Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Mengucapkan (Ash-Shalatu Khayrun minan Nawm) adalah Sunnah

March 01, 2019
9709

(Seri Jawaban Syekh Al-Alim Atha' bin Khalil Abu ar-Rasytah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan Para Pengikut di Akun Facebook Beliau "Fikhi")

Jawaban Pertanyaan

Kepada Mohammad AL-khatib

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,

Salam hormat, selanjutnya; ada sebuah pertanyaan dan saya mengharapkan jawaban yang tegas untuknya.

Apakah ucapan (Ash-Shalatu khayrun minan nawm) dalam azan fajar adalah bid'ah?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh,

Pertanyaan Anda adalah tentang tathwib, yaitu: (Muazin menambahkan ungkapan "Ash-Shalatu khayrun minan nawm" sebanyak dua kali setelah hay'alatain dalam azan fajar). Hal itu bukanlah bid'ah, melainkan sunnah yang telah disebutkan dalam berbagai hadis dari Rasulullah saw.:

1- Abu Daud mengeluarkan dalam Sunan-nya dari Muhammad bin Abdul Malik bin Abi Mahdzurah, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sunnah azan? Beliau bersabda: Lalu beliau mengusap bagian depan kepalaku dan bersabda:

تَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، تَرْفَعُ بِهَا صَوْتَكَ، ثُمَّ تَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ، تَخْفِضُ بِهَا صَوْتَكَ، ثُمَّ تَرْفَعُ صَوْتَكَ بِالشَّهَادَةِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، فَإِنْ كَانَ صَلَاةُ الصُّبْحِ قُلْتَ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

"Engkau mengucapkan: Allahu Akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, engkau keraskan suaramu dengan itu, kemudian engkau mengucapkan: Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, engkau rendahkan suaramu dengan itu, kemudian engkau keraskan suaramu dengan syahadat: Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Hayya 'alash shalah, Hayya 'alash shalah, Hayya 'alal falah, Hayya 'alal falah, maka jika itu shalat Subuh engkau ucapkan: Ash-shalatu khayrun minan nawm, Ash-shalatu khayrun minan nawm, Allahu Akbar Allahu Akbar, La ilaha illallah." (HR Abu Daud)

Al-Albani mengatakan hadis ini sahih. Ibn Khuzaimah juga mengeluarkan yang semisal dalam Shahih-nya, namun melalui jalur Ibnu Juraij, ia berkata: Utsman bin as-Sa’ib mengabarkan kepadaku, dari Ummu Abdul Malik bin Abi Mahdzurah, dari Abi Mahdzurah. Demikian pula ad-Daruquthni mengeluarkan yang semisal.

2- Dalam riwayat lain milik Abu Daud melalui jalur Ibnu Juraij, teksnya sebagai berikut:

Al-Hasan bin Ali menceritakan kepada kami, Abu Ashim dan Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, ia berkata: Utsman bin as-Sa’ib mengabarkan kepadaku, ayahku dan Ummu Abdul Malik bin Abi Mahdzurah mengabarkan kepadaku, dari Abi Mahdzurah, dari Nabi saw. semisal kabar ini, dan di dalamnya terdapat:

الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ فِي الْأُولَى مِنْ الصُّبْحِ...

"Ash-shalatu khayrun minan nawm, Ash-shalatu khayrun minan nawm pada (azan) pertama dari shalat Subuh..."

Artinya bukan dalam iqamah, yaitu apa yang sering disebut sebagai azan kedua. Sebagaimana yang terdapat dalam hadis sahih yang dikeluarkan oleh al-Bukhari, ia berkata: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Kahmas bin al-Hasan menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Buraidah, dari Abdullah bin Mughaffal, ia berkata: Nabi saw. bersabda:

بَيْن كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْن كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

"Di antara setiap dua azan ada shalat, di antara setiap dua azan ada shalat," kemudian beliau bersabda pada yang ketiga kalinya: "Bagi siapa yang mau." (HR al-Bukhari)

3- An-Nasa'i mengeluarkan dalam Sunan-nya, ia berkata: Ibrahim bin al-Hasan mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Utsman bin as-Sa’ib, ia berkata: Ayahku dan Ummu Abdul Malik bin Abi Mahdzurah mengabarkan kepadaku dari Abi Mahdzurah, ia berkata: Ketika Rasulullah saw. keluar dari Hunain... maka Rasulullah saw. mendudukkanku di hadapan beliau, lalu beliau mengusap ubun-ubunku dan memberkahiku sebanyak tiga kali, kemudian bersabda: "Pergilah dan berazanlah di Baitullah al-Haram." Aku bertanya: Bagaimana caranya wahai Rasulullah? Lalu beliau mengajarkanku sebagaimana kalian berazan sekarang dengannya:

(الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله حي على الصلاة حي على الصلاة حي على الفلاح حي على الفلاح الصلاة خير من النوم الصلاة خير من النوم في الأولى من الصبح...)

"(Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Hayya 'alash Shalah, Hayya 'alash Shalah, Hayya 'alal Falah, Hayya 'alal Falah, Ash-shalatu khayrun minan nawm, Ash-shalatu khayrun minan nawm pada (azan) pertama dari shalat Subuh...)" (HR an-Nasa'i)

Al-Albani berkata: Sahih. Sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya, maknanya adalah bukan pada iqamah, yaitu apa yang disebut sebagai azan kedua.

4- Al-Baihaqi mengeluarkan dalam as-Sunan al-Kubra dari hadis Ibnu Ajlan, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata:

كَانَ الْأَذَانُ الْأَوَّلُ بَعْدَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ (الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ) مَرَّتَيْنِ

"Dahulu azan pertama setelah Hayya 'alash Shalah Hayya 'alal Falah adalah (Ash-shalatu khayrun minan nawm) dua kali." (HR al-Baihaqi)

Ibnu Hajar berkata: Sanadnya hasan. Al-Ya’muri berkata: Sanad ini sahih.

Sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, makna "azan pertama" adalah azan Subuh, bukan azan kedua yaitu iqamah. Maka tidak diucapkan dalam iqamah (Ash-shalatu khayrun minan nawm).

5- Ibnu Khuzaimah dan ad-Daruquthni meriwayatkan dari Anas bahwa ia berkata: Termasuk sunnah apabila muazin pada saat fajar mengucapkan Hayya 'alal falah, ia mengucapkan Ash-shalatu khayrun minan nawm. Ibnu Sayyidinnas al-Ya’muri berkata: Ini adalah sanad yang sahih.

6- Ibnu Hibban mengeluarkan dalam Shahih-nya: Al-Fadhl bin al-Hubab al-Jumahi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Musaddad bin Musarhad menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Harits bin Ubaid menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Abdul Malik bin Abi Mahdzurah, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah saw., ajarkanlah kepadaku sunnah azan. Ia berkata: Lalu beliau mengusap bagian depan kepalaku dan bersabda:

تَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ

"Engkau mengucapkan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,"

Beliau mengeraskan suaranya dengan itu, kemudian engkau mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

"Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,"

Dan engkau rendahkan suaramu dengan itu, kemudian engkau keraskan suaramu dengan syahadat:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

"Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah," sebanyak dua kali,

وَحَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، فَإِنْ كَانَتْ صَلَاةُ الصُّبْحِ قُلْتَ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

"Dan Hayya 'alash Shalah, Hayya 'alash Shalah, Hayya 'alal Falah, Hayya 'alal Falah, maka jika itu shalat Subuh engkau ucapkan: Ash-shalatu khayrun minan nawm, Ash-shalatu khayrun minan nawm, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah." (HR Ibnu Hibban)

Demikianlah nampak jelas bahwa tathwib dalam shalat fajar adalah sunnah yang tsabit (tetap). Jika ada perbincangan pada sebagian riwayat, sesungguhnya ada riwayat-riwayat yang telah disahihkan oleh sebagian ulama terkemuka dan diambil oleh banyak fukaha. Artinya, tathwib itu sudah ada pada zaman Rasulullah saw., para Khalifah Rasyidin, hingga hari kita ini. Hal itu bukanlah bid'ah, melainkan sunnah yang tsabit di mana terdapat dalil-dalil sahih mengenainya, sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas.

Saya berharap jawaban ini cukup dan memadai.

Saudara Kalian, Atha' bin Khalil Abu ar-Rasytah

23 Jumadil Akhir 1440 H 28 Februari 2019 M

Link jawaban dari halaman Facebook Amir (semoga Allah menjaganya): Facebook

Link jawaban dari halaman Google Plus Amir (semoga Allah menjaganya): Google Plus

Link jawaban dari situs web Amir (semoga Allah menjaganya): Web

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda