Pertanyaan:
Beberapa media massa pada hari ini, Rabu 7/1/2015, melansir bahwa harga minyak mentah Brent mencatat angka 49,66 dolar per barel. Harga minyak mentah AS juga turun menjadi sekitar 47 dolar per barel. Padahal, harga minyak pada tahun 2014 sempat mencapai 115 dolar per barel di awal musim panas (Juni 2014), kemudian turun secara bertahap hingga mencapai 60 dolar pada awal musim dingin (akhir Desember 2014), bahkan di bawah itu di mana harga minyak mentah West Texas mencapai 58,53 dolar. Sekarang, pada minggu pertama Januari 2015, harganya mencapai sekitar 50 dolar. Artinya, terjadi penurunan lebih dari 50% dalam kurun waktu sekitar lima bulan! Apa sebab-sebab penurunan mendadak harga minyak ini? Dan apa perkiraan harga minyak di masa depan?
Jawaban:
Sesungguhnya penurunan harga minyak memiliki berbagai sebab. Yang paling menonjol adalah faktor ekonomi murni yang terlepas dari tujuan politik, serta faktor politik yang menggerakkan faktor ekonomi demi kepentingan pihak yang memiliki agenda politik tersebut.
Adapun faktor ekonomi yang murni dari tujuan politik meliputi: (peningkatan penawaran minyak atau minimnya permintaan), (ketegangan khususnya eskalasi militer di wilayah ladang minyak dan sekitarnya), (spekulasi di pasar minyak dan pemanfaatan data lemahnya ekonomi negara-negara yang berpengaruh terhadap minyak, baik pengekspor maupun pengimpor).
Adapun faktor politik untuk menggerakkan faktor ekonomi demi kepentingan negara pemilik agenda politik, contohnya seperti: (meningkatkan produksi, atau menawarkan cadangan minyak dalam jumlah besar, namun bukan karena kebutuhan ekonomi), melainkan (untuk menurunkan harga guna memengaruhi kebijakan negara-negara pesaing, terutama yang anggarannya bergantung pada harga minyak), atau (untuk membatasi produksi minyak serpih (shale oil) dengan menurunkan harga minyak bumi alami hingga ke tingkat yang lebih rendah dari biaya produksi shale oil, sehingga ekstraksi shale oil menjadi tidak menguntungkan).
Kami akan memaparkan hal-hal tersebut, kemudian menyimpulkan sebab-sebab yang paling kuat mengenai penurunan tajam harga minyak ini:
Pertama: Faktor Ekonomi yang Terlepas dari Tujuan Politik:
1- Penawaran dan Permintaan (Supply and Demand):
Minyak sama seperti komoditas lainnya, harganya ditentukan melalui penawaran dan permintaan. Ketika pasar minyak mengalami kelebihan pasokan, harganya akan turun. Hal ini terjadi saat krisis ekonomi di negara-negara pengimpor sehingga permintaan menurun, karena kemampuan negara yang dilanda krisis untuk mengimpor minyak dengan harga tinggi menjadi berkurang. Karena itulah permintaan menurun yang menyebabkan harga jatuh. Sebaliknya, ketika permintaan minyak meningkat dan melampaui penawaran, maka harganya akan naik.
2- Ketegangan dan Eskalasi Militer:
Ada faktor lain yang memengaruhi harga minyak yaitu "antisipasi", artinya ekspektasi pasar minyak, seperti terjadinya gangguan pasokan akibat perang atau ketegangan di wilayah-wilayah perminyakan. Oleh karena itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah di mana wilayah-wilayah minyak berada bisa menjadi sebab kenaikan harga minyak, meskipun tidak terjadi perubahan pada jumlah penawaran atau permintaan. Pasar minyak dapat mendorong kenaikan harga jika khawatir akan potensi gangguan pasokan. Ketika ketegangan mereda, harga minyak akan turun dan kembali ke nilai sebelumnya atau harga riil. Sebagai contoh, wacana perang antara negara Yahudi, Amerika Serikat, dan Iran pada Februari 2012 menyebabkan kenaikan harga minyak. Majalah Forbes menyebutkan: "Dengan kenaikan harga minyak hingga mencapai level tertingginya sejak beberapa tahun, sebagian besar penyebabnya adalah kekhawatiran geopolitik, dengan menempatkan Iran kembali di meja konflik militer." ["Menyerang Iran akan mendorong Amerika Serikat ke dalam resesi", Forbes, Februari 2012].
3- Spekulasi dan Pemanfaatan Data Ekonomi:
Data ekonomi yang buruk dari beberapa negara yang berpengaruh terhadap minyak, baik pengekspor maupun pengimpor seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, dapat menyebabkan jatuhnya harga minyak, terlepas dari perubahan penawaran atau permintaan. Dalam kondisi ini, pasar khawatir akan perlambatan output ekonomi dan menafsirkannya sebagai penurunan konsumsi minyak yang tak terelakkan, sehingga harganya turun. Para spekulan memanfaatkan ekspektasi pasar untuk menaikkan atau menurunkan harga minyak demi meraih keuntungan. Akibatnya, harga minyak terpengaruh di luar faktor penawaran dan permintaan.
Data ekonomi dan spekulasi berkaitan dengan sejumlah pemain kunci, mulai dari negara produsen minyak (seperti Rusia, Kanada, Arab Saudi, dll), negara pengimpor minyak (seperti Tiongkok, Jepang, dll), perusahaan minyak multinasional (seperti ExxonMobil, BP, dll), kartel minyak (seperti OPEC), dan pedagang minyak yang dikenal sebagai spekulan. Setiap kelompok ini memiliki kemampuan untuk memengaruhi harga minyak, baik melalui pengaruh pada penawaran atau permintaan, maupun melalui ekspektasi fluktuasi harga minyak selama spekulasi. Data ekonomi dan spekulasi akibat terjadinya krisis ekonomi di negara-negara terkait sangat kuat memengaruhi harga.
Kedua: Faktor Politik untuk Menggerakkan Ekonomi demi Kepentingan Pemilik Agenda Politik:
1- Masalah Minyak Serpih (Shale Oil):
Amerika telah melampaui Arab Saudi dan Rusia sebagai eksportir minyak terbesar di dunia, karena keberhasilannya mengekstraksi minyak melalui pemecahan batuan di bawah tanah (fracking). Bank of America pada musim panas 2014 menyatakan: "Amerika Serikat akan tetap menjadi produsen minyak terbesar di dunia tahun ini, setelah melampaui Arab Saudi dan Rusia dalam ekstraksi energi dari minyak serpih, yang menyegarkan ekonomi negara tersebut. Produksi minyak mentah Amerika Serikat, bersama dengan cairan gas alam, telah melampaui negara-negara lain tahun ini, dengan produksi harian melebihi 11 juta barel pada kuartal pertama tahun ini..." ["Amerika Serikat dipandang sebagai produsen minyak terbesar setelah melampaui Arab Saudi", Bloomberg, 4 Juli 2014].
Revolusi minyak dan gas serpih di Amerika Serikat telah menyebabkan peningkatan produksi minyak dari 5,5 juta barel per hari pada tahun 2011 menjadi lebih dari 10 juta barel per hari saat ini. Hal ini membuat AS hampir mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga impornya dari Arab Saudi turun lebih dari separuhnya, yaitu menjadi sekitar 878 ribu barel per hari setelah sebelumnya mencapai 1,32 juta barel per hari.
Namun, masalah shale oil adalah biayanya yang tinggi, yang bisa mencapai 75 dolar per barel, sementara biaya minyak bumi alami tidak melebihi 7 dolar per barel. Ini berarti negara-negara produsen shale oil, dipimpin oleh Amerika, akan terpukul telak jika harga minyak turun di bawah biaya produksinya.
2- Masalah Penurunan Harga Bukan Karena Kebutuhan Ekonomi, tetapi Sebagai Bagian dari Sanksi Terhadap Negara Pesaing:
Ada dua isu internasional yang memiliki pengaruh dan perhatian global:
Masalah negosiasi nuklir Iran dan masalah pendudukan Rusia atas Krimea. Kedua negara ini sangat bergantung pada ekspor minyak untuk sebagian besar anggarannya. Ketika harganya turun mendadak hingga separuhnya, hal itu tanpa ragu memengaruhi kebijakan mereka terhadap dua isu tersebut. Anggaran Rusia disumbang oleh minyak dan gas (energi) sekitar 50%, bahkan beberapa perkiraan menyebutkan lebih dari itu. Dengan demikian, Rusia membutuhkan harga minyak di level 105 dolar per barel untuk mencapai titik impas (break-even) dalam ekonominya.
Sedangkan anggaran Iran lebih bergantung lagi pada minyak, bahkan bisa mencapai lebih dari 80% anggarannya. Iran berpendapat bahwa harga minyak harus naik di atas 130 dolar per barel agar keuntungannya sesuai dengan proyek-proyek internalnya dan bantuannya kepada para pengikutnya di kawasan. Oleh karena itu, penurunan harga minyak ke tingkat yang rendah ini sangat memengaruhi anggarannya.
Ketiga: Dengan Memperhatikan Sebab-sebab Tersebut, Maka Jelaslah Hal Berikut:
1- Faktor Ekonomi yang Terlepas dari Tujuan Politik:
a- Penawaran dan permintaan hampir tidak berubah selama tahun-tahun terakhir, dan perubahannya sangat kecil sehingga tidak menyebabkan penurunan mendadak ini. Hingga musim panas lalu, harga minyak dunia relatif stabil di sekitar 106 dolar (untuk West Texas Intermediate) per barel selama hampir empat tahun. Namun, penurunan besar harga minyak tidak bisa dijelaskan sepenuhnya secara ekonomi. Produksi minyak telah berada di atas 80 juta barel per hari selama satu dekade terakhir sejak 2004. Pada akhir 2013, pasar minyak dunia memproduksi 86,6 juta barel per hari, kemudian produksi meningkat dan permintaan juga meningkat pada akhir 2013 dan selama kuartal ketiga 2014. Jadi, penawaran dan permintaan hampir seimbang. Menurut angka yang diberikan oleh Badan Energi Internasional (IEA) pada kuartal ketiga 2014, rata-rata penawaran mencapai 93,74 juta barel, dan rata-rata permintaan mencapai 93,08 juta barel [Sumber: Situs web IEA]. Ini adalah kenaikan kecil selama empat tahun yang mungkin memengaruhi penurunan bertahap sebesar beberapa dolar per barel, tetapi tidak mungkin jatuh hingga separuhnya dalam waktu lima bulan kecuali jika faktor ekonomi bukan penyebab utamanya.
b- Ketegangan dan eskalasi militer juga bukan hal baru, melainkan hampir konstan selama empat tahun terakhir. Krisis di kawasan tidak memburuk secara mendadak yang dapat menyebabkan jatuhnya harga minyak secara tiba-tiba. Gejolak dan ketegangan di kawasan sejak 2011 hingga sekarang terus berlanjut dengan ritme yang hampir tidak mengejutkan dalam kejadian-kejadiannya.
Padahal secara asal, di tengah krisis politik di kawasan dan dunia, seharusnya terjadi kenaikan harga minyak sebagaimana terjadi dalam beberapa peristiwa sejak 1973. Sekarang, ketika krisis memburuk di Ukraina, Suriah, Irak, dan Libya, seharusnya harga minyak melonjak hingga 120 dolar, bahkan hingga 150 dolar menurut beberapa prediksi. Jatuhnya harga dengan cara seperti ini tidak biasa jika faktor penyebabnya hanya ekonomi semata, karena krisis dan perang memengaruhi jalur pasokan sehingga penawaran berkurang dan harga naik, bukan malah turun, kecuali jika ada sebab-sebab lain di luar faktor ekonomi murni.
c- Spekulasi dan pemanfaatan data ekonomi; sejak 2008 saat krisis ekonomi memuncak, kondisi ekonomi cenderung stagnan dan tidak semakin memburuk, bahkan mengalami beberapa perbaikan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa faktor ekonomi murni bukanlah penyebab utama penurunan harga minyak hingga ke level yang anjlok lebih dari 50% dibandingkan lima bulan sebelumnya.
2- Faktor Politik untuk Menggerakkan Ekonomi Demi Kepentingan Pemilik Agenda Politik:
a- Masalah Minyak Serpih (Shale Oil):
Biaya ekstraksi shale oil mencapai antara 70 hingga 80 dolar per barel. Dengan menggunakan teknologi modern dalam ekstraksi, biaya ini bisa turun menjadi di bawah itu dan mungkin mencapai 50-60 dolar per barel. Perusahaan IHS (perusahaan riset) berpendapat bahwa biaya produksi satu barel minyak dari shale oil telah turun dari 70 dolar per barel menjadi 57 dolar pada tahun lalu, di mana para pengusaha minyak belajar cara mengebor sumur lebih cepat dan mengekstraksi lebih banyak minyak. ["Syeikh versus Shale", The Economist, 6 Desember 2014]. Oleh karena itu, menurunkan harga minyak hingga sekitar 50 atau 40 dolar per barel membuat ekstraksi shale oil tidak menguntungkan. Bahkan jika diturunkan ke level 60-70 dolar per barel pun tetap tidak menguntungkan secara memadai, karena kelayakan ekonomi memerlukan margin yang cukup antara biaya produksi dan harga jual.
Oleh karena itu, tidak diturunkannya produksi OPEC, atau lebih tepatnya tidak diturunkannya produksi Arab Saudi, adalah salah satu sebabnya. Diketahui bahwa Amerika memanfaatkan produksi shale oil karena tingginya harga minyak alami di atas seratus dolar per barel. Maka dari itu, penurunan harga minyak alami membuat produksi shale oil tidak kompetitif.
Harga minyak alami mampu menanggung penurunan dan tetap menguntungkan karena biayanya tidak melebihi 7 dolar per barel, sementara biaya shale oil mencapai sepuluh kali lipat dari itu. Dengan demikian, berapapun penurunan harga minyak alami, ia akan tetap menguntungkan. Sebagaimana dikatakan menteri perminyakan Saudi Ali al-Naimi bahwa "OPEC tidak akan memangkas produksinya meskipun harga minyak mentah di pasar global jatuh hingga 20 dolar per barel" (Al Jazeera 24/12/2014). Ia menjelaskan bahwa "pangsa OPEC serta Arab Saudi tidak berubah sejak beberapa tahun terakhir, yaitu di kisaran tiga puluh juta barel per hari, di mana sekitar 6,9 juta barel adalah produksi Kerajaan Saudi, sementara produksi pihak lain di luar OPEC terus meningkat."
Sebagaimana diketahui, pemerintahan di Arab Saudi di bawah Raja Abdullah saat ini memiliki hubungan kuat dengan Inggris. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa sikap keras Saudi untuk tidak memangkas produksi dan menekan OPEC dalam hal itu adalah bagian dari kebijakan Inggris yang disepakati bersama Saudi untuk memukul produksi shale oil Amerika.
b- Ketika Amerika mengetahui kecenderungan ini di OPEC atas pengaruh Arab Saudi yang memiliki kuota terbesar di OPEC—terutama saat OPEC mengadakan pertemuan di kantor pusatnya di Wina pada 27/11/2014 dan para anggota tidak sepakat untuk memangkas produksi guna menopang harga karena penolakan Saudi—dan mereka menyatakan bisa bertahan dengan harga rendah dalam jangka pendek. Ketika Amerika mengetahui hal itu, Kerry mengunjungi Arab Saudi pada 11/9/2014. Menteri Luar Negeri AS tersebut mengunjungi Raja Abdullah di kediaman musim panasnya dalam kunjungan yang tidak dijadwalkan. Meskipun media menyebutkan alasan lain selain minyak untuk kunjungan tersebut, namun berbagai indikasi menunjukkan bahwa topik kunjungan tersebut adalah minyak dan harganya. Tepat setelah kunjungan ini, Arab Saudi mulai meningkatkan produksi minyak lebih dari 100.000 barel per hari selama sisa bulan September. Pada minggu pertama November, Saudi menurunkan harga minyak (Arab Light) sebesar 45 sen per barel, yang memicu harga minyak jatuh dengan cepat dari 80 dolar per barel. Seorang pejabat tinggi Departemen Luar Negeri (AS) mengonfirmasi bahwa pasokan minyak global telah dibahas dalam pertemuan tersebut.
Ketika Amerika tidak mampu meyakinkan Saudi untuk memangkas produksi, ia membahas masalah ini dari sisi lain. AS menunjukkan persetujuan atas penurunan harga tersebut, dengan alasan bahwa itu akan memengaruhi Rusia yang menduduki Krimea serta memengaruhi Iran dalam hal perundingan nuklir. AS melihat kedua alasan ini akan mendapat restu dari Saudi. Namun, AS berpendapat penurunan harga seharusnya di kisaran 80 dolar, dan tampaknya Saudi menyetujui hal itu atau menunjukkan persetujuan. Surat kabar The Times Inggris pada 16/10/2014 menyebutkan bahwa "Arab Saudi telah mengambil posisi yang dihitung secara matang dengan mendukung penurunan harga minyak sekitar 80 dolar agar ekstraksi minyak serpih menjadi tidak menguntungkan secara ekonomi. Hal ini akan mendorong Amerika kembali mengimpor minyak dari Saudi dan mengeluarkan gas serpih dari pasar." Ucapan ini menunjukkan peran Inggris di belakang Saudi untuk mendukungnya dalam menghadapi Amerika yang berupaya menghidupkan ekonominya meskipun dengan mengorbankan orang lain. Sebagaimana diketahui, rezim Abdullah Al Saud saat ini berjalan searah dengan kebijakan Inggris.
Amerika menunjukkan seolah-olah telah memuaskan Saudi dalam hal menyetujui penurunan harga. AS juga menunjukkan kepada Eropa bahwa tuduhan Eropa bahwa AS tidak memberikan tekanan serius terhadap Rusia atas pendudukan Krimea, dan tidak menekan serius terhadap Iran dalam berkas energi nuklir adalah tidak benar, dengan bukti persetujuan AS terhadap penurunan harga minyak yang memengaruhi anggaran kedua negara tersebut. Kemudian AS menyenangkan beberapa oposan Rusia; pada awal Maret, miliarder George Soros menyarankan kepada administrasi Amerika cara untuk menghukum Rusia karena aneksasi semenanjung Krimea dengan menurunkan harga minyak. Begitulah Kerry mencoba menunjukkan persetujuannya terhadap penurunan harga namun dalam batas tertentu, kemudian menipu Eropa dan oposan Rusia bahwa ia serius dalam mendukung Ukraina melawan Rusia, padahal kenyataannya tidak demikian.
Namun untuk pertama kalinya, Amerika mendapati dirinya tidak berhasil. Angin bertiup tidak sesuai dengan keinginan kapal; harga minyak terus merosot hingga sekitar 60 dolar per barel dalam beberapa bulan karena Saudi bersikeras tidak memangkas produksi bahkan menambahnya. Semua ini melahirkan reaksi balik di pasar minyak sebagaimana diketahui dari pengaruh aspek psikologis terhadap harga pasar.
Keempat: Adapun yang diperkirakan sekarang:
1- Ada kesulitan bagi harga untuk kembali ke level semula dalam waktu dekat.
2- Namun berlanjutnya penurunan harga akan memengaruhi kedua belah pihak:
a- Terhadap Arab Saudi, dan di belakangnya adalah Eropa khususnya Inggris. Sebab, anggaran Arab Saudi tahun ini mengalami defisit sebesar 145 miliar riyal Saudi dari total 860 miliar riyal belanja yang direncanakan, atau defisit sekitar 40 miliar dolar akibat turunnya harga minyak. Ini memengaruhi proyek-proyek internalnya, dan yang lebih penting lagi adalah dampaknya terhadap ekspor Inggris ke Arab Saudi khususnya senjata, karena penurunan anggaran Saudi dan defisit yang dialaminya. Di mana ekspor Inggris ke Saudi pada 2012 mencapai nilai 7,5 miliar pound sterling, selain investasi perusahaan-perusahaan Inggris yang mencapai sekitar 200 perusahaan dengan nilai investasi sekitar 11,5 miliar pound sterling per tahun. Semua itu akan terpengaruh oleh penurunan kemampuan finansial Saudi akibat turunnya harga minyak. Terlebih lagi, anggaran pemerintah Saudi menerima 89% pendapatannya dari ekspor minyak. Oleh karena itu, berlanjutnya penurunan harga akan berpengaruh dari sisi ini.
b- Dari sisi lain, berlanjutnya penurunan harga memengaruhi produksi shale oil Amerika. Karena tingginya harga di tahun-tahun lalu, AS telah berinvestasi miliaran dolar dalam ekstraksi shale oil di Amerika dan hal itu tampak menguntungkan, sehingga menambah 4 juta barel minyak per hari sejak 2008. Ini merupakan persentase yang signifikan dalam produksi minyak dunia.
Meskipun penurunan harga minyak menyegarkan ekonomi Amerika, namun kehilangan bisnis shale oil jauh lebih besar dampaknya bagi AS. Tidak mudah bagi Amerika untuk membiarkan Eropa, Saudi, dan OPEC menghancurkan investasinya.
3- Oleh karena itu, Amerika kemungkinan akan mengambil cara-cara teknologi modern untuk menurunkan biaya produksi shale oil sehingga tetap menguntungkan dengan harga minyak saat ini, namun ini bukan perkara mudah terutama jika harga minyak terus turun. Tampaknya penurunannya belum berhenti, di mana hari ini 7/1/2015 dilansir bahwa harga turun hingga di bawah 50 dolar per barel. Atau, Amerika akan menekan langsung Arab Saudi dengan menciptakan beberapa krisis bagi Saudi yang membuat defisit anggarannya membengkak sehingga terpaksa memangkas produksi dan menaikkan harga minyak. Atau, AS akan mengurangi tekanannya terhadap krisis yang dihadapi Inggris di Yaman dan Libya sebagai imbalan agar Inggris menekan Saudi untuk memangkas produksi, yang kemudian diikuti oleh OPEC sehingga harga minyak kembali naik. Mengingat masing-masing dari tiga skenario ini memerlukan rencana bahkan konspirasi, maka krisis penurunan harga minyak akan tetap menjadi ajang tarik-menarik, antara turun atau naik sesuai hasil pertarungan kekuatan atau sesuai kesepakatan solusi tengah ala kapitalisme.
Kelima: Sesungguhnya politik internasional sedang goyah dan terguncang. Begitu keluar dari satu krisis, ia masuk ke krisis lainnya. Semua itu bersumber dari rusaknya sistem kapitalisme yang mengendalikan dunia, yang di dalamnya mengandung benih-benih krisis internasional, sehingga menimbulkan kesempitan hidup bagi manusia secara khusus dan bagi tatanan internasional secara umum. Semua kerusakan, perusakan, kesengsaraan, dan kesulitan ini akan terus berlanjut selama sistem kapitalisme masih berkuasa. Krisis-krisis ini tidak akan berakhir kecuali dengan solusi sistem Rabbani yang diwajibkan Allah atas hamba-hamba-Nya, yaitu sistem Khilafah Rasyidah yang membawa keadilan dan ketenteraman bagi siapa saja yang bernaung di bawah naungannya.
وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا
"Dan mereka bertanya: 'Bilakah itu (akan terjadi)?' Katakanlah: 'Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat'." (QS. Al-Isra' [17]: 51)