Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Doa untuk Menghancurkan Entitas Yahudi

October 08, 2024
2522

Seri Jawaban Syekh Al-Alim Atha' bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir atas Pertanyaan Para Pengunjung Halaman Facebook Beliau "Fiqhi"

Kepada Agus Trisa

Pertanyaan:

assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu Semoga Allah melindungimu di mana pun kamu berada. Saya ingin bertanya kepadamu tentang ayat mulia ini. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Apakah benar Allah menjawab semua doa manusia?

Apakah ada doa yang tidak Allah jawab?

Beberapa orang bertanya, kami telah berdoa agar Israel dihancurkan oleh Allah, namun mengapa mereka masih kuat dan terus menyerang Gaza?

Terima kasih atas jawabanmu, semoga Allah membalasmu dengan balasan terbaik wassalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu

Terjemahan Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu, semoga Allah menjagamu di mana pun berada.

Saya ingin bertanya kepada Anda mengenai ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِي فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Apakah benar Allah mengabulkan setiap doa manusia?

Apakah ada doa yang tidak dikabulkan oleh Allah?

Sebagian orang bertanya bahwa mereka telah berdoa agar Allah menghancurkan entitas Yahudi, namun mengapa entitas itu masih tetap kuat dan terus melanjutkan agresi mereka terhadap Gaza?

Saya berterima kasih atas jawaban Anda, dan saya memohon kepada Allah agar membalas Anda dengan kebaikan atas jawaban Anda yang baik.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.

Jawaban:

Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuhu.

Ada beberapa perkara yang wajib diketahui mengenai doa:

1- Sesungguhnya orang mukmin jika berdoa kepada Allah dengan hati yang jujur, doa yang tidak mengandung pemutusan tali silaturahmi, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengabulkannya dengan salah satu dari tiga cara, sebagaimana yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ:

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan doa orang yang berdoa jika ia berdoa kepada-Nya, dan mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan (muththar) jika ia berdoa kepada-Nya;

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

"Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu'." (QS. Ghafir [40]: 60)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?" (QS. An-Naml [27]: 62)

Hanya saja, pengabulan doa tersebut memiliki hakikat syar'iyyah yang telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثِ خِصَالٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ. قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ

"Tidaklah seorang Muslim memanjatkan doa kepada Allah Azza wa Jalla yang tidak mengandung dosa atau memutus tali silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: disegerakan pengabulan doanya, atau disimpan baginya di akhirat, atau dipalingkan darinya keburukan yang semisal dengannya. Para sahabat berkata: 'Kalau begitu kami akan memperbanyak doa'. Beliau bersabda: 'Allah memiliki karunia yang lebih banyak lagi'." (HR. Ahmad 3/18).

Begitu pula sabda beliau:

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الِاسْتِعْجَالُ؟ قَالَ: يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

"Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa atau memutus silaturahmi, dan selama ia tidak tergesa-gesa. Ditanyakan: 'Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud tergesa-gesa itu?' Beliau menjawab: 'Ia berkata: Aku telah berdoa dan terus berdoa, namun aku belum melihat doaku dikabulkan. Maka ia merasa jenuh saat itu dan meninggalkan doanya'." (HR. Muslim 4918).

Maka kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan jika kita jujur, ikhlas, serta taat, maka saat itu kita harus yakin akan pengabulan doa tersebut sesuai dengan makna yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ.

2- Sesungguhnya doa bukanlah metode (thariqah) syar'i untuk mencapai tujuan dalam seluruh keadaan. Doa itu hukumnya mandub (sunnah), namun bukan metode untuk meraih kemenangan dalam peperangan atau mendirikan negara, dan sebagainya. Rasulullah ﷺ menyiapkan pasukan dalam perang Badar, mengatur posisi para tentara di tempatnya masing-masing, dan mempersiapkan mereka dengan persiapan yang baik untuk berperang, kemudian Rasulullah ﷺ masuk ke dalam al-arisy (tenda) untuk berdoa kepada Allah memohon kemenangan dan memperbanyak doa tersebut hingga Abu Bakar ra berkata kepada beliau: "Cukuplah sebagian doa ini bagimu wahai Rasulullah." (Sirah Ibnu Hisyam 2/626). Jadi, doa tidak berarti mengabaikan pengambilan sebab-sebab fisik (al-akhdhu bi al-asbab), melainkan ia harus menyertai usaha tersebut.

Demikian pula, barang siapa yang ingin agar Khilafah ditegakkan kembali, maka ia tidak boleh merasa cukup hanya dengan berdoa kepada Tuhannya untuk mewujudkannya, melainkan ia harus berjuang bersama orang-orang yang berjuang untuk mewujudkannya, seraya berdoa kepada Allah agar memberikan pertolongan dalam hal tersebut, menyegerakan perwujudannya, dan bersungguh-sungguh dalam doa dengan penuh keikhlasan kepada Allah sembari menjalankan sebab-sebabnya (al-akhdhu bi al-asbab).

Begitu jugalah dalam seluruh amal perbuatan; seseorang harus mengikhlaskan amalnya karena Allah, jujur mengikuti Rasulullah ﷺ, lalu berdoa dan bersungguh-sungguh dalam doanya, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

3- Kami telah pernah menjawab pertanyaan serupa pada tanggal 4 Dzulqa’dah 1432 H – 1 Oktober 2011 M, yang di antaranya disebutkan:

[........

  • Adapun doa yang disertai dengan pengambilan sebab-sebab (al-akhdhu bi al-asbab), maka ia memiliki pengaruh terhadap hasil. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim. Rasulullah ﷺ menyiapkan pasukan dan masuk ke dalam tenda untuk berdoa. Kaum Muslimin di perang Qadisiyah menyiapkan perlengkapan untuk menyeberangi sungai sementara Sa'ad ra menghadap Allah seraya berdoa... Demikianlah orang-orang mukmin yang jujur menyiapkan perlengkapan lalu mulai berdoa. Orang yang berusaha mencari rezeki akan bersungguh-sungguh dan bekerja keras sambil berdoa. Pelajar akan belajar dan bersungguh-sungguh sambil berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar diberikan kesuksesan, dan hal itu akan memberikan pengaruh pada hasilnya dengan izin Allah.

Disebutkan dalam kitab Al-Mafahim di halaman terakhir (hal. 58): (Hanya saja harus diketahui bahwa meskipun perbuatan yang ditunjukkan oleh metode (thariqah) merupakan perbuatan materi yang memiliki hasil-hasil yang dapat diindera, namun perbuatan ini harus dijalankan berdasarkan perintah dan larangan Allah, serta ditujukan untuk meraih rida Allah. Sebagaimana pula kesadaran akan hubungannya dengan Allah Ta'ala harus senantiasa menguasai diri seorang Muslim, sehingga ia mendekatkan diri kepada-Nya dengan salat, doa, membaca Al-Qur'an, dan semisalnya. Seorang Muslim wajib meyakini bahwa kemenangan itu datangnya dari Allah. Karena itu, ketakwaan yang tertancap di dalam dada harus senantiasa ada untuk melaksanakan hukum-hukum Allah, doa harus senantiasa ada, zikir kepada Allah harus senantiasa ada, dan hubungan dengan Allah harus senantiasa terjaga saat melakukan seluruh perbuatan). Dari sini jelas betapa pentingnya menyertai doa dengan pengambilan sebab-sebab (al-akhdhu bi al-asbab) dalam seluruh perbuatan mukmin. Urgensi ini semakin ditekankan dengan pengulangan kata "harus" (la budda) untuk menunjukkan betapa pentingnya menyertai seluruh perbuatan dengan doa dan senantiasa menjaga hubungan dengan Allah...

  • Sesungguhnya menggunakan doa bersamaan dengan pengambilan sebab-sebab (al-akhdhu bi al-asbab) adalah sebagaimana yang kami sampaikan, yakni apa yang dipraktikkan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabatnya ra, dan orang-orang mukmin. Keduanya jika digabungkan akan memiliki pengaruh pada hasil dengan izin Allah. Menggunakan keduanya secara bersamaan tidaklah menyalahi thariqah Islam, melainkan yang menyalahinya adalah membatasi diri hanya pada doa semata tanpa menjalankan thariqah yang telah dijelaskan oleh nash-nash untuk melaksanakan ide (fikrah) Islam...].

Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam pertanyaan Anda mengenai doa untuk menghancurkan entitas Yahudi... hal ini tidak cukup hanya dengan doa, melainkan harus disertai dengan pengerahan tentara negara yang memerangi Yahudi bersamaan dengan doa tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau ra. Allah-lah tempat memohon pertolongan.

Saudaramu, Atha’ bin Khalil Abu al-Rashtah

04 Rabiul Akhir 1446 H 07/10/2024 M

Link jawaban dari halaman Amir (semoga Allah menjaganya) di : Facebook

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda