Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Analisis

Pidato Amir pada Pembukaan Konferensi Hizbut Tahrir dalam Rangka Peringatan Runtuhnya Khilafah 1428 H

August 16, 2007
1754

Segala puji bagi Allah, serta salawat dan salam bagi Rasulullah, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya.

Saudara-saudara hadirin yang mulia, Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sesungguhnya Allah SWT telah melebihkan manusia atas banyak makhluk yang diciptakan-Nya:

وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاًِ

"...dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna." (QS. Al-Isra [17]: 70)

Allah melebihkan manusia dengan akal dan pemikiran agar mereka merenungkan peristiwa-peristiwa besar yang dilalui, baik itu peristiwa yang membawa kebaikan maupun keburukan, agar mereka dapat mengambil pelajaran dan hikmah. Dengan demikian, mereka bisa menghilangkan keburukan tersebut dan menumbuhkan kebaikannya, bukan sekadar melewatinya begitu saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Allah SWT telah mengistimewakan tempat-tempat dan waktu-waktu tertentu, yang menjadikan peristiwa di dalamnya patut untuk direnungkan lebih dalam daripada jika peristiwa tersebut terjadi di tempat atau waktu yang lain.

Sebagai contoh, kezaliman adalah haram dan dosa jika terjadi di tempat mana pun, namun di Baitullah Al-Haram, kezaliman itu jauh lebih diharamkan dan dosanya jauh lebih besar:

وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍِ

"Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian azab yang pedih." (QS. Al-Hajj [22]: 25)

Demikian pula kezaliman adalah haram dan dosa di sepanjang waktu, namun di dalam bulan-bulan haram (al-asyhurul hurum), kezaliman itu jauh lebih diharamkan dan dosanya jauh lebih besar:

فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

"Maka janganlah kamu menzalimi dirimu sendiri dalam (bulan yang empat) itu." (QS. At-Taubah [9]: 36)

Begitulah, peristiwa-peristiwa yang terjadi di bulan-bulan haram, baik yang baik maupun yang buruk, patut untuk direnungkan lebih dari peristiwa yang terjadi di bulan-bulan lainnya.

Hari ini, kalian berkumpul di bulan haram, yaitu bulan Rajab yang mulia, bulan yang diagungkan dan dihormati oleh Allah SWT, serta diagungkan dan dihormati pula oleh Rasulullah SAW. Saya ingin mengingatkan kalian akan tiga peristiwa penting di bulan ini agar kita merenungkannya sejenak, mengambil pelajaran dan hikmah darinya. Dengan begitu, kita bisa semakin meningkatkan kebaikan dari peristiwa yang baik dan melakukan hal yang serupa, serta memperkuat tekad untuk mencegah keburukan dari peristiwa yang buruk dan menjauh darinya. Artinya, kita merenungkannya untuk beramal sesuai dengan tuntutannya, bukan sekadar membacanya seperti membaca kisah untuk mengisi waktu luang tanpa perenungan, pelajaran, dan amal.

Peristiwa pertama yang saya ingatkan kepada kalian adalah peristiwa Al-Isra' wal-Mi'raj. Menurut pendapat yang paling masyhur, peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Peristiwa ini terjadi setelah wafatnya Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu 'anha dan wafatnya Abu Thalib. Akibatnya, gangguan terhadap Rasulullah SAW dan para sahabatnya semakin keras, dan masyarakat Makkah pun membeku di hadapan dakwah. Maka Allah memuliakan Rasul-Nya SAW dengan memperjalankannya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian menaikkannya ke langit yang tinggi. Di sana, beliau SAW melihat tanda-tanda kebesaran Tuhannya. Peristiwa Al-Isra' wal-Mi'raj menjadi pengangkat kedudukan Islam dan Rasul-Nya, penenang bagi hati Rasulullah SAW, serta isyarat bahwa masa kekufuran dan para pengikutnya di dunia akan segera berakhir dan kemenangan sudah dekat.

Di sini, wahai saudara-saudaraku, kita perlu mencermati satu hal penting yang sering dilalaikan oleh banyak orang saat menceritakan peristiwa Al-Isra' wal-Mi'raj. Hal ini patut untuk dilihat dan direnungkan, yaitu bahwa peristiwa Al-Isra' wal-Mi'raj terjadi bersamaan dengan peristiwa penting lainnya, yaitu thalabun nushrah (mencari pertolongan dan dukungan). Sesungguhnya Allah SWT telah memuliakan Rasul-Nya dengan dua hal saat gangguan terhadap beliau semakin memuncak, yaitu thalabun nushrah dan peristiwa Al-Isra' wal-Mi'raj. Demikianlah, peristiwa Al-Isra' wal-Mi'raj beriringan dengan Baiat Aqabah dan aktivitas nushrah lainnya.

Sudah seharusnya kita merenungkan, mengambil pelajaran, dan beramal. Pada saat kita mengingat Al-Isra' wal-Mi'raj dan memuji Allah atas kebaikan ini, di saat yang sama kita harus bekerja siang dan malam serta mempercepat langkah. Kita harus menuntut nushrah (dukungan) dari para pemilik kekuatan (ahlun nushrah) dengan jujur dan ikhlas, seraya merasa tenang dengan pertolongan terhadap agama ini melalui para penolong (anshar) yang akan datang seperti para Anshar terdahulu yang telah mendahului dalam keimanan. Dari sanalah Khilafah Rasyidah 'ala minhajin nubuwwah akan kembali, dan pada hari itu orang-orang mukmin akan bergembira karena pertolongan Allah.

Peristiwa kedua yang saya ingatkan kepada kalian di bulan haram ini adalah pembebasan Baitul Maqdis pada tanggal 27 Rajab tahun 583 H.

Sebagaimana pada peristiwa pertama ada hal penting yang dilalaikan orang saat berbicara tentang Al-Isra' wal-Mi'raj, yaitu thalabun nushrah, demikian pula di sini. Ada hal penting yang dilalaikan banyak orang saat mereka memperingati pembebasan Masjidil Aqsa dari najis tentara Salib.

Hal penting tersebut adalah bahwa pembebasan Al-Aqsa pada Rajab 583 H didahului (pada tahun 567 H) oleh kembalinya wilayah Mesir ke dalam naungan Khilafah, setelah sebelumnya kaum Fatimiyah memisahkan diri dari Khilafah dan melepaskan Mesir pada tahun 359 H. Artinya, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan sebelumnya Nuruddin Zanki, tidak akan mampu membebaskan Palestina dari najis tentara Salib kecuali setelah persatuan Khilafah dipulihkan. Kemudian di masa Khalifah An-Nashir Al-Abbasi, di mana Shalahuddin menjadi wali di Mesir dan Syam, Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin di bawah kepemimpinan Shalahuddin sehingga mereka mampu membebaskan Masjidil Aqsa. Shalahuddin mengirimkan kabar gembira tersebut kepada Khalifah Al-Abbasi, An-Nashir. Kaum muslimin pun bertakbir dan bertahlil atas kemenangan besar ini, seraya memuji Allah SWT atas karunia dan nikmat-Nya.

Ini adalah hal yang harus dipahami oleh akal dan pemikiran dari peristiwa pembebasan Al-Quds dan Al-Aqsa. Siapa pun yang mencintai Al-Aqsa dan pembebasannya, maka dia wajib bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan satu negara bagi kaum muslimin, yaitu Khilafah Rasyidah 'ala minhajin nubuwwah, yang akan mencabut entitas Yahudi hingga ke akar-akarnya dan mengembalikan seluruh Palestina ke dalam pangkuan Islam, tanpa negosiasi atau perdamaian dengan Yahudi. Jika mereka belum mampu melakukannya hari ini, maka setidaknya jangan sampai menghentikan status perang dengan entitas Yahudi hingga datang seseorang yang dimuliakan Allah untuk membebaskannya, dan dengan itu ia akan meraih kemenangan yang agung.

Peristiwa ketiga yang saya ingatkan kepada kalian di bulan haram ini adalah tragedi penghancuran Khilafah. Di mana penjajah kafir yang dipimpin oleh gembong kekufuran saat itu, Inggris, bersama para pengkhianat Arab dan Turki, berhasil menghapuskan simbol kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Khilafah pun dihapuskan pada tanggal 28 Rajab tahun 1342 H yang bertepatan dengan tanggal 3 Maret 1924 M.

Setelah peristiwa yang menyakitkan ini, tragedi kaum muslimin datang silih berganti. Negeri-negeri mereka terpecah-pecah menjadi lebih dari lima puluh bagian. Di setiap bagian itu, penjajah kafir mengangkat seseorang yang mereka sebut sebagai penguasa. Kekuatan mereka pun menjadi tajam terhadap sesama muslim. Mereka tidak pernah bersepakat dalam kebaikan bagi umat, namun jika mereka bersepakat, yang muncul adalah keburukan yang nyata. Pertemuan-pertemuan puncak (summit) mereka menjadi bukti bahaya yang mereka timbulkan, dan yang terakhir adalah KTT Riyadh di mana mereka "memahkotai" kesepakatan mereka untuk menjual sebagian besar Palestina kepada Yahudi.

Kehinaan para penguasa ini telah mencapai titik yang menyedihkan, di mana Amerika menggunakan mereka sebagai tameng untuk menyelamatkan diri dari keterpurukan di Irak, sebagaimana yang tampak dalam konferensi Baghdad dan Sharm El-Sheikh. Bukannya membuat Amerika semakin tenggelam dalam keterpurukan, mereka justru menolongnya. Sungguh buruk apa yang mereka putuskan. Hal itu tidak lain karena mereka telah mencampakkan kewajiban dari Allah untuk menegakkan Khilafah ke belakang punggung mereka, sehingga kehinaan dan kenistaan menimpa mereka dari segala penjuru.

Hari ini, wahai saudara-saudaraku, kita dituntut untuk menunaikan kewajiban ini. Kita bekerja untuknya dengan keyakinan akan kembalinya Khilafah Rasyidah sebagaimana ia bermula, sesuai dengan kebenaran hadits Rasulullah SAW:

ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ الـنُّـبُوَّةِ

"Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian." (HR. Ahmad)

Saat itu, kita akan menjadi mulia sebagaimana orang-orang yang mendahului kita dalam keimanan telah mulia, kita akan menang sebagaimana mereka telah menang, dan kita akan menemui Allah dalam keadaan Dia rida kepada kita. Kita akan mati dalam keadaan telah membaiat seorang Khalifah yang memerintah dengan Islam, sehingga baiat yang ada di leher kita akan bersaksi atas kebaikan kita. Jangan sampai kita mati dalam keadaan mati jahiliah karena tidak bekerja untuk Khilafah dengan sungguh-sungguh dan jujur kepada Allah dan Rasul-Nya.

Wahai saudara-saudaraku, Cukuplah saya sampaikan tiga peristiwa di bulan haram ini, bulan Rajab yang mulia:

  1. Al-Isra' wal-Mi'raj dan kaitannya dengan thalabun nushrah.
  2. Pembebasan Baitul Maqdis dari tentara Salib setelah pulihnya persatuan Khilafah.
  3. Tragedi penghancuran Khilafah, serta kewajiban bekerja sungguh-sungguh untuk mengembalikannya.

Sebagai penutup, saya memohon kepada Allah SWT agar pertemuan kalian ini menghasilkan pendapat yang tepat, amal yang jujur, dan pengaruh yang mendalam. Semoga pertemuan ini membawa keberkahan, taufik, kebaikan yang merata, serta kemenangan dan kejayaan yang besar.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

28 Rajab 1428 H 11-08-2007 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda