Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikutinya. Amma ba'du.
Kepada Sudan, negeri Islam yang agung... kepada Sudan, tempat Masjid Dongola berada, masjid pertama yang dibangun oleh kaum Muslim terdahulu di Sudan... kepada Sudan, tempat penaklukan Islam yang besar pada masa Khalifah Usman bin Affan radhiyallahu 'anhu ketika beliau memerintahkan Gubernur Mesir untuk memasukkan cahaya Islam ke Sudan. Maka dikirimlah tentara Islam di bawah pimpinan Abdullah bin Abi as-Sarh. Setelah pertempuran di sekitar Dongola, Islam masuk ke Sudan dari arah Nubia utara secara damai melalui Perjanjian Baqt dengan penguasa "Maqurra" di Nubia pada tahun 31 H, di mana salah satu poinnya adalah pemeliharaan Masjid Dongola... Kepada Sudan pada masa Khalifah Abbasiyah Al-Ma'mun, saat beberapa Muslim membeli tanah di Nubia, lalu pemimpin kaum Nasrani di sana keberatan atas sahnya jual beli tersebut dengan mengatakan bahwa penjual yang beragama Nasrani itu adalah rakyatnya, sehingga tidak boleh menjual tanahnya kecuali dengan izinnya, sedangkan dia tidak memberi izin... Maka kasus ini diajukan kepada Khalifah Al-Ma'mun, yang kemudian meneruskannya ke pengadilan. Hakim memutuskan bahwa pemilik tanah memiliki hak penuh untuk mengelola tanahnya tanpa izin pemimpin Nasrani tersebut karena dia bukanlah budak yang dilarang mengelola miliknya. Benarlah apa yang dikatakan Umar radhiyallahu 'anhu: "Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka...". Keputusan yang adil itu menjadi sebab masuknya sejumlah besar orang Nasrani ke dalam Islam, karena mereka melihat bahwa Islam tidak membedakan hak antara pembesar dan rakyat jelata, sehingga tidak ada seorang pun yang dizalimi. Demikianlah Islam tersebar dengan cepat dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala hingga memenuhi seluruh Sudan: dari utara ke selatan dan dari timur ke barat... Kepada Sudan pada masa Kekhalifahan Usmaniyah di mana Sudan menjadi satu provinsi bersama Mesir pada tahun 1821... Kemudian kepada Sudan yang berjihad melawan Inggris dalam agresi mereka di bawah pimpinan Kitchener, di mana agresi tersebut berlangsung selama sekitar dua puluh tahun sejak 1896. Inggris menduduki Omdurman dan Khartoum pada 1898, kemudian Kordofan pada 1900. Perlawanan terus berlanjut di Darfur hingga tahun 1916 ketika pahlawan yang bertakwa dan kuat, "Ali bin Dinar", Gubernur Darfur, gugur sebagai syahid. Beliau adalah ulama mujahid yang berjasa memperbaiki tempat miqat Madinah dan penduduk Syam "Dzul Hulaifah" serta membangun sumur-sumur untuk memberi minum jamaah haji yang hingga hari ini masih dinamakan dengan namanya "Abyar Ali"...
Kepada mereka semua yang telah menyinari Sudan dengan keimanan, ilmu, dan jihad mereka... dan kepada hadirin yang mulia dalam konferensi yang penuh berkah ini... saya sampaikan salam penghormatan Islam: Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Wahai saudara-saudara yang mulia: Setelah sejarah yang gemilang dan bercahaya itu, penjajahan langsung oleh Inggris, musuh Islam dan kaum Muslim, berlanjut selama empat puluh tahun lagi. Dengan demikian, penjajahan Inggris secara langsung di Sudan berlangsung selama enam puluh tahun sejak agresi Inggris tahun 1896 hingga 1956... Setelah itu, datanglah penjajahan tidak langsung secara politik dan budaya serta penyebaran nilai-nilai kapitalisme yang busuk, dan konflik antara penjajah lama dan baru, Inggris dan Amerika, atas Sudan. Hingga akhirnya Sudan, negeri yang baik dan suci ini, tercabik-cabik tubuhnya; bagian selatannya dipisahkan dari utaranya melalui Perjanjian Naivasha yang batil dan mematikan di bawah naungan Amerika yang imperialis... Jika masalahnya hanya berhenti di situ, kita akan mengatakan bahwa mereka adalah kafir penjajah yang berkepentingan memecah belah negeri kaum Muslim... Namun yang lebih dahsyat dan menyakitkan adalah rezim penguasa di Sudan, atas dorongan Amerika, telah mengerahkan segala upaya dalam perundingan dan Perjanjian Naivasha. Andai saja mereka mengakui bahwa perjanjian itu batil dan dilakukan saat mata mereka tertutup... Namun sebaliknya, mereka menganggap pemecahan negeri itu sebagai kemenangan, dan menganggap Perjanjian Naivasha sebagai simbol dari perpecahan ini sebagai sebuah pencapaian besar! Begitulah nilai-nilai telah berubah, dan pemahaman telah terbalik. Benarlah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ
"Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, di mana pendusta dibenarkan dan orang yang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara." Ada yang bertanya: "Apa itu Ruwaibidhah?" Beliau bersabda: "Orang bodoh yang mengurusi urusan publik."
Wahai kaum Muslim: Sesungguhnya para penguasa hari ini, setelah melihat kebangkitan umat dan keinginan mereka untuk mengembalikan kemuliaan mereka, yaitu Khilafah Rasyidah, maka pada periode ini penguasa di Sudan menyerukan dialog untuk mencari solusi jalan tengah dengan cara kapitalis dengan dalih menyelamatkan Sudan. Padahal sebenarnya itu bertujuan untuk menyelamatkan kelas penguasa dari keburukan perbuatan mereka, dan menutupi kejahatan mereka seolah-olah tidak pernah terjadi... Mereka menyerukan dialog dengan rezim yang sama yang telah mencabik-cabik negeri dan menanam benih separatisme di tanah Sudan, sebagaimana yang tersurat dalam Perjanjian Doha mengenai Darfur. Sesungguhnya obat bagi penyakit yang kita derita ini wahai saudara-saudara, ada dalam syariat Allah, dalam sistem Khilafah, dan bukan dalam dialog yang didorong oleh Amerika dan kaki tangannya untuk mencari jalan tengah yang mengarah pada selain agama Allah. Bahkan itu hanya akan menghasilkan keburukan dari Timur dan keburukan dari Barat, yang dicampur menjadi satu untuk menghasilkan sistem yang aneh dan cacat, yang dibenci oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin... Apa yang terjadi di negeri-negeri Muslim hari ini berupa berbagai hukum (produk manusia) adalah buktinya.
Sesungguhnya solusi bagi masalah kita bukanlah sesuatu yang tidak diketahui, bukan pula teori-teori yang jauh dari penerapan. Melainkan telah tertulis dalam Kitabullah Subhanahu wa Ta'ala dan dalam Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta berdasarkan Ijmak Sahabat radhiyallahu 'anhum... Itu adalah hukum-hukum syarak yang menyinari kegelapan, yang telah dijalankan oleh kaum Muslim selama berabad-abad sehingga mereka menjadi negara nomor satu di dunia, menyebarkan kebaikan tidak hanya di wilayahnya sendiri, tetapi ke seluruh penjuru dunia... Tidakkah salah seorang dari kalian bertanya: Mengapa ketika beberapa wanita berteriak minta tolong karena ditawan oleh Raja Sind, lalu Muhammad bin Qasim menjawab teriakan mereka dan berangkat dengan tentara kaum Muslim atas perintah Khalifah, hingga dia mengguncang singgasana Raja Sind, membebaskan tawanan, serta menaklukkan Sind dan India, lalu menyinari negeri-negeri tersebut dengan Islam? Mengapa teriakan itu dijawab dengan tentara yang membebaskan tawanan dan menaklukkan negeri tersebut dengan cahaya Islam, sementara hari ini wanita, anak-anak, dan orang tua di Myanmar (Burma) berteriak minta tolong—padahal letaknya hanya sejauh lemparan batu dari Bangladesh—namun tidak ada seorang pun yang menjawab teriakan itu?! Kemudian, tidakkah salah seorang dari kalian bertanya mengapa jeritan seorang wanita yang dizalimi oleh orang Romawi dengan berteriak "Wahai Mu'tashim!", jeritan itu sampai ke telinga Khalifah, lalu beliau memimpin tentara untuk menuntut balas terhadap orang yang menzaliminya, dan menaklukkan Amuriyah di dekat Ankara hari ini, yang saat itu merupakan salah satu kota Romawi yang paling kuat dan terlindungi... Mengapa jeritan ini mampu menggerakkan tentara, sementara hari ini jeritan demi jeritan dari orang tua, wanita, dan anak-anak di Afrika Tengah—padahal letaknya hanya sejauh lemparan batu dari Sudan—tetapi tidak ada jawaban atas jeritan itu dan tidak ada tentara yang bergerak untuk menyelamatkan mereka?! Mengapa wahai kaum Muslim? Bukankah itu karena Khalifah, yang orang-orang berperang di belakangnya, berlindung kepadanya, dan yang mengurusi urusan umat, Khalifah ini tidak ada? Bukankah perkaranya memang demikian? Bukankah hal ini disadari oleh setiap orang yang memiliki mata hati? Bukankah sumber kemuliaan kaum Muslim adalah tegaknya Khilafah? Bukankah persoalan utama kaum Muslim adalah Khilafah? Bukankah siapa saja yang mati sementara di lehernya tidak ada baiat kepada seorang Khalifah yang memerintah dengan syariat Allah, maka dia mati dalam keadaan mati jahiliah? Bukankah ini adalah kewajiban yang sangat utama? Demikianlah wahai kaum Muslim, sesungguhnya urusan kita tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah membuat baik urusan generasi awalnya... sebuah negara yang memerintah dengan kebenaran dan menerapkan Islam dengan adil, Khilafah berdasarkan metode kenabian yang mengikuti perjalanan Khilafah pertama, menerapkan Islam di dalam negeri dan mengerahkan tentaranya untuk menyebarkan Islam ke luar negeri...
Wahai kaum Muslim: Kami menyadari ada yang mengatakan: Hizbut Tahrir sedang bermimpi untuk menegakkan Khilafah, padahal hari-hari ini hal itu mustahil! Kami menjawab: Apakah Hizbut Tahrir bermimpi sementara ia membacakan janji Allah tentang kekuasaan (istikhlaf) bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh?
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa." (QS. An-Nur [24]: 55)
Dan apakah Hizbut Tahrir bermimpi sementara ia membaca hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kembalinya Khilafah baru setelah kekuasaan diktator (al-hukm al-jabbari) ini?
... ثُمَّ تَكُونُ جَبْرِيَّةً... ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
"...kemudian akan ada kekuasaan diktator (pemerintahan yang memaksa)... kemudian akan ada kembali Khilafah yang mengikuti metode kenabian." (HR Ahmad)
Kami juga menyadari ada yang mengatakan: Sesungguhnya Hizbut Tahrir tidak memiliki dagangan kecuali Khilafah; di mana pun ia berada atau pergi, ia tidak berbicara kecuali tentang Khilafah, tidak mengenal selainnya, dan tidak akrab dengan selainnya... Begitulah! Benar wahai kaum Muslim, sesungguhnya Khilafah adalah dagangan dan industrinya, ia adalah penjaga urusan agama dan dunia. Dengannya hukum-hukum ditegakkan, sanksi-sanksi (hudud) dijalankan, dan penaklukan-penaklukan dilakukan dengan kebenaran. Khilafah adalah urusan yang diselesaikan oleh kaum Muslim bahkan sebelum mereka menyelesaikan pengurusan jenazah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan pemakamannya, terlepas dari betapa penting dan agungnya hal tersebut. Semua itu karena agungnya kedudukan Khilafah dan kepentingannya, di mana para sahabat senior melihat bahwa menyibukkan diri dengannya lebih utama daripada kewajiban besar tersebut: mengurus jenazah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam... Benar, sesungguhnya Khilafah adalah kemuliaan dan perlindungan. Dialah yang akan melenyapkan negara Yahudi dan mengembalikan seluruh Palestina ke dalam pangkuan Islam. Dialah yang akan melenyapkan kekuasaan Hindu di Kashmir, mengakhiri kekuasaan Rusia di Chechnya, Kaukasus, dan Tatarstan. Dialah yang akan mengakhiri pendudukan Cina atas Turkestan Timur. Dialah yang akan mengembalikan Krimea ke asalnya sebagai bagian dari Daulah Khilafah. Dialah yang akan mengembalikan seluruh negeri Islam ke asal dan fitrahnya... Dan dialah yang akan memotong tangan Amerika, Inggris, dan Prancis dari bermain-main di negeri kaum Muslim, dan mengembalikan mereka ke kandang mereka masing-masing, jika mereka masih memiliki kandang... Khilafah adalah yang akan menyebarkan keamanan dan ketenteraman di Syam, mencegah perpecahan di Irak, mengembalikan apa yang terpisah dari Sudan, menyatukan kembali Somalia, serta menghilangkan batas-batas dan hambatan yang dibuat oleh kaum kafir penjajah dari ujung Samudra Pasifik tempat Indonesia dan Malaysia berada hingga pantai Atlantik tempat Maroko dan Andalusia berada. Dialah yang akan menyebarkan keadilan dan kebaikan, memuliakan Islam dan kaum Muslim, memutus akar kezaliman dan keburukan, serta menghinakan kaum kafir penjajah...
Mungkin ada yang bertanya: Benarkah Khilafah mampu melakukan semua ini? Benarkah ia mampu menciptakan kemenangan dan menepis kekalahan? Kami katakan benar, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang hal ini:
إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad [47]: 7)
Dan pertolongan Allah yang hakiki tidak akan ada kecuali dengan tegaknya Daulah Islam yang menerapkan hukum-hukum-Nya. Jika ia ditegakkan, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menolongnya, menjadikannya kokoh dan mulia, sehingga ia dihormati oleh kawan-kawannya dan ditakuti oleh musuh-musuhnya. Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam juga bersabda tentang hal ini:
الإمام جُنَّة يُقاتل من ورائه ويُتقى به
"Seorang Imam (Khalifah) itu laksana perisai, di belakangnya orang-orang berperang dan kepadanya mereka berlindung." (HR Muslim)
Maka Khalifah dan Khilafah adalah junnah, yaitu perisai/pelindung. Siapa saja yang memiliki pelindung, maka dengan izin Allah ia akan menang pada akhirnya, hak-haknya tidak akan hilang, negerinya tidak akan hancur, dan musuh-musuhnya tidak akan berani mendekatinya. Sejarah Khilafah pun membuktikan hal ini; di manakah Bizantium dan kekuasaannya? Di manakah Al-Madain dan kaisar-kaisar Persia? Lalu siapa yang menggemakan suara takbir di wilayah-wilayah yang membentang luas di bumi dari samudra ke samudra jika bukan Daulah Islam, tentara Islam, dan keadilan Islam?... Maka Khilafah adalah sumber kemuliaan kaum Muslim, jalan kebangkitan mereka, dan simbol persatuan mereka... Di dalamnya terdapat kemenangan mereka di dunia dan kemenangan mereka di akhirat, dan itulah kemenangan yang besar... Inilah kebenaran wahai kaum Muslim, dan untuk yang semisal inilah hendaknya orang-orang yang beramal bekerja:
وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
"Dan pada hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Ar-Rum [30]: 4-5)
Sebagai penutup, saya mengingatkan kalian pada tiga peristiwa di bulan haram ini, bulan Rajab, di mana konferensi kalian ini diselenggarakan. Di dalamnya terdapat pelajaran dan peringatan bagi siapa saja yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya... Dua peristiwa pertama menyinari dunia dengan karunia dan nikmat dari Allah. Peristiwa pertama adalah peristiwa Isra dan Mikraj yang dengannya Allah memuliakan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah wafatnya istri beliau, Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu 'anha, kemudian wafatnya paman beliau Abu Thalib yang selalu membelanya di hadapan Quraisy... Peristiwa kedua adalah izin dari Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mencari nusrah (thalabun nusrah) guna mendirikan Daulah Islam dan menerapkan hukum Allah di bumi. Maka kaum Ansar menyambutnya, Daulah Islam pun berdiri, dan bumi bersinar dengan kebaikan dan keadilan.
Adapun peristiwa ketiga, ia membawa kegelapan setelah cahaya, di mana Inggris bersekongkol dengan agen-agen mereka dari para pengkhianat Arab dan Turki. Mereka bersekongkol melawan Khilafah di Istanbul lalu menghancurkannya. Sejak saat itu, negeri-negeri kita tercabik-cabik dengan perpecahan yang sangat buruk, dan akibatnya kita ditimpa berbagai tragedi yang terus bersambung sebagaimana yang kita saksikan... Maka marilah wahai kaum Muslim untuk melenyapkan kegelapan yang datang tiba-tiba ini, dan mengembalikan cahaya Khilafah sekali lagi. Maka kita akan bernaung di dunia di bawah Rayat al-Uqab, panji Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan kita akan bernaung di akhirat di bawah naungan-Nya Subhanahu wa Ta'ala pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang Allah firmankan:
فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ
"Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa." (QS. Al-Qamar [54]: 55)
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.