Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Analisis

Jawab Soal: Perkembangan Politik di Arena Suriah dan Libya

March 12, 2016
5307
استمع للمقال

Jawab Soal

Pertanyaan:

Dari memantau jalannya berbagai hal seputar gencatan senjata terakhir di Suriah hingga hari ini, nampaknya Amerika kali ini serius dalam masalah gencatan senjata dan mengadakan negosiasi untuk menetapkan pemerintahan sekuler di Suriah dari pihak oposisi dan rezim. Apakah hal ini benar? Dan apakah ini berarti Amerika telah mengabaikan gagasan untuk mencari agen pengganti bagi agen saat ini, Bashar, dan bahwa Amerika telah menetapkan kelanjutan kekuasaan Bashar?

Dan pertanyaan lain jika Anda mengizinkan, yaitu: Bahwa situasi di Libya setiap kali mendekati solusi kembali menjadi rumit. Mereka telah sepakat di Skhirat, dan kesepakatan tersebut mengakui legitimasi parlemen Tobruk, yang merupakan keuntungan bagi Tobruk... Namun demikian, ia menunda-nunda dalam memberikan kepercayaan kepada pemerintah, padahal as-Sarraj telah memenuhi tuntutan mereka dengan mengurangi jumlah menteri dari 32 menjadi 18 menteri. Bagaimana memahami penundaan ini? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:

Kami sebelumnya telah mengeluarkan "Jawab Soal" pada 19/01/2016 dengan judul: (Perkembangan Terakhir Krisis Libya), di mana kami menjelaskan masalah Libya... Demikian pula kami telah mengeluarkan selebaran tentang Suriah pada 11/12/2015 dengan judul: (Dua Kejahatan Besar dalam Satu Ikatan...) mengenai konferensi Riyadh dan pembentukan Komite Negosiasi. Kami juga mengeluarkan selebaran lain pada 24/02/2016 dengan judul: (Gencatan Senjata untuk Keamanan Rezim di Munich Dirancang oleh Amerika...) di mana kami menjelaskan masalah gencatan senjata saat ini dan negosiasi secara rinci. Dari sana jawaban dapat dipahami, karena peta peristiwa tetap berada dalam garis umum yang telah kami jelaskan dalam publikasi tersebut... Namun demikian, ini adalah penjelasan dan klarifikasi tambahan... tetapi sebelumnya saya akan menjelaskan perbedaan dalam konflik antara Suriah dan Libya:

Masalah Libya berbeda dengan masalah Suriah. Sebab konflik di Suriah terjadi antara Amerika beserta sekutu dan para pengikutnya melawan rakyat Suriah, dan bukan antara Amerika dengan negara besar lainnya. Hal ini karena Rusia melaksanakan rencana Amerika melalui kesepakatan kotor ( dirty deal ), karena Putin menyangka bahwa dengan melayani Amerika di Suriah, Amerika akan meredakan masalah perbatasan selatannya di sekitar Ukraina... Adapun Eropa, mereka berputar di sekitar Amerika, mengulangi apa yang dikatakannya untuk mendapatkan sesuatu atau sebagian kecil darinya! Rusia dan Eropa menyadari bahwa pengaruh ada di tangan Amerika dan mereka tidak berambisi untuk menyaingi pengaruhnya di Suriah... Artinya, konflik tersebut adalah antara Amerika melawan rakyat Suriah dan setiap Muslim yang tulus di belakang mereka.

Sedangkan di Libya, konflik tersebut adalah perebutan pengaruh antara Amerika dan Eropa, khususnya Inggris dan Prancis sampai batas tertentu, kemudian sedikit dari Italia... Oleh karena itu, Amerika merasa terpukul hingga tercengang melihat keteguhan rakyat Suriah dalam menghadapi rencana-rencana Amerika selama lima tahun revolusi Suriah. Namun di Libya, Amerika merasa tenang dengan kekuatannya dalam menghadapi Eropa, sehingga ia bertarung dengan penuh keyakinan terhadap kekuatan ini di hadapan Eropa...

Setelah penjelasan perbedaan ini, kami akan menyebutkan klarifikasi dan penjelasan tambahan mengenai apa yang ada dalam pertanyaan:

Pertama: Masalah Suriah:

Mengenai bahwa Amerika serius dalam masalah gencatan senjata dan negosiasi, ini benar... Adapun bahwa ia mengabaikan pencarian agen pengganti bagi Bashar—agen saat ini—maka ini tidak benar. Begitu Amerika menemukan penggantinya, ia akan mengakhiri fungsi Bashar sebagaimana yang dilakukannya terhadap para pengikutnya sebelumnya. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Amerika telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghentikan revolusi dan memadamkannya dengan kedok gencatan senjata, penghentian permusuhan, dan penghentian peperangan... Ia mengadakan konferensi di Jenewa, Wina, Riyadh, dan mengeluarkan resolusi-resolusi di Dewan Keamanan... Ini di luar upayanya menggagalkan revolusi melalui aksi militer oleh agennya Bashar, Iran, partainya di Lebanon, dan Rusia, sembari Amerika sendiri melakukan intervensi dan menyeret negara-negara bersamanya di bawah payung koalisi internasional dengan dalih memerangi organisasi ISIS dan terorisme... Akhirnya, Amerika menemukan celah melalui pertemuan Munich pada 12/02/2016 dalam upaya menghentikan revolusi dalam waktu seminggu dengan gencatan senjata. Ketika hal itu tidak terwujud, Menteri Luar Negerinya, Kerry, bertemu dengan mitranya dari Rusia, Lavrov, pada 22/02/2016 dan mereka mengumumkan dalam pernyataan bersama bahwa penghentian pertempuran akan mulai berlaku pada tengah malam Jumat/Sabtu 27/02/2016. Semua itu adalah pendahuluan untuk menetapkan proyek sekulernya dalam negosiasi yang sedang dipersiapkan secara serius di Jenewa dalam beberapa hari mendatang... Bukti bahwa Amerika serius adalah langkah-langkah yang diambilnya yang mengarah ke arah ini, terutama sejak tanggal 9 dan 10/12/2015 ketika konferensi Riyadh diadakan untuk mempersiapkan pembentukan badan oposisi guna bernegosiasi dengan rezim. Di antara langkah-langkah tersebut adalah:

  1. Amerika menyiapkan lingkungan pendukung di dalam Suriah melalui pengaruh para pengikutnya, "Turki dan Arab Saudi", dengan menciptakan suasana yang mendorong negosiasi tanpa penentangan. Indikasinya adalah:

a. Amerika menugaskan Arab Saudi untuk mengumpulkan para pengikut dan pendukung di Riyadh, terutama dari faksi-faksi bersenjata, serta membentuk komite negosiasi dengan metode wortel dan tongkat pemukul (carrot and stick) melalui uang dan senjata... Saudi berhasil dalam hal itu dan membentuk komite dari orang-orang yang menjual akhirat mereka demi dunia orang lain... Demikianlah Amerika berhasil, untuk pertama kalinya sejak meletusnya revolusi Suriah, memasukkan faksi-faksi bersenjata ke dalam komite negosiasi yang menerima negosiasi untuk berbagi kekuasaan dengan rezim dalam satu pemerintahan (Dalam konferensi pers yang diadakan Kamis malam, Ketua Pusat Riset Teluk Abdul Aziz al-Saqr mengatakan bahwa delegasi oposisi akan bertemu dengan delegasi rezim dalam sepuluh hari pertama bulan Januari mendatang... Kesepakatan tersebut menetapkan pembentukan Komite Tinggi yang terdiri dari 32 anggota, termasuk sepuluh dari faksi-faksi, sembilan dari Koalisi, lima dari Komite Koordinasi, dan delapan independen.) (Al-Jazeera Net 11/12/2015). Padahal sebelumnya, para negosiator adalah mereka yang tinggal di luar negeri yang tidak memiliki tempat di dalam negeri... Oleh karena itu, faksi-faksi yang masuk ke dalam komite tersebut telah mengecewakan rakyat, terutama mereka yang sebelumnya mendukung faksi-faksi tersebut karena mengira mereka bangkit untuk membebaskan rakyat dari sang thagut!

b. Kunjungan Erdogan ke Arab Saudi dan pembahasan mengenai masalah gencatan senjata serta negosiasi untuk melaksanakan proyek Amerika di Suriah, serta meyakinkan faksi-faksi mereka di Suriah untuk menyetujui gencatan senjata dan pembentukan komite dari oposisi yang berpartisipasi dalam negosiasi: (Presiden Turki Erdogan tiba pada hari Selasa di Arab Saudi dalam kunjungan untuk membahas berkas-berkas kawasan, terutama Suriah dan Yaman, dengan para pejabat. Segera setelah tiba di Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh, Erdogan menuju Istana al-Yamamah di mana ia disambut oleh Raja Saudi Salman bin Abdul Aziz, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita resmi Saudi.) (Al-Quds 29/12/2015).

c. Amerika mengadakan pertemuan-pertemuan pendahuluan bagi para negosiator untuk menjinakkan mereka terhadap solusi yang ingin dijalankannya. Ketika Amerika memperkirakan bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai keinginannya, ia menutup lingkaran tersebut dengan pendekatan yang dipercepat secara tidak biasa antara Turki dan Iran. Maka terjadilah kunjungan Davutoglu ke Iran meskipun ada pernyataan pedas antara keduanya, hal itu dilakukan untuk koordinasi dalam menggunakan pengaruh mereka terhadap faksi-faksi dan pengikut mereka di Suriah guna melaksanakan proyek Amerika di Suriah... (Perdana Menteri Turki, Ahmed Davutoglu, tiba pada Jumat malam 4 Maret di ibu kota Iran, Teheran, memimpin delegasi yang mencakup beberapa menteri, dalam kunjungan pertama perdana menteri Turki ke Iran sejak dua tahun lalu... Kantor berita Fars Iran menyebutkan bahwa Perdana Menteri Turki akan bertemu dengan para pejabat senior Iran untuk membahas cara-cara pengembangan dan penguatan kerja sama ekonomi dan perdagangan antara kedua negara...) (Russia Today 04/03/2016). Nampaknya mereka membungkus kunjungan itu dengan lelucon hambar yang tidak masuk akal bahkan bagi orang awam sekalipun, dengan menonjolkan bahwa pertemuan tersebut adalah untuk tujuan perdagangan!!

  1. Selama aksi-aksi politik busuk dari para agennya untuk menyiapkan suasana regional dan domestik bagi negosiasi, Amerika juga menciptakan suasana penuh tekanan untuk melaksanakan proyek Amerika dengan tindakan-tindakan mulai dari pemalsuan fakta guna menunjukkan bahwa solusi negosiasi yang ditawarkan Amerika adalah solusi terbaik bagi Suriah... hingga aksi-aksi militer darinya, atau dari Rusia yang berjalan bersamanya dalam kesepakatan kotor, atau dari para pengikut dan alat regional serta lokalnya... Di antara tindakan-tindakan tersebut adalah:

a. Amerika bekerja untuk menanamkan gagasan bahwa rakyat Suriah berada di antara dua pilihan: menyetujui proyek sekuler Amerika untuk Suriah melalui negosiasi, atau pembagian (partition) Suriah... Karena ia menyadari bahwa rakyat Suriah membenci pembagian wilayah, ia mengira mereka akan menerima negosiasi untuk menetapkan proyek sekulernya di Suriah dengan membentuk pemerintahan bersama antara rezim dan oposisi... Agar Amerika memberikan kredibilitas pada gagasan ini, Amerika dan Rusia mengeluarkan pernyataan-pernyataan tentang pembagian wilayah guna menekan negosiasi, menakut-nakuti para negosiator, dan menciptakan suasana yang sangat panas bagi rakyat Suriah bahwa jika mereka tidak menyetujui proyek Amerika untuk mendirikan negara sekuler dari rezim dan oposisi, maka Suriah tidak akan tetap bersatu melainkan akan dibagi-bagi... Oleh karena itu Kerry menyatakan: (Mungkin sudah terlambat untuk menjaga Suriah tetap bersatu jika kita menunggu terlalu lama) (Reuters 23/02/2016)... Rusia juga berbicara tentang federalisme di Suriah, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menyatakan: (Moskow berharap para peserta dalam negosiasi Suriah akan sampai pada gagasan pembentukan republik federal, yang merupakan tuntutan kaum Kurdi) (Saluran Al-Hadath 29/02/2016)... Semua itu untuk menekan para negosiator dari oposisi agar menetapkan sistem politik yang akan dipaksakan Amerika, jika tidak maka pilihannya adalah pembagian wilayah... Amerika atau sekutunya lupa atau pura-pura lupa bahwa rakyat Suriah, sebagaimana mereka menolak pembagian wilayah, mereka juga menolak proyek sekuler Amerika. Mereka menganggap kedua proyek itu adalah kejahatan besar yang dirancang oleh Amerika, dan tidak akan lewat kecuali di atas pundak para pengkhianat umat, dan mereka pasti akan musnah dengan izin Allah...

b. Intensifikasi serangan udara Rusia selama negosiasi sebagai pesan yang ditujukan kepada para negosiator agar menerima negosiasi untuk menetapkan proyek Amerika, jika tidak maka serangan udara akan ditingkatkan. Oleh karena itu, serangan udara Rusia meningkat secara mencolok selama pembicaraan Geneva 3 yang dimulai pada awal Februari 2016, dan semakin hebat dalam mengepung Aleppo sebagai sarana penekan bagi para negosiator...

c. Melontarkan ancaman terselubung bahkan terang-terangan kepada siapa pun yang menolak negosiasi. Dalam konteks ini, Kerry menyatakan pada 24/02/2016: (Bahwa ada diskusi penting yang sedang berlangsung saat ini mengenai rencana alternatif jika kita tidak berhasil di meja perundingan.) (Reuters 24/02/2016). Al-Jubeir mengulangi perkataan tuannya dengan mengatakan: (... dan jika kita tidak bisa melanjutkan gencatan senjata, maka ada pilihan lain, sebagaimana yang disebutkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika, ada rencana B, jika terbukti bahwa tidak ada keseriusan dari pihak rezim Suriah atau dari pihak sekutu, maka pilihan lain akan berlaku, dan fokus akan tertuju padanya) (Situs CNN Arabic 28/02/2016).

Dari apa yang telah disebutkan di atas, tampak jelas bahwa Amerika benar-benar serius dalam masalah gencatan senjata dan negosiasi untuk mewujudkan proyek sekulernya di Suriah.

Nampaknya sarana-sarana ini berhasil menjadi dalih dan pembenaran bagi komite negosiasi oposisi untuk terus bernegosiasi dengan rezim: (Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura mengumumkan kemarin bahwa putaran baru pembicaraan yang bertujuan menghentikan konflik di Suriah akan diadakan di Jenewa dari tanggal 14 hingga 24 Maret di bawah pengawasan organisasi internasional...) (Al-Riyadh, Kamis 10 Maret 2016). Kemudian komite oposisi mulai menyiapkan suasana untuk menyetujui negosiasi (Komite Tinggi Negosiasi yang mewakili faksi-faksi oposisi Suriah mengatakan hari Rabu, 9 Maret 2016, bahwa mereka melihat agenda yang diusulkan oleh PBB untuk pembicaraan damai sebagai hal yang positif dan bahwa mereka mencatat penurunan pelanggaran gencatan senjata oleh pasukan pemerintah pada hari sebelumnya. Salem al-Muslat, juru bicara Komite Tinggi Negosiasi, mengatakan bahwa komite tersebut akan segera mengambil keputusan akhir mengenai partisipasi dalam negosiasi yang dijadwalkan di Jenewa.) (DW 09/03/2016). Kemudian situs Russia Today pada 11/03/2016 melaporkan (Komite Tinggi Negosiasi "Oposisi Suriah" mengumumkan bahwa mereka akan berpartisipasi dalam putaran negosiasi yang dijadwalkan di Jenewa Senin depan...) (Russia Today 11/03/2016).

  1. Adapun bahwa Amerika telah mengabaikan pencarian agen pengganti, maka ini tidak benar... Sebab Bashar telah kehilangan kemampuan untuk menjamin kekuasaan yang stabil di Suriah yang melaluinya ia dapat melayani kepentingan Amerika. Amerika hanya menginginkan keberadaannya dalam masa transisi sehingga selama masa itu ia dapat mencari agen baru dengan wajah yang tidak sehitam wajah Bashar, yang mampu menipu orang banyak, melaksanakan kepentingannya, dan tersenyum kepada orang-orang! Amerika sangat berkepentingan untuk mendirikan pemerintahan sekuler agen di Suriah yang melayani kepentingannya sebagaimana yang dilakukan Bashar dan ayahnya sebelumnya. Bahkan aroma pembagian wilayah yang busuk yang ia sebarkan, kecil kemungkinan ia akan mengadopsinya di Suriah kecuali jika ia gagal dalam membangun agen pengganti berikutnya bagi Bashar—agen saat ini... Oleh karena itu, yang penting bagi Amerika sekarang adalah gencatan senjata agar ia dapat bekerja dengan tenang dalam melaksanakan proyek-proyeknya dengan mendirikan pemerintahan sekuler dari rezim dan oposisi, hingga ia menemukan pengganti untuk menggantikan posisi Bashar... Amerika menganggap gencatan senjata ini dan komitmen oposisi terhadapnya—terutama keberhasilannya melibatkan beberapa faksi yang disebut Islami dalam menerima gencatan senjata dan negosiasi—sebagai kesuksesan terbesarnya sejak lima tahun dalam menghadapi revolusi melawan pengaruh dan para agennya di Syam... Rusia juga menganggap hal itu sebagai kesuksesan besar dan kesempatan untuk mengokohkan rezim, oleh karena itu delegasi Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, mengatakan kepada surat kabar Kommersant mengomentari kesepakatan Munich: (Bahwa Damaskus, saya harap, menyadari bahwa ini adalah kesempatan unik bagi Suriah setelah lima tahun kehancuran yang terus menerus.) (AFP 19/02/2016). Setelah itu, Bashar Assad mengumumkan kesediaannya untuk menerima gencatan senjata.

  2. Inilah perhitungan Amerika, Rusia, para pengikut, dan pendukungnya... Adapun perhitungan rakyat Suriah yang ikhlas adalah hal lain yang akan mengejutkan proyek-proyek kaum kafir, penjajah, para agen mereka, dan siapa pun yang berputar di orbit mereka, serta mengembalikan makar mereka ke leher mereka sendiri dengan izin Allah:

وَمَا كَيْدُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

"Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam kesia-siaan." (QS Ghafir [40]: 25)

Sesungguhnya laki-laki Syam bukanlah mereka yang berkumpul di Intercontinental Riyadh di seputar harta dan kesesatan lalu membentuk komite negosiasi... Mereka bukan pula para pengkhianat umat yang condong ke mana pun harta kotor itu condong... Mereka bukan pula para penipu yang berbicara tentang bernegosiasi dengan rezim namun di saat yang sama mengatakan bahwa tidak ada tempat bagi kepala rezim, padahal siapa yang tidak menerima tempat bagi pemimpinnya maka ia tidak akan menegosiasikan rezimnya! Mereka bukan pula orang-orang yang didiktekan negara sipil sekuler lalu mereka menundukkan kepala tanda setuju sementara mereka mengklaim diri sebagai orang Islam! Mereka bukan pula orang-orang yang berbicara tentang demokrasi yang menghalalkan dan mengharamkan dengan hukum manusia sebagai ganti dari hukum Rabb manusia, padahal Allah sebaik-baik Pemberi Keputusan berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

"Keputusan itu hanyalah milik Allah." (QS Yusuf [12]: 40)

Mereka bukanlah orang-orang itu... melainkan mereka adalah singa-singa Syam yang dikenal umat karena kejujuran dan keikhlasan mereka, dan umat tahu bahwa kebaikan tidak akan pernah putus hingga hari kiamat... Merekalah yang berseru dengan hati dan lisan mereka: "Ia hanya untuk Allah, ia hanya untuk Allah"... Merekalah yang menginginkan Syam sebagaimana yang dicintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ untuk menjadi:

عُقْرُ دَارِ الْإِسْلَامِ بِالشَّامِ

"Pusat Darul Islam itu ada di Syam." (HR Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir dari Salamah bin Nufail)

Merekalah yang menolak pembagian wilayah dengan kekuatan yang sama dengan penolakan mereka terhadap proyek-proyek sekuler Amerika dan semua proyek kaum kafir dan munafik... Mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan jujur di bumi Syam, yang teguh di atas kebenaran yang mereka pegang, yang menyadari bahwa kebatilan memiliki giliran (sesaat) dan kebenaran memiliki banyak giliran (kemenangan), sehingga mereka tidak berkompromi dengan agama dan umat mereka... Merekalah yang melihat dengan mata kepala sendiri bahwa revolusi mereka benar-benar penyingkap dan pembongkar, karena ia telah menyingkap para konspirator dan membongkar kedok kaum munafik, dan mereka semua sekarang berada di tempat terbuka, sehingga tidak ada yang tertipu oleh mereka kecuali orang yang lalai dan tidak ada yang merasa aman dari makar mereka kecuali orang bodoh... Mereka adalah orang-orang yang tenang bahwa proyek-proyek kaum kafir akan menemui kegagalannya dari arah yang tidak mereka sangka-sangka.

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ

"Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (QS Asy-Syu'ara [26]: 227)

Kedua: Masalah Libya:

Sebagaimana yang kami sebutkan sebelumnya, masalah Libya berbeda dengan masalah Suriah. Karena konflik di Suriah adalah antara Amerika bersama sekutu dan pengikutnya melawan rakyat Suriah, bukan antara Amerika dengan negara besar lainnya. Sebagaimana halnya di Libya, di mana konflik di sana adalah antara Amerika dengan Eropa, khususnya Inggris dan Prancis sampai batas tertentu, kemudian sedikit dari Italia. Ini adalah konflik internasional pada dasarnya, meskipun alat-alat lokal dikerahkan di dalamnya...

Setelah penjelasan perbedaan ini, kami akan menyebutkan klarifikasi dan penjelasan tambahan mengenai apa yang ada dalam pertanyaan tentang Libya:

  1. Perlu diperhatikan bahwa Amerika tidak fokus pada solusi politik dan keberhasilannya di Libya, berbeda dengan apa yang dilakukannya di Suriah. Sebaliknya, Amerika mengancam dengan intervensi militer, menuntut hal itu di Dewan Keamanan, dan bekerja untuk menghambat pencapaian solusi politik. Bahkan Amerika mulai melancarkan serangan udara sporadis sejak November tahun lalu, di mana ia mengatakan telah membunuh salah satu orang yang dicarinya. Kemudian sekitar 20 tentaranya memasuki pangkalan militer Libya lalu keluar darinya. Kemudian terjadilah operasi terakhir yang dilakukan pesawat-pesawat Amerika pada 19/02/2016 yang menewaskan 49 orang yang diklaim sebagai anggota ISIS, sebagian besar dari Tunisia. Ini merupakan operasi terbesar dengan jumlah korban tewas terbanyak... Nampaknya Amerika akan melanjutkan serangan-serangan semacam ini: (Obama memimpin pertemuan Dewan Keamanan Nasional pada Kamis 28/01/2016 yang dikhususkan untuk membahas situasi di Libya, di mana negara-negara Barat besar khawatir bahwa kekosongan konstitusional di Libya akan menjadi tanah subur bagi pertumbuhan organisasi teroris... Gedung Putih mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Presiden memberikan arahan kepada tim keamanan nasional untuk melanjutkan upaya memperkuat pemerintahan dan mendukung upaya saat ini untuk memerangi terorisme di Libya dan negara-negara lain...") (Middle East Online 29/01/2016). Demikianlah Amerika menetapkan kebijakan melancarkan serangan udara militer atau intervensi militer tanpa adanya resolusi internasional dengan dalih organisasi dan terorisme...

  2. Keputusan ini menunjukkan tingkat bahaya situasi bagi Amerika di Libya, dan ini bukan karena ancaman organisasi sebagaimana yang ditonjolkan, melainkan itu dijadikan dalih untuk intervensi. Bahkan ada negara-negara besar yang menghalangi Amerika untuk membentangkan pengaruhnya di Libya. Karena itulah kita melihat Amerika bertindak seolah-olah tidak peduli dengan kesepakatan final yang ditandatangani di Skhirat, Maroko pada 17/12/2015 dan tidak fokus pada pelaksanaannya. Sebagian besar pembicaraannya adalah seputar intervensi militer di Libya terhadap apa yang ia sebut terorisme. Jika kesepakatan ini menguntungkannya, tentu ia akan berusaha keras untuk menerapkannya dengan segala kekuatan yang dimiliki... Semua itu terjadi setelah ia tidak mampu, melalui agennya Haftar sejak tahun 2014, untuk mengendalikan dan membentangkan pengaruhnya di Libya serta menjadikan rezim berada di tangannya. Karena itulah ia mulai mengintervensi secara langsung tanpa mendapatkan resolusi internasional dari Dewan Keamanan, di mana Inggris menghalangi keluarnya resolusi yang mengizinkan intervensi militer di Libya. Oleh karena itu, penerapan solusi politik akan terus terhambat.

  3. Amerika berpura-pura menerima kesepakatan politik di Skhirat sementara ia bekerja untuk menunda pelaksanaannya. Kita dapat mengonfirmasi hal ini dengan pernyataan John Brennan, Direktur CIA pada 25/02/2016 di mana ia berkata: (Bahwa Amerika Serikat menjalankan kebijakan dua jalur di lapangan di Libya; pada satu jalur melakukan upaya diplomatik untuk menyatukan dua pemerintahan yang bersaing, sembari melancarkan operasi antiterorisme terhadap ISIS yang bahayanya semakin besar.) (AFP 25/02/2016). Menteri Luar Negerinya, John Kerry berkata: (Kami bekerja sangat keras dalam beberapa bulan terakhir khususnya untuk membentuk pemerintahan di Tripoli. Dan jika mereka tidak dapat bersepakat, Libya akan menjadi negara gagal.) (Reuters 24/02/2016). Ia mengklaim telah bekerja keras untuk membentuk pemerintahan! Yakni menurut standar Amerika, jika tidak maka ia akan menggagalkannya. Karena pemerintahan Skhirat tidaklah demikian, ia bekerja untuk menghambat pembentukannya dengan dalih yang lemah melalui para agennya di parlemen Tobruk ketika mereka mengatakan menolak pembentukannya yang terdiri dari 32 menteri. Perdana Menteri Fayez al-Sarraj sebelumnya telah pergi ke Mesir pada 22/01/2016 dan bertemu penguasanya Abdel Fattah el-Sisi dalam kunjungan yang berlangsung selama 6 hari. Al-Sarraj mencoba menyenangkan para agen Amerika, maka ia mengumumkan di akhir kunjungannya kesediaannya untuk meringkas jumlah menteri. Segera setelah al-Sarraj meninggalkan Kairo, Haftar mendarat di sana untuk meninjau hasil dan menerima instruksi tentang apa yang harus ia lakukan, serta mengamankan lebih banyak dukungan baginya. Ini berarti Amerika tidak puas dengan pembentukan pemerintahan tersebut, karena pembentukannya tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan... Al-Sarraj kemudian meringkas jumlah anggota pemerintahan menjadi 18 menteri lalu mengajukannya kepada parlemen Tobruk pada 23/02/2016 namun mereka menolaknya. Bahkan sebuah geng bersenjata yang mereka katakan tidak dikenal menyerang anggota parlemen yang datang untuk memberikan suara dan bekerja untuk mencegah mereka masuk. Kuorum tidak terpenuhi di mana hanya 89 anggota yang hadir dari total 200 anggota parlemen, sehingga ketua parlemen membubarkan sidang. Maka Amerika, melalui geng-gengnya dan anggota parlemen yang setia padanya, bekerja untuk melakukan penghambatan...

  4. Adapun alasan penghambatan ini adalah karena mayoritas kalangan politik di Libya merupakan sisa-sisa Qaddafi, yakni berloyalitas kepada Eropa... Formasi menteri mana pun akan setipe dengan itu sebagaimana yang ada dalam kementerian baru. Amerika mengandalkan Haftar dan segelintir militer di sekitarnya serta berharap darinya untuk membangun basis kekuatan dengan kalangan politik baru yang mendapatkan bagian terbesar dalam pemerintahan dan mendominasinya, namun hingga kini ia belum mampu dan tidak semua aksi militer sukses melainkan tersendat. Karena itulah, Amerika menghambat solusi politik sebisa mungkin melalui intervensi militer darinya, dari Haftar, dan dari para pengikutnya, hingga ia mampu menjamin pemerintahan di mana ia mendapatkan "bagian singa" (lion's share) di dalamnya... Maka intervensi militer adalah sarananya untuk mengokohkan pengaruh politiknya di Libya, dan nampaknya ia tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai.

  5. Ini berkebalikan dengan Eropa, yang bekerja untuk menyukseskan kesepakatan dan pembentukan pemerintahan serta pengakuannya karena Eropa masih menguasai kalangan politik, dan buktinya banyak. Presiden Prancis Hollande telah bertemu dengan agen Inggris, Raja Maroko Muhammad VI di Prancis pada 17/02/2016 dan mereka membahas situasi di Libya lalu mengumumkan bahwa mereka mendesak parlemen Libya untuk memberikan kepercayaan kepada pemerintahan konsensus nasional yang dipimpin oleh al-Sarraj. Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond juga mengunjungi Aljazair dan bertemu dengan Menteri Luar Negerinya Ramtane Lamamra pada 19/02/2016 dan menegaskan di sana bahwa ("Intervensi militer di Libya tidak mewakili solusi yang paling tepat untuk menyelesaikan krisis yang melanda negara tersebut dan menyerukan solusi politik". Menteri Aljazair mendukung perkataan mitranya dari Inggris dan berkata: "Kami tidak percaya bahwa intervensi militer merupakan solusi untuk menyelesaikan krisis di Libya. Semua upaya yang dikerahkan bertujuan untuk memungkinkan Libya membentuk pemerintahan persatuan nasional yang akan efektif dalam perjuangannya melawan terorisme...") (Al-Khobar Aljazair 19/02/2016). Jadi Inggris dengan didukung Prancis juga menggunakan kekuatan regional mereka untuk menyukseskan proses politik dan menghambat intervensi militer yang dipromosikan oleh Amerika...

Adapun pernyataan-pernyataan tentang aksi militer dari beberapa negara Eropa yang terdengar, hal itu hanyalah untuk berjaga-jaga agar lapangan tidak dikosongkan bagi Amerika jika tidak ada pilihan lain kecuali intervensi. Media massa melaporkan bahwa Inggris mengirimkan kekuatan militer ke Libya, gerbang Africa pada 12/01/2016 mengutip situs Socialist Worker Inggris bahwa (Pemerintah Konservatif mengirimkan 1.000 tentara Inggris ke Libya untuk mempertahankan ladang minyak yang mulai terancam dengan kemajuan pasukan ISIS. Sebuah kapal perusak milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris juga menuju pesisir Afrika Utara. Sementara Angkatan Udara diminta bersiap untuk serangan udara terhadap target-target di Libya). Surat kabar Prancis Le Monde pada 24/02/2016 mempublikasikan bahwa (Unit dari pasukan khusus berpartisipasi dalam perang rahasia melawan militan ISIS di Libya), artinya Prancis bersiap untuk intervensi ketika hal itu diperlukan, namun secara rahasia. Prancis mengirimkan pasukan khusus bersama Inggris untuk mencegah dominasi militer Amerika di sana sendirian. Prancis tidak ingin membongkar hal itu secara terang-terangan melainkan secara rahasia karena tidak ingin menjadikan intervensi militer sebagai sesuatu yang normal dan sah di Libya saat ini, karena ia bekerja bersama Inggris untuk melaksanakan kesepakatan politik dan pembentukan pemerintahan serta mendukungnya... Bahkan ketika Amerika mencoba menyudutkan Eropa dengan intervensi militer dan membuat pernyataan tentang intervensi-intervensi Eropa di sana-sini, Eropa segera membantah pernyataan-pernyataan tersebut... (Perdana Menteri Italia Matteo Renzi membantah pada hari Minggu niat Italia untuk mengirim sekitar 5.000 tentara ke Libya, dengan mengatakan bahwa kondisi tidak memungkinkan untuk intervensi militer di bekas jajahan Italia tersebut. Renzi berkata dalam sebuah program bincang-bincang televisi: "Selama saya menjadi perdana menteri, Italia tidak akan pergi ke Libya untuk menginvasi dengan 5.000 orang". Ia menambahkan "Jika ada kebutuhan untuk intervensi, Italia tidak akan mundur. Tapi ini bukan situasinya hari ini. Gagasan mengirim 5.000 tentara tidak ada di atas meja". Renzi menanggapi Duta Besar Amerika di Italia John Phillips yang menyatakan kepada surat kabar Corriere della Sera, Jumat, bahwa Roma mungkin mengirim hingga 5.000 tentara). (Sumber: Agen berita, Russia Today 07/03/2016)... (Italia mengatakan bahwa sebelum mengerahkan tentara-tentara ini, harus ada permintaan resmi dari pemerintah Libya setelah mendapatkan kepercayaan dari parlemen.) (Al-Arabiya 08/03/2016), dan ia menyindir intervensi Amerika tanpa menunggu resolusi dari Dewan Keamanan maupun dari pemerintahan yang sah di Libya.

Ini berarti keadaan tidak akan stabil dalam waktu dekat di Libya, dan tidak diharapkan akan muncul pemerintahan yang berarti di Libya yang mampu menjaga keamanan atau mewujudkan stabilitas. Yang paling mungkin ada hanyalah pemerintahan ketiga yang tidak memiliki daya dan kekuatan, apalagi Amerika selalu meremehkan pemerintahan baru mana pun yang muncul: (... para ahli memperingatkan bahwa penandatanganan anggota parlemen Tripoli dan Tobruk atas kesepakatan pembentukan pemerintahan persatuan nasional hanya akan menghasilkan pemerintahan ketiga di negara tersebut, yang memperburuk keadaan perpecahan dan kekacauan... Sebuah laporan oleh kelompok "Soufan", pusat riset Amerika yang berbasis di New York, menyatakan bahwa "Jika pemerintahan persatuan nasional dibentuk, kemungkinan besar akan menghadapi penolakan dari faksi-faksi yang berafiliasi dengan dua pemerintahan yang bertikai untuk menerima legitimasinya, dan laporan tersebut memperingatkan bahwa "pemerintahan yang baru lahir kemungkinan besar akan bertempur sebelum tinta kering" penandatanganan kesepakatan pembentukannya, menurut surat kabar Inggris Guardian, kemarin...) (Al-Shorouk: 19/12/2015). Demikianlah, bahkan jika pemerintahan tersebut dibentuk, ia tidak lebih dari sekadar "istirahat pejuang" dan kemudian akan dilanjutkan lagi nanti. Nampaknya Amerika tidak akan berhenti kali ini dari upayanya hingga ia memiliki peran dasar di Libya, karena untuk pertama kalinya ia memiliki agen dengan cara seperti ini, dan terbuka kesempatan baginya untuk intervensi dengan dalih memerangi organisasi ISIS.

Oleh karena itu, tidak akan ada stabilitas di Libya sampai tangan-tangan negara kolonial ini dipotong dari intervensi. Hal yang paling penting adalah menjatuhkan alat-alat lokal mereka yang murah, yang berloyalitas kepada negara ini atau itu, yang diperjualbelikan sehingga mereka menyiapkan jalan bagi intervensi, bahkan melayani dan berperang sebagai wakilnya! Maka bagi orang-orang yang ikhlas dan sadar, hendaknya melakukan kerja serius untuk menggagalkan segala jenis intervensi asing, mengusir kaum penjajah dari negeri, baik Eropa maupun Amerika, menolak segala solusi dan proyek mereka serta menjatuhkannya beserta para agennya, serta bekerja untuk mengambil alih kendali urusan dan menegakkan hukum Allah di bumi-Nya... Dan kami tidak pernah kehilangan harapan akan adanya kebaikan pada rakyat Libya, negeri para penghafal Al-Qur'an, karena di dalamnya terdapat laki-laki yang jujur dan ikhlas yang mampu dengan izin Allah menggagalkan proyek-proyek mereka yang mendendam terhadap Islam dan pemeluknya. Dan Allah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa adalah penolong bagi siapa saja yang menolong-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ * وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُم

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dan orang-orang yang kafir maka celakalah mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka." (QS Muhammad [47]: 7-8)

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda