Seri Jawaban Al-Alim Al-Jalil Ata bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan di Laman Facebook Beliau "Fiqhi"
Jawaban Pertanyaan
Kepada Mamoon Soofi
Pertanyaan:
Asalaamu Alaiykum Warahmatullahi Wabarakatuhu Dear Shaykh Ata ibn Khalil Abu Rashta.
I pray that all is well with you, your family and the Shabaab in the blessed Land of Palestine.
I pray that Allah (swt) honors us in reestablishing the Khilafah on the Methodology of our Beloved Prophet Muhammad (saw).
My name is Mamoon Soofi and I am from the Shabaab of Canada.
I wanted to ask regarding the authenticity of the Hadith in MUSNAD AHMED (no. 18596) about "the Khilafah on the method of the Prophethood"
All of my discussions thus far have resulted in just mentioning this Hadith and nothing further. Until recently, I was requested to look into the authenticity of the Hadith itself. It is important to note here that Arabic is not my first language so I am limited to what I can find and research.
As such I have come across a document that claims the following:
This hadith we use in particular from the MUSNAD AHMED (no. 18596) is one of the many versions where it says “Then there will be the Caliphate upon the way of the Prophethood…”. This final part is narrated by only one person (Ibrāhīm al-Wāsiṭī) whose narrations are matrūk (”abandoned”) meaning they are so unreliable as to be unworthy of being cited.
Here is the pdf document in Arabic taht explains this:
I would greatly appreciate it if you could clarify the matter for me so that I may be able to make sense of this cross-roads I am at.
Barak'Allahu Feekum ya Shaykh Ata!
May Allah (swt) continue to help us strive down the path of the Sirat-al-Mustaqeem
Ameen Ameen Ameen!!
Mamoon Soofi
Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
Anda menyebutkan dalam pertanyaan Anda:
This hadith we use in particular from the MUSNAD AHMED (no. 18596) is one of the many versions where it says “Then there will be the Caliphate upon the way of the Prophethood…”
Tidak ada dalam Musnad Ahmad di bawah nomor tersebut (18596) hadis apa pun tentang Khilafah berdasarkan Manhaj Kenabian! Sebaliknya, hadis tersebut berkaitan dengan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan Khilafah berdasarkan Manhaj Kenabian, dan hadis tersebut diberi judul dalam bab (Hadis Abdullah bin Abi Awfa ra.).
Adapun hadis-hadis tentang Khilafah berdasarkan Manhaj Kenabian, telah disebutkan dalam banyak sumber:
a. Dalam Musnad Ahmad (17680):
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: كُنَّا قُعُوداً فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلاً يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً عَاضّاً فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ» ثُمَّ سَكَتَ
"Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud al-Thayalisi, telah menceritakan kepadaku Dawud bin Ibrahim al-Wasiti, telah menceritakan kepadaku Habib bin Salim dari Nu'man bin Basyir, ia berkata: Kami sedang duduk di masjid bersama Rasulullah ﷺ dan Basyir adalah seorang yang menahan bicaranya. Lalu datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyany seraya berkata: 'Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadis Rasulullah ﷺ mengenai para pemimpin?' Hudzaifah lalu menjawab: 'Aku hafal khotbah beliau.' Maka Abu Tsa’labah pun duduk. Hudzaifah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Zaman kenabian akan ada bersama kalian selama Allah menghendakinya, kemudian Dia mengangkatnya jika Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah berdasarkan manhaj kenabian, ia ada selama Allah menghendakinya, kemudian Dia mengangkatnya jika Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada kerajaan yang menggigit (mulkan 'adhon), ia ada selama Allah menghendakinya, kemudian Dia mengangkatnya jika Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada kerajaan yang diktator (mulkan jabriyyah), ia ada selama Allah menghendakinya, kemudian Dia mengangkatnya jika Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah berdasarkan manhaj kenabian.' Kemudian beliau diam." (HR Ahmad [17680])
b. Dalam Dala’il al-Nubuwwah karya al-Baihaqi (2843):
حدثنا أبو بكر محمد بن الحسن بن فورك رحمه الله، أخبرنا عبد الله بن جعفر الأصبهاني، حدثنا يونس بن حبيب، حدثنا أبو داود الطيالسي، حدثنا داود الواسطي، قال: وكان ثقة، قال: سمعت حبيب بن سالم، قال: سمعت النعمان بن بشير بن سعد، في حديث ذكره قال: فجاء أبو ثعلبة فقال: يا بشير بن سعد، أتحفظ حديث رسول الله ﷺ في الأمراء، وكان حذيفة قاعدا مع بشير، فقال حذيفة: أنا أحفظ خطبته، فجلس أبو ثعلبة فقال حذيفة: قال رسول الله ﷺ: «إنكم في النبوة ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء، ثم يكون خلافة على منهاج النبوة تكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء، ثم تكون جبرية تكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها، إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة»
"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin al-Hasan bin Furak rahimahullah, mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ja'far al-Ashbahani, menceritakan kepada kami Yunus bin Habib, menceritakan kepada kami Abu Dawud al-Thayalisi, menceritakan kepada kami Dawud al-Wasiti, ia berkata: Dan dia adalah tsiqah, ia berkata: Aku mendengar Habib bin Salim berkata: Aku mendengar Nu'man bin Basyir bin Sa'ad, dalam hadis yang disebutkannya... (seperti teks sebelumnya)... 'Kemudian akan ada Khilafah berdasarkan manhaj kenabian'." (HR Al-Baihaqi [2843])
c. Dalam Musnad al-Thayalisi (433):
حدثنا أبو داود قال: حدثنا داود الواسطي، وكان ثقة، قال: سمعت حبيب بن سالم، قال: سمعت النعman بن بشير بن سعد، قال: كنا قعودا في المسجد مع رسول الله ﷺ... (سياق الحديث) ... قال رسول الله ﷺ: «إِنَّكُمْ فِي النُّبُوَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً عَاضّاً، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ جَبْرِيَّةً، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»
"Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Dawud al-Wasiti, dan dia adalah tsiqah, ia berkata: Aku mendengar Habib bin Salim, ia berkata: Aku mendengar Nu'man bin Basyir bin Sa'ad berkata: Kami sedang duduk di masjid bersama Rasulullah ﷺ... (seperti teks sebelumnya)... Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya kalian berada dalam masa kenabian selama Allah menghendakinya... kemudian akan ada Khilafah berdasarkan manhaj kenabian'." (HR Al-Thayalisi [433])
d. Dalam Ithaaf al-Khiyarah al-Maharah karya Syihabuddin Ahmad bin Abi Bakar bin Ismail al-Busiri (Wafat: 840 H):
قال أبو داود الطيالسي: ثنا داود الواسطي - وكان ثقة - سمعت حبيب بن سالم، سمعت النعمان بن بشير بن سعد قال: كنا قعوداً في المسجد... (سياق الحديث) ... قال رسول اللّه ﷺ: «تكون فيكم النبوة ما شاء اللّه أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، تم تكون خلافة على منهاج النبوة... (إلى قوله) ... ثم تكون خلافة على منهاج نبوة» ثم سكت
"Abu Dawud al-Thayalisi berkata: Telah menceritakan kepada kami Dawud al-Wasiti - dan dia adalah tsiqah - aku mendengar Habib bin Salim, aku mendengar Nu'man bin Basyir bin Sa'ad berkata: 'Kami sedang duduk di masjid... (seperti teks sebelumnya)... Rasulullah ﷺ bersabda: 'Zaman kenabian akan ada pada kalian selama Allah menghendakinya... kemudian akan ada Khilafah berdasarkan manhaj kenabian', kemudian beliau diam." (HR Al-Busiri [4164/1])
Sangat jelas dari hadis-hadis ini bahwa Dawud bin Ibrahim al-Wasiti adalah orang yang tsiqah (terpercaya), yang disebutkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, al-Baihaqi dalam Dala’il al-Nubuwwah, al-Thayalisi dalam Musnad-nya, dan al-Busiri dalam Ithaaf al-Khiyarah al-Maharah. Ini sudah cukup untuk menyatakan kesahihan hadis tersebut... Demikian pula, Ibnu Hibban telah menyatakan ketsiqahannya dengan menyebutkannya dalam kitab al-Tsiqat karya Imam Al-Hafidz Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad al-Tamimi al-Basti yang wafat pada tahun 354 H/965 M.
Namun, Salahuddin al-Idlibi dalam situs webnya melalui tautan yang Anda kirimkan, membahas tentang Dawud bin Ibrahim dan mempertanyakan apakah dia al-Wasiti atau al-Uqayli. Kemudian dia berbicara tentang Dawud bin Ibrahim al-Uqayli dan mengutip riwayat-riwayat bahwa dia matruk (ditinggalkan), seraya berkata: (Dawud bin Ibrahim qadhi Qazwin adalah al-Uqayli). Ia menambahkan: (Al-Azdi berkata: dia majhul dan pendusta)... Ia juga menambahkan: (Bisa dikatakan bahwa Dawud bin Ibrahim al-Wasiti dinyatakan tsiqah oleh perawi darinya, yaitu Abu Dawud al-Thayalisi pemilik Musnad, maka apakah pendokumentasian ketsiqahannya dari orang yang meriwayatkan darinya itu dapat diterima!). Seolah-olah al-Idlibi tidak menerima pernyataan ketsiqahannya! Bahkan ia tidak menerima pernyataan Ibnu Hibban tentang ketsiqahannya!
Ia menambahkan lagi: (Jika Dawud bin Ibrahim al-Wasiti yang ada dalam sanad itu adalah orang yang dituduh pendusta, maka sanadnya rusak. Jika itu orang lain, maka sanadnya tidak apa-apa. Jika terjadi keraguan, maka kewajiban minimal adalah ber-tawaqquf (berhenti/menunda penilaian))!
Lantas mengapa harus ragu? Padahal telah disebutkan dalam riwayat al-Baihaqi dalam Dala’il al-Nubuwwah, al-Thayalisi dalam Musnad-nya, dan al-Busiri dalam Ithaaf al-Khiyarah al-Maharah, bahwa di dalam sanad mereka disebutkan bahwa dia tsiqah dan mereka mengeluarkan hadis tersebut. Begitu pula Ahmad mengeluarkannya dalam Musnad-nya, dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam al-Tsiqat. Jadi bagaimana mungkin timbul keraguan?!
Sebagai penutup, hadis tentang Khilafah berdasarkan manhaj kenabian telah diriwayatkan oleh para ulama hadis terkemuka dan sanadnya sahih...
Saudaramu, Ata bin Khalil Abu al-Rashtah
15 Muharram 1443 H 23 Agustus 2021 M
Tautan jawaban dari halaman Facebook Amir (semoga Allah menjaga beliau): Facebook
Tautan jawaban dari situs web Amir (semoga Allah menjaga beliau): Web