Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Politik

Jawab Pertanyaan: Penyebab Bentrokan antara Afganistan dan Iran

June 07, 2023
2062

Pertanyaan:

Ketegangan kembali meningkat antara Afganistan dan Iran karena sengketa lama mengenai pembagian air dari Bendungan Helmand, yang merupakan sumber air utama bagi kedua negara. Surat kabar Deutsche Welle (DW) memuat di situsnya pada 3/6/2023: "Terjadi baku tembak sengit antara Iran dan Taliban pekan lalu di dekat perbatasan bersama, yang mengakibatkan tewas dan lukanya sejumlah tentara dalam gelombang ketegangan baru antara kedua belah pihak di tengah saling tuduh mengenai siapa yang memulai tembakan. Baku tembak itu terjadi di tengah meningkatnya perselisihan antara Kabul dan Teheran mengenai Sungai Helmand atau 'Hirmand' sebagaimana disebut di Afganistan, yang merupakan sumber air utama bagi kedua negara..."

Al-Jazeera juga telah memuat di situsnya pada 1/6/2023 mengutip surat kabar Rusia Izvestia: "Hubungan antara Iran dan pemerintah Taliban telah mengalami berbagai ketegangan karena dukungan Teheran selama perang saudara di Afganistan kepada Aliansi Utara yang menentang gerakan Taliban, selain adanya perbedaan agama dan politik antara kedua negara, tanpa melupakan konflik atas sumber daya air Sungai Helmand yang mengalir ke Danau Hamun di wilayah Iran. Menurut perjanjian yang ditandatangani tahun 1973, Afganistan harus menyediakan 850 juta meter kubik air setiap tahunnya kepada Iran dari sungai ini, sebuah masalah yang menjadi rumit setelah Taliban berkuasa..." Lantas, apa penyebab masalah dan terjadinya bentrokan antara kedua belah pihak? Ke mana arah perkembangan situasi ini? Dan apakah ada kekuatan besar yang mengobarkan perselisihan ini atau mengambil keuntungan darinya untuk mewujudkan proyek-proyek kolonial mereka?

Jawaban:

Untuk memahami penyebab-penyebab ini dan ke mana arah perkembangannya, kita akan meninjau hal-hal berikut:

  1. Kantor berita Fars melaporkan pada 27/5/2023 bahwa ("bentrokan bersenjata pecah antara penjaga perbatasan Iran dan pasukan pemerintah Taliban di garis perbatasan antara kedua negara di dekat pos pemeriksaan Sasoli." Mengutip sumber informasi bahwa "ketegangan terjadi antara pasukan penjaga perbatasan Iran dan gerilyawan Taliban yang berkembang menjadi baku tembak." Dalam pernyataan resmi pertamanya, Wakil Komandan Jenderal Pasukan Keamanan Internal di Iran, Qasem Rezaei, mengatakan: "Teheran tidak akan membiarkan insiden malang apa pun terjadi di perbatasan dengan Afganistan. Telah terjadi beberapa kesalahan dari pihak gerakan Taliban di perbatasan bersama antara Iran dan Afganistan... Kami sampaikan kepada negara-negara tetangga bahwa perbatasan kami adalah perbatasan persahabatan dan kita tidak boleh membiarkan terjadinya insiden yang tidak menyenangkan. Pasukan Taliban melepaskan tembakan pagi ini ke arah pihak Iran dan penjaga perbatasan membalasnya. Bentrokan sempat berhenti sejenak namun pecah kembali kemudian dan masih terus berlanjut." Dia menunjukkan bahwa Komandan Jenderal Pasukan Keamanan Internal, Ahmad Reza Radan, "memerintahkan penjaga perbatasan untuk merespons dengan tegas setiap pelanggaran atau agresi perbatasan.") Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan ("bahwa bentrokan yang terjadi hari ini 27/5/2023 antara pasukan penjaga perbatasan dan elemen Taliban mengakibatkan tewasnya dua anggota pasukan Taliban serta tewasnya dua anggota pasukan Iran dan melukai warga lainnya").

  2. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afganistan, Abdul Nafi Takor, menyatakan di akun Twitter-nya: "Dua orang tewas dalam bentrokan hari ini di provinsi perbatasan Nimroz, satu dari Iran dan satu lagi dari Afganistan, dan yang lainnya terluka, serta Keamiran Islam tidak mendukung bentrokan dengan tetangganya" (Saluran berita lokal Tolo News, 27/5/2023). Polisi Afganistan mengonfirmasi pada 29/5/2023 bahwa gerbang perbatasan "Silk Bridge" (Jembatan Sutra) antara Afganistan dan Iran telah dibuka kembali setelah ditutup pada 28/5/2023 akibat bentrokan bersenjata yang berlangsung beberapa jam antara kedua belah pihak... Semua ini menunjukkan bahwa situasi di perbatasan kedua negara rapuh secara keamanan, dan sewaktu-waktu dapat berkobar kembali. Jika kita mengetahui bahwa selama dua tahun sejak Taliban berkuasa hingga hari ini, telah terjadi lebih dari 10 bentrokan antara kedua belah pihak, hal itu menegaskan adanya ketegangan yang hampir permanen di antara mereka.

  3. Perselisihan semakin sengit dalam beberapa hari terakhir antara Afganistan dan Iran mengenai pembagian kuota air dari Sungai Helmand atau Hirmand sebagaimana disebut di Iran. Perselisihan ini sudah lama terjadi di antara kedua negara. Sebuah perjanjian telah ditandatangani antara kedua negara pada tahun 1973 yang mewajibkan Afganistan untuk memberikan 820 juta meter kubik air setiap tahunnya dari sungai tersebut kepada Iran, namun Iran mengatakan bahwa mereka hanya mendapatkan dua juta meter kubik saja. Terlihat bahwa salah satu masalah paling penting di antara kedua negara adalah masalah air. Masalah ini dimulai sejak satu setengah abad yang lalu ketika Inggris membagi wilayah tersebut. Asisten Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Mousavi, melalui akun Twitter-nya pada 28/5/2023 mengatakan: "Kita harus waspada, apa yang terjadi hari ini di perbatasan (Zabol - Nimroz) adalah kelanjutan dari konspirasi para penjajah... Jika Goldsmith telah membawa Sistanabad ke kondisinya yang sekarang pada tahun 1872 dengan konspirasinya, maka ahli warisnya hari ini ingin menghancurkan Iran dan Afganistan... Rakyat dan elit kedua negara harus menyadari bahwa segala jenis konflik merupakan kerugian strategis bagi keduanya."

  4. Kisahnya bermula ketika kedua negara sepakat untuk menggunakan komisi arbitrase Inggris yang dipimpin oleh Jenderal Goldsmith, yang mulai melakukan demarkasi perbatasan antara kedua negara pada tahun 1871 dan menyelesaikannya dalam waktu satu tahun. Perbatasan bersama antara kedua negara sangat panjang, dimulai dari Selat Dhu al-Faqar yang merupakan segitiga perbatasan antara Iran, Afganistan, dan Turkmenistan di Utara, hingga Gunung Malik Siah yang merupakan segitiga perbatasan antara Iran, Afganistan, dan Pakistan di Selatan dengan jarak 945 km. Saat itulah muncul perselisihan mengenai pembagian air Helmand setelah Inggris membagi wilayah Sistan dan Baluchistan selama demarkasi perbatasan untuk menciptakan titik konflik kronis antara negeri-negeri Islam: Afganistan, Iran, dan Pakistan, sebagaimana yang mereka lakukan di semua negeri Islam dan non-Islam yang mereka duduki dan jajah, kemudian mereka bagi-bagi. Hal ini bertujuan untuk mengobarkan pemberontakan di wilayah yang terbagi tersebut, di mana terdapat gerakan kemerdekaan wilayah ini dari ketiga negara tersebut, agar ada pintu masuk bagi Inggris untuk campur tangan di negeri-negeri ini saat mereka bersengketa perbatasan dan penduduknya saling membunuh satu sama lain. Dengan demikian, Inggris mempertahankan pengaruhnya di negeri-negeri tersebut dan berupaya melemahkannya agar tidak lepas dari genggaman mereka atau untuk mengembalikan pengaruh mereka jika sempat hilang.

  5. Perselisihan perbatasan antara kedua negara terus berlanjut, terutama setelah pengalihan jalur Sungai Helmand pada tahun 1896, yang panjangnya diperkirakan sekitar 1.150 km dan melintasi beberapa provinsi Afganistan, serta provinsi Sistan dan Baluchistan yang dibagi oleh Inggris antara Afganistan, Iran, dan Pakistan! Sungai ini bermuara di Danau Hamun yang berbagi dengan Iran. Demarkasi perbatasan kedua negara dilakukan kembali oleh Kolonel Inggris Henry McMahon yang membagi air sungai antara kedua belah pihak pada tahun 1905. Ia mensyaratkan agar Afganistan tidak membangun bendungan yang dapat merusak pasokan air ke Iran dan memutuskan agar Iran mendapatkan sepertiga air sungai tersebut. Namun, pihak Afganistan pada masa Amir Afganistan Habibullah Khan tidak menerima hal itu dan menganggapnya sebagai keberpihakan kepada kepentingan Iran. Perselisihan terus berlanjut, beberapa komisi arbitrase dibentuk dan perjanjian ditandatangani namun kemudian dilanggar selama puluhan tahun. Sengketa antara kedua pihak memuncak pada tahun 1934. Kedua pihak memutuskan untuk tidak merujuk pada Pasal 10 Perjanjian 1921 yang ditandatangani di antara mereka yang menetapkan "arbitrase Inggris dalam perselisihan perbatasan". Kedua pihak beralih ke komisi arbitrase Turki, namun komisi tersebut gagal... Kemudian negosiasi antara kedua pihak dimulai pada tahun 1936 dan 1939. Ketika pihak Iran menuntut setengah dari air yang mengalir ke Bendungan "Kamal Khan", pihak Afganistan menolak sehingga pembicaraan gagal. Demikian pula pembicaraan tahun 1951 dan 1958 juga gagal hingga tahun 1973, di mana sebuah perjanjian ditandatangani yang memberikan Iran kurang dari 10% air. Namun, parlemen Afganistan tidak meratifikasinya. Kemudian kaum komunis melakukan kudeta di Afganistan pada tahun 1978 dan menolak seluruh perjanjian tersebut. Setelah itu terjadilah agresi Soviet yang dipimpin oleh Rusia ke Afganistan pada tahun 1979 dan pendudukan mereka atas negeri tersebut, sehingga situasi tetap seperti apa adanya di antara kedua negara.

  6. Situasi ini terus berlanjut setelah kekalahan Rusia dan sekutu-sekutunya serta penarikan mundur mereka yang memalukan dari Afganistan, kemudian pembentukan pemerintahan Mujahidin hingga berkuasanya Taliban untuk pertama kalinya antara tahun 1996 dan 2001. Lalu terjadilah agresi Amerika dan pendudukan mereka atas Afganistan. Pada periode ini, terutama ketika Ashraf Ghani berkuasa pada tahun 2014, ia bertekad membangun bendungan di Barat dan Timur negeri tersebut pada semua sungai yang berjumlah sepuluh, yang bersumber dari Afganistan dan mengalir ke negara-negara tetangga tanpa memberikan manfaat bagi Afganistan. Ia membangun sekitar 49 bendungan. Pembangunan Bendungan Kamal Khan di provinsi Nimroz dekat perbatasan Iran telah selesai, yang pembangunannya memakan waktu 4 tahun dan diresmikan pada Maret 2021. Hal ini sangat memengaruhi jatah air Iran. Ashraf Ghani menyatakan bahwa ia tidak berniat mengalirkan air kecuali dengan imbalan minyak. Dengan berkuasanya gerakan Taliban untuk kedua kalinya pada 15/8/2021, Iran meminta pemerintah baru untuk merujuk kembali pada perjanjian tahun 1973. Perlu dicatat bahwa Iran sendiri berbagi masalah air dengan negara-negara tetangganya, yang memicu munculnya masalah selama pembagian kolonial masih tetap ada.

  7. Presiden Iran Ebrahim Raisi memperingatkan para penguasa Afganistan saat kunjungannya ke kota Chabahar di provinsi Sistan dan Baluchistan pada 18/5/2023 dengan mengatakan ("bahwa hak air dari Sungai Hirmand 'Helmand' adalah hak penduduk wilayah Sistan dan Baluchistan sebagaimana yang ditetapkan dalam traktat dan perjanjian." Dia mengancam penguasa Afganistan dengan berkata "para penguasa Afganistan tidak boleh menganggap masalah ini biasa saja dan harus menanganinya dengan serius. Kami memperingatkan mereka akan perlunya memberikan hak-hak rakyat di Sistan Pakistan dan di Sistan dan Baluchistan Iran dari air Sungai Hirmand sesegera mungkin." Dia juga berkata "pemerintah sedang berupaya keras untuk membawa air dari Laut Oman ke wilayah Timur Iran, namun proyek ini memakan waktu"... Halaman Al-Alam Iran 18/5/2023). Kantor berita IRNA mengutip Duta Besar Iran di Afganistan, Hassan Kazemi, yang mengatakan ("jika terbukti ada air di Bendungan Kajaki dan Taliban menolak memberikan jatah air Hirmand kepada Iran, maka mereka harus memikul tanggung jawab, dan saat itu argumen telah tuntas dan pemerintah Iran tahu bagaimana harus bertindak"... Al-Arabiya 25/5/2023). Terlihat dari pernyataan diplomat Iran yang bertugas di Afganistan adanya ancaman meledaknya situasi di antara kedua negara. Hal ini tidak dilakukan oleh Iran sebelumnya di bawah keberadaan Amerika dan pemerintahan Afganistan yang bernaung di bawahnya, di mana hubungan mereka dengan pemerintahan tersebut baik-baik saja meskipun masalah ini sudah ada selama puluhan tahun. Pernyataan Presiden Iran dan pejabat Iran lainnya yang bersifat memperingatkan dan mengancam menegaskan bahwa situasi di antara kedua negara tidak berjalan baik, dan ketegangan tetap mendominasi situasi sampai Iran menyelesaikan masalah air dari pihaknya sendiri untuk wilayahnya di Sistan dan Baluchistan, sebagaimana ditunjukkan oleh Presiden Iran tentang membawa air dari Laut Oman kemudian mendistilasinya lalu mendistribusikannya ke lahan-lahan pertanian. Terlihat bahwa para pejabat Iran ingin memanfaatkan masalah ini untuk kepentingan mereka dan menjadikan pemerintah Afganistan yang menghalangi aliran air sebagai penyebab masalah, padahal masalah ini sudah berusia lebih dari satu setengah abad. Hal ini dikarenakan adanya ketidakpuasan di kalangan penduduk wilayah ini terhadap rezim Iran karena mengalami pengabaian dan marginalisasi, serta wilayah tersebut menyaksikan gerakan protes terhadap rezim dan adanya gerakan yang menyerukan pemisahan diri.

  8. Juru bicara Keamiran Islam Afganistan, Zabihullah Mujahid, menulis di akun Twitter-nya pada 27/5/2023 dengan mengatakan ("bahwa Kabul tetap berkomitmen untuk memenuhi kewajibannya namun permukaan air menurun akibat kekeringan yang parah." Dia berkata: "Pernyataan yang tidak pantas dari pihak Iran dalam hal ini dapat merusak hubungan antara kedua negara, oleh karena itu tidak boleh diulangi"). Ini adalah jawaban yang layak dan tidak bersifat mengancam, namun menolak ancaman dan memperingatkan dampaknya, baik terhadap pernyataan Raisi maupun pejabat lainnya yang melontarkan pernyataan ancaman kepada Afganistan dengan meremehkannya. Terlihat bahwa Afganistan tidak ingin memperkeruh hubungan dengan Iran.

  9. Ada sungai-sungai perbatasan di Afganistan dengan Iran seperti Sungai Helmand, Sungai Farah, dan Sungai Harirod. Ada juga sungai-sungai yang lebih kecil seperti Harut, Khasbush, Sungai Khash, dan Sungai Budai, yang semuanya bersumber dari Afganistan dan bermuara di Danau Bozak dan Danau Sabari yang terletak di perbatasan bersama antara kedua negara. Sungai Helmand merupakan sumber utama pasokan air bagi dataran rendah Sistan, dan dianggap sebagai urat nadi kehidupan bagi provinsi Sistan dan Baluchistan yang menderita kekeringan kronis. Terlihat bahwa sungai-sungai Afganistan, terutama Sungai Helmand, memainkan peran geopolitik besar dalam hubungan antara kedua negara, dan Afganistan dapat menggunakan masalah air sebagai alat penekan yang kuat terhadap Iran dan lainnya untuk mencapai tujuan ekonomi dan politiknya, apalagi sekitar 95% dari air ini mengalir di dalam wilayah Afganistan sendiri.

  10. Semua yang dipaparkan di atas menunjukkan bahwa akar masalahnya adalah apa yang dibuat oleh Inggris berupa "pencabik-cabikan" negeri-negeri Muslim, di mana mereka menjadikan Sistan dan Baluchistan menjadi tiga bagian! Satu bagian untuk Iran, satu bagian untuk Pakistan, dan bagian ketiga untuk Afganistan. Oleh karena itu, aliran sungai dan muaranya diperebutkan oleh tiga entitas yang saling berselisih dan bertikai karenanya. Seandainya ketiga negeri ini menjadi satu entitas, satu negara sebagaimana yang diperintahkan Allah, niscaya urusan ini akan menjadi baik dan lurus. Karena itu, solusi untuk masalah yang telah mencapai tahap peperangan antara Iran dan Afganistan ini tidak lain adalah dengan menghapuskan entitas Iran dan Afganistan serta entitas-entitas lainnya yang ada di dunia Islam dan meleburnya ke dalam satu negara yang tegak di atas Islam, serta menghapus perbedaan etnis, mazhab, dan perbatasan yang digambar oleh Inggris. Akar masalahnya sudah diketahui, yaitu pembagian kolonial atas negeri-negeri Islam, dan semuanya telah terbakar oleh api penjajahan dan sisa-sisanya, sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa pejabat Iran seperti yang kami jelaskan di atas. Solusi masalahnya juga sudah diketahui, yaitu kesatuan negeri-negeri ini sebagaimana sebelum penjajahan dan menjadikannya satu negara yang tegak di atas Islam dengan benar, dengan seluruh asas, cabang, dan aspeknya. Saat itulah air akan mengalir pada jalurnya, orang-orang akan minum, ternak akan terpuaskan, dan bumi akan menumbuhkan kebaikan-kebaikannya sesuai kehendak Allah. Kekayaan minyak juga akan didistribusikan kepada semua orang, sehingga semua orang akan menikmati karunia yang Allah berikan kepada mereka, dan mereka akan bahagia di bawah naungan hukum-hukum Islam...

Selain solusi tersebut, semuanya hanyalah solusi parsial dan sementara yang merupakan bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak. Maka kami menyeru semua orang untuk bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan Khilafah Rasyidah 'ala minhajinnubuwwah yang menyatukan negeri-negeri Muslim, sehingga kaum Muslim akan mulia dengan kemuliaan Islam dan mereka menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara.

Inilah solusi yang diserukan Islam kepada kita; di mana terdapat kemuliaan serta kehidupan yang baik dan terhormat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا للهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi hidup kepadamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." (QS. Al-Anfal [8]: 24)

17 Dzulqa'dah 1444 H 6 Juni 2023 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda