Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Pemikiran

Teks Pidato Amir Hizbut Tahrir, Al-Alim Al-Jalil Ata bin Khalil Abu al-Rashtah -hafizhahullah- Kepada Para Pengemban Dakwah yang Tulus dan Ikhlas Serta Seluruh Kaum Muslim di Seluruh Penjuru Dunia Menyambut Bulan Ramadan yang Penuh Berkah Tahun 1435 H

June 27, 2014
1215
استمع للمقال

Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau. Amma ba'du:

Kepada saudara-saudara pengemban dakwah yang tulus dan ikhlas...

Serta kepada seluruh kaum Muslim di mana pun mereka berada di muka bumi ini...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Aku memohon kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala agar menerima puasa dan qiyam para kaum Muslim, serta mengampuni dosa-dosa kita semua yang telah lalu, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw. dalam hadis yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra., beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang melaksanakan qiyam (salat malam) di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudara-saudaraku yang mulia, Allah SWT telah mewajibkan puasa Ramadan pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriah. Ramadan adalah bulan di mana Allah menurunkan Al-Qur'an:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Ramadan juga merupakan bulan di mana Allah memuliakan umat ini dengan kemenangan dan penaklukan yang nyata (fathul mubin). Perang Badar Al-Kubra terjadi pada tanggal tujuh belas Ramadan, di mana kaum musyrik Makkah mengalami kekalahan besar. Kemudian, terjadi peperangan menentukan lainnya di bulan mulia ini, mulai dari Fathu Makkah pada tanggal dua puluh Ramadan tahun kedelapan Hijriah, hingga Perang Al-Buwayb (dekat kota Kufah saat ini) yang merupakan "Yarmuk-nya Persia" di mana kaum Muslim yang dipimpin oleh Al-Mutsanna meraih kemenangan pada tanggal empat belas Ramadan tahun tiga puluh satu Hijriah. Selanjutnya, penaklukan Amoria di bawah pimpinan Al-Mu'tashim pada tanggal tujuh belas Ramadan tahun dua ratus dua puluh tiga Hijriah, dan Perang Ain Jalut di mana kaum Muslim mengalahkan pasukan Tatar pada tanggal dua puluh lima Ramadan tahun enam ratus lima puluh delapan Hijriah, serta berbagai kemenangan lainnya di bulan yang mulia ini.

Demikianlah, ibadah puasa senantiasa beriringan dengan Al-Qur'an Al-Karim yang tidak ada kebatilan di dalamnya, baik dari depan maupun dari belakang. Puasa beriringan dengan penaklukan dan kemenangan. Puasa beriringan dengan jihad. Puasa beriringan dengan penerapan hukum-hukum Allah. Setiap orang yang memiliki penglihatan dan mata hati menyadari bahwa hukum-hukum Allah SWT tidak dapat dipisahkan satu sama lain, baik itu urusan ibadah, jihad, muamalah, akhlak dan perilaku, maupun sistem sanksi (hudud) dan pidana (jinayat). Semuanya bersumber dari satu pelita (misykah). Siapa pun yang merenungkan ayat-ayat Al-Kitab yang mulia dan teks-teks hadis yang syarif akan mendapati hal ini dengan sangat jelas. Seorang Muslim membaca ayat:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

"Dan laksanakanlah salat." (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

Sebagaimana ia juga membaca:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ

"Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah." (QS. Al-Maidah [5]: 49)

Ia membaca ayat:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

"Diwajibkan atas kamu berpuasa." (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Sebagaimana ia membaca:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ

"Diwajibkan atas kamu berperang." (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Demikian pula, ia membaca tentang haji dalam hadis Rasulullah saw.:

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

"Ambillah dariku manasik (tata cara haji) kalian." (HR. Al-Baihaqi)

Sebagaimana ia membaca tentang hudud:

خُذُوا عَنِّي، خُذُوا عَنِّي، قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيلًا، الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ، وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ، وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ، وَالرَّجْمُ

"Ambillah dariku, ambillah dariku! Sungguh Allah telah memberikan jalan bagi mereka. Jejaka dengan perawan (yang berzina) hukumannya cambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun. Sedangkan duda dengan janda (yang berzina) hukumannya cambuk seratus kali dan rajam." (HR. Muslim)

Ia membaca dalam urusan muamalah:

البَيِّعَانِ بِالخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا -أو قال حتى يتفرقا-

"Dua orang yang berjual beli memiliki hak khiyar (memilih antara melanjutkan atau membatalkan) selama keduanya belum berpisah –atau beliau bersabda: hingga keduanya berpisah–." (HR. Bukhari)

Sebagaimana ia membaca tentang baiat kepada Khalifah:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

"Dan barangsiapa yang mati sementara di lehernya tidak ada baiat, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliah." (HR. Muslim)

Oleh karena itu, Islam adalah satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi, dan dakwah kepadanya adalah satu, yaitu untuk menerapkannya dalam negara, kehidupan, dan masyarakat. Siapa pun yang memisahkan di antara ayat-ayat Allah, dan berpendapat tentang pemisahan agama dari kehidupan, atau pemisahan agama dari politik, maka ia telah melakukan dosa yang sangat besar dan kejahatan agung yang akan menyeret pelakunya pada kehinaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat.

Sebagai penutup, sesungguhnya Allah SWT telah menyebutkan tentang doa di antara empat ayat mengenai puasa dalam surah Al-Baqarah. Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Penyisipan doa di antara ayat-ayat yang saling berkaitan ini menunjukkan bahwa hal itu memiliki tujuan tertentu. Allah memerintahkan puasa, kemudian memerintahkan doa, baru setelah itu menyempurnakan ayat-ayat puasa untuk mengagungkan kedudukan doa. Maka, perbanyaklah berdoa di bulan Ramadan, karena Rasulullah saw. bersabda dalam hadis syarif yang dikeluarkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ، وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاوَاتِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وجَلَّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

"Ada tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang dizalimi. Doanya diangkat ke atas awan dan pintu-pintu langit dibuka untuknya, kemudian Tuhan Yang Mahamulia lagi Mahaagung berfirman: 'Demi kemuliaan-Ku, Aku pasti akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu'."

Disebutkannya doa di antara ayat-ayat puasa merupakan dorongan untuk memperbanyak doa di bulan puasa, sekaligus penjelasan akan keutamaannya dan kabar gembira bahwa Allah akan mengabulkannya, karena Allah itu Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan.

Sebagai akhir dari penutup, sebagaimana kita wajib bersungguh-sungguh dalam menjalankan puasa agar Allah rida dan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu, kita juga wajib bersungguh-sungguh berjuang untuk melanjutkan kehidupan Islam (istinaful hayah al-Islamiyyah) dengan menegakkan Khilafah Rasyidah. Dengan begitu, kita termasuk orang-orang yang menang di dunia dengan menerapkan hukum-hukum Allah, bernaung di bawah panji Rasulullah saw., panji al-Uqab, panji Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Dan semoga kita juga termasuk orang-orang yang menang di akhirat dengan izin-Nya, bernaung di bawah naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Kita meraih kemenangan di dunia dan akhirat, dan itulah kemenangan yang agung.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara kalian, Ata bin Khalil Abu al-Rashtah
Amir Hizbut Tahrir

Malam Sabtu, penggenap bulan Sya'ban, tahun 1435 Hijriah.

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda