Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Analisis

Artikel Eksperimental

April 06, 2024
106

Kepada sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia... Umat Islam yang telah Allah muliakan dengan ketaatan kepada-Nya...

Kepada para pengemban dakwah (hamalah ad-da’wah) yang mulia, yang tidak dilalaikan oleh perdagangan maupun jual beli dari mengingat Allah...

Kepada para pengunjung halaman yang mulia yang menyambut kebaikan yang dibawanya...

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,

Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya. Amma ba’du:

Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar menerima puasa dan salat malam (qiyam) kaum Muslim, serta mengampuni semua dosa kita yang telah lalu, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi ﷺ dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Dan dalam riwayat lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang melakukan salat malam (qiyam) pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Saudara-saudara yang mulia: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan puasa Ramadan pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriah. Ramadan adalah bulan di mana Allah menurunkan Al-Qur'an:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Ramadan juga merupakan bulan di mana Allah memuliakan umat ini dengan kemenangan dan penaklukan yang nyata (fathul mubin). Perang Badr Al-Kubra terjadi pada tanggal 17 Ramadan, di mana kaum musyrik Makkah mengalami kekalahan besar... Kemudian terjadi pertempuran-pertempuran menentukan lainnya di bulan mulia ini, mulai dari Fathul Makkah (Penaklukan Kota Makkah) pada tanggal 20 Ramadan tahun 8 Hijriah, hingga Pertempuran Al-Buwayb (dekat kota Kufah saat ini) yang merupakan "Yarmuk-nya Persia", di mana kaum Muslim menang di bawah kepemimpinan Al-Muthanna pada tanggal 14 Ramadan tahun 31 Hijriah. Kemudian penaklukan Ammuria di bawah kepemimpinan Al-Mu'tashim pada tanggal 17 Ramadan tahun 223 Hijriah, dan Pertempuran Ain Jalut di mana kaum Muslim mengalahkan tentara Tatar pada tanggal 25 Ramadan tahun 658 Hijriah, serta berbagai kemenangan lainnya di bulan yang mulia ini...

Demikianlah, puasa senantiasa beriringan dengan Al-Qur'anul Karim yang tidak didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya... Puasa beriringan dengan penaklukan dan kemenangan... Puasa beriringan dengan jihad... Puasa beriringan dengan penerapan hukum-hukum Allah (tathbiq ahkamillah)... Setiap orang yang memiliki penglihatan dan mata hati menyadari bahwa hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak dapat dipisahkan satu sama lain, baik itu ibadah, jihad, muamalah, akhlak dan perilaku, maupun hudud (hukum pidana Islam) dan jinayat... Semuanya berasal dari sumber (misykah) yang sama. Barangsiapa merenungkan ayat-ayat Al-Kitab yang mulia dan teks-teks hadits yang mulia akan mendapati hal ini dengan sangat jelas. Seorang Muslim membaca ayat dari Dzikrul Hakim:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

"Dan dirikanlah salat." (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

Sebagaimana ia juga membaca:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ

"Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah." (QS. Al-Ma'idah [5]: 49)

Ia membaca:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

"Diwajibkan atas kamu berpuasa." (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Sebagaimana ia juga membaca:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ

"Diwajibkan atas kamu berperang." (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Begitu pula ia membaca tentang haji dalam hadits Rasulullah ﷺ:

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

"Ambillah dariku manasik (tata cara haji) kalian." (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra dari Jabir)

Sebagaimana ia juga membaca tentang hudud:

خُذُوا عَنِّي، خُذُوا عَنِّي، قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيلاً، الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ، وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ، وَالرَّجْمُ

"Ambillah dariku, ambillah dariku! Sungguh Allah telah memberi jalan keluar bagi mereka (perempuan yang berzina). Perjaka dengan perawan (hukumannya) dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun. Dan orang yang sudah menikah dengan orang yang sudah menikah (hukumannya) dicambuk seratus kali dan dirajam." (HR. Muslim dari 'Ubadah bin ash-Shamit)

Ia membaca dalam muamalah:

البَيِّعَانِ بِالخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا - أو قال حتى يتفرقا -

"Dua orang yang berjual beli memiliki hak khiyar (memilih antara melanjutkan atau membatalkan) selama keduanya belum berpisah – atau hingga keduanya berpisah –." (HR. Bukhari dari Hakim bin Hizam)

Sebagaimana ia membaca tentang baiat kepada Khalifah:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

"Dan barangsiapa yang mati sedangkan di lehernya tidak ada baiat, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliah." (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar)

Oleh karena itu, Islam adalah satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi, dan dakwah kepadanya adalah satu untuk menerapkannya dalam negara, kehidupan, dan masyarakat. Maka siapa saja yang memisahkan antara ayat-ayat Allah, dan menyerukan pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme), atau pemisahan agama dari politik, sungguh ia telah melakukan dosa besar dan kejahatan besar yang akan menyeret pelakunya pada kehinaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat.

Wahai kaum Muslim: Aku mengingatkan kalian akan semua itu di hari-hari ini, di saat agresi biadab Yahudi terhadap penduduk Gaza semakin intensif. Mereka dikejutkan oleh kepahlawanan penduduk Gaza; berbulan-bulan telah berlalu tanpa entitas Yahudi yang cacat itu mampu meraih keberhasilan apa pun yang mereka klaim atas penduduk Gaza. Mereka kehilangan kendali, dan alih-alih bertempur berhadapan muka dengan kelompok beriman yang bersenjatakan peralatan sederhana itu – sementara mereka sendiri dipersenjatai lengkap oleh Amerika dan Barat – mereka justru beralih membunuhi wanita dan anak-anak agar mendapatkan "keberhasilan" yang bisa mereka bicarakan!! Sungguh entitas Yahudi sedang mengukir kegagalannya sendiri dengan tangannya. Mereka bukanlah ahli perang kecuali dengan tali (perjanjian) dari manusia, sebagaimana firman Zat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia." (QS. Ali Imran [3]: 112)

Dan mereka telah memutus tali Allah sejak zaman nabi-nabi mereka, sehingga yang tersisa bagi mereka hanyalah tali manusia dari Amerika, Eropa, dan para agen mereka dari kalangan penguasa pengkhianat di negeri-negeri Muslim yang tidak bergeming sedikit pun melihat agresi biadab Yahudi terhadap anak-anak dan wanita. Bahkan, yang "terbaik" di antara para penguasa itu hanyalah yang berdiri menghitung jumlah syuhada dan korban luka.

قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

"Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?" (QS. At-Tawbah [9]: 30)

Meskipun demikian, wahai kaum Muslim, sesungguhnya memerangi Yahudi, membunuh mereka, dan melenyapkan entitas mereka pastilah akan datang di bawah kepemimpinan seorang Khalifah Rasyid yang mujahid, setelah berakhirnya kekuasaan yang memaksa (mulkan jabriyyatan) dan para penguasa agen ini. Kabar gembira dari Rasulullah ﷺ tidak akan tertunda waktunya dengan izin Allah, sebagai perwujudan dari hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Rasulullah ﷺ:

ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

"Kemudian akan ada kekuasaan yang memaksa (mulkan jabriyyatan), yang akan tetap ada selama Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkatnya (menghilangkannya) jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang sesuai dengan manhaj kenabian (Khilafah 'ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau diam."

Serta sebagai pembenaran atas hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim:

لَتُقَاتِلُنَّ الْيَهُودَ فَلَتَقْتُلُنَّهُمْ...

"Kalian pasti akan memerangi Yahudi dan kalian pasti akan membunuh mereka..."

Sebagai penutup, sebagaimana kita harus bersungguh-sungguh dalam berpuasa agar Allah rida kepada kita dan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu, kita juga harus bersungguh-sungguh beramal untuk melanjutkan kehidupan Islam (isti'naful hayah al-islamiyyah) dengan menegakkan Khilafah Rasyidah. Agar kita termasuk orang-orang yang menang di dunia dengan menerapkan hukum-hukum Allah, bernaung di bawah panji Rasulullah ﷺ, Panji Al-'Uqab, panji Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Dan agar kita juga termasuk orang-orang yang menang di akhirat dengan izin-Nya, bernaung di bawah naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Maka kita menang di dua negeri (dunia dan akhirat), dan itulah kemenangan yang besar.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda