilah uzur-uzur syar'i dan tidak boleh di-qiyas-kan kepadanya. Sebab uzur syar'i adalah apa yang disebutkan dalam nas syar'i, dan qiyas tidak masuk dalam perkara ibadah, karena tidak ada nas yang memiliki illat (nas mu'allal) sehingga qiyas bisa diterapkan... Syarat salat Jumat harus dilakukan dalam jumlah tertentu dari kaum Muslim, dan para Sahabat telah bersepakat bahwa harus ada jumlah minimal untuk salat Jumat. Tidak disyaratkan jumlah tertentu, maka jumlah berapa pun yang disebut sebagai jamaah dan dianggap sebagai hitungan yang sah, maka salat Jumat sah dengannya selama dianggap sebagai jamaah. Karena kedudukannya sebagai jamaah tsabit dengan hadis Thariq sebelumnya: "Jumat adalah hak yang wajib bagi setiap Muslim dalam jamaah," dan karena jumlah tersebut tsabit berdasarkan ijmak Sahabat, serta tidak ada hadis yang memiliki derajat otoritatif yang menunjukkan jumlah tertentu dalam Jumat. Hanya saja, karena harus ada jamaah dan jumlah tertentu, dan hal itu tidak terwujud kecuali dengan tiga orang ke atas, karena dua orang tidak disebut sebagai jumlah jamaah. Oleh karena itu, harus ada tiga orang dari mereka yang wajib atas mereka salat Jumat agar salat Jumat sah. Jika kurang dari itu, maka tidak sah dan tidak disebut Jumat karena tidak adanya jumlah minimal (al-'adad), dan telah tercapai ijmak bahwa harus ada jumlah minimal untuk salat Jumat.

Dengan demikian, di dalam Daulah Khilafah, salat Jumat atau jamaah tidak dihentikan. Sebaliknya, siapa yang memiliki uzur syar'i maka ia tidak hadir, sedangkan sisanya tetap hadir. Adapun anggapan bahwa kemungkinan besar semua orang terancam terinfeksi penularan dan tidak mungkin menghindarinya meskipun telah diambil segala prosedur dan pencegahan... maka itu adalah kemungkinan yang lemah, terutama karena jumlah minimal jamaah adalah dua orang dan Jumat adalah tiga orang, dan ini kemungkinan besar terpenuhi. Seandainya kita asumsikan adanya kemungkinan ini, maka hal itu hanya diberlakukan di wilayahnya saja. Dari sini, masalah ini harus diatur dengan sangat teliti dan amanah. Jika jumlah minimal terpenuhi berdasarkan dugaan kuat (ghalabatu azh-zhann), maka salat Jumat dan jamaah tidak boleh dihentikan. Sebaliknya, segala prosedur dan tindakan pencegahan harus diambil. Pencegahan tidak berarti meninggalkan kewajiban (fardhu), melainkan tetap dilaksanakan dengan mengambil tindakan pencegahan untuk mencegah penularan.

Inilah hukum yang rajih dalam masalah ini. Jika negara menutup masjid-masjid tanpa mengerahkan segala upaya untuk memastikan dugaan kuat sebagaimana kami jelaskan di atas, lalu melarang orang-orang mendatangi masjid untuk Jumat dan jamaah, maka negara tersebut berdosa dengan dosa besar karena menghentikan salat Jumat dan jamaah.

Sebagai penutup, sungguh menyakitkan bahwa para penguasa di negeri-negeri kaum Muslim mengikuti langkah-langkah orang kafir penjajah sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Jika negara-negara tersebut bingung dalam menangani penyakit tertentu, mereka pun ikut bingung. Jika mereka mengusulkan solusi meskipun tidak tepat, para penguasa di negeri kaum Muslim pun bertepuk tangan dan menganggapnya sebagai kebenaran dan kesembuhan! Sungguh menyakitkan bahwa wabah (corona) ini memberikan kelesuan dan kejumudan pada negeri dan rakyat hingga kehidupan publik hampir berhenti, padahal negeri-negeri kaum Muslim telah melewati banyak hal serupa. Mereka pernah diuji dengan tha'un saat sedang menjalani perang sengit melawan Romawi di Syam pada tahun 18 Hijriah... Demikian pula umat ini diuji pada pertengahan abad ke-6 Hijriah dengan wabah "asy-syaqfah" yang sekarang disebut anthrax, dan meluas dari Syam hingga Maroko... Demikian pula kaum Muslim diuji pada pertengahan abad ke-8 Hijriah (749 H) dengan apa yang disebut Tha'un Besar di Damaskus. Dalam semua kondisi ini, masjid-masjid tidak pernah ditutup, Jumat dan jamaah tidak pernah dihentikan, dan orang-orang tidak dikurung di rumah mereka. Melainkan, orang yang sakit diisolasi, dan orang yang sehat tetap menjalankan aktivitas mereka dengan berjihad dan membangun bumi... Mereka pergi ke masjid-masjid untuk salat dan berdoa kepada Allah agar melindungi mereka dari keburukan penyakit ini, di samping pengobatan medis yang mereka ikuti dalam merawat orang-orang sakit... Inilah kebenaran.

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ

"Maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan." (QS Yunus [10]: 32)

2 Sya'ban 1441 H 26/3/2020 M

#corona #Covid19 #Korona

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda