Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Analisis

Pidato Ameer Hizbut Tahrir, Al-Alim Al-Jalil Ata bin Khalil Abu al-Rashtah pada Peringatan 102 Tahun Runtuhnya Daulah Khilafah

February 18, 2023
2710
استمع للمقال

Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan para pengikut beliau.

Kepada umat Islam pada umumnya, dan kepada para pengemban dakwah untuk mengembalikan Khilafah Rasyidah pada khususnya.

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Pada hari seperti ini, tanggal 28 Rajab 1342 H yang bertepatan dengan tanggal 3 Maret 1924 M—yakni 102 tahun Hijriah yang lalu—kafir penjajah yang dipimpin oleh Inggris saat itu, bekerja sama dengan para pengkhianat Arab dan Turki, berhasil menghancurkan Daulah Khilafah. Mustafa Kemal melakukan tindakan kekufuran yang nyata (kufur buwah) dengan menghapuskan Khilafah di Istanbul, mengepung Khalifah, dan mengusirnya pada waktu sahur hari itu. Demikianlah, musibah pedih ini terjadi di negeri kaum Muslim dengan hancurnya Khilafah. Padahal, wajib bagi umat untuk memerangi pelaku kekufuran yang nyata itu dengan pedang, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah ﷺ yang disepakati kesahihannya (muttafaq 'alayh) dari Ubadah bin Shamit ra:

وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْراً بَوَاحاً عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

"Dan hendaknya kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata (buwah), yang kalian miliki buktinya di hadapan Allah."

Akan tetapi, umat tidak melakukan tindakan yang dapat mengguncang penjahat itu beserta para pembantunya hingga mereka merugi. Sebaliknya, reaksi yang muncul sangat lemah dan tidak sepadan dengan peristiwa tersebut!

Sejak saat itu, sejarah umat menjadi gelap. Setelah sebelumnya Khilafah adalah negara bagi umat yang berdiri di atas kebenaran dan keadilan, kini negara-negaranya terpecah menjadi lebih dari lima puluh serpihan. Permusuhan di antara para penguasanya sangat sengit, bahkan gempa bumi di Suriah dan Turki yang begitu dahsyat pada pertengahan bulan ini tidak mampu menghilangkan perpecahan mereka dan mengembalikan kesatuan mereka dalam satu negara. Sebaliknya, mereka tetap dalam keterpecahan mereka, baik sebelum maupun sesudah gempa, tanpa mau mengambil pelajaran!

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

"Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (QS At-Taubah [9]: 126)

Meskipun demikian, musibah gempa tersebut telah menyingkap bahwa Islam tetap tertanam kuat di kedalaman jiwa masyarakat Muslim secara umum. Saat mereka menyelamatkan saudara-saudara mereka dari bawah reruntuhan, mereka bertakbir, terutama saat menyelamatkan seorang bayi yang dilahirkan ibunya yang kemudian meninggal di bawah reruntuhan. Atau seorang pria yang tertimbun reruntuhan namun tangannya terlihat sedang menggenggam tasbih untuk berdzikir kepada Allah. Atau saat mereka mencoba mengeluarkan seorang wanita dari bawah bangunan yang hancur, ia justru meminta penutup kepala terlebih dahulu sebelum dikeluarkan agar rambutnya tidak terlihat. Atau seorang pria yang dipanggil dari bawah puing-puing agar segera keluar, namun ia justru meminta air terlebih dahulu untuk berwudhu dan shalat agar tidak terlewat waktunya. Kemudian, seorang pria yang coba diselamatkan dari reruntuhan namun ia ditemukan sedang membaca Al-Qur'an Surah Al-Baqarah. Serta seorang gadis yang ketika coba dikeluarkan, ia menampakkan kesedihannya karena tidak sempat melaksanakan shalat pada hari itu. Selama proses itu semua, pekikan takbir membahana... Allahu Akbar... Inilah kaum Muslim. Semoga Allah merahmati setiap Muslim yang wafat dalam gempa ini dan semoga mereka termasuk syuhada akhirat dengan izin Allah. Semoga Allah menyembuhkan para korban luka dengan kesembuhan yang sempurna. Semoga Allah menolong setiap Muslim yang selamat, serta menetapkan baginya kehidupan yang baik dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Inilah gambaran kaum Muslim, sementara itu adalah gambaran para penguasa di negeri-negeri Muslim. Jarak di antara keduanya seperti jarak antara timur dan barat. Semua kontras ini terjadi selama 102 tahun sejak musibah besar runtuhnya Khilafah! Setelah itu, kafir penjajah menambah musibah pedih lainnya dengan memanfaatkan hilangnya Khilafah. Mereka memberikan entitas bagi Yahudi di Tanah yang Diberkati, tempat isra' dan mi'raj Rasulullah ﷺ, serta membekali mereka dengan berbagai faktor penunjang keberadaan. Faktor utamanya adalah jaminan keamanan melalui para penguasa kaki tangan yang mengepung wilayah tersebut. Para penguasa itu selalu mengalah di hadapan Yahudi dalam setiap perang yang meletus, hingga mereka memberi entitas Yahudi citra yang berbeda dari apa yang telah Allah sifatkan kepada mereka:

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ

"Dan mereka diliputi kehinaan dan kerendahan." (QS Al-Baqarah [2]: 61)

Para penguasa tersebut tidak merasa cukup sampai di situ, bahkan mereka mengerahkan segala upaya untuk mengalihkan isu dari "melenyapkan entitas Yahudi" menjadi "bernegosiasi dengannya", dengan harapan Yahudi mau menarik diri dari sebagian wilayah yang didudukinya pada tahun 1967!

Negara Yahudi pun terus melakukan kejahatan paling keji di Palestina. Pembantaian sekaligus kepahlawanan di Jenin pada 26 Januari 2023 menjadi buktinya. Tentara entitas Yahudi dengan kekuatan besar dan persenjataan lengkap menyerbu kamp Jenin, melakukan pembantaian yang menggugurkan sembilan syuhada. Mereka menggunakan cara-cara paling keji seperti membunuh, meruntuhkan tembok di atas korban luka, dan melindas dengan buldoser. Kemudian mereka melanjutkan agresinya ke Nablus, menyerbu kamp Aqabat Jabr, membunuh dan melukai banyak orang. Semua itu terjadi tanpa ada gerakan dari para penguasa di negeri-negeri Muslim untuk menolong mereka. Bahkan, yang dianggap "terbaik" di antara para penguasa itu hanyalah yang mengumumkan mediasinya antara si penjahat dan si korban. Semoga Allah membinasakan mereka, bagaimanakah mereka sampai dipalingkan? Terlebih lagi, mereka justru berbondong-bondong melakukan kejahatan normalisasi dengan Yahudi. Setelah penguasa Mesir memimpin jalan kehinaan ini, jejaknya diikuti oleh PLO dan para penguasa Yordania, kemudian Emirat, Bahrain, dan Maroko. Sekarang, Sudan pun menyusul kejahatan tersebut. Al-Burhan, pemimpin Sudan, menerima menteri luar negeri Yahudi, Eli Cohen, di Khartoum pada 2 Februari 2023 untuk membahas normalisasi hubungan! Mereka semua tidak peduli dengan kehinaan yang menyelimuti mereka:

سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ

"Kelak orang-orang yang berdosa itu akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras karena tipu daya yang mereka lakukan." (QS Al-An'am [6]: 124)

Hal yang aneh adalah, setiap kali terjadi eskalasi atau kejahatan oleh entitas Yahudi, para pemimpinnya justru sedang berada di pelukan para penguasa Arab atau sedang mengunjungi mereka. Netanyahu, sesaat sebelum kejahatan di Jenin, menjadi tamu di istana rezim Yordania! Selama kejahatan di Jenin berlangsung, Otoritas Palestina tetap melakukan koordinasi keamanan dengan Yahudi berdasarkan pengakuan mereka sendiri, karena mereka mengklaim akan menghentikan koordinasi tersebut setelah kejahatan terjadi—berarti sebelumnya memang ada! Namun yang lebih aneh dan ganjil adalah ketika seorang pahlawan Palestina membela negeri dan keluarganya dengan menewaskan tujuh orang Yahudi dalam operasi di Yerusalem pasca pembantaian tersebut, para penguasa di negeri kaum Muslim justru bersegera mengecamnya! Kementerian luar negeri Turki, Emirat, Yordania, dan Mesir mengeluarkan pernyataan pers yang mengutuk operasi Yerusalem tersebut!

Bukan hanya Palestina yang mereka khianati, tetapi mereka juga menyerah atau menyerahkan wilayah-wilayah suci lainnya dari tanah Islam. Kashmir dianeksasi oleh kaum musyrik Hindu ke negara mereka sementara penguasa Pakistan diam seribu bahasa. Muslim Rohingya dibantai di Myanmar, dan penguasa Bangladesh seolah tertidur tidak melihat. Kemudian Turkestan Timur, di mana China melakukan pembantaian, namun negara-negara yang ada di negeri kaum Muslim membisu laksana kuburan. Jika pun mereka berbicara, mereka menyebut pembantaian itu sebagai "urusan dalam negeri China"!

كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِباً

"Sungguh besar kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan kebohongan belaka." (QS Al-Kahfi [18]: 5)

Kafir penjajah tidak merasa puas dengan kehinaan yang mereka timpakan kepada umat ini, mereka bahkan berani melecehkan akidahnya. Paludan, seorang ekstremis, membakar salinan Al-Qur'an al-Karim di depan gedung Kedutaan Besar Turki di Stockholm pada Sabtu, 21 Januari 2023, setelah diizinkan oleh otoritas Swedia. Kejahatan pembakaran Al-Qur'an ini berlanjut di Den Haag dan Kopenhagen pada Jumat, 27 Januari 2023. Setelah itu, Al-Azhar melalui lembaga pemantauannya mengeluarkan pernyataan keras yang mengutuk dan menuntut dihentikannya upaya pelecehan terhadap kesucian agama. Tidak diragukan lagi bahwa para ulama Al-Azhar mengetahui bahwa jawaban atas pembakaran Al-Qur'an bukanlah dengan kecaman lisan, melainkan dengan menggerakkan tentara untuk menolong Kitabullah dan agama-Nya. Sebab, pembakaran Al-Qur'an adalah pernyataan perang terhadap umat Islam dan akidahnya. Maka jawabannya adalah dengan perang yang akan mencerai-beraikan orang-orang di belakang mereka:

فَإِمَّا تَثْقَفَنَّهُمْ فِي الْحَرْبِ فَشَرِّدْ بِهِمْ مَنْ خَلْفَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

"Maka jika engkau (Muhammad) menjumpai mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, agar mereka mengambil pelajaran." (QS Al-Anfal [8]: 57)

Wahai kaum Muslim: Sesungguhnya agresi terhadap kaum Muslim tidak dihadapi dengan kata-kata yang indah tampilannya namun kosong isinya, yang tidak mengenyangkan dan tidak pula menghilangkan lapar. Agresi itu harus dibalas dengan mata pedang, dengan serangan-serangan yang membuat musuh melupakan bisikan setan. Demikianlah keadaan kaum Muslim ketika mereka memiliki Khilafah. Perjalanan peristiwa di masa mereka membuktikan hal tersebut, dan ini adalah perkara tetap yang tidak bisa diingkari oleh orang yang memiliki penglihatan dan mata hati. Contoh-contohnya nyata dalam sejarah kaum Muslim yang dinukil oleh (Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, Futuh al-Buldan karya Al-Baladzuri, Tarikh Ibnu Khaldun, Tarikh al-Islam karya Adz-Dzahabi, dan sumber-sumber lainnya). Saya kutipkan untuk kalian sebagian darinya:

  • Memasuki tahun 87 Hijriah... Di dalamnya Qutaibah bin Muslim menyerbu Bikand, bagian dari wilayah Bukhara. Belum sampai tengah hari, Allah telah menurunkan kemenangan kepada kaum Muslim. Orang yang memprovokasi musuh melawan kaum Muslim adalah seorang pria bermata satu dari kalangan mereka. Ketika ia ditawan, ia berkata: "Aku akan menebus diriku dengan lima ribu helai kain China seharga satu juta." Para komandan menyarankan Qutaibah agar menerima tebusan itu. Namun Qutaibah berkata: "Tidak, demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu menakut-nakuti seorang Muslim pun untuk kedua kalinya." Lalu ia memerintahkan agar pria itu dipenggal lehernya.

  • Memasuki tahun 90 Hijriah... Di dalamnya Dahir, penguasa Sind, menyerang kapal yang berisi wanita-wanita Muslimah dan menawan mereka. Khalifah mengirim perintah kepada wali-nya agar membalas kezaliman tersebut. Maka Muhammad bin Qasim memimpin pasukan, menyelamatkan para Muslimah tersebut, membalas penguasa tiran itu, dan menaklukkan negeri Sind.

  • Memasuki tahun 223 Hijriah... Raja Romawi menyerang negeri kaum Muslim, melakukan pembunuhan dan penawanan terhadap penduduk Zabathrah. Seorang wanita berteriak: "Wa Mu'tashimah!" (Wahai Mu'tashim, tolonglah!). Kabar itu sampai kepada Khalifah Al-Mu'tashim, lalu beliau menjawab: "Labbaiki!" (Aku datang memenuhinya!). Beliau memimpin pasukan dan membalas perlakuan terhadap wanita tersebut. Beliau bertanya: "Negeri Romawi mana yang paling besar?" Dijawab: "Amuriyah (dekat Ankara)." Maka beliau pun menaklukkannya.

  • Memasuki tahun 582 Hijriah... Di dalamnya Arnat (Raynald de Chatillon), penguasa Karak, berkhianat dengan merampok kafilah besar (jamaah haji) dari Mesir. Ia membunuh dan menawan. Maka Sultan Salahuddin menyiapkan perang melawannya, memanggil tentara dari berbagai negeri, dan bernazar jika berhasil menangkapnya, ia akan membunuhnya sendiri. Allah memberinya kemenangan atas Arnat pada tahun 583 H dalam Pertempuran Hittin pada pertengahan Rabiul Akhir. Kemudian Salahuddin membunuhnya dengan tangannya sendiri sebagai balasan atas pengkhianatan dan perampokannya. Setelah itu, pembebasan Al-Aqsha terjadi pada 27 Rajab 583 H.

  • Pada tahun 1307 H (1890 M), seorang penulis drama menyusun naskah yang isinya memfitnah Rasulullah ﷺ dan berusaha menampilkannya di salah satu teater di Paris. Ketika Khalifah Abdul Hamid mengetahuinya, beliau memanggil duta besar Prancis di Istanbul dan sengaja menemuinya dengan mengenakan seragam militer. Beliau mengancam bahwa jika drama itu dipentaskan, Daulah Utsmaniyah akan memutus hubungan dengan Prancis sebagai tanda perang. Beliau berkata dengan nada keras: "Aku adalah Khalifah kaum Muslim... aku akan mengguncang dunia di atas kepala kalian jika kalian tidak menghentikan drama itu." Maka Prancis tunduk dan melarang pementasan drama tersebut.

Kafir penjajah saat itu menyadari bahwa setiap pelanggaran terhadap kehormatan Islam dan kaum Muslim akan dibalas dengan dipotongnya lidah dan dipatahkannya kaki. Hari ini, Al-Qur'an al-Karim, Rasulullah ﷺ, dan negeri-negeri kaum Muslim dilecehkan namun tidak ada balasan atas agresi tersebut! Hal itu semata-mata karena ketiadaan seorang Imam, yakni Khalifah Rasyidah yang melindungi umat dari keburukan musuh. Disebutkan dalam hadits sahih yang disepakati kesahihannya:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ، يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ، وَيُتَّقَى بِهِ

"Sesungguhnya seorang Imam (Khalifah) itu laksana perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR Muttafaq 'alayh)

Sebagai penutup, saya kembali menyeru kepada kalian, wahai para pemilik kekuatan dan kekuasaan (ahlul quwwah wal man'ah)... Sesungguhnya hanya kalianlah yang mampu mengobati luka di dada umat dari musuh-musuh mereka, musuh-musuh agama kalian. Hanya kalianlah yang mampu menghancurkan kehinaan yang menimpa kaum Muslim di negeri mereka. Maka bangkitlah melaksanakan kewajiban kalian, semoga Allah memberkahi kalian. Bangkitlah untuk menolong kami, menolong Hizbut Tahrir demi tegaknya Khilafah Rasyidah. Khilafah bukan sekadar jalan kemenangan dari sisi realitas saja, namun yang utama adalah karena ia merupakan kewajiban yang sangat agung. Barangsiapa yang tidak beramal—padahal ia mampu—untuk menegakkan Khilafah dan mengangkat seorang Khalifah yang berhak dibaiat, maka dosanya sangat besar seolah-olah ia mati dalam keadaan mati jahiliah, untuk menunjukkan betapa besarnya dosa tersebut, sebagaimana sabda beliau ﷺ:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

"Dan barangsiapa mati sementara di lehernya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati jahiliah." (HR Muslim)

Yang kedua, kaum Muslim telah menyibukkan diri dengan pembaiatan Khalifah bahkan sebelum menyibukkan diri dalam mengurus jenazah Rasulullah ﷺ dan menunaikan kewajiban pemakaman beliau ﷺ, semua itu karena betapa pentingnya Khilafah. Yang ketiga, Umar ra pada hari wafatnya telah menetapkan batas waktu pemilihan Khalifah dari enam orang yang diberi kabar gembira masuk surga selama tiga hari, tidak lebih. Jika tidak tercapai kesepakatan selama waktu itu, maka penentangnya harus dibunuh. Hal itu terjadi di hadapan para sahabat dan tidak ada satu pun dari mereka yang mengingkarinya, sehingga menjadi ijmak sahabat. Sementara kita sekarang telah melewati "banyak sekali tiga hari"! Demikianlah, menegakkan Khilafah adalah urusan yang sangat agung.

Wahai tentara Allah: Kami menyadari bahwa tidak akan turun malaikat dari langit untuk menegakkan Khilafah bagi kita, melainkan Allah akan menurunkan malaikat untuk membantu kita jika kita bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan Khilafah. Khilafah adalah janji yang benar dalam Kitabullah:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa." (QS An-Nur [24]: 55)

Dan kabar gembira tentang kemuliaan dalam hadits Rasulullah ﷺ setelah kekuasaan diktator (mulkan jabriyyan). Beliau ﷺ bersabda:

...ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

"...kemudian akan ada kekuasaan yang memaksa (diktator), yang akan tetap ada selama Allah kehendaki, kemudian Allah akan mengangkatnya jika Allah berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian." (HR Ahmad). Kemudian beliau ﷺ diam.

Kami juga menyadari bahwa musuh-musuh Islam akan menganggap tegaknya kembali Khilafah sebagai hal yang mustahil, seraya mengulang-ulang perkataan para pendahulu mereka dengan nada mengejek:

غَرَّ هَؤُلَاءِ دِينُهُمْ

"Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya." (QS Al-Anfal [8]: 49)

Namun, sebagaimana perkataan tersebut menjadi malapetaka bagi pengucapannya, sementara Allah memuliakan agama-Nya dan menolong hamba-Nya, maka demikian pula hari ini, hal itu akan menjadi malapetaka bagi mereka. Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana senantiasa bersama hamba-hamba-Nya yang ikhlas yang bekerja dengan sungguh-sungguh, tanpa memisahkan hati dan anggota tubuh mereka dari firman Allah Ta'ala:

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً

"Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS At-Talaq [65]: 3)

Mereka ini, dengan setiap hari yang berlalu, semakin mendekati "ketentuan" ini dengan izin Allah...

وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيباً

"Dan mereka bertanya, 'Kapan itu (akan terjadi)?' Katakanlah, 'Boleh jadi waktunya sudah dekat'." (QS Al-Isra [17]: 51)

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

28 Rajab 1444 H 19 Februari 2023 M

Saudara kalian, Ata bin Khalil Abu al-Rashtah Ameer Hizbut Tahrir

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda