Jawaban Pertanyaan
Realitas Gerakan Selatan (Al-Hirak al-Janubi) dan Afiliasinya
Pertanyaan:
Apakah Gerakan Selatan (Al-Hirak al-Janubi) masih berafiliasi kepada Amerika? Ataukah kesetiaan dewan tersebut telah beralih ke Inggris karena pengaruh Uni Emirat Arab (UEA) yang merangkulnya, mengingat UEA merepresentasikan kepentingan Inggris di negeri tersebut? Dengan kata lain: apakah Amerika gagal mempertahankan Gerakan Selatan sehingga Inggris berhasil menariknya melalui UEA? Ataukah gerakan tersebut masih mengikuti Amerika dalam langkah-langkahnya, dan keberadaan UEA hanya karena kekuatan militernya di Aden yang mampu memengaruhinya tanpa membuat Gerakan Selatan menjadi loyal kepada Inggris?
Jawaban:
1- Inggris merasa terganggu ketika menyadari bahwa Amerika berhasil menarik Ali Salem al-Beidh dan Ali Nasir Muhammad melalui sarana langsung maupun tidak langsung, yakni melalui Mesir dan Arab Saudi pada masa pemerintahan Raja Fahd di awal tahun sembilan puluhan. Padahal Inggris-lah yang membentuk, melalui agen-agennya, apa yang disebut sebagai "National Liberation Front in South Yemen" (Front Pembebasan Nasional di Yaman Selatan) dan mengundangnya untuk berunding di Jenewa mulai 20 November 1967. Kemudian Inggris memberikan kemerdekaan kepada Yaman Selatan pada 30 November 1967 setelah penarikan pasukan Inggris. Al-Beidh kemudian menjadi penguasa di Selatan dengan dukungan Inggris, sehingga langkahnya yang condong kepada Amerika dianggap oleh Inggris sebagai bentuk pengkhianatan! Oleh karena itu, Inggris memutuskan untuk menyingkirkan keduanya dari kekuasaan, apalagi Inggris memiliki kemampuan untuk itu karena orang kepercayaannya, Ali Saleh, memiliki kekuatan yang diperhitungkan di Utara. Maka meletuslah perang antara pasukan kedua wilayah tersebut pada tahun 1994, padahal penyatuan kedua Yaman baru berjalan empat tahun! Ketika perang berakhir dengan kekalahan unit-unit militer yang digambarkan sebagai "Selatan", Ali Salem al-Beidh dan Ali Nasir Muhammad melarikan diri dan sempat menarik diri dari peredaran.
Kemudian pemerintah Saleh di Sana'a mulai menindas dan mengejar para personil militer di Selatan. Hal ini berlangsung selama bertahun-tahun, hingga akhirnya terbentuklah di Selatan sebuah asosiasi pensiunan militer yang diberhentikan dari pekerjaan mereka. Awalnya, asosiasi ini hanya memiliki tuntutan terkait penindasan, pengejaran, dan perampasan hak-hak. Namun, seiring dengan berlanjutnya kezaliman tersebut, muncul kecenderungan separatis di kalangan mantan militer yang tergabung dalam asosiasi tersebut. Asosiasi ini pun menjadi pusat separatisme dan embrio bagi berkumpulnya kaum separatis, yang gerakannya kini dikenal sebagai Gerakan Selatan (Al-Hirak al-Janubi), yang secara resmi mengumumkan keberadaannya di Yaman Selatan pada tahun 2007. Di samping itu, terdapat gerakan-gerakan lain yang kurang signifikan dan kurang efektif yang tidak akan kita fokuskan di sini.
2- Amerika memanfaatkan situasi di Selatan ini agar memiliki pijakan di Yaman Selatan, sebagaimana ia telah memiliki pijakan lain di Yaman Utara melalui gerakan Houthi dan dukungan Iran. Dengan demikian, dari sisi konflik internasional, Gerakan Selatan telah berubah dari sekadar tuntutan untuk menghapuskan kezaliman menjadi alat baru bagi Amerika untuk melakukan intervensi di Yaman, yang pemerintahannya setia kepada Inggris. Negara-negara besar terbiasa memanfaatkan situasi internal dan ketegangan di negara-negara kecil untuk mendapatkan pengaruh. Amerika, melalui intelijen Raja Fahd di Arab Saudi, mencoba menghubungi pihak militer di Yaman Selatan selama tahun sembilan puluhan, yaitu setelah perang saudara tahun 1994. Meskipun Salem al-Beidh adalah salah satu pengikutnya saat itu, namun pengasingannya dan seruannya dari tempat pembuangan untuk melakukan aksi-aksi fisik melawan kekuasaan Saleh tidak dianggap oleh Amerika sebagai kesuksesan semata. Maka Amerika mulai mencari siapa yang mampu mengadopsi kerja politik yang kuat untuk menggalang penduduk Selatan sehingga mereka menjadi tekanan yang intens dan efektif terhadap kekuasaan Saleh. Amerika menemukan sosok yang dicarinya pada diri aktivis oposisi, Hasan Baum. Ia bergerak secara masif menuntut pemisahan diri Yaman Selatan, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain sejak dini, dan mendatangi kabilah-kabilah secara intensif untuk meminta dukungan terhadap tuntutan separatisnya. Semua itu dilakukan di tengah penderitaan dan marginalisasi yang dialami penduduk Selatan. Baum mengadakan berbagai kegiatan demi menciptakan opini umum yang menuntut pemisahan Selatan dari Yaman. Pendekatannya bersifat damai dan ia menolak aksi kekerasan. Terlihat bahwa gerakan separatis Hasan Baum mendapat sambutan dan terkadang momentum di wilayah-wilayah Selatan di mana gagasan bahwa marginalisasi adalah kebijakan sistematis telah tertanam kuat. Saat itulah ia mulai ditangkap dan dikejar oleh pemerintah Sana'a; ia ditangkap beberapa kali selama lebih dari satu tahun antara 2007 dan 2008, kemudian ditangkap lagi pada 2010, dibebaskan setelah dua bulan pada 2011, dan ditangkap kembali pada tahun yang sama. Dengan demikian, tokoh separatis Baum menjadi simbol besar bagi Gerakan Selatan karena upayanya yang gigih dalam memobilisasi mantan militer, kabilah, dan aktivis melawan pemerintah pusat di Sana'a, serta memperkokoh tuntutan separatis. Karena hubungannya dengan Amerika dan penerimaan dukungan dari Iran, langkah-langkahnya ditandai dengan gerakan yang cepat. Baum kemudian membentuk Dewan Tertinggi Gerakan Selatan dan menjadi ketuanya (Dewan Tertinggi untuk Gerakan Damai Pembebasan Selatan mewakili faksi utama Gerakan Selatan yang juga mencakup faksi-faksi lain termasuk Otoritas Nasional Tertinggi untuk Kemerdekaan Selatan, Dewan Nasional Tertinggi untuk Pembebasan dan Pemulihan Negara Selatan, Persatuan Demokratik Selatan, Persatuan Pemuda dan Pelajar Selatan... dan provinsi Dhale dianggap sebagai salah satu wilayah Hirak yang paling panas dan aktif... Al-Jazeera Net, 3/3/2011). Ada situs-situs yang secara terang-terangan menyebut Baum sebagai agen Iran sebagaimana yang dimuat dalam situs "Huna Aden, 13/9/2016". Dengan demikian, Gerakan Selatan di bawah kepemimpinan Hasan Baum, yang tumbuh dari isu marginalisasi, adalah gerakan politik yang terkait dengan dukungan awal Amerika, dan menjadi embrio bagi Amerika untuk bisa masuk ke Yaman melalui arah Selatan juga. Gerakan, aksi, dan pemogokan yang dilakukan oleh Hirak berpusat di kota Dhale, meskipun Hasan Baum adalah orang Hadramaut dari Mukalla, bukan dari Dhale. Semua gerakan tersebut berfungsi sebagai pelatihan bagi kelompok ini dalam kerja-kerja politik. Awalnya pemerintah Sana'a tidak menganggap gerakan ini berbahaya karena aksi-aksi yang menonjol bersifat politik. Oleh karena itu, pemerintah cukup dengan menangkap tokoh-tokohnya seperti Hasan Baum, Ahmed bin Farid, Ali al-Gharib, dan Ali Munasir untuk beberapa waktu, kemudian membebaskan mereka.
3- Orang-orang Amerika di Gerakan Selatan telah menguasai gagasan separatisme yang telah menjadi ideologi bagi mereka, dan mereka bersikap keras padanya. Adapun yang lain yang terseret dalam aktivitas Gerakan Selatan karena dipicu oleh marginalisasi, sebagian adalah aktivis lokal, dan yang lainnya berada di bawah pengaruh Inggris dan orang-orangnya di Yaman. Orang-orang semacam ini terkadang mendukung persatuan, dan terkadang mendukung separatisme; separatisme bukanlah ideologi mereka. Pemerintah di Sana'a memanfaatkan mereka dengan cara mengaburkan gagasan separatisme yang menjadi poros para agen Amerika, dan pemerintah menyusupkan sebagian orang-orangnya di antara mereka untuk tujuan yang sama. Sebagaimana telah kami katakan, pemerintah Sana'a awalnya tidak menganggap mereka berbahaya. Namun, ketika menjadi jelas bagi pemerintahan Presiden Saleh di Sana'a dan Inggris di belakangnya bahwa gerakan ini mulai mendapatkan momentum yang nyata, dan bahayanya meningkat terutama karena para agen Amerika berada di garis depan Hirak, maka negara di Sana'a bersama Inggris dan pengikut regionalnya mulai menangani gerakan ini secara serius untuk merangkulnya (containment), terutama karena gerakan ini tampak sulit diberantas di tengah perasaan marginalisasi yang tumbuh di Selatan. Rencana perangkulan (containment) "Inggris" ini berkembang seiring dengan perkembangan Gerakan Selatan, mulai dari upaya serius untuk melakukan infiltrasi hingga pengejaran yang tidak hanya terbatas pada penangkapan tetapi juga kekerasan. Hal ini berlanjut sampai UEA masuk melalui jalur darat dengan pasukannya, memanfaatkan keberadaannya dalam Koalisi Arab. Pengaruh Inggris semakin menguat setelah terbunuhnya Saleh, di mana pengaruh Inggris di Utara menjadi lemah dan mereka khawatir akan kekosongan kekuasaan jika Houthi berhasil memperluas pengaruhnya di Utara. Oleh karena itu, Inggris mulai berpikir serius untuk memiliki kekuatan di Selatan yang menjadi kartu penekan agar tetap memiliki eksistensi dalam pemerintahan Yaman. Jika tidak bisa di seluruh Yaman, setidaknya di Selatan. Maka Inggris mulai berpikir serius untuk memusatkan pengaruhnya di Selatan, apalagi Inggris tidak sepenuhnya mengandalkan Hadi karena ia didominasi oleh Arab Saudi. Dengan demikian, Inggris memberikan perhatian pada masalah ini melalui UEA, di samping mulai kembalinya pasukan mantan Presiden Yaman Ali Saleh—yang dibunuh oleh Houthi pada akhir tahun lalu tanggal 4/12/2017—ke Selatan untuk berbaris di samping pasukan UEA dalam memerangi Houthi. Sebuah sumber pemerintah Yaman "menegaskan bahwa Tareq Saleh, keponakan Ali Saleh, berada di Aden di bawah perlindungan pasukan Emirat, dan sumber diplomatik menyebutkan bahwa UEA sedang melakukan upaya besar untuk mencabut sanksi yang dijatuhkan pada Ahmed putra Ali Saleh agar dapat memainkan peran politik di masa depan" (Situs Nass Times Yaman, 5/2/2018). Komandan pasukan Dewan Transisi Selatan, Aidarus al-Zoubaidi, telah menyatakan: "Kami akan mendukung Tareq Saleh dan akan berdiri di sampingnya di Utara dan di seluruh wilayah hingga pembebasan Sana'a secara penuh... 30/1/2018 France 24". Ini berarti Inggris sedang memainkan peran di Selatan dan memperkuat pengaruhnya melalui agen-agennya dari kerabat Ali Saleh yang berpengaruh di pasukan Garda Republik Yaman dan Partai Kongres Rakyat Umum. Pasukan separatis tersebut didukung oleh UEA, perlu diketahui bahwa UEA berpartisipasi dengan pasukan udara dan darat, sementara Arab Saudi hanya berpartisipasi dengan pasukan udara.
4- Dengan demikian, Inggris mulai aktif di Selatan melalui UEA untuk menyusup ke dalam Gerakan Selatan yang asli atau meminggirkannya dengan menciptakan Hirak baru yang memimpin panggung. UEA mulai dengan faksi Ali Salem al-Beidh, meskipun Inggris menyadari besarnya upaya Amerika untuk mendukung Ali Salem al-Beidh dan Ali Nasir. Di antara upaya Amerika tersebut adalah tawaran dukungan Iran, serta kemudahan dari Mesir seperti pertemuan Gerakan Selatan di Kairo di bawah pimpinan Ali Nasir Muhammad pada tahun 2014, dan juga kemudahan dari Lebanon. Beirut menyediakan tempat perlindungan dan mimbar media bagi Ali Salem al-Beidh yang sebelumnya dilarang di Oman sejak ia mengungsi ke sana tahun 1994. Kemudian dengan meletusnya Operasi Badai Penghancur (Decisive Storm) oleh Saudi tahun 2014, ia pindah ke Riyadh yang menghujaninya dengan uang. Meskipun demikian, sebagaimana telah kami katakan sebelumnya, UEA mulai mencoba memengaruhi faksi Al-Beidh dan Nasir. Adapun mengapa memulai dengan faksi ini, ada dua alasan: Pertama, faksi ini mengadopsi kekerasan. Kedua, latar belakang masa lalunya dalam kesetiaan kepada Inggris, karena Inggris-lah yang berada di balik pembentukan Front Nasionalnya dan penyerahan kekuasaan Yaman Selatan kepadanya. Maka mereka ingin menghidupkan kembali ingatan masa itu agar ia kembali atau mendekat kepada mereka, sehingga mereka bersikap baik kepadanya. Setelah dimulainya operasi Koalisi Arab di Yaman tahun 2015, mereka memindahkannya dari Arab Saudi ke UEA, di mana ia sekarang menetap di Abu Dhabi. Hal ini karena Al-Beidh berpindah-pindah di negara-negara yang setia kepada Amerika; ia tinggal sekitar dua tahun (2012 dan 2013) di Lebanon dengan dukungan Iran dan perlindungan Hizbullah di sana, kemudian pindah ke Arab Saudi, lalu ditarik oleh UEA karena UEA berada dalam koalisi, dan dipindahkan sebagaimana kami sebutkan tadi ke sana, di mana ia menetap di Abu Dhabi dan dikelilingi dengan rasa hormat. Diketahui bahwa Salem al-Beidh adalah sosok yang plin-plan; kesetiaannya pernah kepada Inggris saat ia menjadi Presiden Yaman Selatan, kemudian di awal tahun sembilan puluhan ia ditarik oleh Amerika dan tetap pada kesetiaan ini saat berpindah-pindah di negara-negara yang loyal kepada Amerika. Sekarang ia berada di UEA, mereka mencoba merekrutnya, dan tidak menutup kemungkinan ia akan berubah lagi. Jika itu terjadi, hubungan antara dia dan UEA bisa menjadi tegang. Secara umum, posisinya lebih dekat kepada Dewan Transisi (Southern Transitional Council) dan ia telah memujinya: (Mantan Wakil Presiden Yaman, Ali Salem al-Beidh, mengumumkan dukungan dan restunya atas seruan untuk membentuk "entitas politik Selatan", sehari setelah tiga gubernur di provinsi Selatan mendukung seruan Gubernur Aden, Aidarus al-Zoubaidi, untuk membentuk entitas tersebut. Al-Beidh menegaskan dalam sebuah pernyataan yang salinannya diperoleh Al-Arabi Al-Jadeed bahwa ia akan mendukung seruan ini "dengan segala cara yang memungkinkan", dan mendesak berbagai kekuatan politik Selatan serta tokoh-tokoh independen untuk "berinteraksi positif dengan seruan ini, dan keluar dari sikap menunggu, apatis, dan ketergantungan menuju fase baru"... Pernyataan Al-Beidh muncul sehari setelah bergabungnya tiga gubernur, yaitu Gubernur Abyan, Al-Khadr al-Saidi, Gubernur Lahij, Nasser al-Khubaji, dan Gubernur Dhale, Fadl al-Jaadi, ke dalam seruan Gubernur Aden, Aidarus al-Zoubaidi, untuk membentuk "entitas Selatan".... Al-Arabi Al-Jadeed, 16/9/2016). Serupa dengannya adalah rekannya, Ali Nasir Muhammad, yang terkadang mendukung separatisme dan di waktu lain menginginkan satu pemerintahan di Yaman namun dengan syarat-syarat tertentu yang ia tetapkan! Ketika ditanya tentang solusi di Yaman pada 4/10/2017, yaitu sebelum perlawanan Ali Saleh terhadap Houthi di akhir 2017, ia berkata: "Pembentukan pemerintahan persatuan nasional yang konsensual. Menyingkirkan elemen-elemen utama penyebab perang dari kedua belah pihak (Houthi dan pemerintah Hadi) dari jabatan resmi apa pun selama masa transisi. Penarikan senjata dari semua pihak dan partai dan menyerahkannya kepada Kementerian Pertahanan, karena Yaman membutuhkan satu presiden, satu pemerintahan, dan satu menteri pertahanan, serta tunduk pada kotak suara di masa mendatang... Al-Ahram Al-Arabi, 4/10/2017". Jelas dari semua ini bahwa Inggris telah berhasil melalui UEA untuk menyusup ke tingkat yang berpengaruh pada kedua tokoh tersebut dan faksi mereka. Mereka tidak menjadikan separatisme sebagai ideologi tetap yang tidak tergoyahkan sebagaimana asal muasal Gerakan Selatan, melainkan mengikuti kondisi yang mengelilingi mereka.
5- Adapun faksi Hasan Baum, ia adalah seorang politisi ideologis separatis hingga ke sumsum tulang. Inggris menyadari bahwa solusi kompromi, iming-iming, atau dominasi tidak akan berguna, maka mereka mencoba mengepungnya di Oman dengan tahanan rumah melalui cara yang berliku, yaitu tanpa keputusan resmi. Baum sendiri mengungsi ke sana karena Oman menampakkan sikap netral, seolah-olah ia tidak tahu bahwa Oman berjalan bersama Inggris sesuai peran yang digariskan untuknya! Melalui agen-agennya di Oman, ruang gerak Hasan Baum dipersempit dan ia dikenakan tahanan rumah di kota Salalah, Oman, dalam waktu yang lama. Dengan absennya orang nomor satu Amerika di Gerakan Selatan ini dalam waktu lama, faksi-faksi yang loyal kepada Amerika dalam Hirak pun melemah sampai batas tertentu. Inggris melalui UEA memanfaatkan kesempatan ini dan memfokuskan upaya untuk menciptakan Gerakan Selatan yang sejajar dengan faksi Baum yang bahkan lebih vokal dalam isu Selatan. Mereka menemukan sosok yang tepat pada diri Aidarus al-Zoubaidi. Ia adalah salah satu pimpinan terkenal dalam Gerakan Selatan, pendiri gerakan separatis "Hatam" (Self-Determination) tahun 1996. Karena kedekatannya dengan kelompok Inggris, Presiden Hadi mengangkatnya pada 7/12/2015 sebagai Gubernur Aden, beberapa bulan setelah dimulainya Operasi Badai Penghancur oleh Saudi (Maret 2015). Ini menjadi indikator kuat atas kepercayaan para agen Inggris kepadanya. Aidarus al-Zoubaidi dikelilingi dengan citra besar di Aden; ia dianggap sebagai gubernur yang sukses bagi kota tersebut, ia memulihkan listrik, mengusir geng-geng bersenjata, memerangi Houthi, dan menentang proposal utusan PBB Amerika, Ould Cheikh. Semua itu dilakukan dengan dukungan finansial dan militer yang terbuka dan langsung dari UEA. Karena ia adalah seorang pejuang dalam perang saudara tahun 1994, pimpinan yang terlibat dalam gerakan separatis sejak dini, dan pernah diburu oleh rezim Ali Saleh yang berkuasa di Sana'a sejak pengasingannya ke Djibouti tahun 1994, serta karena ia adalah putra daerah Dhale yang merupakan pusat dan basis Gerakan Selatan, ditambah lagi dengan kesuksesannya sebagai Gubernur Aden dan perangnya melawan Houthi, maka mata di Selatan tertuju kepadanya sebagai tokoh politik terkemuka yang menyaingi kepemimpinan historis Hasan Baum dalam Gerakan Selatan. Secara militer, Aidarus al-Zoubaidi mengandalkan Hani bin Breik, pendiri pasukan "Sabuk Selatan" (Al-Hizam al-Janubi), yang secara luas digambarkan sebagai orang kepercayaan UEA di Selatan (Hani bin Breik yang muncul di kancah Yaman sebagai pejuang melawan Houthi, kemudian di kancah politik sebagai menteri yang dipaksakan oleh kekuatan Emirat, hal itu karena pengaruhnya yang nyata berkat dukungan dermawan dari Abu Dhabi, dan ia mendirikan apa yang dikenal sebagai pasukan "Sabuk Keamanan", milisi yang didukung secara terbuka oleh negara UEA di Yaman Selatan... Sasa Post, 2/11/2017). Dengan demikian, Al-Zoubaidi dan Bin Breik memiliki peran penting di Selatan. Namun, karena mereka berada dalam pemerintahan Hadi yang loyalitasnya terbuka kepada Inggris, hal ini tidak memberikan mereka popularitas dalam seruan Hirak Selatan. Oleh karena itu, langkah pertamanya adalah mengeluarkan mereka dari pemerintahan Hadi dengan cara yang menunjukkan mereka, terutama Al-Zoubaidi, memiliki perselisihan yang kuat dengan kubu Hadi, sehingga penduduk Selatan akan berhimpun di sekelilingnya untuk membentuk Hirak yang baru, dan begitulah yang terjadi.
6- Presiden Yaman pada 27 April 2017 mengeluarkan keputusan untuk memecat Aidarus al-Zoubaidi dari jabatan Gubernur Aden dan menteri negara Hani bin Breik, dengan merujuk nama terakhir untuk penyelidikan. Ribuan orang Yaman turun ke jalan dalam demonstrasi di kota Aden, bagian selatan, untuk mengecam keputusan Hadi tersebut. Faksi-faksi dari Gerakan Selatan dalam "Deklarasi Aden" 4 Mei 2017 mengumumkan bahwa mereka memutuskan untuk memberikan mandat kepada Aidarus al-Zoubaidi untuk membentuk dan memimpin sebuah blok yang akan mengelola dan mewakili Selatan guna mencapai tujuan dan aspirasinya, di samping memberinya wewenang penuh untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna melaksanakan poin-poin deklarasi tersebut. Seminggu setelah mandat Hirak kepada Al-Zoubaidi untuk membentuk kepemimpinan politik, Al-Zoubaidi mengumumkan kepemimpinannya atas badan pimpinan Dewan Transisi Selatan di kota Aden pada 11 Mei 2017, dan menunjuk Bin Breik sebagai wakilnya, ditambah keanggotaan 26 orang lainnya. Sebagai bentuk persaingan dengan Baum, ia berpidato dengan meletakkan bendera bekas negara Yaman Selatan di sampingnya (Al-Zoubaidi berkata dalam pidato televisi hari Kamis, dengan meletakkan bendera negara Yaman Selatan sebelumnya, bahwa berdasarkan "Deklarasi Aden yang Bersejarah", telah dibentuk "Kepemimpinan Politik Tertinggi Selatan yang disebut Badan Pimpinan Dewan Transisi Selatan". Ia menambahkan bahwa Hani bin Breik akan menjadi wakil ketua dewan di samping keanggotaan 26 orang. Ia menjelaskan bahwa "Badan Pimpinan Dewan Transisi Selatan bertugas menyelesaikan prosedur pendirian badan-badan Dewan Transisi Selatan, serta mengelola dan mewakili Selatan di dalam dan luar negeri"... CNN Arabic, 11/5/2017). Dengan demikian, Al-Zoubaidi, Bin Breik, dan UEA/Inggris di belakang mereka memiliki wewenang untuk membentuk kepemimpinan Selatan sepenuhnya. Gubernur-gubernur provinsi adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Presiden Yaman, yang berarti mereka berasal dari lingkaran Inggris di Yaman, begitu pula kepemimpinan lainnya dari anggota Dewan Transisi adalah para pendukungnya. Bahkan ia mampu merangkul ke dalam dewannya beberapa orang dari faksi Baum seperti Ali al-Saadi dan Nasser al-Khubaji, meskipun mungkin hanya untuk sementara. Jika kebenaran terungkap mereka akan keluar atau dikeluarkan, atau itu bisa menjadi jalan untuk merekrut mereka. Nasser al-Khubaji, di tengah "absennya" Baum dari panggung, telah menjadi pendukung Al-Zoubaidi sejak dini!
Dengan kendali yang hampir menentukan dari Dewan Transisi yang dipimpin oleh Aidarus al-Zoubaidi di Aden, kepemilikan pasukan militer yang relatif besar di bawah pimpinan Bin Breik di provinsi-provinsi Selatan lainnya, bahkan di Marib, serta berhimpunnya gubernur-gubernur provinsi di sekitar kepemimpinan Aidarus al-Zoubaidi, ditambah lagi dukungan dari para tokoh lama "Negara Selatan" sebelumnya dari kalangan "Sosialis" seperti Ali Salem al-Beidh yang menyatakan dukungannya kepada Al-Zoubaidi sejak dini, dukungan Tariq al-Fadhli dan arusnya yang bercorak Islam ditambah posisi kesukuannya yang kuat di Abyan, serta dukungan negara UEA secara finansial, politik, dan militer, maka Inggris telah menyelesaikan masalah Gerakan Selatan di sekitar agen mereka, Aidarus al-Zoubaidi, dalam tingkat yang besar. Jika kondisi politik tetap seperti ini, terutama dengan adanya pengaruh UEA di Selatan, maka kendali ini diperkirakan akan terus berlanjut.
7- Adapun Amerika, ia menyadari keterlambatannya dan menunjukkan kekesalannya. Hal yang mengindikasikan kekesalan Amerika atas pembentukan Dewan Transisi adalah penentangan utusan internasionalnya, Ould Cheikh, terhadap dewan tersebut (Utusan PBB untuk Yaman Ismail Ould Cheikh menyampaikan pesan "ancaman yang jelas" kepada Gubernur Aden yang dipecat, Aidarus al-Zoubaidi, terkait pengumuman pembentukan dewan transisi untuk pemisahan Selatan, menurut sebuah sumber informasi. Al-Mashhad Al-Yamani mengutip sumber tersebut bahwa Ould Cheikh bertemu Al-Zoubaidi dan menyampaikan pesan ancaman yang jelas jika ia tetap bersikeras pada dewan yang diumumkannya, yang ditolak oleh kepresidenan Yaman, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), kelompok Houthi, dan banyak pihak di dalam Gerakan Selatan. Jika ia "Al-Zoubaidi" tetap bersikeras, maka PBB dan Dewan Keamanan akan memasukkannya dalam daftar penghalang proses perdamaian di Yaman dan pelaksanaan Resolusi 2216 yang dikeluarkan di bawah Bab VII, dan mereka akan diperlakukan seperti Houthi dan Saleh sebagai "pemberontak"... Russia Today, 14/5/2017). Tampaknya Amerika berusaha memperbaiki keadaan dengan menekan Oman untuk membebaskan Baum. Setelah dibebaskan, Hasan Baum mulai melakukan gerakan yang kuat menentang Dewan Transisi yang didukung oleh UEA, dalam sebuah manifestasi besar konflik Inggris-Amerika atas Yaman. Terlihat bahwa gerakannya mendapat dukungan Saudi yang jelas; di bawah pengawasan mereka diadakan kongres pertama Dewan Gerakan Revolusioner di bawah kepemimpinannya di kota Aden pada 17/8/2017 yang dihadiri enam ratus pengikutnya, dengan menuduh negara UEA menjajah Yaman Selatan. Dalam pernyataan kongres tersebut disebutkan: "Kami menolak dengan tegas eksploitasi antusiasme rakyat Selatan kami dan penyebaran kebohongan serta upaya memengaruhi mereka secara emosional untuk mendapatkan dukungan rakyat, lalu berjalan berlawanan dengan kehendak rakyat Selatan... Kami menegaskan bahwa pemimpin Hasan Baum, Ketua Dewan Tertinggi Gerakan Revolusioner, dianggap sebagai pemimpin dan simbol Selatan yang kami banggakan... Apa yang terjadi hari ini di Selatan berupa persaingan sengit antara kekuatan luar seperti negara UEA yang mulai menguasai pintu-pintu masuk Selatan dan kekayaannya serta mengendalikan nasib rakyat kami dan kecenderungannya, lalu datang memberikan kepada segelintir orang yang dijadikan pengikutnya sedikit remah-remah yang hina... Aden al-Ghad, 17/8/2017". Artinya, kelompok Baum secara terang-terangan memusuhi UEA dan menuntut mereka keluar dari Yaman, serta menyebut kelompok Al-Zoubaidi sebagai "pengikut UEA yang diberi sedikit remah-remah".
Kemudian diadakan kongres kedua kelompok Baum pada 11/11/2017. Dalam pernyataan penutup kongres kedua Dewan Gerakan Revolusioner pimpinan Baum yang diadakan di Aden, disebutkan: "Kami menyerukan negara-negara yang disebut Koalisi Arab untuk melakukan dialog langsung secara setara dengan Dewan Tertinggi Hirak setelah menarik semua pasukannya dari tanah kami, dengan menegaskan antusiasme kami pada ikatan sosial dan keagamaan di antara kita". Dewan yang dipimpin Baum mendeskripsikan koalisi tersebut sebagai "negara penjajah" dan melanjutkan: "Kami menegaskan hak penuh kami untuk berurusan dengan penjajahan dengan segala cara dan sarana yang sah pada waktu dan tempat yang tepat sesuai dengan kepentingan nasional kami". Pernyataan tersebut menekankan bahwa "negosiasi atau solusi apa pun yang mengecualikan isu Selatan dan wakil sahnya tidak akan berhasil, karena wakil sah adalah mereka yang memimpin Hirak sejak hari pertama, bukan mereka yang diciptakan oleh kebetulan atau dibuat oleh uang atau hasil kloning penjajah asing"... (Al-Arabi Al-Jadeed, 11/11/2017). Pernyataan tersebut, meskipun berbicara tentang Koalisi Arab, namun pada dasarnya ditujukan melawan UEA karena kongres tersebut diadakan di bawah perlindungan Saudi!
8- Kesimpulannya: Setelah kekalahan Ali Salem al-Beidh dan Ali Nasir Muhammad tahun 1994 serta penguasaan Ali Saleh atas aset-aset Yaman Selatan, marginalisasi penduduk Selatan, dan penindasan terhadap banyak personil militer Selatan, semua ini menyebabkan munculnya berbagai gerakan oposisi sejak tanggal tersebut hingga hari ini. Yang paling menonjol ada tiga gerakan:
Gerakan Selatan faksi Ali Salem al-Beidh yang plin-plan: terkadang bersama Amerika dan agen-agennya, dan terkadang sepakat dengan Inggris dan agen-agennya.
Gerakan Selatan faksi Hasan Baum yang didukung oleh Amerika dan agen-agennya, terutama Iran.
Gerakan Selatan faksi Al-Zoubaidi yang didukung oleh Inggris dan agen-agennya, terutama UEA.
Sebagaimana telah kami jelaskan di atas, kami telah menyoroti sikap-sikap terpenting mereka terhadap isu-isu Yaman yang sedang berlangsung. Sungguh menyakitkan bahwa urusan kita dipermainkan oleh kaum kafir penjajah melalui alat-alat karatan dari bangsa kita sendiri! Darah kita tertumpah di Yaman dan tempat lainnya demi kepentingan kaum kafir melalui alat-alat lokal. Mereka lupa atau pura-pura lupa akan hal-hal yang jika mereka memahaminya, niscaya mereka akan menangis darah karena buruknya apa yang mereka perbuat:
Allah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa telah melarang dengan larangan yang tegas bagi seorang Muslim untuk condong kepada kaum kafir yang zalim:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
"Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan." (QS. Hud [11]: 113)
Rasulullah ﷺ bersabda tentang penumpahan darah yang dicabut tanpa hak bahwa hal itu lebih besar di sisi Allah daripada lenyapnya dunia. Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bahwa Nabi ﷺ bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
"Sungguh, lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang laki-laki Muslim."
Ibnu Asakir meriwayatkannya dalam Mu'jam-nya dan berkata bahwa ini adalah hadits hasan. Maka bagaimana jika darah itu ditumpahkan demi kepentingan kaum kafir penjajah?! Sungguh itu adalah kejahatan di atas kejahatan.
سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ
"Orang-orang yang berdosa itu, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." (QS. al-An'am [6]: 124)
Meskipun demikian, Yaman yang digambarkan oleh Rasulullah ﷺ sebagai negeri iman dan hikmah tidak akan kosong dari orang-orang mukmin yang jujur dan ikhlas, yang akan menghadang mereka yang condong kepada kaum kafir penjajah. Mereka akan mengembalikan Yaman, dengan izin Allah, sebagai Darul Islam yang bernaung di bawah panji Islam dalam naungan Khilafah Rasyidah yang mengembalikan kemuliaannya, sehingga Yaman menjadi sebagaimana sabda beliau ﷺ dalam riwayat Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi ﷺ:
أَتَاكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوبًا الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ
"Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya. Iman itu ada pada Yaman, dan hikmah (kebijaksanaan) itu ada pada Yaman."
8 Jumadil Akhir 1439 H 24 Februari 2018 M