Pertanyaan:
Perjanjian rekonsiliasi antara Eritrea dan Ethiopia ditandatangani di Asmara pada Juli 2018. Juru bicara resmi Kementerian Luar Negeri Ethiopia, Meles, menegaskan bahwa Perjanjian Asmara yang baru saja ditandatangani dengan Eritrea dilakukan atas keinginan murni kedua negara tanpa mediasi dari pihak ketiga mana pun. Sejauh mana kebenaran pernyataan ini? Apakah perjanjian tersebut benar-benar bebas dari pengaruh internasional dan regional? Mengapa harus menunggu sekitar 18 tahun untuk mengonfirmasi kesepakatan ini, sementara Perjanjian Asmara merujuk pada Perjanjian Aljazair tanggal 18 Juni 2000 seolah-olah sebagai pelengkapnya? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Jawaban:
Pernyataan juru bicara resmi Kementerian Luar Negeri Ethiopia, Meles, bahwa Perjanjian Asmara dilakukan atas keinginan mandiri kedua negara adalah bentuk penipuan dan penyesatan! Penelusuran terhadap rangkaian peristiwa yang terjadi menunjukkan bahwa Amerika Serikat berada di balik apa yang telah dan sedang terjadi untuk mewujudkan kepentingan-kepentingannya serta memperkuat pengaruhnya di hadapan pergerakan Eropa dan Cina di Afrika. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Pertama: Rangkaian Peristiwa Perjanjian Asmara:
Perjanjian tersebut ditandatangani pada 9 Juli 2018, dan setelah itu Ethiopia serta Eritrea mengumumkan berakhirnya status perang di antara mereka menyusul pertemuan yang disebut "bersejarah" antara Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed dan Presiden Eritrea Isaias Afwerki di Asmara... Menteri Informasi Eritrea, Yemane Gebre Meskel, mengumumkan di Twitter tentang ("pernyataan perdamaian dan persahabatan bersama yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, dan bahwa status perang yang ada di antara kedua negara telah berakhir. Era baru perdamaian dan persahabatan telah dimulai. Kedua negara akan bekerja sama untuk mendorong kerja sama erat di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan"... AFP 9/7/2018). Untuk mengetahui siapa di balik perjanjian ini, kita akan menyebutkan peristiwa-peristiwa penting sebelum dan sesudahnya:
1- Peristiwa sebelum penandatanganan perjanjian:
a. Asisten Sekretaris Negara AS untuk Urusan Afrika, Donald Yamamoto, tiba di Addis Ababa pada Kamis, 26 April 2018, (... dalam kunjungan resmi selama 3 hari, di mana ia bertemu dengan Perdana Menteri Ethiopia "Abiy Ahmed Ali" dan Menteri Luar Negeri. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian tur yang dimulai Yamamoto pada tanggal 22 bulan ini, mencakup Eritrea dan Djibouti, serta diakhiri di Ethiopia... 27/04/2018 https://www.aa.com.tr/ar/).
b. Abiy Ahmed melakukan kunjungan luar negeri pertamanya ke Arab Saudi pada 17 Mei 2018 atas undangan resmi dari Rajanya, Salman bin Abdulaziz.
c. Salah satu yang pertama mengunjungi Abiy Ahmed adalah Putra Mahkota Saudi, Bin Salman, pada 7 Juni 2018. Kantor Berita Ethiopia, mengutip kepala kantor perdana menteri, menyatakan bahwa Abiy Ahmed ("memuji perkembangan hubungan dengan Arab Saudi, mengatakan bahwa berkat Mohammed bin Salman hubungan bilateral kedua negara berkembang dan menjadi lebih kuat serta lebih dekat dari sebelumnya, dan bahwa Putra Mahkota Saudi berjanji mendukung upaya Addis Ababa dalam mempercepat pembangunan dan mendorong investor Saudi untuk berinvestasi di Ethiopia...").
d. Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan pada 21 Juni 2018 menyatakan ("Amerika Serikat merasa optimis dengan kemajuan yang dicapai baru-baru ini oleh Ethiopia dan Eritrea menuju penyelesaian perselisihan lama mereka. Isaias Afwerki dan Abiy Ahmed telah menunjukkan kepemimpinan yang berani dengan mengambil langkah-langkah menuju perdamaian ini. Amerika Serikat menantikan normalisasi hubungan secara penuh dan pencapaian aspirasi bersama kedua negara untuk menikmati perdamaian abadi dan pembangunan"... Reuters 21/6/2018).
e. Dalam sebuah wawancara dengan Addis Standard, Duta Besar Mike Raynor untuk Ethiopia berkata ("Baiklah, kami telah menyampaikan kepada kedua pihak, secara terbuka, dan kami masih mengatakan bahwa kami siap memainkan peran ini. Kembali ke masa Perjanjian Aljazair, Amerika Serikat adalah penjamin resmi. Kami memiliki peran struktural yang ditetapkan pada poin yang disepakati. Kami mendorong hasil ini pada suatu waktu dengan kedua pemerintah, dan itulah sebabnya kami berkata 'jika Anda secara kooperatif merasa ada peran yang dapat dimainkan AS secara konstruktif, maka kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk mendukung itu... Saya percaya kami telah memainkan peran konstruktif. Seperti yang saya katakan, kami telah menjalin hubungan dengan kedua negara selama beberapa bulan untuk mendorong hasil ini'."... 2/7/2018 http://addisstandard.com)
Semua ini menunjukkan bahwa penandatanganan perjanjian tersebut telah dipersiapkan oleh Amerika dan para penguasa pengikutnya di Arab Saudi, hal ini terlihat dari rangkaian peristiwa menjelang penandatanganannya.
2- Peristiwa setelah penandatanganan perjanjian:
a. Amerika Serikat mengumumkan dukungannya terhadap perjanjian damai antara Eritrea dan Ethiopia setelah bertahun-tahun konflik. Hal ini disampaikan dalam pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, pada hari Selasa. Pompeo berkata: ("Amerika Serikat menyambut baik komitmen perdamaian dan keamanan yang ditandatangani kemarin, Senin, antara negara Eritrea dan Ethiopia, yang secara efektif mengakhiri konflik selama 20 tahun" dan menekankan bahwa "normalisasi hubungan, dan adopsi deklarasi bersama tentang perdamaian dan persahabatan antara Eritrea dan Ethiopia, akan memberikan kesempatan bagi rakyat mereka untuk fokus pada aspirasi bersama demi mempererat ikatan politik, ekonomi, dan sosial... 10/07/2018 ar.haberler.com)
b. Isaias Afwerki mengunjungi Arab Saudi pada 23 Juli 2018 setelah Perjanjian Asmara pada 9 Juli 2018. Ia dan Raja Salman meninjau ("perkembangan peristiwa di kancah regional..." demikian pula Adel al-Jubeir membahas dengan menteri luar negeri Eritrea selama pertemuannya "hubungan bilateral antara kedua negara dan isu-isu kepentingan bersama"... Asharq Al-Awsat 24/07/2018)
c. Setelah lebih dari dua bulan pengumuman Asmara (di bawah naungan Raja Salman dari Saudi, Presiden Eritrea Isaias Afwerki dan Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali pada hari Minggu 16 September 2018 menandatangani Perjanjian Perdamaian Jeddah antara kedua negara, dengan dihadiri oleh Putra Mahkota Saudi... Sky News Arabia 16/09/2018)
Maka, dari urutan peristiwa di atas, jelaslah bahwa Amerika dan antek-anteknya adalah penggerak peristiwa menjelang Perjanjian Asmara dengan menyiapkan suasana, serta memberikan dukungan nyata setelah perjanjian tersebut ditandatangani.
Kedua: Realitas Pemerintahan di Ethiopia dan Eritrea:
1- Terkait Ethiopia:
a. Abisinia (Ethiopia) jatuh di bawah pendudukan Italia pada tahun 1935. Kaisarnya, Haile Selassie, melarikan diri melalui Kenya ke Mesir yang keduanya berada di bawah penjajahan Inggris saat itu. Kemudian ia pergi ke Inggris dan tinggal di sana sampai Inggris mengembalikannya pada tahun 1941 setelah pengusiran Italia dari Abisinia oleh Sekutu selama Perang Dunia II. Inggris menobatkan kembali Haile Selassie sebagai kaisar, sehingga Abisinia berada di bawah pengaruh Inggris... Pada saat itu, Inggris juga menduduki negara tetangga Eritrea, yang berada di bawah pemerintahan Italia sejak abad ke-19. Pada tahun 1950, Eritrea digabungkan ke Ethiopia di bawah kekuasaan Haile Selassie. Pengaruh Inggris di Ethiopia, termasuk Eritrea, berlanjut hingga 1974 ketika terjadi kudeta militer terhadap kaisar oleh perwira-perwira kiri. Di antara mereka muncul perwira Mengistu Haile Mariam yang berhasil mendominasi kekuasaan sejak 1977 setelah konflik di antara perwira tersebut dan tetap berkuasa hingga 1991. Sebagian besar gerakan kudeta saat itu menggunakan slogan revolusioner, pembebasan, sosialis, dan semacamnya... Demikianlah slogan kudeta Mengistu, padahal Amerika berada di belakangnya untuk memukul pengaruh kolonial Inggris... Di antara tindakan luar negerinya demi kepentingan Amerika adalah mendukung gerakan pemberontakan di Sudan Selatan yang dipimpin oleh John Garang yang berhubungan dengan Amerika. Dukungan Ethiopia terus berlanjut bagi gerakan ini hingga Sudan Selatan terpisah dari Sudan dengan kolaborasi pemerintah Bashir di Sudan...
b. Namun Mengistu dikenal karena kekejamannya, sehingga Amerika khawatir rakyat akan berontak dan Inggris akan kembali lagi. Maka Amerika menggulingkannya dan mendatangkan Meles Zenawi yang berasal dari Front Pembebasan Rakyat Tigray (etnis Kristen) yang mencakup 5% penduduk Ethiopia, yang beraliansi dengan front etnis lainnya termasuk Front Pembebasan Oromo. Salah satu tugas terpenting yang dilakukan Zenawi untuk kepentingan Amerika adalah intervensinya di Somalia pada tahun 2006. Amerika menginstruksikannya untuk memerangi gerakan Islam dan menggulingkan pemerintahan Mahkamah Islam di Somalia. Tentara Ethiopia masih berada di Somalia hingga kini untuk mengamankan stabilitas bagi pengaruh Amerika.
c. Setelah kematian Zenawi pada tahun 2012, ia digantikan oleh Hailemariam Desalegn yang berasal dari etnis yang sama. Namun, terjadi kerusuhan dan keadaan darurat diberlakukan pada tahun berikutnya; peristiwa pecah pada Oktober 2015 menyusul keputusan pemerintah untuk memperluas wilayah ibu kota Addis Ababa dan menyita lahan pertanian yang berbatasan dengannya. Lahan tersebut merupakan milik etnis Oromo yang mewakili 40% penduduk, diikuti oleh Amhara 20%. Setahun kemudian pada 2016, pemerintah segera mengumumkan keadaan darurat, lebih dari 29 ribu orang ditangkap dan lebih dari 500 orang terbunuh dalam beberapa bulan protes. Ketakutan Amerika muncul kembali, maka Amerika memerintahkannya untuk mundur karena ia tidak mampu meredakan situasi, yang mana hal itu dapat mengguncang stabilitas di seluruh Tanduk Afrika...
d. Maka Desalegn mundur pada 15 Februari 2018, dan Amerika mendatangkan penguasa Ethiopia dari etnis pemberontak terbesar yang mayoritasnya Muslim, yaitu Oromo. Amerika mendatangkan Abiy Ahmed yang berasal dari etnis ini, sementara ibunya seorang Kristen dari etnis Amhara begitu pula istrinya, guna merangkul dua etnis terbesar di Ethiopia. Ia pernah menjabat di militer dan kemudian di intelijen, lalu menduduki jabatan politik... Ia menjabat sebagai Perdana Menteri pada 2 April 2018. Abiy Ahmed sempat mengalami percobaan pembunuhan pada 23 Juni 2018 (di mana seseorang menyerang dengan granat saat pertemuan massa di ibu kota Addis Ababa setelah ia berpidato di hadapan puluhan ribu orang. Ia berkata setelah ledakan itu "upaya yang tidak berhasil dari kekuatan yang tidak ingin melihat Ethiopia bersatu". Kedutaan Besar AS di Addis Ababa mengecam serangan itu dan berkata: "Kekerasan tidak punya tempat di Ethiopia"... Al-Hurra 23/6/2018). Tidak tertutup kemungkinan hal ini berkaitan dengan perubahan internal militer dan keamanan yang ia lakukan dengan memecat panglima angkatan bersenjata serta kepala intelijen umum negaranya pada 8 Juni 2018, karena kedua institusi ini dituduh membunuh ratusan pengunjuk rasa dan menangkap puluhan ribu lainnya sejak 2015.
Demikianlah Amerika memegang kendali pemerintahan di Ethiopia, khususnya setelah Abiy Ahmed berkuasa, di mana ia melaksanakan rencana-rencana Amerika dan arahannya untuk menghilangkan ketegangan di antara para agen Amerika di kawasan itu agar mereka menjadi kekuatan yang signifikan dalam menghadapi infiltrasi politik Eropa dan ekspansi ekonomi Cina.
2- Terkait pemerintahan di Eritrea:
Sebagaimana telah kami katakan sebelumnya, setelah kudeta para perwira terhadap Haile Selassie dan berakhirnya pengaruh Inggris di Ethiopia termasuk Eritrea, Mengistu Mariam memegang kendali kekuasaan dan bertindak sangat kejam. Amerika khawatir akan revolusi rakyat dan pemanfaatan situasi oleh Inggris untuk kembali, yang memang memiliki pengalaman panjang dalam hal ini. Maka Amerika menyingkirkan Mengistu dan membawa Zenawi pada tahun 1991... Pada saat yang sama, muncul gerakan dan protes di Eritrea yang menuntut kemerdekaan. Amerika melihat perlu memenuhi tuntutan mereka untuk meredakan situasi, sehingga kemerdekaan Eritrea diumumkan pada tahun 1993 dan menempatkan Afwerki sebagai pemimpin. Namun, dalam pengumuman kemerdekaan tersebut tidak ditetapkan perbatasan negara baru itu. Afwerki khawatir Ethiopia akan kembali mencaploknya, maka pada 12 Mei 1998 ia melakukan aksi militer untuk menetapkan perbatasan, bertentangan dengan pendapat Amerika yang telah menempatkannya sebagai penguasa. Ia terus melakukan itu dan menolak rencana negosiasi Amerika yang diajukan oleh Susan Rice pada 30 Mei 1998. Ia hampir berhasil menetapkan perbatasan seandainya Amerika tidak menganggap tindakannya sebagai pembangkangan. Amerika pun menindaknya, bahkan sengaja menghinakannya, dengan memerintahkan Zenawi melancarkan perang brutal pada 4 Februari 1999 terhadap Eritrea yang semakin berdarah pada 12 Mei 2000, hingga menghapus semua perbatasan yang telah ia buat dan masuk jauh ke dalam wilayah Eritrea secara memalukan. Akhirnya Afwerki menyetujui Perjanjian Aljazair 18 Juni 2000 dan semua syarat yang diminta, namun masalah perbatasan tetap tidak tuntas! Kami telah mengeluarkan Komentar Politik pada saat itu tertanggal 20 Rabiul Awal 1421 H / 22 Juni 2000 M, di mana kami katakan: (...hari Minggu 18/6/2000 menteri luar negeri Eritrea dan Ethiopia menandatangani perjanjian gencatan senjata antara kedua negara; di Aljazair dengan dihadiri oleh penguasanya selaku ketua sesi Organisasi Persatuan Afrika saat itu. Serta dihadiri oleh perwakilan dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan PBB. Perjanjian tersebut mencakup lima belas butir, yang terpenting adalah: penentuan perbatasan bersama antara kedua negara dan penetapannya melalui pakar internasional yang ditunjuk PBB, dengan penundaan penempatan kembali pasukan Ethiopia yang bermarkas di Badme dan wilayah perbatasan lainnya hingga dua minggu setelah kehadiran pasukan internasional, serta Eritrea mengosongkan zona selebar 25 kilometer di sepanjang perbatasannya dengan Ethiopia sebagai zona penyangga di bawah kendali pasukan internasional hingga perbatasan ditetapkan dan sengketa diselesaikan... Clinton mengomentari penandatanganan tersebut dengan berkata: "Ini kemajuan besar dan akan mengakhiri konflik tragis di Tanduk Afrika," dan ia berkata: "Ethiopia dan Eritrea adalah teman bagi Amerika, jika mereka siap mengambil langkah selanjutnya maka kami dan mitra kami dari komunitas internasional akan berjalan bersama mereka." Anthony Lake—utusan kepresidenan—berkomentar: "Ini adalah momen penting dan mengakhiri konflik yang berlangsung selama dua tahun"). Meskipun perjanjian tersebut menetapkan penetapan perbatasan, namun hal itu tetap menggantung! Ethiopia tidak pernah peduli untuk menetapkan perbatasan ini, melainkan menganggap Eritrea sebagai bagian dari tanahnya dan salah satu provinsinya. Kaisar-kaisar Abisinia dan setelah mereka Mengistu Mariam berusaha mengintegrasikannya dengan berbagai cara dan metode, mengingat kebutuhan mendesak mereka akan akses laut di Eritrea... Oleh karena itu Afwerki mencoba menetapkan perbatasan secara militer dan hampir berhasil seandainya bukan karena serangan Ethiopia pada 12 Mei 2000 atas dorongan Amerika sebagai hukuman bagi Afwerki sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Maka Afwerki dipaksa menerima semua yang diminta Ethiopia dengan pengumuman eksplisit menerima perjanjian yang dikeluarkan di bawah naungan Organisasi Persatuan Afrika yang ditandatangani di Aljazair pada hari Minggu 18 Juni 2000.
Kami juga mengatakan dalam Komentar Politik tersebut: (Bahwa Ethiopia dan Eritrea adalah negara-negara yang tunduk dalam politiknya kepada Amerika, dan para penguasanya adalah agen-agennya. Amerikalah yang memungkinkan Meles Zenawi memimpin Front Pembebasan Rakyat Tigray untuk mengambil alih kekuasaan di Addis Ababa ketika ingin mengganti agennya Mengistu Mariam pada tahun 1991, dan Amerikalah yang memungkinkan Isaias Afwerki memimpin Front Pembebasan Rakyat Eritrea untuk merdeka dari Ethiopia pada tahun 1993. Maka perselisihan antara Ethiopia dan Eritrea adalah perselisihan antar agen atau "teman" sebagaimana yang disukai oleh Clinton dan para ahli politik di Gedung Putih atau Barat untuk menyebut mereka. Amerika telah mencoba menyelesaikan perselisihan di antara mereka melalui negosiasi, dan mengerahkan upaya ahli terkemukanya, Anthony Lake, yang menghabiskan lebih dari setahun tanpa mampu menyelesaikan perselisihan tersebut; karena Afwerki tidak puas dengan usulan Amerika dan menganggapnya memihak Ethiopia... Ketika Afwerki membangkang seperti ini, Amerika beralih untuk menindaknya bahkan sengaja menghinakannya dengan kekuatan militer, kebiasaan Amerika dalam berurusan dengan agen-agennya jika mereka berpikir untuk memberontak. Amerika-lah yang mendorong Zenawi untuk melancarkan perang terakhir terhadap Eritrea dan duta besarnya di PBB, Holbrooke, adalah orang yang memberinya lampu hijau untuk melancarkannya... Ia menyatakan pada hari Rabu 10 Mei 1998, sebelum meninggalkan Asmara dan setelah bertemu dengan Presiden Eritrea, ia menyatakan: "Kami sudah sangat dekat dengan dimulainya kembali perang dan pecahnya babak baru pertempuran yang jika terjadi akan menjadi perang terbesar di benua Afrika." Ini adalah pernyataan berapi-api yang dilontarkan Holbrooke sebelum meninggalkan Asmara yang memberikan peringatan akan keburukan besar bagi siapa pun yang mendengarnya saat itu. Holbrooke ini telah menjadi pembawa kabar buruk bagi negara-negara yang dikunjunginya di dunia, ia mengikuti jejak pendahulunya yang bereputasi buruk, Kissinger, dalam memicu perang dan membawa bencana serta meremehkan pertumpahan darah rakyat demi menjaga kepentingan Amerika... Kamis 20 Rabiul Awal 1421 H - bertepatan 22/06/2000 M) Selesai. Jelas dari apa yang telah lalu bahwa keberatan Eritrea terhadap usulan Amerika tidak berarti ketidaktundukannya kepada Amerika, melainkan ia ingin meyakinkan Amerika untuk membantunya menetapkan perbatasan antara dirinya dan Ethiopia secara final agar Eritrea tidak tetap dalam kondisi "setengah merdeka", karena tidak ditetapkannya perbatasan oleh Ethiopia terhadap Eritrea menyisakan keraguan bagi orang-orang Eritrea terhadap niat Ethiopia.
Demikianlah jelas bahwa Afwerki dan Abiy Ahmed keduanya adalah agen Amerika, maka tidak mudah bagi mereka untuk mengadakan Perjanjian Asmara dengan butir-butir yang disebutkan tanpa sepengetahuan Amerika, perencanaannya, dan perintahnya kepada mereka untuk melaksanakannya.
Ketiga: Adapun mengapa Amerika menunggu 18 tahun antara Perjanjian Aljazair tahun 2000 dan Perjanjian Asmara 2018, hal itu kembali kepada kepentingannya sendiri:
Setelah Perjanjian Aljazair yang berada di bawah naungan Amerika, masalah yang paling rumit adalah penetapan perbatasan di mana Ethiopia ingin mengulur-ulur waktu, sementara Eritrea mendesaknya. Meskipun demikian, Amerika tidak peduli untuk menekan guna menyelesaikan masalah tersebut karena kepentingannya tetap terjaga baik masalah itu selesai atau tidak, sebab keduanya adalah agennya dan pertikaian di antara mereka tidak mempengaruhi kepentingannya sebagaimana yang dilihatnya saat itu. Namun muncul hal-hal baru dalam beberapa tahun terakhir yang membuat Amerika meninjau kembali kebijakan Afrikanya, khususnya di Tanduk Afrika:
1- Banyaknya pergolakan kekuasaan di Ethiopia yang secara alami memperlemah pemerintahan dan menjauhkan stabilitas sehingga membuatnya mudah disusupi... Dengan demikian, wilayah ini menjadi incaran negara-negara penjajah, khususnya Inggris dari sisi pengaruh politik, dan Cina dari sisi pengaruh ekonomi. Semua itu menuntut kembalinya perhatian Amerika yang akhirnya dipuncaki dengan rekonsiliasi Ethiopia-Eritrea dan berbagai dimensinya yang melayani kepentingan Amerika.
2- Laporan yang ada menunjukkan bahwa Ethiopia memiliki cadangan minyak yang sangat besar di banyak wilayah dan pekerjaan ekstraksinya telah dimulai secara nyata di sejumlah besar wilayah... (Ethiopiana Net 1/4/2013). (Produksi sumur minyak di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 40 miliar galon minyak, dan akan mencapai pasar selama tahun 2018... Mogadishu Center 25/12/2016). Dengan demikian, minyak telah menjadi faktor baru yang menggerakkan kebijakan Amerika ke arah perhatian yang lebih besar terhadap Tanduk Afrika, terutama karena perusahaan-perusahaan Cina memiliki peran pionir dan keunggulan ekonomi dalam eksplorasi dan ekstraksi minyak Ethiopia. Amerika tidak menutup mata terhadap pemandangan kuat dan meningkatnya invasi ekonomi Cina ke benua Afrika, khususnya di Ethiopia di mana Cina berinvestasi secara masif mengingat besarnya pasar Ethiopia. (Cina berupaya memperkuat investasinya di Afrika, khususnya di Ethiopia yang telah berubah dalam beberapa tahun terakhir menjadi zona industri Cina. Otoritas Ethiopia di sisi lain berupaya memfasilitasi investasi asing dan menegaskan bahwa mereka adalah penerima manfaat pertama dan terakhir dari keberadaan Cina di tanah mereka... France 24, 5/6/2018). Oleh karena itu, dorongan Amerika yang meningkat terhadap Ethiopia bertujuan untuk mempersempit pengaruh ekonomi Cina.
3- Upaya luas untuk menyusupkan pengaruh Inggris ke Tanduk Afrika. Teramati perkembangan cepat hubungan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Ethiopia. Setelah sebelumnya hubungan mereka terabaikan hingga ke tingkat di mana UEA baru mendirikan kedutaan besarnya di Addis Ababa pada tahun 2010! Kerja sama di antara mereka kemudian dipercepat, dengan penandatanganan perjanjian yang mencakup berbagai bidang, seperti kerja sama teknis bantuan bea cukai, pembukaan kantor perwakilan Kamar Dagang dan Industri Dubai di Addis Ababa tahun 2013, penerbangan sipil tahun 2014, serta pendidikan tinggi, pemuda, dan olahraga tahun 2015. Dibentuk pula Komite Bersama Ethiopia-UEA yang mengadakan pertemuan di tingkat menteri luar negeri... Selama kunjungan resmi mantan Perdana Menteri Ethiopia Hailemariam Desalegn pada tahun 2016 ke UEA, hubungan bilateral kedua negara mengalami lonjakan kualitatif di segala bidang, sebagai hasil dari serangkaian pembicaraan yang dilakukan Desalegn dengan kepemimpinan politik di UEA dalam kerangka kunjungan resmi ke Abu Dhabi. Saat itu mantan Menteri Kantor Urusan Komunikasi Pemerintah, Getachew Reda, mengatakan: (Bahwa kunjungan Desalegn membahas sejumlah isu bersama yang menjadi kepentingan kerja sama kedua negara guna melayani kepentingan bersama khususnya di bidang ekonomi, investasi, serta isu-isu regional dan internasional... Menteri Negara untuk Kerja Sama Internasional UEA, Reem Al Hashimi, dalam program yang diselenggarakan kedutaan UEA di Addis Ababa, mengatakan bahwa Ethiopia adalah salah satu mitra strategis UEA di Afrika, dan kedua negara memiliki kesamaan... Al-Ain News 7/3/2018).
Inggris, melalui pintu masuk UEA, melakukan upaya untuk menghubungkan Ethiopia dengan poros dan kebijakannya dengan harapan dapat mempengaruhi Ethiopia dan Eritrea. Oleh karena itu, kunjungan-kunjungan tersebut sangat mencolok, seperti (Syekh Mohammed bin Zayed Al Nahyan yang mengadakan sesi pembicaraan resmi dengan Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed di Addis Ababa pada 15 Juni lalu, membahas penguatan hubungan persahabatan, kerja sama, dan kemitraan strategis kedua negara. Pada Selasa 3 Juli ini, Putra Mahkota Abu Dhabi menerima Presiden Eritrea, Isaias Afwerki, menyatakan harapannya bahwa kunjungan ini berkontribusi dalam mendukung hubungan kerja sama antara UEA dan Eritrea selama tahap mendatang guna membawa kebaikan bagi kedua negara dan rakyat mereka yang bersahabat... 22/07/2018 http://www.alkhaleej.ae)
Maka perkembangan dan kemajuan ini membuat Amerika memberikan perhatian besar terhadap Afrika, khususnya Tanduk Afrika, dan aktif di sana. Oleh karena itu, Amerika menunjuk Donald Yukio Yamamoto pada September 2017 sebagai Pelaksana Tugas Asisten Sekretaris Negara AS untuk Urusan Afrika, yang merupakan posisi paling berpengaruh dalam proses pembuatan kebijakan AS terhadap benua Afrika. Pemilihan Yamamoto untuk posisi ini bukan tanpa alasan, karena ia dianggap sebagai salah satu diplomat Amerika yang paling berpengalaman dalam urusan Afrika, khususnya di wilayah Tanduk Afrika di mana ia pernah mewakili negaranya secara diplomatik di negara-negara wilayah tersebut... Ia memiliki kontribusi efektif dalam mempersiapkan Perjanjian Asmara antara Ethiopia dan Eritrea untuk menghilangkan ketegangan di antara keduanya dan agar hubungan menjadi baik. Demikianlah Perjanjian Asmara diadakan sebagai penegasan dan pelengkap Perjanjian Aljazair untuk menyelesaikan urusan antara Ethiopia dan Eritrea, bahkan di antara para agennya di kawasan tersebut. Diperkirakan ketegangan juga akan mereda antara Ethiopia dan Mesir mengenai bendungan (GERD), di mana Abiy Ahmed mengunjungi Mesir dan bertemu Sisi pada 10/7/2018, yaitu sehari setelah penandatanganan Perjanjian Asmara, dan menandatangani kesepakatan dengan Sisi untuk mengadopsi visi bersama antara kedua negara yang didasarkan pada penghormatan terhadap hak masing-masing dalam mewujudkan pembangunan tanpa merugikan kepentingan pihak lain... Tentu saja semua ini dengan persetujuan Amerika. Begitu pula dengan Sudan, Amerika mengirimkan delegasi teknis dan diplomatik pada bulan April lalu sebagai inisiatif mediasi untuk mendekatkan pandangan antara ketiga negara tersebut guna membentengi para agennya di hadapan infiltrasi ekonomi Cina dan infiltrasi politik Inggris.
Keempat: Sebagai penutup, sungguh menyakitkan bahwa negara-negara kafir penjajah, dipimpin oleh Amerika, mengendalikan negara-negara di kawasan ini... Sebagian orang mungkin tidak tahu bahwa umat Islam di Ethiopia dan Eritrea mencakup sekitar setengah dari jumlah penduduk, bahkan ada yang memperkirakan jumlah mereka lebih dari itu, yakni melebihi lima puluh juta jiwa... Sebagian orang mungkin juga tidak tahu bahwa kapal umat Islam pertama yang berhijrah dari Makkah ke Abisinia berlabuh di Massawa, pelabuhan terkenal di Eritrea... Meskipun demikian, kedua negara ini menjadi objek perhatian Amerika, Cina, dan Eropa, sementara hampir tidak terlihat perhatian umat Islam terhadap mereka... Bagaimanapun, hal ini tidaklah aneh dan tidak mengherankan. Selama umat Islam tidak memiliki negara yang mengurusi urusan mereka, maka keadaan mereka akan seperti anak yatim di jamuan orang-orang rakus... Urusan mereka tidak akan membaik dan keadaan mereka tidak akan tegak kecuali dengan Khilafah yang menyatukan mereka di atas Kitabullah Subhanahu wa Ta'ala dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ:
وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
"Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS Ar-Rum [30]: 4-5)
6 Shafar al-Khair 1440 H 15/10/2018 M