Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Takhrij Hadis "Akan datang kaum-kaum pada hari kiamat yang keimanan mereka mengagumkan..."

October 17, 2022
3548

Seri Jawaban Al-Alim Al-Jalil Ata bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir atas Pertanyaan di Halaman Facebook Beliau "Fiqhi"

Kepada Azzam Abu Fara

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullah.

Semoga Allah menerima ketaatan Anda dan selamat hari raya (Kullu ‘am wa antum bikhair), Syeikh kami.

Saya telah mencari takhrij hadis ini namun tidak menemukannya dengan lafaz seperti ini... mohon bantuannya.

(Akan datang kaum-kaum pada hari kiamat yang keimanan mereka mengagumkan, cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, lalu dikatakan kepada mereka: "Kabar gembira bagi kalian pada hari ini, salam sejahtera bagi kalian, kalian telah baik maka masuklah ke dalam surga kekal di dalamnya." Maka para malaikat dan para nabi merasa iri (menginginkan kedudukan mereka) karena kecintaan Allah kepada mereka. Para sahabat bertanya: "Siapakah mereka wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Mereka bukan dari kami dan bukan dari kalian, kalian adalah sahabatku sedangkan mereka adalah kekasih-kekasihku. Mereka datang setelah kalian, mereka mendapati Kitabullah telah ditinggalkan oleh manusia dan Sunnah telah dimatikan, lalu mereka menghadap kepada al-Kitab dan as-Sunnah, menghidupkan keduanya, membacanya, dan mengajarkannya kepada manusia. Di jalan itu mereka menghadapi siksaan yang lebih dahsyat dan lebih keras dari apa yang kalian hadapi. Sesungguhnya iman salah seorang dari mereka setara dengan empat puluh orang dari kalian, dan syahid salah seorang dari mereka setara dengan empat puluh syuhada kalian. Kalian mendapati penolong dalam kebenaran sedangkan mereka tidak mendapati penolong dalam kebenaran. Mereka dikepung oleh orang-orang zalim dari segala tempat, mereka berada di sisi Baitul Maqdis dan pada saat itulah pertolongan Allah datang kepada mereka dan kemuliaan kaum Muslim ada di tangan mereka." Beliau bersabda: "Ya Allah, tolonglah mereka dan jadikanlah mereka pendampingku di al-Haudh (telaga)").

Barakallahu fikum.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

  1. Mengenai teks (hadis) yang Anda tanyakan, kami tidak menemukannya dengan lafaz seperti ini di kitab hadis mana pun. Tampaknya sebagian lafaznya diambil dari berbagai hadis yang dikumpulkan satu sama lain, lalu orang yang melakukannya menjadikannya seolah-olah satu hadis yang utuh:

    a. Padahal hadis-hadis yang diisyaratkan tersebut berada dalam bab yang berbeda-beda, dan bukan merupakan berbagai riwayat untuk satu hadis yang sama...

    b. Sebagaimana ada sebagian hadis yang mengandung lafaz yang mirip dengan apa yang disebutkan dalam teks yang ditanyakan, namun bukan lafaz yang persis sama...

    c. Dalam teks yang ditanyakan juga terdapat beberapa makna yang tercantum dalam sebagian hadis meskipun lafaznya berbeda...

    d. Selain itu, hadis-hadis yang menjadi sumber pengambilan sebagian redaksi dan lafaz dalam teks tersebut, ada yang merupakan hadis maqbul (diterima) yang bisa dijadikan hujjah, dan ada pula hadis yang tidak sahih serta tidak bisa dijadikan hujjah...

  2. Saya sebutkan kepada Anda sebagian dari hadis-hadis maqbul yang bisa dijadikan hujjah tersebut:

  • Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Abu Malik al-Asy'ari bahwa Rasulullah ﷺ ketika selesai menunaikan salatnya, beliau menghadap kepada manusia dengan wajahnya dan bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اسْمَعُوا وَاعْقِلُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عِبَاداً لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنْ اللَّهِ

"Wahai sekalian manusia, dengarlah, pahamilah, dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba yang bukan nabi dan bukan syuhada, namun para nabi dan syuhada merasa iri (menginginkan kedudukan mereka) karena majelis-majelis mereka dan kedekatan mereka dengan Allah."

Lalu datanglah seorang laki-laki Arab Badui dari kalangan orang-orang yang jauh, ia memberikan isyarat dengan tangannya kepada Nabi Allah ﷺ dan berkata: "Wahai Nabi Allah, sekelompok manusia yang bukan nabi dan bukan syuhada namun para nabi dan syuhada merasa iri kepada mereka karena majelis-majelis mereka dan kedekatan mereka dengan Allah, gambarkanlah mereka untuk kami—yakni sifatkanlah mereka untuk kami." Maka wajah Rasulullah ﷺ tampak berseri-seri karena pertanyaan orang Badui tersebut, lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

هُمْ نَاسٌ مِنْ أَفْنَاءِ النَّاسِ وَنَوَازِعِ الْقَبَائِلِ لَمْ تَصِلْ بَيْنَهُمْ أَرْحَامٌ مُتَقَارِبَةٌ تَحَابُّوا فِي اللَّهِ وَتَصَافَوْا يَضَعُ اللَّهُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فَيُجْلِسُهُمْ عَلَيْهَا فَيَجْعَلُ وُجُوهَهُمْ نُوراً وَثِيَابَهُمْ نُوراً يَفْزَعُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَفْزَعُونَ وَهُمْ أَوْلِيَاءُ اللَّهِ الَّذِينَ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Mereka adalah orang-orang dari berbagai lapisan manusia dan dari kabilah-kabilah yang tercerai-berai, tidak ada hubungan rahim (kekerabatan) yang dekat di antara mereka. Mereka saling mencintai karena Allah dan saling tulus. Allah meletakkan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya pada hari kiamat, lalu Allah mendudukkan mereka di atasnya, menjadikan wajah mereka cahaya dan pakaian mereka cahaya. Manusia merasa ketakutan pada hari kiamat namun mereka tidak merasa takut, mereka itulah wali-wali Allah yang tidak ada rasa khawatir pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati."

  • Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ mendatangi pemakaman dan bersabda:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا

"Salam sejahtera atas kalian wahai penghuni negeri kaum mukmin, dan kami insya Allah akan menyusul kalian. Aku sangat berharap sekiranya kita dapat melihat saudara-saudara kita."

Para sahabat bertanya: "Bukankah kami ini saudara-saudaramu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab:

أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ

"Kalian adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita adalah mereka yang belum datang (lahir)."

Mereka bertanya: "Bagaimana engkau mengenali orang yang belum datang dari umatmu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Bagaimana pendapatmu jika seseorang memiliki kuda yang putih cemerlang di dahi dan kakinya berada di tengah-tengah kuda yang hitam legam, bukankah ia akan mengenali kudanya?" Mereka menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda:

فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرّاً مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقاً سُحْقاً

"Maka sesungguhnya mereka akan datang dalam keadaan putih cemerlang (wajah, tangan, dan kakinya) karena bekas wudu, dan aku mendahului mereka di al-Haudh (telaga). Ketahuilah, benar-benar akan ada orang-orang yang diusir dari telagaku sebagaimana unta yang tersesat diusir. Aku memanggil mereka: 'Kemarilah!' Lalu dikatakan: 'Sesungguhnya mereka telah mengubah (ajaran) setelahmu.' Maka aku berkata: 'Menjauhlah, menjauhlah!'"

  • Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Uqbah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى أَمْرِ اللَّهِ قَاهِرِينَ لِعَدُوِّهِمْ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

"Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang berperang demi urusan Allah, mereka menang atas musuh mereka, orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka hingga hari kiamat datang dan mereka tetap dalam keadaan demikian."

  • Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari al-Bara' bin Azib bahwa Nabi ﷺ merajam seorang Yahudi dan bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُشْهِدُكَ أَنِّي أَوَّلُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً قَدْ أَمَاتُوهَا

"Ya Allah, sesungguhnya aku mempersaksikan kepada-Mu bahwa akulah orang pertama yang menghidupkan sunnah yang telah mereka matikan."

  • Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Abu Umamah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ؟ قَالَ: بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ

"Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang teguh di atas kebenaran, mereka unggul atas musuh-musuh mereka, orang-orang yang menyelisihi mereka tidaklah membahayakan mereka kecuali kesukaran (penderitaan) yang menimpa mereka, hingga datang ketetapan Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, di manakah mereka?" Beliau menjawab, "Di Baitul Maqdis dan di sekitar Baitul Maqdis."

  • At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Abu Umayyah al-Sya'bani, ia berkata: Aku mendatangi Abu Tsa'labah al-Khusyani lalu berkata kepadanya: "Bagaimana pendapatmu tentang ayat ini?" Ia bertanya: "Ayat yang mana?" Aku menjawab: "Firman Allah Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk." (QS al-Maidah [5]: 105)

Ia menjawab: "Demi Allah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang mengetahuinya. Aku telah menanyakannya kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau bersabda:

بَلِ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحّاً مُطَاعاً وَهَوًى مُتَّبَعاً وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعِ الْعَوَّامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّاماً الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلاً يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ

'Tetapi perintahkanlah kepada yang makruf dan cegahlah dari yang mungkar, hingga apabila kamu melihat kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang lebih diutamakan, dan setiap orang yang memiliki pendapat merasa bangga dengan pendapatnya, maka hendaknya kamu menjaga dirimu sendiri dan tinggalkanlah orang banyak. Karena sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari (masa) di mana kesabaran pada saat itu seperti menggenggam bara api. Bagi orang yang beramal pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang melakukan amalan seperti kalian.'

Abdullah bin al-Mubarak berkata: Dan selain Utbah menambahkan kepadaku, ditanyakan: 'Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?' Beliau menjawab: 'Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.' Abu Isa berkata: Ini adalah hadis hasan gharib."

  1. Hadis-hadis yang disebutkan di atas adalah hadis-hadis maqbul yang bisa dijadikan hujjah. Namun, ada juga hadis-hadis yang diperbincangkan (lemah) dan mengandung lafaz serta redaksi yang sebagiannya mirip dengan apa yang ada dalam teks yang ditanyakan. Saya sebutkan sebagian untuk menjelaskan bahwa teks yang ditanyakan telah disusun dari berbagai hadis, baik yang sahih maupun yang tidak sahih:
  • Terdapat dalam al-Ibanah al-Kubra karya Ibnu Baththah, Nabi ﷺ bersabda: "Semoga rahmat Allah atas para khalifahku." Mereka bertanya: "Siapakah para khalifahmu?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah." Dan terdapat dalam Musnad asy-Syihab al-Qudha'i dari Katsir bin Abdullah al-Muzani, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya agama ini dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana ia dimulai, maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing (al-ghuraba’)." Lalu ditanyakan: "Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah." Dan terdapat dalam Jami’ al-Ahadits: [... Ya Allah, rahmatilah khalifah-khalifahku yang datang setelahku, mereka meriwayatkan hadis-hadisku dan sunnahku serta mengajarkannya kepada manusia (At-Thabrani dalam al-Awsath, ar-Ramahurmuzi dalam al-Muhaddits al-Fashil, al-Khathib dalam Syaraf Ash-hab al-Hadits, dan Ibnu an-Najjar dari Ibnu Abbas dari Ali. At-Thabrani berkata: Ahmad bin Isa Abu Thahir al-Alawi menyendiri dalam meriwayatkannya. Dikatakan dalam al-Mizan: Ad-Daruquthni berkata: Dia pendusta (kadzab), dan hadis ini batil. Dalam al-Lisan, Ibnu Abi Hatim menyebutkannya namun tidak menyebutkan celaan maupun pujian padanya), dikeluarkan oleh at-Thabrani dalam al-Awsath (6/77, no. 5846). Al-Haitsami berkata (1/126): Di dalamnya terdapat Ahmad bin Isa al-Hasyimi, ad-Daruquthni berkata: Pendusta. Dan ar-Ramahurmuzi dalam al-Muhaddits al-Fashil (1/163). Juga dikeluarkan oleh ad-Dailami (1/479, no. 1960). Adz-Dzahabi berkata dalam al-Mizan (1/270, biografi 508) dan disetujui oleh al-Hafiz dalam al-Lisan (1/241, biografi 756), keduanya dalam biografi Ahmad bin Isa al-Hasyimi. Ad-Daruquthni berkata: Pendusta].

  • Terdapat dalam Kanz al-Ummal dari Anas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Kapan aku akan bertemu sahabat-sahabatku? Kapan aku akan bertemu kekasih-kekasihku (ahbabi)?" Maka sebagian sahabat berkata: "Bukankah kami ini kekasih-kekasihmu?" Beliau menjawab: "Kalian adalah sahabatku, tetapi kekasih-kekasihku adalah kaum yang belum pernah melihatku namun mereka beriman kepadaku, aku sangat rindu kepada mereka." (Abu asy-Syaikh dalam at-Tsawab). Dan terdapat dalam al-Firdaws bi Ma'tsur al-Khithab karya ad-Dailami dari Anas bin Malik: "Kapan aku akan bertemu sahabat-sahabatku, kapan aku akan bertemu kekasih-kekasihku," maka sebagian sahabat berkata: "Bukankah kami ini kekasih-kekasihmu?" Beliau menjawab: "Kalian adalah sahabatku, namun kekasih-kekasihku adalah kaum yang belum pernah melihatku dan beriman kepadaku, aku sangat rindu kepada mereka." Al-Qusyairi menyebutkannya dalam ar-Risalah dengan sanad: Mengabarkan kepada kami Ali bin Ahmad al-Ahwazi—semoga Allah merahmatinya—ia berkata: Mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ubaid al-Bashri, ia berkata: menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad al-Jiyani, ia berkata: menceritakan kepada kami Utsman bin Abdullah al-Qurasyi, dari Nu'aim bin Salim, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Kapan aku akan bertemu kekasih-kekasihku?" Maka para sahabatnya berkata: "Demi ayah dan ibu kami, bukankah kami ini kekasih-kekasihmu?" Beliau menjawab: "Kalian adalah sahabatku, kekasih-kekasihku adalah kaum yang belum pernah melihatku, dan beriman kepadaku, dan kerinduanku kepada mereka jauh lebih besar." Dalam hadis ini terdapat perawi-perawi yang dicela, dan sebagian peneliti mengatakan bahwa ini adalah hadis munkar yang didustakan... artinya hadis ini bukan termasuk hadis-hadis maqbul yang bisa dijadikan hujjah.

  1. Dengan demikian, jelaslah bahwa teks yang ditanyakan itu bukanlah hadis dari Nabi ﷺ, melainkan teks yang disusun (dikompilasi), yang tampaknya dirangkai oleh orang yang tidak dikenal (majhul) dengan mengumpulkan lafaz dan redaksi yang terdapat dalam berbagai hadis; ada yang maqbul dan bisa dijadikan hujjah, dan ada pula yang tidak maqbul serta tidak bisa dijadikan hujjah. Oleh karena itu, tidak benar untuk meriwayatkan teks yang ditanyakan ini dengan menyatakannya sebagai hadis dari Rasulullah ﷺ.

Wallahu a'lam wa ahkam.

Saudara Kalian, Ata bin Khalil Abu al-Rashtah

20 Rabiul Awwal 1444 H 16 Oktober 2022 M

Link jawaban dari halaman Facebook Amir (semoga Allah menjaganya): Facebook

Link jawaban dari situs web Amir (semoga Allah menjaganya): Web

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda