Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Politik

Jawaban Pertanyaan: Kebijakan Nyata Amerika terhadap Rusia dan Cina

January 05, 2017
5909

Pertanyaan:

Presiden AS Obama pada 29/12/2016, tiga minggu sebelum kepergiannya, mengumumkan serangkaian sanksi keras terhadap Rusia yang mencakup pengusiran sejumlah besar diplomat Rusia dari Amerika (35 diplomat) dan penutupan misi/kompleks diplomat Rusia di Maryland dan New York dengan dalih spionase... Semua ketegangan ini terjadi dengan latar belakang tuduhan Amerika terhadap Rusia atas peretasan elektronik terhadap pemilu Amerika... Apakah hal ini memerlukan semua tindakan tersebut? Ataukah ada perubahan peran Rusia di Suriah yang menuntut tindakan ini? Ataukah ada alasan lain, terutama karena Trump menyatakan akan memperbaiki hubungan dengan Rusia sementara Obama justru memperkeruhnya? Jazakallahu khairan.

Jawaban:

Agar jawaban menjadi jelas, kita akan meninjau fakta dari apa yang terjadi kemudian meninjau pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam soal tersebut:

Pertama: Mengenai fakta dari apa yang terjadi, memang benar bahwa pemerintahan Amerika saat ini sedang melakukan ketegangan nyata dalam hubungan Amerika-Rusia. Rusia telah memahami pesan tersebut, dan tanggapan segeranya disampaikan melalui juru bicara Kremlin, Peskov, bahwa (Sanksi Amerika bersifat destruktif, agresif, dan tidak terduga. Ia mengatakan: pemerintahan Obama menghancurkan hubungan Rusia-Amerika secara final setelah mencapai titik terendah, dan mengumumkan bahwa Moskow akan menyiapkan tanggapan yang sesuai terhadap tindakan Washington...) (Russia Today dan kanal berita Prancis, 29/12/2016). Di antara bentuk-bentuk ketegangan dalam hubungan tersebut adalah langkah-langkah Amerika berikut:

  1. (Presiden Amerika Barack Obama mengatakan pada 15/12/2016 bahwa Amerika Serikat akan menanggapi peretasan Rusia untuk memengaruhi pemilu Amerika. Obama menjelaskan kepada radio NPR, "Saya pikir tidak ada keraguan bahwa ketika ada pemerintah asing yang mencoba memengaruhi integritas pemilu kita, kita perlu mengambil tindakan," seraya menambahkan, "dan kita akan membalas pada waktu dan tempat yang kita pilih." Presiden AS itu melanjutkan bahwa "sebagian dari balasan tersebut akan terlihat jelas dan publik, sementara sebagian lainnya tidak"...) (Situs France 24, 16/12/2016). Dan inilah balasan pemerintahan Amerika yang muncul dalam sanksi yang diumumkan Obama terhadap Rusia.

  2. Presiden AS Obama menyerang Rusia dengan nada mengejek dan menyifatkannya sebagai "negara kecil". Ia mengatakan ("Mereka lebih kecil dan lebih lemah, ekonomi mereka tidak menghasilkan apa pun yang ingin dibeli orang lain kecuali minyak, gas, dan senjata, serta tidak berkembang"...) (Russia Today, 17/12/2016).

  3. (Departemen Keuangan AS, pada 20/12/2016, mengumumkan pengenaan sanksi baru terhadap tujuh pengusaha Rusia dan delapan perusahaan sebagai protes atas pencaplokan Krimea oleh Rusia dan konflik yang sedang berlangsung di Ukraina, menurut laporan kantor berita Reuters... Sanksi tersebut menargetkan tujuh individu termasuk beberapa kader di "Bank Rusia" yang dianggap paling dekat dengan otoritas Rusia, serta empat perusahaan konstruksi dan transportasi yang beroperasi di semenanjung Krimea yang dianeksasi Moskow... Pemerintahan Amerika menambahkan bahwa langkah ini "menegaskan penolakan terhadap pendudukan Rusia atas Krimea dan penolakan untuk mengakui upaya pencaplokan semenanjung tersebut"...) (Dot Masr, 20/12/2016).

  4. Amerika memainkan isu kembali ke program Star Wars (Perang Bintang) untuk menanggapi pengembangan senjata nuklir Rusia yang terus berlanjut. Dalam kerangka ini, undang-undang Amerika telah diubah untuk memungkinkan militerisasi ruang angkasa (Perlu dicatat bahwa Kongres AS memasukkan dua amandemen penting pada rancangan undang-undang tersebut pada tahap ratifikasi, salah satunya menghapus batasan pengerahan perisai rudal Washington, sementara yang kedua menetapkan dimulainya pengerjaan desain komponen baru dalam sistem ini sebagai persiapan untuk pengerahannya di masa depan di ruang angkasa. Surat kabar Los Angeles Times mengutip Trent Franks, anggota DPR dari Partai Republik dan pengusul utama kedua amandemen tersebut, yang mengakui bahwa keduanya didasarkan pada program "Strategic Defense Initiative" yang diluncurkan oleh Presiden Ronald Reagan pada tahun 1983, yang juga dikenal sebagai "Star Wars"...) (Situs Dar al-Akhbar, 24/12/2016), dan tujuannya adalah untuk memicu ketegangan dengan Rusia.

  5. (Dewan Perwakilan Rakyat AS, Jumat kemarin 02/12/2016, mengadopsi rancangan undang-undang yang memberikan 3,4 miliar dolar kepada Departemen Pertahanan AS pada tahun 2017 untuk "menangkal Rusia". Sebanyak 390 anggota DPR mendukung sementara hanya 30 orang yang menolak RUU tersebut. Menteri Pertahanan AS Ashton Carter telah mengumumkan saat presentasi draf anggaran pertahanan kepada Kongres bahwa Amerika Serikat "memperkuat posisinya di Eropa demi sekutunya di NATO dalam menghadapi agresi Rusia"...) (Kantor Berita Sputnik Rusia, 03/12/2016).

  6. Selain itu, Amerika telah menurunkan derajat Rusia dalam penyelesaian krisis Suriah, dan menggantikan kemitraan bilateral Kerry-Lavrov yang sangat dibanggakan oleh Moskow—dan dipandang sebagai indikator kembalinya keagungan Rusia—dengan kemitraan Rusia-Turki. Meskipun Amerika terus menjalin kontak dan mendukung upaya Rusia-Turki di Suriah untuk memastikan pelaksanaan proyek-proyeknya, namun format Rusia-Turki alih-alih Rusia-Amerika dianggap sebagai penurunan status internasional Rusia dan menempatkannya setingkat dengan negara seperti Turki. Hal ini dapat dimasukkan dalam kerangka tekanan Amerika terhadap Rusia.

  7. Ketegangan ini benar-benar menakuti Rusia. Dalam tanggapannya terhadap sanksi Amerika yang dijatuhkan oleh Obama, Presiden Rusia mengatakan (bahwa Moskow berhak membalas sanksi baru Amerika terhadapnya, namun tidak akan turun ke level pemerintahan Amerika saat ini dan tidak akan menargetkan para diplomat... Ia menambahkan: "Kami tidak akan menciptakan masalah bagi para diplomat Amerika, dan kami tidak akan mengusir siapa pun. Kami juga tidak akan melarang anggota keluarga dan anak-anak mereka menggunakan tempat rekreasi biasa mereka selama liburan Tahun Baru. Terlebih lagi, kami mengundang anak-anak diplomat Amerika yang bertugas di Rusia untuk menghadiri perayaan Tahun Baru dan Natal di Kremlin"...) (Russia Today, 30/12/2016). Keengganan Moskow untuk membalas seperti biasa, yaitu dengan perlakuan timbal balik, menunjukkan dua hal:

Pertama: Kekhawatiran yang mendalam di Moskow terhadap tujuan dan konsekuensi dari krisis dengan Washington ini...

Kedua: Bahwa Moskow mengandalkan serah terima kepada pemerintahan baru Trump di Washington untuk merestrukturisasi hubungan kedua negara atas dasar yang memuaskan Moskow. Sebagaimana yang diketahui tentang lemahnya kecerdikan politik Rusia, mereka menyangka bahwa Presiden mendatang, Trump, akan berbeda dari pendahulunya, Obama, dalam memandang Rusia. Mereka mengabaikan fakta bahwa institusi kekuasaan yang luas di Amerika-lah yang memimpin presiden mana pun, dari partai mana pun, untuk terus melaksanakan kebijakan luar negeri negaranya, dan bahwa perbedaan antara Obama dan Trump jika terjadi, itu adalah sesuatu yang disengaja untuk melaksanakan kebijakan Amerika yang telah digariskan.

Kedua: Meninjau pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam soal:

  1. Sanksi keras dari pemerintahan Obama terhadap Rusia ini muncul di tengah ketenangan Amerika terhadap stabilitas peran Rusia dalam melaksanakan misi internasional di Suriah, dan bahwa Rusia menjalankan misi tersebut dengan sebaik-baiknya. Amerika telah menjebak Rusia di Suriah sedemikian rupa sehingga Rusia tidak mungkin keluar dari rawa Suriah. Ketika Amerika sudah merasa tenang dengan hal itu, ia menurunkan derajat Rusia sehingga rezim Turki sebagai agen menjadi mitranya di Suriah, menggantikan rezim Amerika yang asli... Oleh karena itu, ketegangan hubungan Amerika dengan Rusia dan peningkatan tekanan terhadapnya tidak ada hubungannya dengan masalah Suriah. Rusia secara konsisten melayani kepentingan Amerika di Suriah, dan hal ini sama sekali tidak diragukan oleh Amerika. Bahkan, kebijakan Rusia di Suriah telah menjadi tawanan bagi para pengikut Amerika—Iran dan sekutunya, rezim Suriah, Turki, serta oposisi yang loyal kepadanya—sehingga Rusia tidak dapat menempuh kebijakannya sendiri. Ia tidak bisa menarik diri dan meninggalkan Suriah dalam ketidakpastian, oleh karena itu ia memperkuat dan memperluas basis militernya di Latakia dan Tartus... Ia juga tidak bisa mengendalikan ritme pertempuran di sana karena tidak adanya kekuatan darat yang signifikan miliknya di Suriah. Oleh karena itu, peran Rusia di Suriah telah menjadi baku, bahkan terbelenggu oleh kebijakan Amerika dan para pengikutnya yang aktif dalam krisis Suriah... Sebab itu, ketegangan ini bukan karena Rusia meninggalkan peran yang telah digariskan Amerika untuknya di Suriah, karena Rusia memang tidak meninggalkan peran tersebut.

  2. Tidak boleh terlintas dalam pikiran bahwa sanksi Amerika yang diumumkan oleh Presiden Obama adalah reaksi kemarahan atas peretasan elektronik yang mungkin berkontribusi pada kekalahan Partai Demokrat dan kandidat presidennya, Hillary Clinton. Hal itu karena jika memang demikian, pemerintahan Obama akan menyegerakan masalah sanksi tersebut sebelum lembaga pemilihan (Electoral College) meratifikasi terpilihnya Trump secara resmi sebagai Presiden Amerika Serikat pada 19/12/2016... Adapun menggerakkan kasus ini setelah keberhasilan presiden terpilih dan pengesahannya oleh institusi konstitusional mereka, hal itu justru akan meragukan kredibilitas pemilu dan kredibilitas presiden mendatang tersebut, dan ini adalah sesuatu yang tidak akan diterima oleh pemerintahan Amerika mana pun... Seandainya kita berasumsi bahwa ada kondisi yang menghalangi sanksi sebelum pengesahan hasil, maka tuntutan pemahaman politik negara-negara besar jika terpaksa mengumumkan hasil setelah pengesahan kemenangan presiden, maka mereka akan menggunakan alasan lain selain peretasan untuk menghindari keraguan atas kemenangan presiden mendatang. Mengingat sanksi tersebut dilakukan setelah pengesahan kemenangan presiden secara resmi dengan dalih campur tangan Rusia dalam pemilu, maka itu bukanlah alasan yang sebenarnya.

  3. Mungkin ada yang mengatakan bahwa pengembangan senjata nuklir dan rudal ofensif Rusia adalah penyebab tekanan Amerika saat ini sebagai tanggapan atas pernyataan Presiden Rusia (Presiden Putin mengatakan dalam pernyataannya, selama pertemuan dengan pimpinan kementerian pertahanan di ibu kota Moskow: "Efisensi pasukan strategis nuklir harus ditingkatkan ke level baru secara kualitatif, yang memungkinkan untuk menghadapi risiko militer apa pun yang mungkin mengancam Rusia"...) (Situs Anadolu Agency, 22/12/2016). Hal ini, meskipun memiliki pengaruh, namun skala ekonomi Rusia yang kecil membuat upaya Moskow ke arah ini tidak serius, setelah Amerika Serikat dan Barat secara umum berhasil menghancurkan pilar-pilar industri Rusia yang luas pasca bubarnya Uni Soviet. Rusia pun berubah menjadi negara pengekspor bahan mentah, meskipun masih mempertahankan sebagian besar industri militernya. Artinya, Rusia tidak berupaya menyaingi Amerika secara internasional, melainkan menuntut Amerika agar menerima peran Rusia dalam politik internasional. Tuntutan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Amerika. Bahkan pelayanan Rusia kepada Amerika di Suriah tidak membuat Amerika mengakui Rusia sebagai negara besar dan melibatkannya dalam isu-isu internasional lainnya. Artinya, Rusia yang mewarisi Uni Soviet dan mewarisi lembaran sejarah kesepakatan Amerika-Soviet, berharap bahwa kerja samanya dengan Amerika di Suriah akan membawa pada kesepakatan yang komprehensif, sehingga ia menuntut Amerika untuk lebih banyak bekerja sama di arena internasional. Jika ini menunjukkan sesuatu, maka itu menunjukkan pendeknya pandangan politik Rusia. Amerika telah merobek lembaran kesepakatannya dengan Uni Soviet saat Uni Soviet masih memiliki eksistensi yang berpengaruh dan nyata di seluruh dunia, lalu bagaimana mungkin sekarang ia menerima hal itu dengan negara kecil—Rusia—sebagaimana yang disifatkan oleh Obama?! Rusia dengan ukuran kecil yang baru ini tidak mewakili ancaman nyata bagi Amerika yang mengharuskan ketegangan semacam ini. Semua ini menunjukkan bahwa pernyataan Rusia tentang pengembangan senjata nuklir bukanlah alasan sebenarnya bagi Obama untuk memperkeruh hubungan dengan Rusia.

Ketiga: Dengan demikian, kasus-kasus yang disebutkan di atas bukanlah alasan sebenarnya dari ketegangan ini, melainkan sesuatu yang lain yang dapat dipahami dengan merenungkan hal-hal berikut:

  1. Setiap politisi dapat dengan mudah menyadari bahwa dilema internasional utama bagi Amerika saat ini adalah bangkitnya Cina, dan kemampuannya untuk membangun ekonomi raksasa yang di dalamnya terkandung kemungkinan realistis untuk mengancam keunikan ekonomi Amerika di dunia. Jika ditambahkan dengan pengeluaran militer Cina yang melonjak cepat yang melampaui pengeluaran negara-negara seperti Rusia, Inggris, dan Prancis jika digabungkan, bahkan fakta bahwa banyak program militernya yang rahasia, maka Cina telah menjadi fokus utama para politisi Amerika. Pernyataan para pejabat Amerika semuanya mengarah ke sana dalam periode terakhir. Menteri Pertahanan AS Ashton Carter menganggap bahwa Cina telah meningkatkan kemungkinan militerisasi lebih lanjut, dan mengatakan bahwa Amerika berada dalam tahap transisi... (Washington- DPA: Menteri Pertahanan AS Ashton Carter mengatakan di sebuah forum pertahanan di negara bagian California "Setelah 14 tahun memerangi pemberontakan dan terorisme... kita berada di tengah tahap transisi strategis untuk merespons tantangan keamanan yang akan menentukan masa depan kita." Carter mengatakan bahwa reklamasi lahan oleh Cina di Laut Cina Selatan meningkatkan kemungkinan militerisasi lebih lanjut dan bahaya salah perhitungan yang lebih besar...) (Al-Quds Al-Arabi, 08/11/2015). Kemudian Presiden Obama menganggap bahwa masa depan Amerika ditentukan hari ini di Asia, (Presiden AS Barack Obama mengatakan bahwa kampanyenya untuk menyeimbangkan kembali kebijakan luar negeri Amerika agar lebih fokus pada Asia bukanlah "tren sesaat" dari kepresidenannya...) (Vientiane, Reuters, Youm7, 06/09/2016). Dan fokusnya pada Asia berarti menghadapi Cina.

  2. Amerika sebelumnya pada era Uni Soviet pernah menyaksikan pendekatan antara Cina dan Uni Soviet yang didorong oleh kesatuan partai komunis. Karena Amerika saat itu bekerja keras untuk mengalahkan Uni Soviet, ia menanggapi kedekatan tersebut dengan serius dan bekerja untuk memisahkan hubungan itu sebagai langkah penting guna melemahkan dan mengalahkan Uni Soviet. Saat itu muncul rencana Kissinger untuk merenggangkan hubungan antara Cina dan Uni Soviet dan ia berhasil secara signifikan... Sekarang realitasnya terbalik, Amerika takut akan kekuatan Cina dan memperhatikan kedekatan antara Cina dan Rusia, dan Amerika ingin menjauhkan kedekatan ini sebagai langkah penting untuk mengisolasi Cina guna melemahkan-nya; yaitu seperti yang dilakukannya sebelumnya tetapi dengan cara terbalik. Inilah yang diisyaratkan oleh surat kabar Washington Post, sebagaimana dikutip oleh Russia Today 18/12/2016 sebagai berikut: (Disebutkan dalam artikel tersebut bahwa 45 tahun yang lalu mantan Presiden AS Nixon melakukan upaya untuk mengubah komposisi "segitiga" Uni Soviet - Amerika Serikat - Cina, di mana ia bertaruh pada terobosan dalam pengembangan hubungan dengan Beijing. Pada 04/02/1972 Nixon mengadakan pertemuan dengan penasihat keamanan nasionalnya saat itu, Kissinger, untuk membahas kunjungan Nixon yang akan datang ke Cina. Kissinger mengatakan kepada Presiden Nixon dalam pertemuan ini bahwa "orang-orang Cina sama berbahayanya dengan orang-orang Rusia, bahkan dalam perspektif sejarah mereka lebih berbahaya daripada orang-orang Rusia", dan ia menambahkan kepada Presiden Nixon bahwa setelah 20 tahun maka "Presiden AS berikutnya, jika ia bijaksana seperti Anda, akan mengandalkan orang-orang Rusia dalam kebijakannya melawan orang-orang Cina").

  3. Dengan ini, sanksi Amerika baru-baru ini terhadap Rusia dapat dipahami, bahkan tekanan Amerika yang terus menerus sejak beberapa waktu lalu terhadap Rusia. Tekanan yang juga diikuti oleh sebagian besar anggota Partai Republik di Kongres—yaitu partai dari presiden mendatang Trump—selain Partai Demokrat. Tekanan ini adalah kebijakan baru Amerika terhadap Rusia, dengan tujuan menyeretnya ke dalam aliansi dengan Amerika Serikat melawan Cina. Seolah-olah Amerika mengatakan—dan ini juga yang dinyatakan oleh Rusia secara terang-terangan—bahwa pemerintahan Obama telah menghancurkan hubungan Amerika-Rusia dan membawanya ke titik terendah, namun Rusia memiliki kesempatan emas dengan kedatangan Presiden Trump untuk memperbaiki hubungannya dengan Washington! Artinya, institusi kekuasaan yang tetap di Amerika sengaja menggunakan sisa masa jabatan Obama untuk mempercepat ketegangan situasi dengan Rusia, sehingga Rusia tidak memiliki pelampung keselamatan dan harapan kecuali dengan pemahaman dengan pemerintahan Trump yang akan datang. Pemerintahan yang percaya pada kesepakatan (deal), artinya perbaikan hubungan dengan Rusia tidak akan terjadi kecuali dengan mengadakan kesepakatan besar dengannya terkait Cina, dengan memanfaatkan apa yang dirumorkan tentang rasa hormat Presiden mendatang Trump terhadap Presiden Putin, dan bahwa mereka dapat bersekutu sebagai teman melawan Cina.

  4. Yang memperkuat hal tersebut adalah bahwa Presiden mendatang Trump telah mulai meningkatkan ketegangan hubungan Amerika dengan Cina bahkan sebelum ia menjabat. Ia menyatakan akan melaksanakan janji kampanyenya untuk mengenakan pajak besar pada barang-barang Cina dan mendorong perusahaan Amerika untuk kembali. Ini adalah ancaman perdagangan besar bagi Cina. Ia juga berinisiatif menghubungi Presiden Taiwan dalam preseden berbahaya yang menunjukkan bahwa Amerika sedang memutar kartunya untuk menekan Cina, termasuk ancaman Amerika untuk melepaskan kebijakan "Satu Cina". Ini adalah ancaman politik besar bagi Cina. Oleh karena itu, prioritas utama pemerintahan baru Amerika adalah menangani bangkitnya Cina. Russia Today pada 18/12/2016 mengutip Washington Post (bahwa perilaku presiden terpilih AS Donald Trump menunjukkan bahwa ia sedang mempelajari kemungkinan meninjau kembali kebijakan Amerika terhadap Cina. Trump menyerukan kebijakan keras terhadap Beijing melalui pernyataan-pernyataannya dan panggilan teleponnya. Presiden terpilih AS itu telah melakukan panggilan telepon dengan Presiden Taiwan untuk pertama kalinya selama beberapa dekade. Kemudian, dalam wawancara dengan kanal Fox News Amerika, Trump menyatakan keraguannya atas kebenaran kepatuhan Washington pada prinsip-prinsip kebijakan "Satu Cina" yang telah dipraktikkan Amerika sejak kunjungan bersejarah Presiden Nixon ke Cina, sementara Trump menuduh Cina melakukan intrik perdagangan).

  5. Adapun bagaimana kesepakatan Trump dengan Rusia melawan Cina nantinya, Amerika pastinya tidak merencanakan untuk menempatkan ekonomi Rusia yang lemah untuk berhadapan dengan Cina, tidak juga merencanakan penggunaan budaya Rusia melawan Cina, karena Rusia adalah negara yang hampa dari budaya khusus setelah jatuhnya sosialisme di sana. Akan tetapi, mata Amerika terbuka pada kemampuan militer Rusia, yang dapat dimanfaatkan Amerika di sekitar Cina, seperti menugaskan Rusia untuk berpartisipasi melawan senjata nuklir Korea Utara, atau berpartisipasi dalam mengancam pasokan energi ke Cina dari Rusia atau dari Asia Tengah, atau bahkan berpartisipasi dalam memberlakukan kebijakan khusus tentang kebebasan navigasi di Laut Cina, serta berbagi upaya dengan Amerika untuk mengeluarkan Cina dari pulau-pulau di sana... Semua opsi tersebut, belum lagi mendorong Rusia ke konfrontasi langsung dengan Cina, semuanya merupakan bunuh diri internasional bagi Rusia. Namun Rusia mungkin mendapati dirinya terlibat dalam kebijakan-kebijakan Amerika tersebut sebagai imbalan atas tetap dipertahankannya status formalnya sebagai negara besar!! Sulit membayangkan Rusia mampu meloloskan diri dari tekanan Amerika untuk menempatkannya di pihaknya dalam menghadapi Cina. Rusia menderita pandangan politik yang sempit, dan penyakitnya ini telah menjadi kronis, sehingga ia tidak bisa memperkirakan konsekuensinya. Sebagaimana ia tampak tidak peduli terhadap reaksi umat Islam akibat intervensi brutalnya di Suriah karena pandangannya yang sempit—ia melihat umat Islam hanya pada sosok para raja dan presiden saat ini, sehingga ia tidak melihat adanya ancaman dari mereka—ia tidak menyadari bahwa Amerika menahan diri untuk tidak melakukan tugas ini sendiri di Suriah karena Amerika menyadari apa yang ada di balik para presiden dan raja tersebut. Oleh karena itu, sanksi Obama dan ketegangan yang disengaja ini adalah untuk menyudutkan Rusia dan menggiringnya ke arah Trump "temannya"! Sehingga jalan menjadi terbuka bagi kesepakatan Trump dengan Rusia untuk menjauhkannya dari Cina, bahkan untuk melakukan tindakan agresif terhadap Cina. Inilah alasan yang paling kuat dari ketegangan yang disengaja oleh Obama di akhir masa jabatannya untuk menyiapkan jalan bagi Trump guna mencapai tujuan kebijakan Amerika tersebut yang telah ditetapkan oleh institusi-institusi Amerika untuk era baru sebagaimana ditunjukkan oleh indikator-indikatornya... Sebab kebijakan Amerika ditentukan oleh institusi-institusi dan dilaksanakan oleh para presiden tidak peduli apa pun partai presiden tersebut.

  6. Adapun Cina, ia menyadari bahaya yang mengancamnya, sehingga ia mencoba merayu Rusia dengan investasi meskipun dengan hati-hati, melakukan latihan militer bersama, dan melakukan pemungutan suara bersama di Dewan Keamanan terkait veto untuk Suriah. Semua itu dilakukan untuk mencegah penggunaan Washington atas Rusia terhadapnya. Namun pandangan permusuhan terhadap Rusia di benak para politisi Cina hampir tidak tergoyahkan, hanya saja bahasa kepentingan baru yang dipaksakan oleh ekonomi Cina yang terus membesar, dan kebutuhan mendesaknya akan bahan mentah dan sumber daya energi yang keduanya tersedia di Rusia, mendorong pandangan permusuhan tersebut untuk bersembunyi di balik tirai.

Demikian pula Cina menyadari agresivitas Amerika terhadapnya, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa apa yang terjadi pada Obama saat kunjungan terakhirnya ke Cina berupa penghinaan adalah salah satu indikatornya (Dalam kunjungan terakhirnya ke Cina sebagai Presiden Amerika Serikat, Presiden AS Barack Obama mendapati dirinya terpaksa menggunakan tangga darurat di bagian belakang pesawat yang membawanya ke bandara Huangzhou untuk menghadiri KTT G20. Hal itu bukan karena kebakaran atau kerusakan teknis, melainkan karena otoritas Cina tidak menyediakan tangga khusus baginya untuk keluar dari bagian depan pesawat secara normal. Pengamat melihat Cina sengaja menghina Presiden AS tersebut dan bahwa hal itu mencerminkan tingkat ketegangan dalam hubungan antara kedua negara yang berbeda pendapat dalam banyak berkas dan isu, terutama pengumuman Amerika Serikat dan Korea Selatan tentang pengerahan perisai rudal di wilayah Korea Selatan, juga posisi Amerika terhadap sengketa yang ada antara Cina dan Filipina di Laut Cina Selatan, serta keputusan terbaru Washington untuk mengenakan tarif lebih besar pada impor baja Cina...) (Al-Jazeera, 05/09/2016).

  1. Di antara ironi zaman adalah bahwa penasihat keamanan nasional dan mantan Menteri Luar Negeri AS Kissinger, saat ini secara pribadi meskipun usianya sudah lanjut, adalah "makelar" rekonsiliasi Rusia dengan Presiden mendatang Trump. Dialah yang melakukan kunjungan ke Moskow dan pertemuan dengan Putin untuk mendorong ke arah ini, yaitu arah aliansi dengan Rusia melawan Cina. Rusia pun bertepuk tangan untuk itu karena menyangka bahwa Kissinger peduli pada kepentingannya! Telah disebutkan (bahwa Dmitry Peskov, juru bicara kepresidenan Rusia, menyatakan bahwa Moskow menyambut baik partisipasi mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger dalam memulihkan hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat. Peskov mengatakan dalam pernyataan pers Selasa ini bahwa Kissinger adalah salah satu politisi yang paling bijaksana, cerdas, dan berpengalaman, serta memiliki pengalaman mendalam dalam urusan Rusia dan dalam level hubungan Amerika-Rusia"...) (Situs Jaringan Media Arab, 27/12/2016).

Kecenderungan ini juga yang diisyaratkan oleh beberapa sumber terpercaya di Eropa. Russia Today pada 28/12/2016 mengutip sebagai berikut: (Surat kabar Jerman Bild menulis bahwa Kissinger memandang perbaikan hubungan dengan Rusia sebagai hal yang penting mengingat meningkatnya kekuatan Cina. Karena mantan Menteri Luar Negeri AS tersebut adalah negosiator yang berpengalaman dan ia pernah bertemu langsung dengan Presiden Putin, maka ia akan menjadi penengah dalam normalisasi hubungan antara kedua negara. Surat kabar Jerman tersebut mengatakan bahwa Trump berupaya mencabut sanksi terhadap Rusia "berdasarkan nasihat Henry Kissinger", hal ini juga ditunjukkan oleh "analisis yang dilakukan atas permintaan badan-badan Eropa yang kompeten", yang didasarkan pada data yang diperoleh dari tim transisi Presiden Trump...).

Semua itu menunjukkan bahwa Amerika sedang melaksanakan kebijakan nyata pada kedua sisi, Rusia dan Cina, yang pilar utamanya adalah mendorong Rusia untuk melayaninya di panggung Cina. Hal ini dimulai oleh pemerintahan Obama dengan meluncurkan fase tekanan terhadap Rusia, dan merencanakan agar Presiden mendatang Trump yang akan mengadakan kesepakatannya. Amerika tidak menunjukkan keraguan sedikit pun tentang keharusan respons Rusia terhadap tekanan Amerika dan keterlibatannya bersama Amerika melawan Cina.

Keempat: Demikianlah negara-negara besar dan bahkan negara yang tidak besar saling bersaing dalam mewujudkan kepentingannya dengan perbedaan dalam hal itu sesuai dengan perbedaan pengaruh di antara negara-negara tersebut. Persamaan di antara mereka adalah kesengsaraan dan keburukan yang nyata di dunia ini...

Dan yang menyakitkan adalah bahwa Islam belum memiliki negara yang memegang kendali urusan dan mengembalikan dunia ini ke dalam kesadarannya serta menyebarkan kebaikan di seluruh penjuru-nya, bukan hanya di negeri-negeri Islam, melainkan juga di wilayah-wilayah sekitarnya. Namun demikian, Islam memiliki laki-laki yang:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)." (QS al-Ahzab [33]: 23)

Dan mereka dengan izin Allah akan mengembalikan Daulah Islam, Khilafah Rasyidah yang akan membawa keseimbangan dunia menuju kebaikan.

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS at-Talaq [65]: 3)

7 Rabiul Akhir 1438 H 05/01/2017 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda