Jawab Soal
Perkembangan Politik di Irak dan Peran Al-Kadhimi dalam Melayani Amerika
Pertanyaan:
Sebagaimana diketahui, Al-Kadhimi telah memperoleh kepercayaan dari parlemen yang mayoritasnya setia kepada Iran, padahal Al-Kadhimi dituduh oleh partai-partai pro-Iran dan tokoh-tokohnya di Irak telah berkolusi dengan Amerika dalam pembunuhan Soleimani. Beberapa tokoh pro-Iran bahkan menyeburtnya sebagai salah satu orang Amerika... Apakah ini berarti Al-Kadhimi memiliki dukungan kuat dari Amerika sehingga ia tidak peduli dengan campur tangan Iran dan orang-orangnya di Irak? Apakah Amerika masih menganggap Irak sebagai pusat gravitasinya, dan apakah Al-Kadhimi berada di bawah kendali penuh Amerika dalam menjaga pengaruhnya di pusat gravitasi tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Jawaban:
Agar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi jelas, kita akan meninjau hal-hal berikut:
1- Amerika memberikan urgensi yang sangat besar terhadap Irak. Presiden AS Trump baru-baru ini menyatakan: ("Irak adalah negara yang kuat dan penting, serta memiliki peran sentral di kawasan dalam mencapai stabilitas regional dan internasional." Ia juga menekankan "antusiasme Amerika Serikat untuk memperkuat hubungan antara kedua negara dan kesiapan negaranya untuk memberikan bantuan ekonomi yang diperlukan guna mendukung ekonomi Irak..." Independent dan Al-Alam, 11/05/2020). Oleh karena itu, Amerika memusatkan perhatian padanya, mengirimkan tentara besar untuk mendudukinya yang jumlahnya mencapai 250 ribu tentara, dan membentuk koalisi dari (49) negara yang berpartisipasi dengan sekitar (50) ribu tentara, di samping sejumlah perusahaan keamanan bereputasi buruk seperti Blackwater Amerika yang bermarkas di North Carolina, AS, untuk melakukan tugas-tugas kotor; mulai dari likuidasi, pembunuhan, pencurian, hingga perlindungan pejabat Amerika, markas besar, dan misi diplomatik mereka... Amerika juga mendirikan pangkalan militer permanen di sana, yang saat ini ada tiga pangkalan utama yaitu "Ein al-Asad" di provinsi Anbar, pangkalan udara "Balad" di provinsi Salahuddin, dan pangkalan "Taji" di utara Baghdad. Terdapat pula Perjanjian Kerangka Strategis (Strategic Framework Agreement) yang dipublikasikan oleh Amerika Serikat dan Irak pada 17/11/2008. Dalam perjanjian tersebut dinyatakan: (...keduanya menegaskan keinginan tulus negara mereka untuk menjalin hubungan kerja sama dan persahabatan jangka panjang... dan menegaskan kembali hubungan jangka panjang ini di bidang ekonomi, diplomatik, budaya, dan keamanan... Perjanjian ini tetap berlaku kecuali salah satu pihak menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada pihak lain mengenai niatnya untuk mengakhiri perjanjian ini, dan pengakhiran tersebut berlaku efektif satu tahun setelah tanggal pemberitahuan tersebut... Guna memperkuat keamanan dan stabilitas di Irak, kedua pihak terus bekerja untuk mengembangkan hubungan kerja sama yang erat di antara mereka terkait pengaturan pertahanan dan keamanan... dst). Ini adalah perjanjian kolonial dalam arti yang sebenarnya, yang memberikan hak kepada Amerika untuk mencampuri urusan Irak dengan kedok "hubungan kerja sama yang erat terkait pengaturan pertahanan dan keamanan"!
2- Protes dimulai di Irak menentang korupsi, nepotisme, dan penggelapan oleh para pejabat, serta menentang meluasnya pengangguran di tengah masyarakat, buruknya layanan publik, memburuknya kondisi kehidupan, dan kenaikan harga, terutama tarif listrik. Protes ini mencakup wilayah-wilayah yang menjadi basis massa sistem tersebut. Protes telah dimulai sejak tahun 2010 dan terus berulang setiap tahun, lalu mereda baik setelah dipukul mundur, setelah janji-janji palsu dari otoritas untuk memenuhi tuntutan pengunjuk rasa, atau melalui upaya peredaman oleh beberapa kekuatan politik yang terlibat dalam sistem tersebut. Namun, protes terbaru yang meletus sejak awal Oktober 2019 berbeda. Para pengunjuk rasa menolak untuk berhenti meskipun ditindak dengan kekerasan, dan mereka menolak kekuatan politik yang mencoba meredam protes tersebut. Akibatnya, kekerasan terhadap pengunjuk rasa meningkat berupa pembunuhan, pelukaan, dan pemenjaraan. Protes kali ini juga menyasar Iran; para pengunjuk rasa menumpahkan kemarahan mereka padanya dan membakar konsulat serta pusat-pusat kegiatannya karena organisasi-organisasi yang berafiliasi dengannya di Irak menghadang mereka, dan karena mereka melihat sejauh mana keterkaitan sistem, blok politik, dan milisi bersenjata dengan Iran, sekaligus keterkaitannya dengan Amerika secara langsung maupun tidak langsung. Momentum protes sangat kuat, dan sistem serta Perdana Menteri Adil Abdul-Mahdi menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk mengendalikan situasi, menangani masalah, dan memenuhi tuntutan pengunjuk rasa yang mulai menuntut penggulingan rezim. Hal ini memaksa Abdul-Mahdi mengumumkan pengunduran diri pada 30/11/2019 demi menyelamatkan sistem, dan keesokan harinya parlemen segera menerimanya, sehingga Abdul-Mahdi menjadi kepala pemerintahan transisi (caretaker). Presiden Republik Barham Salih pun terpaksa melanggar konstitusi dengan menolak menugaskan Asaad Al-Eidani pada 26/12/2019, kandidat dari blok parlemen terbesar (Al-Binaa), untuk membentuk pemerintahan, karena penolakan pengunjuk rasa terhadap kandidat ini atas perannya sebagai gubernur Basra dalam upaya menumpas pengunjuk rasa di sana. Protes-protes ini jauh lebih berpengaruh dibandingkan sebelumnya.
3- Di saat yang sama, faksi-faksi yang tergabung dalam Al-Hasyd asy-Sya'bi meluncurkan roket ke pangkalan Amerika di dekat Kirkuk pada 28/12/2019 tanpa alasan yang jelas, yang menewaskan seorang elemen Amerika yang bekerja di pangkalan tersebut... Tampaknya hal ini terjadi di luar konteks, karena Ketua otoritas Al-Hasyd asy-Sya'bi (Falih Al-Fayyadh) telah mengunjungi Washington sekitar dua bulan sebelumnya pada 19/10/2019, dan bertemu dengan Menteri Pertahanan (Mark Esper) dengan dihadiri oleh Ketua Kepala Staf Gabungan (Mark Milley). Ia mengumumkan bahwa pertemuan tersebut membahas hubungan antara kedua negara, khususnya kerja sama militer, namun sekarang terjadi pembunuhan ini! Menyusul kematian elemen Amerika tersebut, tentara AS melakukan serangan udara pada 29/12/2019 terhadap kelompok bersenjata Kata'ib Hezbollah, salah satu faksi Al-Hasyd asy-Sya'bi. Diumumkan bahwa sedikitnya (27) elemen tewas dan (62) lainnya luka-luka dari faksi ini. Amerika kemudian melakukan serangan udara dengan pesawat tak berawak (drone) pada 03/01/2020 di dekat bandara Baghdad, yang menewaskan Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds dari Garda Revolusi Iran yang berpengaruh di Al-Hasyd asy-Sya'bi, bersama wakil komandan Al-Hasyd asy-Sya'bi Abu Mahdi al-Muhandis dan empat perwira Garda Revolusi lainnya berpangkat Brigadir Jenderal, Kolonel, Mayor, dan Kapten. Amerika memanfaatkan peristiwa-peristiwa ini untuk kepentingannya dan kepentingan presidennya yang ingin mencetak poin guna memperkuat peluangnya dalam periode kedua kepresidenan AS... Namun tampaknya peristiwa-peristiwa ini memanaskan suasana melawan Amerika, sehingga parlemen Irak pada 05/01/2020 mengambil keputusan untuk bekerja mengakhiri keberadaan pasukan asing, dan menuntut perdana menteri melaksanakan keputusan tersebut. Kepala pemerintahan transisi Abdul-Mahdi pun merespons mereka... Reaksi Amerika terhadap keputusan parlemen Irak disampaikan melalui lisan Presiden AS Trump dengan ancaman pengenaan sanksi terhadap Irak. Ia berkata (Amerika Serikat tidak akan meninggalkan Irak kecuali pemerintah Irak membayar biaya pangkalan udara Amerika di sana), dan berkata (Kami memiliki pangkalan udara di sana yang sangat mahal. Butuh miliaran dolar untuk membangunnya jauh sebelum saya datang. Kami tidak akan pergi kecuali mereka membayar biayanya, dan jika Irak menuntut kepergian pasukan AS tanpa dasar persahabatan, kami akan menjatuhkan sanksi kepada mereka yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Sanksi terhadap Iran akan terlihat kecil dibandingkan itu... "Sky News 05/01/2020").
4- Kemudian Iran mengumumkan bahwa mereka melancarkan serangan roket tepat pada pukul 01:20 waktu Teheran di awal hari 08/01/2020 terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di Irak, dan mereka mengklaim telah membunuh sedikitnya (80) orang Amerika. Televisi Iran menyatakan bahwa mereka telah membalas dendam Soleimani, namun Amerika mengakui adanya serangan tersebut tetapi membantah adanya korban jiwa di pihaknya...! Kemudian momentum peristiwa-peristiwa ini mereda tanpa eskalasi lebih lanjut...! Setelah itu, Muhammad Tawfiq Allawi, mantan Menteri Komunikasi di pemerintahan Al-Maliki, mengumumkan pada 01/02/2020 bahwa Presiden Republik telah menugaskannya untuk membentuk pemerintahan. Para pengunjuk rasa menyatakan penolakan terhadap pencalonan Allawi karena mereka menolak setiap tokoh politik yang terlibat dalam sistem sejak pendudukan Amerika tahun 2003, dan sebelum masa penugasannya berakhir, ia pun mengundurkan diri... Selanjutnya Presiden Republik pada 16/03/2020 menugaskan Adnan al-Zurfi untuk membentuk pemerintahan. Ia pernah menduduki beberapa posisi keamanan dalam sistem dan menjadi gubernur Najaf setelah pendudukan, namun Al-Zurfi mengundurkan diri pada 09/04/2020 karena ketidakmampuannya membentuk pemerintahan. Pada 09/04/2020, Presiden Irak Barham Salih mengumumkan penugasan kepala intelijen Irak Mustafa Al-Kadhimi untuk membentuk pemerintahan, yang merupakan sosok non-partai, dan ini adalah pelanggaran konstitusi lainnya. Perlu dicatat bahwa Mustafa Al-Kadhimi pernah bekerja sebagai oposisi rezim Saddam di luar negeri, dan setelah 2003 ia kembali ke Irak menuju Sulaymaniyah... Selama menjabat sebagai pemimpin redaksi urusan Irak di situs berita Amerika Al-Monitor, ia sangat membela perlunya hubungan AS-Irak yang kuat dan krusial. Dalam salah satu artikelnya ia berkata: (Pemantauan terhadap hubungan Irak-Amerika setelah tahun 2003 menunjukkan bahwa setiap kali hubungan itu menjadi lemah dan marginal, hal itu dapat membuka pintu masuknya pihak luar di satu sisi, dan juga menyebabkan kerugian bagi kepentingan bersama Irak dan Amerika di kawasan. Oleh karena itu, Irak dan Amerika Serikat perlu mengevaluasi kembali hubungan mereka untuk membangun hubungan strategis yang kuat yang membantu menyeimbangkan kembali kekuatan di kawasan dan menjamin kepentingan bersama kedua belah pihak... "Situs Al-Monitor Amerika 02/10/2015"). Jadi, ia bekerja secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan untuk kepentingan perangkat keamanan Amerika, dengan koordinasi penuh bersama pasukan pendudukan Amerika di Irak sejak kepulangannya ke Irak setelah 2003. Karena hal itulah, banyak warga Irak merasa heran saat Al-Abadi secara tiba-tiba mengajukannya pada tahun 2016 sebagai direktur intelijen, sebuah jabatan yang sangat sensitif dan membutuhkan sosok yang sangat dipercaya oleh Amerika. (Pada tahun 2016, kepala pemerintahan Haider al-Abadi mengejutkan warga Irak dengan menunjuk sosok seperti Mustafa Al-Kadhimi, seorang jurnalis dan aktivis HAM, sebagai kepala intelijen. Ini terjadi di puncak perang melawan organisasi "Negara Islam" yang sempat menduduki sebagian wilayah negara tersebut sebelum tentara Irak dengan dukungan koalisi internasional berhasil memukul mundur mereka... France 24, 08/05/2020). Selain itu, Amerika tidak menyembunyikan hubungannya dengan dia saat ia di intelijen (Sebuah laporan yang diterbitkan oleh surat kabar Amerika Wall Street Journal mengutip David Schenker, Asisten Sekretaris Negara AS untuk Urusan Timur Dekat, yang menyatakan bahwa Al-Kadhimi melakukan "pekerjaan yang baik" saat menjabat sebagai kepala intelijen, dan menyambut kemitraan dengannya sebagai perdana menteri... "Al-Jazeera Net dari Wall Street Journal 30/05/2020"). Ia juga pernah mengunjungi Arab Saudi pada 2017 bersama mantan Perdana Menteri Haider al-Abadi, dan terlihat berpelukan lama dengan teman pribadinya, Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman, yang sangat berdedikasi dalam melayani Amerika!
5- Pada 07/05/2020, parlemen Irak memberikan kepercayaan kepada pemerintahan Al-Kadhimi dengan suara (255) anggota dari total (329) anggota, meskipun Al-Kadhimi dituduh memberikan bantuan kepada Amerika dalam operasi pembunuhan Qasem Soleimani dan Al-Muhandis. (Abu Ali al-Askari), pejabat keamanan di milisi "Kata'ib Hezbollah di Irak", melancarkan serangan terhadapnya (dan menuduh kepala perangkat intelijen Irak, Mustafa Al-Kadhimi, "membantu" dalam proses pembunuhan komandan Pasukan Quds Iran Qasem Soleimani dan wakil ketua Al-Hasyd asy-Sya'bi Abu Mahdi al-Muhandis... "Al-Hurra, 03/03/2020"). Reaksi pertama dari pihak pengaruh Iran (ulama garis keras Ali al-Kourani, yang dekat dengan milisi Hezbollah Lebanon, menyerang Al-Kadhimi dan menuduhnya menjalankan agenda Amerika... "Al-Ain News 15/05/2020"). Namun jika dicermati, kita menemukan bahwa partai-partai pro-Iran justru memberikan suara untuknya dan memberinya kepercayaan, padahal merekalah yang menuduhnya sebagai agen Amerika dan menuduhnya bekerja sama dalam membunuh pengikut mereka serta membunuh Soleimani dan Al-Muhandis. Tidak hanya itu, ia bahkan menolak semua tuntutan mereka dan menolak sistem pembagian jatah (muhashoshah) yang dikenal, artinya ia menghalangi partai-partai tersebut dari "rampasan" kementerian. Semua ini menunjukkan bahwa Amerika memiliki pengaruh besar atas partai-partai tersebut, baik secara langsung maupun melalui Iran. Ketegangan yang tampak dengan Iran hanyalah sekadar tipu daya (dzarru ar-ramad fi al-'uyun). Bahkan pembunuhan Soleimani tidak memicu apa pun di Teheran kecuali badai suara yang segera berakhir, seolah-olah tidak terjadi apa-apa karena hubungan di balik layar dengan Amerika. Mungkin partai-partai sektarian di Irak itu tidak menyadari bahwa penghalangan mereka dari kursi menteri bukanlah hukuman bagi mereka, melainkan untuk meredam gelombang kemarahan yang melanda jalanan Irak, di mana gelombang itu kembali meletus setelah pelonggaran langkah-langkah penanggulangan virus Corona di Irak. Ini berarti sebagian besar partai tersebut loyalitasnya terjamin bagi Amerika, baik secara langsung maupun melalui Iran. Pemberian kepercayaan dengan cara seperti ini mendorong beberapa media berbicara tentang adanya kesepakatan atau transaksi! Ibrahim al-Zubaidi dalam harian "Al-Arab" London mengatakan (bahwa beberapa aliansi dan arus politik di Irak "menolak Mustafa Al-Kadhimi dan mengeluarkan pernyataan yang mengecapnya sebagai agen Amerika, serta menuduhnya merencanakan pembunuhan Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis..."). Zubaidi melanjutkan: ("Dan seperti yang Anda telah dan sedang lihat, arus politik telah sepakat untuk meloloskannya di parlemen, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, hanya ketika perintah dan instruksi terakhir datang kepada mereka dari kedutaan Waliul Faqih di Baghdad, atau dari kedutaan Paman Donald Trump. Bukankah ini semacam teater absurd?"... Al-Arab London, 08/05/2020). Kemudian Al-Kadhimi mendapatkan kepercayaan meskipun ada tuduhan-tuduhan tersebut! Selain itu, kemungkinan akan terjadi "pencitraan" bagi Al-Kadhimi dalam pernyataan yang akan dikeluarkan dari dialog strategis antara Amerika dan Irak yang diperkirakan terjadi pertengahan bulan ini, (Dijadwalkan kedua negara akan mengadakan dialog strategis pertengahan bulan depan untuk menentukan syarat-syarat hubungan masa depan mereka... Al-Jazeera Net dari Wall Street Journal 30/05/2020).
6- Dalam sidang pemberian kepercayaan itu sendiri, Al-Kadhimi menganggap pemerintahannya bersifat sementara dan ia mengupayakan pemilihan umum dini. Ia berkata: (Bahwa salah satu prioritas pemerintahannya adalah menyelenggarakan pemilu dini sebagai respons atas tuntutan rakyat yang sah), sebagai upaya untuk menyenangkan para pengunjuk rasa dan oposisi. Untuk tujuan itu ia menambahkan: (Bahwa persiapan untuk pemilu yang jujur memerlukan penegasan kedaulatan negara di segala bidang, dan yang terpenting adalah membatasi senjata hanya di tangan negara dan pasukannya di bawah komando Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, serta tidak mengubah negara menjadi arena penyelesaian sengketa, dan mencegah penggunaan tanah Irak untuk menyerang pihak lain... "BBC 07/05/2020"). Keberhasilan Al-Kadhimi memperoleh kepercayaan merupakan pencapaian penting dan berita gembira bagi Amerika yang berupaya memantapkan sistem yang telah didirikannya guna menjamin stabilitas pengaruhnya di Irak dan memberikan legitimasi padanya. Oleh karena itu, Menteri Luar Negeri Amerika (Mike Pompeo) segera berbicara melalui telepon dengan Mustafa Al-Kadhimi untuk mengucapkan selamat atas kepercayaan parlemen sebagai Perdana Menteri Irak, dan menulis di akun Twitter-nya pada 07/05/2020: (Sangat luar biasa berbicara hari ini dengan Perdana Menteri Irak yang baru, Mustafa Al-Kadhimi. Sekarang datanglah tugas mendesak dan serius untuk melaksanakan reformasi yang dituntut oleh rakyat Irak). Ia menambahkan: (Saya telah berjanji untuk membantunya melaksanakan agenda beraninya). Juru bicara Departemen Luar Negeri AS (Morgan Ortagus) dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa (sebagai dukungan bagi pemerintahan baru, Amerika Serikat akan melanjutkan pengecualian terkait listrik "impor listrik dari Iran selama 120 hari" sebagai bentuk keinginan kami untuk membantu menyediakan kondisi yang tepat bagi keberhasilan... "KUNA 07/05/2020"). Kemudian Presiden Amerika sendiri berbicara dengan Al-Kadhimi. Juru bicara Gedung Putih (Judd Deere) menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa (Presiden Trump berbicara pada Senin 11/05/2020 melalui telepon dengan Al-Kadhimi untuk mengucapkan selamat atas pengesahan parlemen Irak terhadap pemerintahannya... dan Presiden menyatakan dukungan Amerika Serikat untuk Irak selama pandemi virus Corona yang terus berlangsung, serta menekankan kepentingan bersama dengan Irak dalam memberikan kekalahan permanen terhadap organisasi ISIS... dan Presiden juga mendorong Perdana Menteri untuk menangani tuntutan rakyat Irak akan reformasi dan pemilihan umum dini... "Reuters, Al-Hurra Amerika 12/05/2020").
7- Salah satu langkah awal Al-Kadhimi dalam pertemuan pertamanya dengan para menterinya pada 09/05/2020 adalah pengumuman pengangkatan kembali Abdul-Wahab Al-Saadi sebagai kepala perangkat yang disebut Kontra Terorisme di Irak. Dalam pernyataan persnya, Al-Kadhimi berkata: (Kami memutuskan untuk mengembalikan saudara pahlawan Letnan Jenderal Abdul-Wahab Al-Saadi ke posisinya sebagai kepala perangkat Kontra Terorisme). Pasukan Kontra Terorisme dianggap sebagai pasukan elit dalam tentara Irak yang dilatih dan dipersenjatai oleh pasukan Amerika, serta menjadi ujung tombak dalam perang melawan organisasi "ISIS" selama tiga tahun 2014-2017... Kantor Berita Anadolu Turki, 09/05/2020). Saluran Al-Arabiya pada 11/05/2020 melaporkan bahwa keputusan Mustafa Al-Kadhimi mengembalikan Abdul-Wahab Al-Saadi dan mempromosikannya menjadi komandan Kontra Terorisme adalah sebagai respons atas tuntutan publik. Namun, perangkat Kontra Terorisme di Irak sangat berafiliasi dengan Amerika. [Pertengahan 2017, sebuah laporan Amerika menggambarkan "Perangkat Kontra Terorisme" sebagai (hal terbaik yang pernah didirikan Amerika Serikat di Irak). Perangkat yang berafiliasi dengan tentara Irak ini didirikan oleh Amerika Serikat dengan standar seleksi dan pelatihan yang sangat ketat dan serupa dengan yang digunakan untuk merekrut pasukan operasi khusus Amerika, menurut laporan yang diterbitkan oleh Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat... "Arabi21, 30/09/2019"]. Al-Saadi, menurut sumber sebelumnya, telah naik jabatan secara luar biasa menjadi Brigadir Jenderal pada 2006, kemudian Mayor Jenderal pada 2008 di tangan agen Amerika, Al-Maliki, yang menunjukkan tingkat kepuasan Amerika terhadap perwira Irak ini. Perangkat ini menikmati popularitas karena dua hal yang tidak disadari oleh publik Irak yang melakukan protes: Pertama, Amerika sendiri yang melarang perangkat Kontra Terorisme membunuh demonstran. Cara Amerika ini sama dengan yang digunakannya di Mesir tahun 2011 ketika tentara Mesir berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan terhadap demonstran, sehingga diterima oleh massa demonstran untuk membentuk Dewan Militer setelah penggulingan Hosni Mubarak. Artinya, Amerika menginginkan tangan yang (bersih) bagi perangkat Kontra Terorisme Irak agar menjadi alternatif bagi perubahan apa pun. Kedua, rakyat Irak mengira bahwa Al-Saadi—karena pencopotan (pemindahan) yang dilakukan Adil Abdul-Mahdi terhadapnya dari Kontra Terorisme—adalah seorang oposisi sistem yang dipimpin Abdul-Mahdi, sehingga mereka menginginkan Al-Saadi sebagai alternatif. Padahal kenyataannya, demonstrasi di Irak menolak dengan keras baik pengaruh Iran maupun pengaruh Amerika di Irak...
Kami telah menyebutkan hal tersebut dalam rilis tertanggal 04/12/2019 di mana kami katakan: (Terkait Irak: Amerika memerintah Irak secara hampir langsung dari balik layar. Jumlah staf kedutaan besarnya di Baghdad mencapai 16 ribu staf yang memantau pekerjaan seluruh kementerian Irak, terutama sektor minyak dan keamanan. Itu adalah kedutaan besar Amerika terbesar di dunia, dan ia memiliki banyak pangkalan militer di Irak, yang paling terkenal adalah pangkalan Ein al-Asad di Anbar... Pada minggu terakhir bulan lalu, Amerika mengintensifkan kunjungannya, yaitu kunjungan mendadak Wakil Presiden AS Pence pada 23/11/2019 ke pangkalan Ein al-Asad. Sebelum lewat seminggu dari kunjungan Wakil Presiden AS ke Irak, Amerika mengutus Ketua Kepala Staf Gabungan Tentara Amerika Mark Milley ke Baghdad pada 27/11/2019. Ini adalah bukti pemantauan Amerika yang intensif, terutama karena Irak memiliki sensitivitas bagi Amerika... Telah diperhatikan bahwa perangkat Kontra Terorisme di Irak, yang merupakan kekuatan militer besar yang dibentuk oleh Amerika dan dilengkapi dengan peralatan militer terbaik, perangkat ini jauh dari kebijakan penindasan terhadap protes. Tampaknya para pengunjuk rasa di Alun-Alun Tahrir memandang kekuatan ini sebagai penyelamat dari para politisi korup, di mana mereka mengangkat foto besar Jenderal Abdul-Wahab Al-Saadi, salah satu pemimpin perangkat tersebut setelah pencopotannya oleh Abdul-Mahdi, seolah-olah kekuatan ini diterima oleh para pengunjuk rasa untuk memiliki peran dalam mengatur solusi) Selesai kutipan.
8- Kesimpulannya adalah bahwa Al-Kadhimi berada di bawah kendali penuh Amerika di Irak:
a- Dalam rekam jejaknya: Selama bekerja sebagai pemimpin redaksi urusan Irak di situs berita Amerika Al-Monitor, dan pembelaannya yang kuat pada 2015 akan kewajiban hubungan Amerika-Irak yang harus kuat secara krusial...
b- Dalam penugasannya tahun 2016 sebagai direktur intelijen, dan sambutan Amerika terhadapnya sebagaimana dilaporkan oleh surat kabar Amerika Wall Street Journal dari David Schenker, Asisten Sekretaris Negara, bahwa Al-Kadhimi melakukan "pekerjaan yang baik" saat menjabat sebagai kepala intelijen, serta menyambut kemitraan dengannya sebagai perdana menteri...
c- Kemudian hubungannya dengan temannya, Muhammad bin Salman, yang sangat jelas terutama ketika ia mengunjungi Arab Saudi tahun 2017 bersama mantan Perdana Menteri Haider al-Abadi dan terlihat berpelukan lama dengan "teman pribadinya" Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman yang sangat berdedikasi melayani Amerika!
d- Perolehan kepercayaan parlemen pada 07/05/2020 dengan dukungan Amerika secara langsung dan tidak langsung dari Iran melalui tekanan pada partai-partai pro-Iran, meskipun Al-Kadhimi dituduh membantu Amerika dalam operasi pembunuhan Qasem Soleimani dan Al-Muhandis, serta ia menjalankan "agenda-agenda Amerika". Semua ini menunjukkan bahwa Amerika memiliki pengaruh efektif atas Iran, dan ketegangan yang tampak dengan Iran hanyalah sekadar pengaburan pandangan!
e- Kemudian pengangkatan kembali Abdul-Wahab Al-Saadi pada 09/05/2020 sebagai kepala perangkat Kontra Terorisme di Irak. Pasukan perangkat ini dilatih dan dipersenjatai oleh pasukan Amerika. Sebuah laporan Amerika yang diterbitkan oleh Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat pertengahan 2017 menggambarkan perangkat ini sebagai ("hal terbaik yang pernah didirikan Amerika Serikat di Irak"... Arabi21, 30/09/2019).
Semua itu menunjukkan betapa besarnya "keistimewaan" yang dinikmati Al-Kadhimi di mata Amerika, dan penduduk Irak harus menyadari hal itu sebelum mereka menyesal pada saat penyesalan tidak lagi berguna!
9- Saya mengakhiri dengan satu kata, saya katakan bahwa tidak ada keselamatan bagi Irak dan pengembalian kejayaan serta kemuliaannya agar menjadi negara yang diperhitungkan dan menjadi pusat negara adidaya yang menundukkan Amerika, Inggris, dan negara-negara kolonial lainnya; saya katakan tidak ada keselamatan bagi Irak kecuali dengan kembali kepada sumber kemuliaannya, yaitu Islam dengan mendirikan negaranya, Khilafah Rasyidah ala minhajin nubuwwah. Benarlah Allah Yang Mahakuat lagi Maha Perkasa:
وَلِلّٰهِ العِزَّةُ وَلِرَسُولِه وَلِلمُؤمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعلَمُونَ
"Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (QS Al-Munafiqun [63]: 8)
Selasa, 11 Syawal 1441 H 02/06/2020 M