Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallaah, Allahu akbar, Allahu akbar, walillaahil hamd

Kepada umat Islam yang telah Allah muliakan melalui firman-Nya:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran [3]: 110)
Kepada para pengemban dakwah (hamalatud da'wah), syabab dan syababat Hizbut Tahrir, orang-orang yang bersih dan bertakwa—kami tidak memuji seorang pun di hadapan Allah—mereka yang mengucapkan perkataan yang baik dan melakukan amal yang saleh, sehingga Allah memuji orang yang memiliki sifat-sifat ini:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِين
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?'" (QS. Fussilat [41]: 33)
Kepada para pengunjung halaman yang terhormat, yang mendatanginya dengan benar dan tulus, serta mencari kebaikan yang dibawanya, semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan...
Kepada mereka semua: Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Saya mengucapkan selamat merayakan Idul Adha yang baik dan penuh berkah kepada Anda sekalian. Semoga Allah menerima amal ibadah kita... Saya memohon kepada Allah Swt. agar menerima haji para jemaah haji dan menjadikannya haji yang mabrur, usaha yang disyukuri, dan dosa yang diampuni. Semoga Allah Swt. memberikan taufik kepada mereka yang belum berhaji tahun ini agar dapat menunaikan haji pada tahun mendatang dalam keadaan baik dan penuh kebaikan. Allah Swt. senantiasa melindungi orang-orang saleh.
Wahai saudara-saudaraku, Idul Adha tahun ini datang sementara Khilafah kita masih belum ada. Akibatnya, kaum kafir penjajah (musta'mirin) dan para anteknya berani bertindak lancang terhadap kita. Mereka menyulut pembunuhan dan penumpahan darah di negeri-negeri kita. Kejahatan brutal mereka bervariasi, mulai dari bom barel, rudal penghancur, hingga senjata kimia... Semua itu dilakukan terkadang oleh tangan mereka sendiri, dan terkadang melalui tangan para anteknya. Ke mana pun Anda memandang, Anda akan menemukan darah kaum muslimin ditumpahkan secara zalim dan aniaya...
Di Timur ada Burma, tahukah Anda apa yang terjadi di Burma? Kondisi kaum muslimin di sana sangat menyayat hati akibat kejahatan dan kekejaman kaum Budha yang bahkan melampaui keganasan binatang buas di hutan... Setelah itu, Anda melihat Kashmir dan kejahatan India di sana... Jika Anda naik ke Utara, Anda akan melihat Chechnya, Kaukasus, lalu Krimea yang dicengkeram oleh tangan Rusia yang berlumuran kejahatan dan darah... Jika Anda berjalan ke arah Timur dari sana menuju Turkestan Timur, Anda akan melihat Tiongkok melakukan berbagai bentuk agresi...
Sedangkan jika Anda berjalan ke arah Selatan hingga menyentuh pesisir laut, Anda akan menemukan jantung negeri-negeri Islam, Tanah yang Diberkati (Al-Ardhu al-Mubarakah), Palestina, tempat kiblat pertama berada. Anda akan melihat Yahudi merampasnya dan melakukan berbagai kejahatan serta pembantaian di sana. Anda akan mendengar rintihan masjidnya (Al-Aqsa) yang menderita luka mendalam yang hampir membuatnya berada di ambang kehancuran...
Kemudian Syam, tahukah Anda apa yang terjadi di Syam? Darah mengalir di sana dari segala penjuru. Pembantaian brutal merata di lorong-lorong dan perkampungan akibat ulah diktator Syam, yang didukung dan dibantu oleh Amerika beserta para pengikutnya dari Rusia hingga Iran dan milisi-milisinya... Mereka semua menyulut api pembunuhan dan penumpahan darah ini dengan segala sarana pembunuh yang menghancurkan... Kini, pembantaian di Idlib mulai membayangi melalui pemboman brutal di sekitarnya, serta mobilisasi pasukan para tiran menuju ke sana, yang bercampur dengan kesepakatan-kesepakatan pengkhianatan di sekelilingnya...
Lalu Irak, saudara kandung Syam dalam tragedi dan musibah... Jika Anda berjalan ke Selatan menuju Yaman yang dahulu dijuluki negeri yang bahagia (Yaman Sa'id), Anda akan melihatnya telah menjadi sedih, didera oleh tragedi peperangan yang dipicu oleh negara-negara kafir penjajah yang menjadikannya medan persaingan di atas tengkorak dan darah kita...
Jika Anda berjalan ke arah Barat (Maghrib), Anda akan menemukan Libya di mana kaum muslimin saling membunuh di antara sesama mereka... Kemudian jika Anda menuju Afrika Tengah, Anda akan melihat bahwa kaum muslimin di sana telah tertimpa penderitaan, bahaya, penumpahan darah yang suci, serta pelanggaran kehormatan yang tak terlukiskan... Lalu tetangganya, Sudan, yang bagian selatannya telah dipisahkan dari utaranya, dan lukanya dibiarkan terus mengalir... Kemudian Somalia yang merintih karena rasa sakit yang luar biasa dan peperangan yang mengerikan selama bertahun-tahun...
Semua tragedi itu terjadi di negeri-negeri kaum muslimin, yang pada masa lalunya pernah mulia dengan Islam, panji Islam, azan Islam, dan keadilan Islam... Namun setelah runtuhnya Khilafah dan hilangnya Imam sebagai perisai (al-junnah), kondisinya berubah dan mereka merasakan pahitnya penderitaan di mana kaum kafir penjajah dan para penguasa zalim mengeroyok mereka... Belum lagi tragedi kaum muslimin di negeri-negeri kafir, di mana kondisi mereka sangat memprihatinkan. Bangsa-bangsa tersebut ingin agar kaum muslimin menanggalkan identitas mereka; pakaian wanita mereka dikepung, suara azan mereka berusaha keras dibungkam, dan kebencian terhadap mereka disebarkan di tengah masyarakat dan fasilitas publik, bahkan di jalanan... Ini adalah tragedi-tragedi sejak hilangnya Khilafah, yang satu mengikuti yang lain, musibah yang bertumpuk-tumpuk hingga membuat orang yang bijak sekalipun menjadi bingung...
Wahai saudara-saudaraku, tragedi-tragedi ini jika menimpa bangsa lain, niscaya bangsa tersebut akan runtuh atau hampir runtuh, dan akan berputus asa dari kelanjutan hidup jika masih ada sisa kehidupan pada mereka... Adapun umat Islam, sesungguhnya di dalam Kitab Tuhannya, Sunah Nabinya, bahkan dalam fenomena makhluk-Nya berupa siang dan malam, terdapat hal-hal yang menjadikannya tidak goyah dalam kesulitan dan tidak melemah tekadnya dalam krisis. Sebaliknya, kekuatannya semakin bertambah di atas kekuatan, dan tekadnya semakin kuat di atas tekad... Umat ini menjalankan tugasnya dengan kuat dan ihsan, serta menghadapkan dirinya kepada Tuhannya dengan tawakal yang tulus.
- Adapun di dalam Kitab Tuhannya, ayat-ayat Allah menyatakan hal itu:
فإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah [94]: 5-6)
حَتَّى إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ
"Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada kaum yang berdosa." (QS. Yusuf [12]: 110)
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرُ اللَّهِ قَرِيبٌ
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al-Baqarah [2]: 214)
Adapun dalam sirah Nabinya, itulah yang terjadi pada Rasulullah saw. ketika terjadi "Tahun Kesedihan" (Aamul Huzni). Saat itu Khadijah Ummul Mukminin r.a. wafat, kemudian wafatnya Abu Thalib yang senantiasa membantu Rasulullah saw., dan setelah itu penolakan keras dari penduduk Thaif yang membuat Rasulullah saw. terluka... Kemudian krisis semakin memuncak ketika mereka bersepakat untuk membunuh Rasulullah saw., lalu mereka mengejar beliau saw. sampai ke Gua Tsur, saat beliau saw. bersembunyi di dalamnya bersama sahabatnya Ash-Shiddiq Abu Bakar r.a. Mereka berdiri tepat di depan pintu gua dan tidak ada jarak antara mereka dengan Rasulullah saw. kecuali satu hasta atau kurang... Itu terjadi pada petang hari tersebut, dan satu atau dua hari setelah itu, Rasulullah saw. sudah mendirikan Daulah di Madinah dan meninggikan bangunannya sehingga menyinari dunia dan menyuarakan kebenaran...
Adapun dalam fenomena makhluk berupa malam dan siang, sesungguhnya semakin pekat kegelapan malam, maka akan diikuti oleh terbitnya fajar shadiq. Itu adalah tanda bagi orang-orang yang berakal...
Begitulah umat Islam, ia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ia menyadari bahwa kemudahan ada setelah kesulitan, kelapangan ada setelah kesempitan, dan terbitnya fajar ada setelah kegelapan malam... Goncangan tidak membuatnya goyah, melainkan ia terus bekerja dan bekerja dengan ikhlas karena Allah dan jujur kepada Rasulullah... Tidak membahayakannya orang-orang yang menyimpang darinya atau tersesat, karena mayoritas umat tidak rida akan pengganti bagi Islam...
Wahai saudara-saudaraku, kaum kafir itu telah menarik napas lega setelah runtuhnya Khilafah, sehingga mereka melakukan kejahatan-kejahatan tersebut dalam keadaan aman. Tidak ada yang menghadang mereka, tidak ada yang menghalangi kejahatan mereka, dan tidak ada yang mengusir mereka kembali ke negeri asalnya... Mereka menyadari bahwa perisai kaum muslimin telah hilang, dan karena itu mereka mengerahkan segala upaya agar perisai itu tidak kembali lagi. Karena mereka menyadari bahwa pembuat perisai ini adalah Khilafah di mana kemuliaan dan perlindungan kaum muslimin berada, maka mereka senantiasa mengejar orang-orang yang berjuang untuk mengembalikan Khilafah...
Begitulah, Hizbut Tahrir menjadi sasaran panah kaum kafir penjajah dan para antek mereka, yaitu para penguasa di negeri-negeri muslim. Akibatnya, Hizb mengalami berbagai tekanan, penyiksaan yang berujung pada kesyahidan akibat tipu daya kaum kafir, mata-mata kaum zalim, dan kebencian orang-orang yang dengki... Hizb telah dilarang di negeri-negeri dunia Islam, bahkan di negeri-negeri yang terbuka bagi berbagai macam partai seperti Indonesia, Hizb pun dilarang! Demikian pula di negeri-negeri yang pintunya terbuka lebar bagi segala jenis partai bahkan yang buruk sekalipun seperti Tunisia, Hizb juga dilarang... Adapun para syabab Hizb, penjara-penjara para thaghut menceritakan keadaan mereka; di dalam penjara yang sempit mereka disiksa, dan di luar penjara yang lebih luas mereka dikejar-kejar. Mengapa semua ini terjadi? Ini dikarenakan kalimat hak yang disuarakan oleh Hizb, yang menyengat mereka melebihi sabetan pedang, karena mereka tidak memiliki hujah untuk menghadapi kalimat hak tersebut. Semoga Allah membinasakan mereka, bagaimanakah mereka sampai dipalingkan?
Wahai saudara-saudaraku: Sesungguhnya tragedi yang menimpa umat dan orang-orang yang berjuang untuk Khilafah ini sangatlah berat. Seandainya bukan karena Allah Swt. telah menjadikan Idul Adha sebagai sumber kegembiraan dan memasukkan kebahagiaan serta sukacita ke dalam hati kaum muslimin, menjalin silaturahmi yang baik, dan agar umat menyebarkan ucapan selamat dan salam di antara mereka... Seandainya bukan karena janji dari Allah Swt. tentang kemuliaan dan kekuasaan (tamkin) yang akan datang bagi umat ini... Seandainya bukan karena adanya kabar gembira (bisyarah) dari Rasulullah saw. tentang kembalinya Khilafah Rasyidah... Dan seandainya bukan karena adanya sebuah partai yang ikhlas kepada Allah Swt., jujur kepada Rasulullah saw., bekerja siang malam seraya berdoa dan memohon kepada Allah agar memberikan kemenangan di tangannya dengan tegaknya Khilafah serta mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum muslimin... Seandainya bukan karena empat hal ini, niscaya senyuman akan enggan muncul di wajah. Sebab di dalam hati ada luka, dan di kerongkongan ada rasa sesak karena banyaknya tragedi yang mengepung kaum muslimin dari depan, belakang, kanan, dan kiri...
Khilafah telah hilang selama hampir satu abad, sehingga kaum muslimin menjadi terpecah-belah, dipimpin oleh para penguasa ruwaibidhah yang zalim... Belum lagi agresi kaum kafir penjajah dan sekutu-sekutunya terhadap negeri dan penduduknya, seolah-olah negeri kaum muslimin adalah medan pertempuran untuk menumpahkan darah kita dan melanggar kehormatan kita...
Namun, di tengah beratnya tragedi ini, Hizbut Tahrir merasa tenang dengan pertolongan Allah dan terealisasinya janji Allah Swt. serta kabar gembira Rasul-Nya saw. Hizb tidak berputus asa dari rahmat Allah selama ia membaguskan amal perbuatannya dengan izin Tuhannya. Hizb menyadari bahwa waktu kembalinya Khilafah telah tertulis di dalam kitab, dan setiap hari yang berlalu berarti kita semakin dekat satu hari menuju waktu tersebut. Partai yang memiliki karakteristik seperti ini tidak akan membiarkan keputusasaan masuk ke dalam hatinya, tekadnya tidak akan goyah, dan kekuatannya tidak akan melemah dengan izin Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Bahkan, kesulitan-kesulitan itu justru menambah kekuatannya. Kesulitan adalah ujian bagi laki-laki sejati, dan para syabab Hizb adalah laki-laki sejati (rijal) yang memohon kepada Allah Swt. agar menjadi bagian dari mereka yang Allah firmankan:
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (mendirikan) sembahyang, dan (membayarkan) zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang." (QS. An-Nur [24]: 37)
Mereka mengemban dakwah ini dengan penuh keyakinan berkat karunia Allah, dan dakwah ini akan tegak melalui tangan mereka insyaallah. Dengan demikian, akan terealisasi janji Allah Swt. dan kabar gembira Rasul-Nya saw. dalam tiga fasenya dengan taufik dan pertolongan Allah:
- Pertama: Dalam mengembalikan Khilafah berdasarkan manhaj Kenabian setelah masa kekuasaan yang memaksa (mulkan jabariyyatan). Imam Ahmad dan Ath-Thayalisi dalam musnadnya mengeluarkan hadis dari Hudzaifah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
ثُمَّ تَكُونُ جَبْرِيَّةً، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
"...Kemudian akan ada kekuasaan yang memaksa (diktator), ia akan tetap ada selama Allah menghendaki ia ada, kemudian Allah mengangkatnya jika Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian." (HR Ahmad dan ath-Thayalisi).
- Kedua: Dalam mencabut entitas Yahudi sampai ke akar-akarnya. Muslim mengeluarkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ، فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ
"Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu kaum muslimin membunuh mereka..." (HR Muslim). Dalam lafaz lain beliau saw. bersabda:
تُقَاتِلُكُمُ يَهُودُ، فَتُسَلَّطُونَ عَلَيْهِمْ
"Kalian akan memerangi Yahudi, lalu kalian akan diberi kekuasaan atas mereka." (HR Muslim).
- Ketiga: Dalam penaklukan Roma dengan izin Allah. Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya, begitu pula Al-Hakim (ia mensahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi) dari Abu Qabil, ia berkata: Kami berada di sisi Abdullah bin Amru bin al-Ash, ia berkata: Saat kami berada di sekitar Rasulullah saw. seraya menulis, tiba-tiba Rasulullah saw. ditanya: "Manakah dari dua kota yang akan ditaklukkan lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah (Roma)?" Maka Rasulullah saw. menjawab:
مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلًا، يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ
"Kota Heraklius-lah yang akan ditaklukkan lebih dulu, yaitu Konstantinopel." (HR Ahmad dan al-Hakim). Konstantinopel telah ditaklukkan, dan Roma pun akan ditaklukkan insyaallah...
Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya merenungkan apa yang tertulis di atas dengan akal yang sehat dan pemahaman yang bijaksana akan memunculkan harapan setelah rasa sakit, kabar gembira kesukacitan setelah realitas kesedihan, kemudahan setelah kesulitan, dan kebahagiaan yang telah dekat setelah penderitaan yang begitu panjang... Serta turunnya rahmat Allah setelah ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Kemudian kebaikan dan kemenangan... Kebaikan dan kemenangan... Kebaikan dan kemenangan.
وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
"Dan di hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Ar-Rum [30]: 4-5)
Sebagai penutup, saya memohon kepada Allah Swt. agar Idul Adha yang baik dan penuh berkah ini kembali lagi dalam keadaan umat Islam bernaung di bawah panji Khilafah Rasyidah, panji Al-Uqab, panji laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullaah... Saya juga memohon kepada-Nya agar para syabab Hizb berada di garis depan umat ini, bernaung bersama umat di bawah naungan Khilafah Rasyidah... Adapun bagi syabab yang ajalnya telah Allah tetapkan sebelum Idul Adha ini kembali lagi, saya memohon kepada Allah Swt. baginya agar ia mendapatkan naungan di bawah naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Akhir kata, saya sampaikan salam kepada Anda sekalian dan mendoakan kebaikan bagi Anda.
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Saudaramu
Malam 10 Dzulhijjah 1439 H / 21 Agustus 2018 M Ata bin Khalil Abu al-Rashtah Amir Hizbut Tahrir
