Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Koneksi

Pidato Al-Alim Al-Jalil Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah, Amir Hizbut Tahrir, Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan yang Diberkahi 1425 H

October 14, 2004
1631

Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. al-Baqarah [2]: 183)

Dan Dia Azza wa Jalla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah." (QS. al-Baqarah [2]: 185)

Saudara-saudaraku yang mulia,

Wahai kaum Muslimin,

Kini Ramadhan menaungi kita dengan segala kebaikan dan keberkahannya. Inilah bulan yang dikhususkan Allah dari bulan-bulan lainnya, bulan di mana rahmat dicurahkan dan pahala dilipatgandakan. Awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Allah menjadikannya khusus bagi-Nya, di mana Dia membalas siapa pun yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits qudsi: "Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya."

Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan yang sangat bersejarah dalam Islam. Di dalamnya Al-Qur'an diturunkan, dan di dalamnya pula terjadi kemenangan serta pembebasan (fath) yang nyata. Ramadhan adalah bulan amal, kesungguhan, dan kerja keras; bulan ibadah, kesabaran, dan jihad. Di masa lalu, kaum Muslimin berlomba-lomba dalam kebaikan karena pahala dan amal kebajikan dilipatgandakan. Khalifah dan para wali (gubernur) mereka menjaga keamanan negara serta rakyat, dan mengemban Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. Maka, bulan yang mulia ini dahulu merupakan bulan kemuliaan (izzah) bagi kaum Muslimin dan bulan kehinaan bagi kaum kafir.

Demikianlah Ramadhan dahulu hadir dengan hari-hari yang bercahaya bagi Islam dan Muslimin. Ia menjadi mercusuar kebaikan, ilmu petunjuk, dan panji jihad. Khalifah kaum Muslimin adalah imam mereka, memimpin mereka dengan syariat Allah, dan berjihad bersama mereka di jalan Allah. Pasukan-pasukan mereka menjelajahi padang pasir yang luas dan kapal-kapal mereka mengarungi samudera demi meninggikan kalimat Allah serta menyebarkan keadilan di seluruh penjuru dunia.

Pasukan-pasukan mereka pernah menyeru luasnya samudra: "Seandainya kami tahu ada negeri di balikmu, niscaya kami akan menyeberangimu demi mengibarkan panji Islam." Dan Khalifah mereka berseru kepada awan: "Turunkanlah hujanmu di mana pun kau mau, karena dengan izin Allah hasilnya akan tetap mengairi tanah kaum Muslimin." Kaum Muslimin berdiri kokoh di belakang Khalifah mereka, menguatkan tangannya jika ia berbuat baik dan mengoreksinya jika ia berbuat salah; baik Khalifah maupun rakyat, keduanya setara di hadapan syariat Allah.

Umat, negara, dan masyarakat digerakkan oleh Islam dan bergerak dengannya. Mereka menyambut Ramadhan dengan wajah-wajah ceria dan penuh kegembiraan, lalu melepasnya dengan kesedihan karena perpisahan, namun tetap rindu untuk bertemu kembali agar dapat menyaksikan kebaikan bersamanya, sehingga meraih kemenangan di dunia dan akhirat. Itulah kemenangan yang agung.

Demikianlah Ramadhan dahulu hadir. Namun, bagaimana ia datang hari ini?

Ramadhan datang hari ini sementara Khilafah telah hancur sejak delapan puluh tiga tahun yang lalu dan belum juga dikembalikan oleh kaum Muslimin. Padahal, kaum Muslimin berdosa jika tiga hari berlalu tanpa adanya seorang Khalifah di negeri mereka, kecuali bagi orang yang menyibukkan diri dalam amal untuk menegakkannya kembali dengan sungguh-sungguh dan ikhlas.

Ramadhan datang hari ini sementara negeri-negeri utama kaum Muslimin terjajah: Palestina, Irak, Afghanistan, Chechnya, Kashmir, Siprus, dan Sudan Selatan. Jumlah kaum Muslimin memang banyak, namun tanpa bobot dan tanpa diperhitungkan karena ketiadaan seorang Khalifah yang mengurusi urusan mereka, menjaga kehormatan mereka, menjadi perisai bagi mereka, dan di belakangnya mereka berperang.

Ramadhan datang hari ini sementara kaum Muslimin—kecuali mereka yang dirahmati Allah—telah didominasi oleh tradisi-tradisi yang tidak berdasarkan perintah Allah. Alih-alih menjadikan Ramadhan sebagai bulan ibadah dan jihad, ia justru menjadi bulan kemalasan dan tidur panjang. Bukannya menjadi bulan keberanian, ia malah menjadi bulan ketidakberdayaan dan sikap pasif. Dan alih-alih berlomba-lomba dalam kebajikan, kaum Muslimin justru berlomba-lomba dalam berbagai jenis makanan.

Adapun para penguasa Muslim, mereka telah menjual negeri dan rakyatnya. Mereka melapangkan jalan bagi kaum kafir untuk menjajah negeri-negeri Muslim. Mereka berjalan dengan hina mengekor kepada Barat, khususnya Amerika, serta mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Sedangkan Ramadhan, mereka membuangnya jauh-jauh. Mereka mencabut ruh darinya dan menjadikannya sekadar ritual. Mereka membukanya dengan berbagai omong kosong yang disambut tepuk tangan kaum munafik, lalu kerumunan itu pun bubar. Bahkan, di antara penguasa tersebut, yang dianggap "terbaik" caranya adalah yang mengumumkan penutupan pintu utama tempat-tempat hiburan maksiat, restoran, dan bar selama malam Ramadhan, namun memberi isyarat dengan tanda panah menuju pintu belakang untuk memasuki tempat-tempat yang katanya ditutup tersebut!

Adapun media massa mereka, Ramadhan dianggap sebagai bulan untuk hiburan malam, konser musik, film-film murahan, dan sinetron yang merendahkan martabat. Namun, media tersebut tetap bersikeras mengklaim bahwa mereka sedang menghidupkan malam-malam Ramadhan!

Wahai kaum Muslimin,

Sesungguhnya Ramadhan pasti akan kembali dengan izin Allah untuk menyinari malam kaum Muslimin, di bawah naungan panji Khalifah kaum Muslimin. Sebab, kebaikan dalam umat ini akan terus ada dan tidak akan terputus hingga Hari Kiamat. Sepanjang sejarah, umat ini telah melahirkan orang-orang yang memiliki kekuatan dan ketakwaan, yang mengembalikan kemuliaan dan kedudukan tinggi umat. Hari-hari kekalahan tentara Salib dan Tartar yang diikuti pengusiran mereka dengan sehina-hinanya adalah bukti nyata akan hal itu.

Hari ini, umat bangga bahwa di dalamnya terdapat para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Allah tambahkan petunjuk bagi mereka. Mereka telah bertekad bulat untuk menyambung malam dengan siang dalam amal yang tekun, murni karena Allah Subhanahu wa Ta'ala dan jujur kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wa shahbihi wa sallam, demi mengembalikan kejayaan umat melalui tegaknya Khilafah Rasyidah. Mereka tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela di jalan Allah, hingga mereka berhasil mewujudkan apa yang mereka azamkan atau gugur dalam memperjuangkannya.

Sesungguhnya Hizbut Tahrir dan kaum Muslimin di belakangnya menyadari bahwa kemuliaan umat ini tidak akan kembali kecuali dengan Khilafah. Mereka juga menyadari bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira akan kembalinya Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian, sebagaimana ia bermula dulu. Mereka melihat bahwa hari-hari kembalinya sudah dekat, dan insya Allah, merekalah ksatria-ksatrianya.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa." (QS. an-Nur [24]: 55)

Wahai kaum Muslimin,

Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala belum menghendaki tahun ini disertai dengan tegaknya Khilafah Rasyidah dan pengumuman dimulainya bulan suci ini oleh Khalifah sendiri, maka kami memohon kepada-Nya agar ini menjadi Ramadhan terakhir yang dilalui kaum Muslimin tanpa Khilafah dan tanpa Khalifah, tanpa kemenangan dan tanpa pembebasan, serta tanpa kekuatan dan kemuliaan bagi kaum Muslimin. Pada saat itu, Ramadhan akan bernaung di bawah perlindungan Khilafah, cahayanya akan kembali bersinar terang, dan ia akan kembali menjadi bulan ibadah sekaligus jihad. Dua takbirnya pun akan bergema kembali:

Takbir muazin yang menandakan waktu berbuka bagi orang yang berpuasa, dan takbir mujahid yang mengumumkan kemenangannya.

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. ath-Thalaq [65]: 3)

Semoga Allah menerima ibadah puasa dan qiyamul-lail dari seluruh kaum Muslimin, serta menjadikan mereka termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya.

1 Ramadhan 1425 H 14/10/2004 M

Amir Hizbut Tahrir Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda