Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Penolakan Ayah terhadap Pekerjaan yang Ditawarkan kepada Putrinya

December 23, 2013
4287

** (Seri Jawaban Ulama Atha' bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan Para Pengunjung Halaman Facebook Beliau) **

Kepada Z.G

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.

Saya ingin bertanya kepada Anda mengenai masalah pekerjaan yang ditawarkan kepada saya, namun ayah saya menolaknya. Dari sudut pandangnya, masyarakat ini telah rusak, dan tugasnya sebagai seorang ayah adalah menjaga putrinya serta melindunginya dari hal-hal buruk yang dilakukan oleh sebagian anggota masyarakat.

Mengenai konteks pekerjaannya, yaitu sebagai pembimbing (mursyidah) dan tenaga medis (mus’ifah) untuk anak-anak berusia sembilan tahun. Bimbingan tersebut akan berkaitan dengan Al-Quds; tembok-temboknya, masjid-masjidnya, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Saya akan bekerja dengan rekan wanita. Namun, ayah saya memberi tahu saya bahwa masalahnya tidak berhenti pada pekerjaan pribadi dengan wanita ini saja. Beliau mengatakan bahwa keadaan akan berkembang ke arah lain yang tidak kita perlukan. Sejauh pengetahuan saya dan apa yang ditawarkan kepada saya, interaksi saya hanya dengan rekan wanita ini. Ayah saya bersikeras menolak pekerjaan ini, sama kuatnya dengan keinginan dalam diri saya untuk menjalani pengalaman ini. Beliau juga mengatakan bahwa pekerjaan semacam ini tidak dapat diterima sebelum berdirinya Negara Khilafah dan adanya pelindung (ra'in) yang melindungi rakyatnya. Bagaimana pendapat Anda?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.

Sesungguhnya yang paling utama adalah menaati ayahmu, karena beliau menginginkan kesucian dan kemurnian bagimu...

Pekerjaanmu sebagai pembimbing anak-anak tentang Al-Quds adalah mubah jika terbatas pada hal tersebut. Akan tetapi, lembaga tempat Anda bekerja mungkin tidak membatasi pekerjaannya hanya pada anak-anak saja, melainkan ada kemungkinan akan meminta aktivitas lanjutan yang di dalamnya terdapat ikhtilath atau semacamnya, dan tampaknya ayahmu mengkhawatirkan hal tersebut. Bagaimanapun, Anda tentu mengetahui bahwa para Sahabat ridhwanullah 'alaihim, baik laki-laki maupun perempuan, menjauhi beberapa jenis perkara mubah yang dekat dengan debu-debu keharaman agar mereka tidak terjerumus ke dalam keharaman.

Kesimpulannya: Berdiskusilah dengan ayahmu. Jika beliau yakin bahwa pekerjaan ini tidak tercampur dengan debu keharaman dan hatinya merasa tenang bahwa lembaga tempat Anda bekerja akan berkomitmen untuk tidak ada ikhtilath dalam pekerjaan tersebut, melainkan hanya terbatas pada bimbingan anak-anak, jika beliau merasa tenang dengan itu maka itu baik. Namun, jika beliau tidak setuju, maka taatilah beliau, meskipun pekerjaan itu murni mubah dan beliau tidak ingin Anda keluar untuk bekerja di sana. Taatilah beliau dan Anda akan mendapatkan pahala serta ganjaran. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menggandengkan ibadah kepada-Nya dengan berbakti (ihsan) kepada kedua orang tua, dan di antara bentuk berbakti kepada keduanya adalah menaati mereka dalam hal yang baik. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra [17]: 23)

Ahmad mengeluarkan dalam Musnad-nya dari Abdullah bin 'Amr, ia berkata: "Sesungguhnya ayahku mengadukanku kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda:

أَطِعْ أَبَاكَ مَا دَامَ حَيًّا، وَلَا تَعْصِهِ

"Taatilah ayahmu selama ia masih hidup, dan janganlah engkau mendurhakainya." (HR. Ahmad)

Saudaramu, Atha’ bin Khalil Abu al-Rashtah

Jawaban dari halaman Facebook Amir: Facebook

Jawaban dari situs web Amir: Situs Web

Jawaban dari halaman Google Plus Amir: Google Plus

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda