Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Politik

Jawab Pertanyaan: Serangan Drone di Atas Kremlin

May 09, 2023
2183

Pertanyaan:

Para pakar drone di Amerika Serikat berpendapat bahwa (dua drone yang jatuh di atas Kremlin Rabu lalu berhasil lolos dari sejumlah besar sistem pertahanan di dalam dan sekitar Moskow, yang menunjukkan kemungkinan bahwa keduanya diluncurkan dari dalam wilayah Rusia. Al-Jazeera, Reuters, 6/5/2023). Serangan drone terhadap Istana Kremlin di jantung kota Moskow tersebut terjadi pada malam hari tanggal 3/5/2023. Sekretaris Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Ukraina menyatakan bahwa (serangan terhadap Kremlin telah direncanakan oleh Moskow... Al-Jazeera, 3/5/2023). Pertanyaannya: Apakah serangan ini merupakan rancangan pihak luar "Ukraina" sebagaimana dituduhkan oleh Rusia? Ataukah ini rancangan internal "Moskow" sebagaimana dikatakan oleh para pakar Amerika dan Ukraina? Dengan kata lain: Siapa yang berada di balik serangan ini setelah adanya berbagai pernyataan yang berbeda-beda tersebut?

Jawaban:

Ya, kepresidenan Rusia mengumumkan telah menggagalkan serangan dua drone ke Kremlin dan menggambarkannya sebagai tindakan "teroris". Ukraina segera membantah keterlibatan apa pun dalam serangan tersebut, serta menuduh Moskow sengaja menonjolkan peristiwa ini di media untuk membenarkan eskalasi konflik yang mungkin terjadi. Kremlin menyatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak terluka... Agar tujuan dari serangan ini dapat dipahami, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut:

Pertama: Setelah lebih dari setahun perang di Ukraina yang dimulai oleh Rusia pada Februari 2022, beberapa garis depan pertempuran mengalami stagnasi. Kecuali pertempuran yang terus berlanjut di kota Bakhmut selama delapan bulan dan beberapa serangan rudal Rusia ke wilayah dalam Ukraina, garis depan lainnya mengalami kelesuan. Kelesuan ini disebabkan oleh dua hal; pertama, faktor alam karena musim dingin, dan kedua, karena kurangnya amunisi di kedua belah pihak. Dengan terus adanya pembicaraan mengenai serangan balasan Ukraina yang dinanti-nantikan, maka serangan terhadap Kremlin ini telah mengakhiri kondisi stagnasi di garis depan, dan kemungkinan besar akan memicu eskalasi.

Kedua: Barat yang dipimpin oleh Amerika, melalui dukungan yang berkelanjutan dan bertahap kepada Ukraina, telah berhasil menguras kekuatan Rusia. Pemimpin kelompok Wagner Rusia yang bertempur secara utama di kota Bakhmut terus-menerus berteriak karena kekurangan amunisi, bahkan menuduh pihak-pihak di dalam institusi militer Rusia sengaja melakukannya, terutama karena garis depan lainnya hampir terhenti selama musim dingin. Demikian pula, serangan Rusia ke wilayah dalam Ukraina sebagian besar bersifat gelombang, artinya Rusia mungkin tidak memiliki cukup rudal dan pesawat untuk melakukan serangan terus-menerus. Seolah-olah Rusia mengumpulkan jumlah yang diproduksinya selama sebulan, lalu meluncurkannya ke dalam Ukraina. Ini adalah ekspresi lain dari kondisi terkurasnya kekuatan di Rusia, belum lagi kekurangan suku cadang sensitif dalam industri militer Rusia akibat sanksi Barat. Meskipun berita juga menyebutkan tentang menipisnya amunisi di pihak Barat, namun industri militer Barat lebih mampu daripada industri Rusia untuk menutupi celah ini.

Ketiga: Hasilnya, tentara Rusia meskipun telah melakukan kampanye mobilisasi, tampak kehilangan kemampuan ofensif darat khususnya. Mereka membangun parit-parit di sepanjang garis depan sebagai bukti kekhawatiran mereka terhadap serangan balasan Ukraina yang diperkirakan akan menggunakan senjata Barat yang canggih. Bahkan pemimpin kelompok "Wagner" menggambarkan serangan Ukraina yang akan datang sebagai "bencana bagi Rusia". Jika hal ini dikaitkan dengan hampir absennya angkatan udara Rusia—kekuatan yang benar-benar gagal memaksakan supremasi udara di langit Ukraina dan hanya cukup dengan mengarahkan beberapa serangan dari jarak jauh—maka kelemahan Rusia ini tampak nyata bagi Barat dan Amerika yang mengelola perang di Ukraina dari balik layar. Oleh karena itu, perencanaan perang mulai mengambil dimensi melawan Rusia yang tidak terbayangkan saat perang meletus, terutama karena Amerika dan Barat masih berhasil menjauhkan bayang-bayang perang nuklir. Semua sindiran Rusia yang mencapai tingkat ancaman penggunaan senjata nuklir telah disambut dengan kritik luas, bahkan dengan menakut-nakuti Rusia atas kecerobohannya dan atas reaksi Amerika.

Keempat: Di tengah semua kondisi ini, musim panas ini kemungkinan besar akan menjadi panas dan lepas dari banyak batasan. Salah satu batasan tersebut adalah bahwa perang hanya berlangsung di dalam Ukraina saja. Padahal telah terjadi beberapa serangan di dalam Rusia tanpa Ukraina menyatakan bertanggung jawab atas hal tersebut, bahkan diciptakan istilah "perlawanan Rusia" yang menolak pemerintahan Putin seolah-olah merekalah yang bertanggung jawab atas serangan di dalam Rusia. Serangan terhadap Istana Kremlin di jantung ibu kota Moskow ini sangat melukai harga diri Rusia. Rusia telah mengklasifikasikannya sebagai upaya pembunuhan terhadap Presiden Rusia Putin. Dari mana pun kedua drone itu diluncurkan, sampainya mereka di atas kubah bangunan Kremlin dan ledakannya tepat di atas Kremlin menunjukkan kelemahan Rusia.

Kelima: Akibat keterkejutan di Moskow dan Rusia secara umum atas keberanian serangan tersebut—di mana Rusia menuduh Ukraina sebagai pelakunya—maka muncullah pernyataan-pernyataan keras yang menunjukkan besarnya keterkejutan di kalangan pejabat Rusia:

1- Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan: (Bahwa satu-satunya pilihan setelah serangan rezim Kiev terhadap Kremlin adalah melenyapkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan kroni-kroninya. Medvedev menulis melalui salurannya di Telegram, Rabu: "Setelah serangan teroris yang terjadi hari ini 'terhadap Kremlin', tidak ada pilihan lain selain melenyapkan Zelensky dan komplotannya secara fisik... Sputnik Rusia, 3/5/2023).

2- Ketua Duma Negara Rusia, Vyacheslav Volodin, menuntut (penggunaan "senjata yang mampu menangkal dan menghancurkan rezim teroris di Kiev" sebagai tanggapan atas serangan dua drone terhadap Kremlin. Volodin menambahkan dalam sebuah pernyataan di aplikasi Telegram bahwa Rusia tidak boleh bernegosiasi dengan Presiden Ukraina setelah serangan "terduga" yang dibantah oleh Kiev tersebut, dengan menunjukkan bahwa negosiasi dengan rezim Zelensky "tidak mungkin dilakukan, karena ia mengancam keamanan Rusia, Eropa, dan seluruh dunia". Al-Jazeera Net, 3/5/2023).

Dengan demikian, jelaslah besarnya keterkejutan yang meliputi Rusia akibat serangan dua drone terhadap Kremlin tersebut.

Keenam: Adapun anggapan bahwa Rusialah yang merancang serangan tersebut demi meningkatkan eskalasi perang di Ukraina, hal ini sangat tidak mungkin. Pertama, karena hal itu melukai harga dirinya, merupakan tamparan bagi kebesarannya, dan peringatan bahwa tidak ada lagi yang takut kepadanya maupun presidennya. Kedua, Rusia tidak mampu melakukan eskalasi perang yang efektif di Ukraina kecuali dengan senjata nuklir, sementara ia tidak memiliki kehendak untuk menggunakannya di dalam Ukraina karena takut akan reaksi Amerika. Hal yang juga menepis kemungkinan bahwa Rusia memukul dirinya sendiri adalah bahwa Rusia telah melontarkan tuduhan kepada Amerika secara langsung atas keterlibatan dalam serangan tersebut. Ini juga merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menunjukkan besarnya keterkejutan di Moskow atas keberanian serangan itu. Pernyataan-pernyataan terkait menunjukkan hal tersebut:

1- Juru bicara resmi Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan (bahwa Amerika Serikat berada di balik serangan Ukraina terhadap Kremlin dengan bantuan drone dan dialah yang memilih target-target Kiev. Hal itu disampaikan dalam pengarahan pers Peskov hari Kamis "4/5/2023", di mana ia melanjutkan: "Upaya-upaya untuk berlepas diri dari hal ini baik di Kiev maupun Washington tentu saja sangat konyol. Kami tahu betul bahwa keputusan mengenai tindakan seperti itu dan serangan teroris semacam itu tidak diambil di Kiev, melainkan di Washington. Kiev hanya melakukan apa yang diperintahkan, dan perintah untuk itu telah datang". Amerika telah membantah hal tersebut melalui juru bicara komunikasi strategis di Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, John Kirby, saat siaran di saluran MSNBC, di mana ia berkata: "Kami belum tahu apa yang terjadi, dan kami tidak melakukan penilaian apa pun. Saya baru saja melihat komentar Dmitry Peskov pagi ini, dan klaim mengenai keterlibatan kami dengan cara tertentu dalam hal ini. Saya dapat meyakinkan Anda bahwa tidak ada keterlibatan dari pihak Amerika Serikat, dan apa pun masalahnya, Amerika Serikat tidak terlibat". RT, 4/5/2023).

2- Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Amerika telah mulai membawa perang di Ukraina dan mengarahkannya ke tingkat yang lebih jauh serta lepas dari banyak batasan terhadap Rusia, disebabkan oleh apa yang ia lihat berupa kelemahan dan terkurasnya kekuatan Rusia. Bahkan serangan terhadap Kremlin merupakan ancaman personal bagi Presiden Rusia. Dari pernyataan Peskov, juru bicara Kremlin, tampak bahwa Rusia telah memahami pesan tersebut. Oleh karena itu, ia ingin mengatakan kepada Amerika bahwa ia tahu Amerika berdiri di balik serangan itu, tetapi Rusia menahan diri untuk tidak mengancam Amerika secara langsung karena besarnya ketakutannya terhadap Amerika, dan cukup dengan mengancam Ukraina serta mengancam akan melikuidasi presidennya, Zelensky.

3- Hal yang juga mengindikasikan bahwa serangan tersebut adalah tantangan bagi Rusia yang direncanakan oleh Amerika adalah dikeluarkannya Presiden Ukraina dari Ukraina. Ia tiba-tiba muncul pada pagi hari saat serangan sedang melakukan kunjungan ke Helsinki, Finlandia, kemudian pesawatnya terlihat mendarat di Amsterdam, Belanda. Setelah itu muncul dalam jadwal Kanselir Jerman bahwa akan ada penerimaan Presiden Ukraina Zelensky. Ini semua bertujuan untuk menghindarkan Presiden Ukraina Zelensky dari reaksi Rusia, yaitu mencegah Rusia melikuidasi dirinya sebagaimana dituntut oleh Medvedev.

4- Adapun Amerika sendiri tampak seolah-olah tidak ingin mengomentari peristiwa ini, bahkan menunjukkan keraguan terhadap narasi Rusia. (Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, mengatakan bahwa ia telah melihat laporan dari Moskow tentang dugaan serangan drone oleh Ukraina terhadap Kremlin, tetapi ia "tidak dapat memverifikasi kebenarannya dengan cara apa pun". Ia berkata: "Kami benar-benar tidak tahu". Blinken menambahkan: "Kami akan melihat apa fakta-faktanya. Sangat sulit untuk mengomentari atau berspekulasi mengenai hal ini tanpa mengetahui fakta-faktanya". CNN Arabic, 3/5/2023).

5- Hal yang menunjukkan peran Amerika dalam upaya membunuh Presiden Rusia Putin adalah dokumen-dokumen Amerika yang bocor selama beberapa bulan terakhir dan terungkap pada April 2023, yang berbicara tentang kematian Presiden Rusia Putin sebagai salah satu skenario perang. (Tampaknya proses pembocoran dokumen rahasia dari Departemen Pertahanan AS "Pentagon" membawa banyak kejutan dan rahasia, di antaranya apa yang diungkapkan oleh surat kabar "New York Times" mengenai dokumen intelijen rahasia yang diperolehnya yang berisi detail rencana yang disusun untuk menangani keadaan darurat setelah setahun perang di Ukraina. Dokumen tersebut mencakup analisis yang dilakukan oleh Badan Intelijen Pertahanan AS yang menetapkan 4 skenario hipotetis, dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi jalannya konflik di Ukraina jika terjadi. Skenario-skenario hipotetis tersebut meliputi: "kematian Presiden Rusia Vladimir Putin... Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky... perubahan kepemimpinan angkatan bersenjata Rusia... dan serangan Ukraina terhadap Kremlin". Surat kabar Al-Sharq, 12/4/2023).

Ketujuh: Kesimpulannya adalah bahwa serangan dua drone terhadap Istana Kremlin di Moskow merupakan eskalasi perang yang berbahaya di Ukraina. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika dan juga Ukraina memiliki cukup agen di dalam Rusia untuk melancarkan serangan kuat yang dapat mengubah jalannya perang. Ledakan-ledakan telah dimulai dan mulai meningkat di dalam Rusia yang menargetkan jalur kereta api, fasilitas minyak, listrik, dan lainnya. Artinya, proses pemindahan perang dari Ukraina ke dalam Rusia benar-benar sedang berlangsung, bahkan sangat berani, terutama karena tentara Rusia sudah sangat terkuras di Ukraina dan sulit baginya untuk melakukan serangan efektif yang dapat mengubah jalannya perang. Demikian pula, Barat yang dipimpin oleh Amerika terus mendukung Ukraina dengan senjata yang lebih canggih untuk mengubah jalannya perang demi kepentingan Ukraina. Perlu dicatat bahwa jalannya perang saat ini tidak menguntungkan Rusia setelah Ukraina merebut kembali kota Kherson dan wilayah-wilayah di Kharkiv, serta besarnya kerugian Rusia dalam serangannya yang terus berlanjut selama delapan bulan di kota Bakhmut tanpa berhasil menguasainya sepenuhnya.

Inilah dimensi-dimensi serangan terhadap Kremlin di Rusia, dan itulah latar belakangnya. Ini semua menunjukkan guncangnya kemampuan militer dan keamanan Rusia hingga ia tidak mampu melindungi pusat politiknya di jantung kota Moskow! Benar bahwa pertempuran bukan hanya antara Rusia dan Ukraina saja, melainkan Amerika dan Barat mendukung Ukraina secara materi dan maknawi. Namun demikian, kenyataan bahwa serangan Rusia terhadap Ukraina telah berlangsung lebih dari setahun dan stabilitas Rusia masih sangat terguncang di wilayah-wilayah yang didudukinya di Ukraina dengan kerugian besar secara materi dan jiwa, semua itu menunjukkan menjauhnya Rusia dari sebutan negara besar (ad-daulah al-kubra) secara kasat mata. Tampaknya Rusia menyadari hal ini, karena itulah ia telah mengerahkan upaya maksimal untuk mengembalikan kehormatan sebutan ini dengan menduduki Bakhmut sepenuhnya sebelum perayaan Rusia pada 9/5/2023, tetapi ia gagal hingga hari ini meskipun telah mengintensifkan serangan dan mengerahkan kelompok Wagner.

Adapun Amerika dan Barat, mereka berperang hingga tentara Ukraina terakhir! Mereka tidak ingin ikut campur dalam pertempuran secara langsung, melainkan negara-negara tersebut mewujudkan kepentingan mereka dengan darah orang lain.

Sebagai penutup, saya ulangi apa yang pernah saya sampaikan dalam Jawab Pertanyaan tanggal 1/3/2023: [...sesungguhnya negara-negara kafir penjajah yang disebut negara besar di dunia saat ini saling berkonflik di antara sesama mereka bukan untuk kebaikan dunia, melainkan untuk keburukan dan bahaya. Rusia menyerang Ukraina untuk membunuh setiap orang Ukraina yang bergerak, sementara Amerika dan Barat melawan agresi tersebut dengan setiap orang Ukraina dan bukan dengan tentara mereka! Kedua belah pihak saling berkonflik di Ukraina untuk membunuh setiap orang Ukraina... Begitulah negara-negara yang berbuat kerusakan di muka bumi ini, mereka tidak menghargai banyaknya darah yang tertumpah selama hal itu mewujudkan kepentingan mereka, bahkan sebagian kecil dari kepentingan mereka... Seolah-olah sejarah terulang kembali ketika negara Persia dan Romawi saling berkonflik, yang satu menang dan yang lain kalah, dan demikian seterusnya... Masing-masing bertindak seperti mesin yang menyedot darah manusia untuk mewujudkan kepentingannya sendiri... Hal ini terus berlanjut sampai Allah memuliakan ahlul haq dan keadilan, umat Islam, dengan pertolongan dan kemenangan yang nyata, maka Islam dan kaum Muslim menjadi mulia, serta kekafiran dan kaum kafir menjadi hina. Sesungguhnya hal ini akan terjadi kembali dengan izin Allah.] Hal itu adalah dengan tegaknya Khilafah Rasyidah.

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

"Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang." (QS. Ar-Rum [30]: 4-5)

وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيباً

"Dan mereka berkata, 'Kapan itu (akan terjadi)?' Katakanlah, 'Boleh jadi waktunya sudah dekat'." (QS. Al-Isra' [17]: 51)

19 Syawal 1444 H 9 Mei 2023 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda