Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Seputar Masalah Siprus

March 20, 2012
2064

Pertanyaan:

Pada 3/3/2012, Menteri Urusan Uni Eropa dalam pemerintah Turki sekaligus kepala negosiator, Egemen Bağış, menyatakan kepada koresponden surat kabar "Kıbrıs" saat kunjungannya ke Inggris untuk bertemu dengan para pejabat di sana mengenai urusan Siprus: "Semua opsi ada di atas meja untuk solusi di Siprus. Solusi bisa berupa kesatuan (negara bersatu) melalui kesepakatan antara kedua pemimpin. Bisa juga berupa dua negara (di dalam satu negara) melalui kesepakatan penyelesaian antara kedua pemimpin, dan bisa juga berupa aneksasi Siprus Utara ke Turki. Semua opsi ada di atas meja. Namun, apa yang kami harapkan dan apa yang ada dalam benak kami adalah persatuan dua negara dalam satu negara di Siprus." Namun, menteri Turki tersebut tidak menyebutkan solusi yang asli, yaitu penggabungan seluruh Siprus ke Turki, karena wilayah tersebut dulunya adalah bagian darinya. Jadi, apa sebenarnya hakikat dari pernyataan-pernyataan ini? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:

1- Sesungguhnya menteri Turki tersebut melontarkan proyek-proyek lama Amerika, di mana Amerika telah mengajukan rencana-rencananya ini sejak tahun tujuh puluhan abad yang lalu; kemungkinannya adalah membagi pulau tersebut menjadi dua negara yang terpisah, atau kedua sektor tersebut menjadi dua negara dalam satu negara, yakni federasi atau konfederasi, atau Siprus Utara digabungkan ke Turki dan Siprus Selatan ke Yunani.

Namun, setelah Siprus Selatan menjadi negara anggota Uni Eropa, sangat kecil kemungkinan adanya pemikiran untuk menggabungkan sektor selatan ke Yunani. Siprus Selatan, seperti halnya Yunani, menikmati keanggotaan penuh di Uni Eropa, memiliki kemandirian, dan diberikan kedudukan yang diperhitungkan; ia akan memimpin rotasi kepemimpinan Uni Eropa pada bulan Juli mendatang. Kondisi Yunani saat ini sedang buruk, terutama secara ekonomi, sehingga orang-orang di Selatan tidak cenderung untuk bergabung, meskipun mereka memiliki perasaan nasionalisme Yunani yang bercampur dengan fanatisme keagamaan.

Dengan demikian, ancaman Turki datang dari satu sisi. Ini adalah pertama kalinya seorang pejabat Turki berbicara sejak masalah Siprus muncul di kenyataan, yakni sejak Amerika mulai melakukan tindakan di Siprus pada tahun lima puluhan abad yang lalu untuk memengaruhi pengaruh Inggris di sana dan kemudian mengusirnya untuk menggantikan posisinya. Hingga akhirnya Inggris terpaksa memberikan kemerdekaan formal kepada Siprus pada tahun 1960 dan mengangkat seorang pemuka agama Nasrani, yaitu Patriark Makarios, serta menjadikan agennya, Rauf Denktaş, sebagai wakilnya yang mewakili kaum Muslim. Dengan demikian, pulau itu tetap bersatu dalam genggaman Inggris.

Tampaknya ancaman Turki itu muncul setelah tersendatnya pembicaraan terkait Siprus dengan pihak Inggris. Menteri Egemen Bağış menambahkan dalam pernyataannya kepada surat kabar tersebut pada 3/3/2012 saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, dengan mengatakan: "Inggris mengawasi kedua belah pihak dengan sensitif, tetapi saya tidak melihatnya bergerak dengan antusiasme besar terkait penggunaan pengaruhnya. Kami telah berupaya meyakinkannya dalam masalah ini. Mengingat Inggris adalah salah satu negara penjamin di Siprus, kami percaya bahwa ia harus menjalankan kebijakan yang lebih efektif dan memainkan peran konstruktif secara lebih kuat."

2- Dari sini tampak jelas bahwa Inggris tidak menginginkan solusi-solusi yang diajukan oleh Amerika, yang kembali dilontarkan oleh menteri Turki tersebut, meskipun mereka berpura-pura mendukung penyelesaian masalah tersebut. Inggris memiliki dua pangkalan militer penting di Siprus yang menampung lebih dari 24 ribu tentara Inggris, selain perangkat penyadapan dan intelijen untuk memata-matai serta memantau kawasan tersebut. Inggris adalah salah satu negara penjamin menurut perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1964, di mana ia bersama Turki dan Yunani menjadi negara-negara penjamin bagi situasi yang ia rancang sendiri di pulau itu setelah peristiwa yang dilakukan oleh warga Siprus Yunani terhadap kaum Muslim Turki. Dengan demikian, Inggris mempertahankan keberadaan dan pengaruhnya di sana berdasarkan perjanjian ini.

Sektor selatan Siprus diakui secara internasional dan Eropa serta merupakan bagian dari Uni Eropa. Inggris juga bagian dari Uni Eropa, sehingga keberadaan Inggris di Siprus seolah-olah menjadi keberadaan domestik dan bukan eksternal, dan negara-negara Uni Eropa lainnya tidak merasa terganggu dengan keberadaan ini. Bahkan, mereka mendukung posisi Inggris secara tersirat, meskipun mereka mengumumkan dukungan terhadap Annan Plan; karena rencana tersebut menjamin kendali orang-orang Yunani atas pemerintahan di pulau itu dan mengakhiri keberadaan negara Turki di sana. Oleh karena itu, Inggris tidak akan melepaskan keberadaan dan pengaruhnya di Siprus.

3- Orang-orang Eropa memberikan tekanan pada Turki untuk memenuhi tuntutan mereka dengan dalih berkas Siprus, yang merupakan salah satu berkas yang belum diselesaikan antara mereka dan Turki, dan kemudian menutupnya. Hal ini termasuk dalam berkas-berkas yang mengganjal bagi bergabungnya Turki ke Uni Eropa, di mana jumlah berkas ini mencapai sekitar 35 berkas, di antaranya masalah internal seperti masalah yang disebut sebagai minoritas, mulai dari berkas Kurdi, berkas Alawi, berkas Armenia, hingga berkas demokrasi dan hak asasi manusia, berkas amandemen konstitusi, penerimaan pengawasan internasional terhadap pemilu, dan hal-hal yang berkaitan dengan pengurangan peran militer dalam pemerintahan, serta berkas-berkas lainnya.

Di antara tuntutan mereka terkait berkas Siprus adalah pembukaan pelabuhan dan bandara Turki bagi warga Siprus Yunani. Namun, Turki tidak melaksanakan perjanjian terkait hal itu karena orang-orang Eropa tidak memenuhi komitmen mereka untuk mencabut blokade yang mereka berlakukan terhadap warga Siprus Turki sesuai perjanjian yang telah disepakati kedua belah pihak. Jadi, berkas Siprus bersama tujuh berkas lainnya dibekukan dan belum diselesaikan. Demikian pula, Turki menolak untuk mengakui negara Siprus Selatan yang dikuasai oleh orang-orang Yunani sampai masalah tersebut diselesaikan. Inggris, melalui agen-agennya, telah berupaya menghalangi rencana Amerika yang disebut sebagai rencana Kofi Annan, mantan Sekretaris Jenderal PBB, ketika mayoritas di sektor selatan pulau tersebut memberikan suara menentangnya pada tahun 2004.

Sementara itu, orang-orang Turki di sektor utara memberikan suara mendukungnya ketika pemerintahan sektor utara yang dipimpin oleh Mehmet Ali Talat menjadi kaki tangan Amerika. Pemerintahan Erdogan mendukungnya dengan kuat dan mengerahkan segala kemampuannya agar rencana ini dipilih. Rauf Denktaş saat itu menentangnya dengan keras dan menyerukan penolakannya, bahkan ia datang ke Turki dan mengadukan pemerintahan Erdogan kepada komando militer Turki yang saat itu menentang pemerintahan ini dan tidak mendukung Annan Plan. Hal ini memperlihatkan konflik antara agen-agen Inggris dan Amerika di Turki dan di Siprus Utara. Rencana tersebut menetapkan penyatuan pulau dengan partisipasi orang-orang Turki dalam pemerintahan dengan persentase tertentu, dengan catatan warga Siprus Yunani memiliki porsi lebih besar dalam pemerintahan, dan orang-orang Turki harus menyerahkan sebagian tanah mereka kepada orang Yunani sebesar 7%.

4- Amerika tidak akan rida jika masalah ini diselesaikan dengan menggabungkan sektor utara pulau ke Turki, sehingga sektor selatan tetap seperti sedia kala dan orang-orang Inggris tetap nyaman di sana. Jika hal itu terjadi tanpa menyentuh keberadaan dan pengaruh Inggris, maka orang-orang Inggris akan merasa nyaman dan menerimanya. Namun, Amerika tidak akan rida dengan hal itu sampai ia menyingkirkan pengaruh Inggris, menggantikannya, melenyapkan pangkalan-pangkalan mereka, dan berkemah di sana. Sejak lebih dari lima puluh tahun, Amerika telah bertarung melawan mereka di sana, sehingga ia tidak rida hanya membentangkan pengaruhnya di bagian utara pulau dan membiarkan Inggris nyaman di bagian selatannya! Inggris, melalui media massanya, sempat mengusulkan kepada Amerika agar membangun pangkalan-pangkalan di bagian utara pulau, namun Amerika tidak mengambil langkah ini karena hal itu berarti mengakui keberadaan Inggris di sana. Amerika mengajukan Annan Plan untuk menguasai kedua bagian tersebut dengan menciptakan formula politik baru di pulau itu yang memungkinkannya mengendalikan pemerintahan dan memaksanya melaksanakan perintah-perintahnya.

5- Pernyataan menteri Turki mengenai opsi penggabungan Siprus Utara ke Turki, meskipun merupakan salah satu proyek lama Amerika, saat ini tampak sebagai ancaman yang digunakan sebagai kartu tekanan terhadap pihak Inggris, Eropa, dan warga Siprus Yunani. Hal ini karena Inggris merasa nyaman dengan situasi mereka di Siprus, sehingga mereka tidak menunjukkan antusiasme untuk menyelesaikan masalah ini dan menghalangi proyek-proyek Amerika melalui agen-agen mereka di pulau tersebut. Menteri Turki menyatakan hal itu dari dalam wilayah Inggris, dan melayangkan teguran langsung kepada Inggris yang menghalangi solusi dengan menyatakan bahwa Inggris tidak bergerak dengan antusiasme besar dalam menggunakan pengaruhnya, tidak menjalankan kebijakan yang lebih efektif, dan tidak memainkan peran konstruktif secara lebih kuat. Formula-formula ini bersifat diplomatis, namun merupakan tuduhan tersirat bagi Inggris bahwa ia menghalangi solusi, bahkan tidak mengupayakan solusi.

Penggabungan Siprus Utara ke Turki akan semakin menghambat bergabungnya Turki ke Uni Eropa, karena orang-orang Eropa tidak meridai hal itu. Oleh karena itu, kecil kemungkinan Turki akan melakukan hal tersebut saat ini, sementara ia tengah berupaya masuk ke Uni Eropa dengan dukungan Amerika yang menekan orang-orang Eropa agar memenuhi permintaannya demi mewujudkan tujuan-tujuan Amerika terhadap Uni Eropa. Pada saat yang sama, hal itu tidak mewujudkan keinginan Amerika untuk menyingkirkan keberadaan dan pengaruh Inggris dari pulau tersebut, karena akan membiarkan situasi Siprus Selatan tetap apa adanya dan Amerika tidak bisa masuk ke sana dengan cara seperti itu. Oleh karena itu, ucapan menteri Turki tidak lebih dari sekadar kartu tekanan.

Perlu diketahui bahwa penggabungan bagian utara pulau bukanlah hal yang sulit bagi Turki karena wilayah tersebut berada di bawah kendalinya, di mana terdapat lebih dari 30 ribu tentaranya di sana, dan komando militer Turki saat ini telah mendukung pemerintah dan berdiri di pihaknya. Tindakan ini tidak akan membuat militer marah dan akan mempertahankan keberadaannya di sana. Perlindungan, keamanan, dan kepentingan sektor utara semuanya terkait dengan Turki, dan tidak ada yang mengakui negara dan pemerintahan sektor ini selain Turki. Jadi, nasibnya ada di tangan Turki. Penggabungannya adalah hal yang paling mudah dilakukan, namun rezim di Turki tidak independen dan berputar di orbit Amerika, sehingga ia tidak akan mengambil langkah ini kecuali atas instruksi dari Amerika. Dengan demikian, gertakan untuk menggabungkan Siprus Utara ke Turki adalah untuk menekan Inggris dan orang-orang Yunani di Siprus agar mereka menerima rencana-rencana Amerika.

6- Masalah ini akan menjadi lebih jelas setelah bulan Juli mendatang ketika rezim di bagian selatan Siprus memegang rotasi kepemimpinan Uni Eropa dan munculnya kesulitan interaksi Turki dengan Uni Eropa. Di mana Menteri Bağış yang bertanggung jawab atas hubungan dengan Eropa sekaligus kepala negosiator menyatakan kepada surat kabar Siprus yang disebutkan sebelumnya: "Kami tidak akan berbicara dengan rezim Rom (Yunani) di Siprus Selatan ketika mereka memegang kepemimpinan rotasi Uni Eropa pada bulan Juli.... namun kami akan berinteraksi dengan Uni Eropa seolah-olah kami tidak melihat rezim Rom sebagai pemimpin Uni Eropa.. Rezim Rom di Siprus Selatan bertindak dengan sembrono. Ada kemungkinan kami tidak akan ikut serta dalam pertemuan-pertemuan di Brussel yang dipimpin oleh rezim ini." Artinya, situasi tersebut akan dimanfaatkan, dan ini adalah kesempatan bagi Amerika untuk menciptakan kegaduhan dan ketakutan di kalangan orang-orang Eropa dan Yunani jika Inggris dan agen-agen mereka di bagian selatan Siprus tidak mengalah dan menerima rencana Amerika yang disebut Annan Plan. Menteri Luar Negeri Amerika, Hillary Clinton, tahun lalu telah menegaskan hal itu setelah pertemuannya dengan rekannya dari Turki, Davutoglu, dengan mengatakan: "Kami tidak percaya bahwa situasi yang ada di Siprus menguntungkan siapa pun. Kami ingin melihat persatuan dari dua wilayah dan dua kelompok (di Siprus) dan kami ingin melihatnya sesegera mungkin" (16/7/2011 AFP). Artinya, Amerika tidak rida dengan situasi di Siprus dan ingin menjadikannya sesuai dengan visinya.

7- Adapun solusi benar yang diperintahkan oleh Islam untuk masalah Siprus adalah dengan menggabungkan seluruhnya ke Turki. Siprus adalah negeri Islam dan harus dikembalikan ke asalnya, yaitu Turki. Pulau Siprus adalah pulau Islam yang ditaklukkan oleh kaum Muslim pada masa Sayyidina Utsman, Khalifah Rasyidah yang ketiga. Pasukan Salib Eropa mendudukinya dalam Perang Salib pertama yang mereka lancarkan terhadap negeri-negeri Islam, namun kemudian kaum Muslim membebaskannya dan mengembalikannya ke asalnya sebagai negeri kaum Muslim. Wilayah itu tunduk di bawah kekuasaan Daulah Utsmaniyah seperti halnya negeri-negeri Muslim lainnya karena Khilafah telah berpindah kepada mereka. Inggris mengumumkan kendali mereka atas pulau tersebut pada Perang Dunia Pertama dan mengumumkan aneksasinya ke Inggris, dan agen mereka, Mustafa Kemal, mengakui hal itu dalam Perjanjian Lausanne. Meskipun demikian, kaum Muslim di Turki menganggap Siprus sebagai bagian dari tanah mereka dan mereka telah berupaya menolong saudara-saudara mereka di sana pada tahun enam puluhan dan tujuh puluhan ketika mereka menjadi sasaran pembantaian oleh orang-orang Rom dengan dukungan dari Inggris dan Amerika melalui berbagai metode. Tentara mereka masih ada di sana untuk melindungi lebih dari 300 ribu kaum Muslim.

Terlepas dari semua itu, proyek penggabungan sektor utara Siprus ke Turki tanpa sektor selatan demi memenuhi proyek-proyek Amerika—meskipun kecil kemungkinan terjadi dan Turki tidak benar-benar mengupayakannya—tetap dianggap sebagai penyerahan dua pertiga wilayah pulau kepada orang-orang Rom, yakni kepada orang-orang kafir. Padahal orang-orang Turki secara resmi, rakyat, maupun media menyebut orang-orang Yunani di Siprus dengan sebutan-sebutan ini: Rom, sektor Rom selatan, dan rezim Rom. Mencukupkan diri dengan sepertiga pulau, yaitu bagian utara, adalah pelanggaran terhadap Islam dan dosanya dipikul oleh siapa pun yang menyetujuinya, karena asalnya adalah menggabungkan seluruh pulau Siprus ke Turki dan mengembalikannya ke asalnya.

Pemerintah yang dipimpin oleh Erdogan dan partainya berupaya melenyapkan masalah ini secara total dan mengubah pandangan kaum Muslim terhadapnya sehingga pandangan mereka terhadap pulau itu bukan lagi sebagai pulau milik mereka! Kantor berita KUNA Kuwait mengutip surat kabar Turki "Akşam" pada 9/3/2012 dari sumber pejabat di Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa yang mengatakan: "Pemerintah Erdogan percaya bahwa rencana perdamaian Annan dapat membentuk landasan penting untuk mewujudkan perdamaian yang permanen dan adil di Siprus, terutama karena Amerika Serikat dan seluruh negara Uni Eropa mendukung rencana ini." Ia menambahkan: "Partai Keadilan dan Pembangunan berupaya membangun pandangan baru terhadap masalah Siprus dan meyakinkan banyak kalangan di Turki agar tidak memandang masalah ini sebagai masalah nasionalisme Turki murni, melainkan harus dipandang atas dasar bahwa ini adalah masalah hak asasi manusia sebagai prioritas utama, dan yang menjadi perhatian kami dalam masalah ini adalah melindungi hak-hak warga Siprus Turki melalui jaminan internasional Amerika dan Eropa."

Memandang Siprus sebagai masalah hak asasi manusia sebagaimana masalah luar negeri lainnya di berbagai belahan bumi, dan bukan sebagai masalah negeri Islam yang dipisahkan dari asalnya, pandangan seperti ini adalah bentuk penelantaran terhadap Siprus. Dosa penelantaran ini dipikul oleh siapa pun yang berkontribusi di dalamnya atau ridha dengannya hingga hari kiamat. Kaum Muslim tidak akan melepaskan Siprus, tidak pula bagian mana pun dari negeri-negeri Muslim yang ditelantarkan oleh para penguasa zalim. Bahkan mereka akan mengembalikannya dengan izin Allah, jika tidak dalam waktu dekat maka di masa depan, dan sesungguhnya hari esok itu dekat bagi orang yang menantinya.

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda