Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Politik

Lanskap Politik di Nigeria

March 13, 2023
2142
**Jawab Pertanyaan**

Pertanyaan:

Pemilihan gubernur dan negara bagian di Nigeria berlangsung pada 11/3/2023, setelah selesainya pemilihan presiden yang hasilnya diumumkan pada 1/3/2023 dengan kemenangan kandidat dari partai penguasa, All Progressives Congress (APC), Bola Ahmed Tinubu, di mana pemilihan tersebut berlangsung pada 25/2/2023... Hasil tersebut ditentang oleh rivalnya dari People’s Democratic Party (PDP), Atiku Abubakar, yang berada di posisi kedua, serta rivalnya dari Labour Party, Peter Obi, yang berada di posisi ketiga. Amerika Serikat menyatakan keprihatinannya dan mengumumkan dukungannya kepada pihak yang menolak hasil pemilu serta tidak memberikan ucapan selamat kepada pemenang. Sementara itu, Inggris menyatakan kegembiraannya atas hasil tersebut dan mengucapkan selamat kepada presiden terpilih. Lantas, apa saja perubahan yang terjadi dalam lanskap politik di Nigeria? Apa kepentingan Amerika dan Inggris dalam pemilu ini? Dan apa makna dari sikap keduanya terhadap hasil pemilu tersebut?

Jawaban:

Agar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi jelas, kami akan menguraikan hal-hal berikut:

1. Nigeria adalah negeri Muslim. Islam masuk ke wilayah Kano di utara Nigeria sejak pertengahan abad ke-7 Masehi, dan menyebar di tanah Hausa dan Fulani di utara serta tengah Nigeria melalui jalur perdagangan. Islam menyebar secara luas pada pertengahan abad ke-10 Masehi di tangan para fukaha Andalusia. Kemudian, sebuah keamiran Islam didirikan di wilayah-wilayah tersebut yang disebut dengan Khilafah Utsmaniyah atau Khilafah Sokoto, merujuk pada Usman dan Fodio, yang negaranya bertahan selama hampir seratus tahun hingga Inggris menghancurkannya pada tahun 1904 M. Mazhab Maliki dikenal luas di pengadilan-pengadilan syariah di Nigeria, mayoritas Muslim adalah Sunni, dan 12 negara bagian menerapkan sebagian hukum syariat Islam.

2. Jumlah penduduk Nigeria saat ini sekitar 220 juta jiwa. Berdasarkan estimasi PBB tahun 2021, jumlahnya sekitar 219 juta, dengan mayoritas penduduk beragama Islam dengan persentase berkisar antara 65% hingga 75% menurut berbagai statistik. Adapun luas wilayah Nigeria mendekati satu juta kilometer persegi. Antara tahun 1900-1904 M, Inggris berhasil membentangkan kendalinya atas seluruh wilayah yang kemudian dikenal sebagai Nigeria, setelah menghancurkan pemerintahan Islam di sana. Kemudian Inggris memberikan kemerdekaan formalitas pada 1/10/1960 dan menyerahkan kekuasaan kepada minoritas Kristen Igbo, lalu memasukkannya ke dalam Persemakmuran (Commonwealth) pada tahun 1963 M. Nigeria terdiri dari berbagai etnis, yang terbesar adalah tiga kelompok etnis besar: Hausa dan Fulani di utara dan tengah yang mayoritas mutlaknya adalah Muslim; Yoruba di tengah dan barat daya yang mayoritasnya Kristen namun memiliki minoritas Muslim yang besar; serta Igbo di tenggara yang merupakan minoritas Kristen Katolik.

3. Dalam pemilu yang berlangsung pada tahun 1999, Obasanjo menang tanpa perlawanan berarti dan bertahan di kekuasaan selama dua periode dari 29/5/1999 hingga 29/5/2007. Sepanjang masa jabatannya, Obasanjo menunjukkan keberpihakan yang jelas kepada Amerika dan permusuhan yang terang-terangan terhadap umat Islam. Pada pemilu 2015, Muhammadu Buhari yang loyal kepada Inggris berhasil menang, dan Bola Ahmed Tinubu adalah salah satu pendukung terbesarnya. Keduanya berhasil mengukuhkan posisi agen-agen Inggris di lingkaran politik, di mana Ahmed Tinubu dijuluki sebagai the political godfather dan kingmaker. Kemudian ia mencalonkan diri dengan slogan "it’s my turn" (giliran saya), mencalonkan diri dalam pemilu 2023 dan menang. Komisi Pemilihan Independen (INEC) di Nigeria pada 1/3/2023 mengumumkan kemenangan kandidat partai penguasa (APC), Bola Ahmed Tinubu, dalam pemilihan presiden yang berlangsung pada 25/2/2023, dari total 18 kandidat. Ia memperoleh 8,8 juta suara atau sekitar 37% dari 87 juta pemilih yang memiliki kartu pemilih. Sementara itu, dua rival utamanya, Atiku Abubakar (PDP), memperoleh sekitar 6,9 juta suara (29%), dan Peter Obi (Labour Party) memperoleh sekitar 6,1 juta suara (25%). Atiku Abubakar dan Peter Obi menolak hasil tersebut dan berniat untuk menggugatnya, menganggap telah terjadi manipulasi yang menyebabkan "pemungutan suara tidak bebas, tidak adil, dan tidak transparan". Atiku memimpin aksi demonstrasi pengikutnya pada 6/3/2023 dan berkumpul di luar kantor Komisi Pemilihan Nasional Independen, serta pejabat PDP mengajukan petisi kepada pejabat komisi pemilihan terkait hal tersebut. Namun demikian, hasil pemilu tidak berubah.

4. Oleh karena itu, Inggris memuji proses pemilihan di Nigeria sebagaimana dinyatakan oleh Menteri Luar Negerinya, James Cleverly, dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di situs resmi pemerintah Inggris pada 1/3/2023 dan mengucapkan selamat kepada presiden terpilih Bola Ahmed Tinubu. Dalam pernyataan tersebut dikatakan: ("Inggris memuji para pemilih Nigeria atas partisipasi mereka dalam pemilihan presiden dan majelis nasional serta atas kesabaran dan ketangguhan mereka dalam menjalankan hak-hak demokrasi mereka. Kami mengucapkan selamat kepada presiden terpilih Bola Ahmed Tinubu. Kami mencatat posisi partai-partai oposisi terhadap hasil pemilu dan kekhawatiran yang dinyatakan oleh misi pemantau dan masyarakat sipil mengenai penyelenggaraan proses tersebut, termasuk penundaan dan tantangan teknis. Kami mendorong otoritas untuk mempelajari semua kekhawatiran dengan cermat dan mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan serta fokus pada pencapaian kehendak rakyat Nigeria"). Ini adalah sikap yang mendukung presiden terpilih oleh Inggris; mereka tidak menuduh kampanyenya melakukan kecurangan atau manipulasi, melainkan hanya meminta otoritasnya untuk mempelajari semua kekhawatiran, yang berarti menganggap otoritas tersebut jujur dalam melakukan peninjauan. Di samping itu, muncul dukungan dari Uni Eropa untuk menghadapi Amerika. Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri, Josep Borrell, mengatakan ("Bahwa pemilihan presiden dan parlemen yang disaksikan Nigeria beberapa hari lalu adalah peluang utama untuk memperkuat demokrasi di negara Afrika Barat tersebut. Meskipun dalam konteks yang sulit dan kegagalan operasional, rakyat Nigeria telah menunjukkan komitmen mereka terhadap demokrasi"... KUNA 28/2/2023). Dari sini terlihat jelas dukungan Inggris bagi presiden terpilih yang baru di Nigeria, sebagaimana terlihat pula dukungan Eropa baginya dalam menghadapi pengaruh Amerika di Afrika.

5. Sikap Amerika Serikat cenderung negatif terhadap terpilihnya Bola Ahmed Tinubu. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, dalam sebuah pernyataan mengatakan: ("Rakyat Nigeria berhak memiliki kekhawatiran seperti itu, namun mereka seharusnya memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap pemilu terakhir. Ada mekanisme mapan yang tersedia untuk memutus sengketa pemilu. Kami mendorong setiap kandidat atau partai yang ingin menggugat hasil tersebut untuk menempuh jalur hukum melalui mekanisme ini. Kami bergabung dengan pengamat internasional lainnya dalam mendesak Komisi Pemilihan Nasional Independen untuk memperbaiki situasi di daerah-daerah yang membutuhkan perhatian paling besar... Kami memahami bahwa rakyat Nigeria dan beberapa partai telah menyatakan rasa frustrasi mereka mengenai cara proses pemilu dijalankan, terutama kekurangan dalam elemen teknis yang digunakan untuk pertama kalinya dalam pemilihan presiden. Kami juga prihatin terhadap laporan yang berbicara mengenai anggota media yang diserang selama pemilu"... Halaman Leadership Nigeria 2/3/2023). Di sini, Amerika mendukung sikap partai-partai oposisi dalam keberatan mereka terhadap proses pemilu dan mendorong mereka untuk protes, serta tidak memberikan ucapan selamat kepada presiden pemenang, dan menyatakan keprihatinannya atas laporan serangan terhadap media selama pemilu. Hal ini menegaskan bahwa presiden baru tersebut tidak sesuai dengan seleranya dan bukan pengikutnya.

6. Kandidat Atiku Abubakar yang mewakili partai oposisi pernah menjabat sebagai wakil presiden pada masa Olusegun Obasanjo selama periode 1999-2007. Diketahui bahwa Obasanjo adalah pengikut Amerika. Maka tampak bahwa Amerika mendukung Atiku Abubakar untuk mencapai kekuasaan. Karena ia berasal dari latar belakang Muslim, Amerika menjadikannya pesaing Bola Ahmed Tinubu yang juga berasal dari latar belakang Muslim, memiliki pengaruh, dukungan, dan kemampuan finansial, namun berada di pihak lain bersama Muhammadu Buhari sebagai antek Inggris. Popularitas PDP menurun karena korupsi yang merajalela selama masa kekuasaannya (1999-2015), terutama pada masa Goodluck Jonathan. Jonathan juga memperburuk keadaan dengan praktik-praktik sewenang-wenang dan diskriminasi terhadap umat Islam serta penindasan terhadap mereka dengan dalih "memerangi terorisme". Bahkan tuannya, Amerika, mengarahkan kritik terhadap korupsi yang merajalela di partai dan pemerintahan pada masanya, namun bukan untuk memperbaikinya, melainkan untuk memperketat kendali atasnya. Karena elit penguasa terlibat korupsi, Amerika memiliki kartu truf atas mereka; jika mereka menentang Amerika, maka Amerika akan membongkar aib mereka. Amerika ingin mengikuti arus opini publik agar terlihat seolah-olah menentang korupsi, padahal dialah yang mendiamkan mereka dan tidak berupaya memperbaiki mereka, karena dialah sebenarnya perusak dan pendukung para perusak di muka bumi.

7. Oleh karena itu, Amerika berjaga-jaga jika kandidat PDP, Atiku Abubakar, tidak berhasil menang. Amerika memiliki orang lain dan telah berupaya memoles citranya, yaitu Peter Obi, seolah-olah ia bersih! Peter Obi mengundurkan diri dari PDP tahun lalu pada Mei 2022 dan bergabung dengan Labour Party. Tampaknya Amerika memperhitungkan bahwa suara umat Islam yang merupakan mayoritas di Nigeria akan terbagi antara Atiku Abubakar (kandidat PDP) dan Bola Ahmed Tinubu (kandidat APC yang pro-Inggris), serta Rabiu Musa Kwankwaso yang juga seorang Muslim dan kandidat dari New Nigeria Peoples Party (NNPP) yang mulai populer dan menempati posisi keempat dalam pemilu terakhir dengan 6%. Oleh karena itu, Amerika sengaja mendukung Peter Obi yang beragama Kristen, dan media-media Amerika mulai memoles citranya, menyebarkan bahwa ia adalah kandidat favorit kaum muda Nigeria yang mencakup 60% penduduk dan mendambakan perubahan serta kepemimpinan generasi muda. Perusahaan media Amerika, Bloomberg, menyebutkan bahwa mereka telah melakukan jajak pendapat di Nigeria terhadap sekitar 2.384 warga melalui aplikasi telepon pintar yang menunjukkan bahwa Peter Obi kemungkinan besar akan menang dalam pemilihan presiden. Hal serupa juga dilakukan oleh yayasan ANAP Amerika yang memprediksi kemenangan Peter Obi. Begitu pula prediksi dari National Democratic Institute (NDI) dan International Republican Institute (IRI) asal Amerika. Perlu dicatat bahwa PDP menguasai panggung politik di Nigeria hingga tahun 2015 dan merupakan satu-satunya partai yang memiliki kekuatan untuk menang dalam pemilihan presiden, di mana lingkaran politik saat itu cenderung menguntungkan Amerika. Namun lanskap politik berubah dengan keberhasilan Muhammadu Buhari, agen Inggris, untuk menang meskipun ada upaya Amerika untuk menjegal kemenangannya.

8. Kekayaan minyak di Nigeria telah membuat negara-negara besar, khususnya Inggris dan Amerika, berada dalam konflik panas untuk memperebutkannya. Nigeria menempati peringkat ke-12 di antara negara-negara produsen minyak di dunia, eksportir minyak ke-8, dan negara ke-10 dalam hal cadangan minyak. Cadangan minyak di Nigeria diperkirakan oleh Badan Informasi Energi AS (EIA) antara 16 hingga 22 miliar barel, namun perkiraan lain menyebutkan mencapai 35,3 miliar barel. Minyak inilah yang menyebabkan para pesaing tergiur, karena merupakan jenis minyak light atau sweet crude, yang berarti sangat murni dari belerang dan biaya pemurniannya rendah. Nigeria memiliki 159 lapangan minyak dan 1.481 sumur minyak menurut kementerian perminyakan Nigeria. Perusahaan-perusahaan minyak Inggris tadinya mengendalikan minyak Nigeria, namun masuknya Amerika ke dalam jalur minyak, terutama setelah 1999 (masa Obasanjo), telah membatasi monopoli perusahaan-perusahaan Inggris.

9. Nigeria menghadapi masalah serius seperti ketidakamanan, ekonomi yang terpuruk, utang yang membengkak, kemiskinan ekstrem, dan korupsi para politisi.

Kondisi ekonominya memburuk dengan tingkat inflasi mencapai 21,5% pada akhir tahun 2022, tingkat pengangguran 33% untuk semua orang dewasa dan 42,5% untuk kaum muda. Sekitar 40% penduduk negara yang berjumlah sekitar 220 juta jiwa hidup di bawah garis kemiskinan menurut estimasi Bank Dunia pada Maret 2022. Nilai mata uang Nigeria merosot. Korupsi tumbuh sangat pesat sehingga mendorong negara untuk mengganti tiga pecahan mata uang negara pada awal bulan lalu, Februari 2023. Padahal Nigeria dianggap sebagai salah satu ekonomi terbesar di Afrika. Masalah pencurian minyak di bagian selatan negara juga semakin besar dan menjadi masalah kronis yang menyebabkan penurunan ekspor minyak negara, selain adanya kelangkaan bahan bakar kendaraan. Nigeria menderita utang yang mencapai sekitar 103 miliar dolar menurut statistik Juni 2022, dan biaya layanan utang tersebut (yaitu riba dan asuransinya) mencapai sekitar 12 miliar dolar per tahun. Padahal Nigeria adalah salah satu eksportir minyak utama, namun hal ini tidak membantunya karena masalah-masalah serius yang sulit diatasi tersebut. Semua itu kembali pada rusaknya pemerintahan dan penguasa serta ketergantungan mereka pada negara-negara penjajah lama dan baru. Solusinya adalah dengan menghilangkan kerusakan ini, yaitu dengan mengubah sistem pemerintahan yang dirancang oleh penjajah Inggris saat memberikan kemerdekaan formalitas kepada Nigeria, namun tetap menjadikannya terjajah dalam bentuk lain, khususnya dalam hal pemerintahan dan ekonomi. Inggris meletakkan konstitusi yang diimpor dari konstitusi Barat dan menunjuk penguasa-penguasa yang loyal kepadanya, tidak peduli apakah mereka berlatar belakang Muslim atau Kristen. Hingga akhirnya Amerika datang pada pertengahan 1970-an, menyusup ke militer, dan mulai menyaingi Inggris serta berkonflik dengannya untuk memperebutkan negeri tersebut.

10. Selain itu semua, terdapat campur tangan negara-negara penjajah, khususnya Amerika dan Inggris, dalam urusan negara secara langsung. Pernyataan juru bicara Departemen Luar Negeri AS, pernyataan Menteri Luar Negeri Inggris, dan kemudian pernyataan pejabat urusan luar negeri Uni Eropa dianggap sebagai campur tangan langsung dalam urusan negara tersebut. Seharusnya para penguasa dan politisi di Nigeria mengecam dan menolaknya, serta meminta negara-negara tersebut untuk berhenti mencampuri urusan negara mereka, memperingatkan mereka, dan memutus hubungan dengan mereka. Kemudian mereka harus berpikir tentang cara menyelamatkan negara secara serius dan ikhlas, serta mencari solusi fundamental, bukan solusi tambal sulam atau penenang sesaat. Jika hal itu dilakukan, maka mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah solusinya. Tidak ada yang bisa menyelamatkan Nigeria dan rakyatnya dari segala latar belakang kecuali Islam, yang menyetarakan semua orang dalam penerapan sistem yang terwujud dalam Khilafah Rasyidah berdasarkan metode kenabian. Sistem ini tidak akan memihak siapa pun di antara rakyat dalam mewujudkan kemaslahatan mereka dan menjamin apa yang mereka butuhkan dalam kehidupan, tempat tinggal, dan perjalanan mereka, baik mereka Muslim maupun Kristen... Dialah yang akan membangkitkan negara, membebaskannya dari penjajahan, dan menciptakan revolusi industri yang membuat negara maju dan unggul. Mereka akan membangun industri mereka sendiri, mengeksplorasi minyak mereka sendiri, dan seluruh hasilnya adalah milik mereka, didistribusikan kepada mereka tanpa diskriminasi. Sehingga semua orang akan berkecukupan, merasa aman atas nyawa, kehormatan, dan harta mereka; maka tidak akan ada pengangguran, kemiskinan, ketakutan, maupun kelaparan.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِأُولِي الْأَلْبَابِ‌

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal." (QS. Az-Zumar [39]: 21)

21 Sya'ban 1444 H 13/3/2023 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda