Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Analisis

Pidato Amir Hizbut Tahrir, Al-Alim Al-Jalil Ata bin Khalil Abu al-Rashtah, dalam Rangka Peringatan Penaklukan Konstantinopel Tahun 857 H - 1453 M

January 13, 2020
11138
استمع للمقال

Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan para pengikut beliau.

Kepada umat Islam, sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia... Kepada para pengemban dakwah yang terpilih dan berbakti... Serta kepada para pengunjung halaman yang mulia,

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,

Sesungguhnya dalam sejarah bangsa-bangsa terdapat hari-hari yang bercahaya yang menjadi kebanggaan bagi bangsa tersebut. Maka bagaimana jadinya jika hari-hari itu merupakan momen terwujudnya bisyarah (kabar gembira) Rasulullah ﷺ? Hari-hari itu tak pelak lagi bagaikan bintang-bintang yang bersinar di langit, bahkan bagaikan matahari yang menerangi dunia dan mengangkat posisi umat hingga ke puncak langit... Di antara hari-hari cemerlang kita ini adalah hari peringatan penaklukan Konstantinopel. Sang Penakluk (Al-Fatih) mulai menyerang dan mengepung Konstantinopel terhitung sejak 26 Rabiul Awal hingga penaklukannya sempurna pada fajar hari Selasa, tanggal 20 bulan yang sama yakni Jumadil Ula 857 H. Artinya, pengepungan tersebut berlangsung sekitar dua bulan.

Ketika Muhammad al-Fatih memasuki kota dengan penuh kemenangan, beliau turun dari kudanya, lalu bersujud kepada Allah sebagai bentuk syukur atas kemenangan dan keberhasilan ini. Kemudian beliau menuju gereja "Aya Sophia", di mana rakyat Bizantium dan para pendetanya berkumpul di sana. Beliau memberikan jaminan keamanan kepada mereka, memerintahkan konversi gereja "Aya Sophia" menjadi masjid, serta memerintahkan pembangunan masjid di lokasi makam sahabat yang mulia, Abu Ayyub al-Anshari, yang merupakan bagian dari pasukan kampanye pertama penaklukan Konstantinopel dan wafat di sana—semoga Allah merahmatinya dan meridaunya.

Sang Penakluk—yang dijuluki dengan gelar ini (Al-Fatih) setelah penaklukan tersebut—memutuskan untuk menjadikan Konstantinopel sebagai ibu kota negaranya setelah sebelumnya beribu kota di Edirne. Beliau menamai Konstantinopel setelah penaklukannya dengan nama "Islambol" yang berarti "Kota Islam" (Darul Islam), yang kemudian masyhur dengan sebutan "Istanbul". Lalu Sang Penakluk masuk ke dalam kota, menuju ke "Aya Sophia" dan melakukan salat di dalamnya, hingga tempat itu menjadi masjid berkat karunia, nikmat, dan pujian kepada Allah... Tempat itu terus menjadi masjid yang suci dan bercahaya yang dimakmurkan oleh kaum mukmin hingga penjahat abad ini, Mustafa Kemal, melarang salat di dalamnya dan menodainya dengan menjadikannya museum bagi para pengunjung!

Demikianlah bisyarah Rasulullah ﷺ terwujud sebagaimana dalam hadis mulia beliau dari Abdullah bin Amru bin al-Ash, ia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ حَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ نَكْتُبُ إِذْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَيُّ الْمَدِينَتَيْنِ تُفْتَحُ أَوَّلاً قُسْطَنْطِينِيَّةُ أَوْ رُومِيَّةُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلاً، يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ

"Saat kami sedang menulis di sekitar Rasulullah ﷺ, beliau ditanya, 'Kota manakah yang akan ditaklukkan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?' Rasulullah ﷺ menjawab: 'Kota Heraklius-lah yang akan ditaklukkan lebih dulu,' yakni Konstantinopel." (HR Ahmad dalam Musnadnya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, dan ia berkata: "Hadis ini sahih menurut syarat asy-Syaikhani (Bukhari-Muslim) meskipun keduanya tidak mengeluarkannya". Adz-Dzahabi memberikan komentar dalam at-Talkhish: "Sesuai syarat Bukhari dan Muslim").

Demikian pula dalam hadis mulia dari Abdullah bin Bisyr al-Khats’ami dari ayahnya bahwa ia mendengar Nabi ﷺ bersabda:

لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

"Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Maka sebaik-baik panglima adalah panglimanya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut." (HR Ahmad. Disebutkan dalam Majma' az-Zawaid dalam komentarnya: "Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar, dan ath-Thabrani, dan para perawinya adalah terpercaya").

Maka terwujudlah bisyarah ini di tangan pemuda bernama Muhammad al-Fatih yang usianya belum melewati dua puluh satu tahun. Akan tetapi, ia telah dipersiapkan dengan persiapan yang lurus sejak masa kecilnya. Ayahnya, Sultan Murad II, menaruh perhatian besar kepadanya dengan menjadikannya berguru kepada guru-guru terbaik pada zamannya, di antaranya Ahmad bin Ismail al-Kurani yang disebutkan oleh as-Suyuthi sebagai guru pertama Al-Fatih. As-Suyuthi berkata tentangnya: "Ia adalah seorang alim yang fakih, para ulama pada zamannya mengakui keunggulan dan penguasaannya, bahkan mereka menyebutnya sebagai Abu Hanifah pada zamannya." Demikian pula Syekh Ak-Syamsuddin Sunqur, yang pertama kali menanamkan ke dalam pikirannya sejak kecil hadis Rasulullah ﷺ tentang "Penaklukan Konstantinopel", sehingga pemuda itu tumbuh besar dengan kerinduan untuk mewujudkan penaklukan tersebut di tangannya.

Syekh Ak-Syamsuddin mengajarkan kepada Muhammad al-Fatih ilmu-ilmu dasar seperti Al-Qur'an, Hadis, Sunah Nabi, dan Fikih, serta bahasa Arab, Persia, dan Turki. Beliau juga mengajarkannya beberapa ilmu kehidupan seperti matematika, astronomi, dan sejarah... Di samping itu, ia memiliki keberanian dalam berkuda dan seni bertempur... Allah telah memuliakannya dengan anugerah dan karunia-Nya, sehingga ia berhak mendapatkan pujian dari Rasulullah ﷺ. Al-Fatih adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan, di mana hati mereka dipenuhi dengan iman, anggota tubuh mereka bergerak melakukan persiapan dan kejujuran jihad. Mereka menolong agama Allah, maka Allah pun menolong mereka dengan penaklukan yang agung ini. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Al-Fatih adalah seorang yang tajam pengamatannya, tepat mata batin serta pandangannya. Setiap kali melihat celah, ia menyelesaikannya dengan tepat atas izin Allah, dan setiap kali muncul hambatan, ia menyingkirkannya dengan pertolongan Allah. Ia menghadapi tiga hambatan yang ia selesaikan dengan kecerdasan yang tajam dan ketajaman akal yang luar biasa:

  1. Pasukannya mengeluh kepadanya tentang cuaca dingin saat mereka berada di tempat terbuka di sekitar pagar tembok. Maka ia membangun benteng untuk mereka berlindung setiap kali diperlukan. Ia tidak ingin pasukannya menghentikan pengepungan jika berlangsung lama dan pulang kembali sebagaimana yang dilakukan pasukan Muslim sebelumnya yang menyerang Konstantinopel. Sebaliknya, ia menginginkan tidak ada kepulangan kecuali Konstantinopel telah ditaklukkan dengan izin Allah.

  2. Pagar tembok Konstantinopel terdiri dari tiga lapis, dan di antara setiap lapis terdapat jarak beberapa meter. Oleh karena itu, Al-Fatih sempat bingung dalam masalah ini, karena pada masa itu belum ada senjata dengan daya hancur yang kuat. Senjata terkuat yang mereka miliki hanyalah manjaniq (pelontar batu) yang melemparkan batu yang ukurannya tidak kecil namun tidak cukup kuat untuk membuat celah pada dinding sebesar itu. Karena Muhammad al-Fatih selalu mengikuti perkembangan kemampuan militer di dunia, sampailah kepadanya informasi bahwa seorang insinyur Hongaria (Urban) telah menyiapkan gagasan untuk membuat meriam dengan kekuatan khusus yang mampu meruntuhkan pagar tembok. Urban sebelumnya telah menawarkan jasanya kepada Kaisar Konstantinopel namun sang kaisar tidak mempedulikannya. Maka Al-Fatih menyambutnya dengan sangat baik, melimpahinya dengan harta, dan memudahkan segala sarana yang memungkinkannya menyelesaikan temuannya. Urban pun mulai membuat meriam dengan bantuan para insinyur Utsmani, dan Al-Fatih mengawasinya sendiri. Tidak sampai tiga bulan, Urban telah membuat tiga meriam berukuran besar dengan berat peluru meriam sekitar satu setengah ton. Al-Fatih tidak ingin menguji coba meriam itu di depan pagar tembok karena khawatir hasilnya tidak sesuai harapan dan dilihat oleh bangsa Romawi dari balik pagar tembok sehingga memengaruhi mental kaum Muslim. Maka ia melakukan uji coba di Edirne dan berhasil sukses. Beliau memuji Allah dan memindahkan ketiga meriam tersebut dari Edirne ke dekat pagar tembok Konstantinopel untuk menghancurkannya hingga bangsa Romawi menyerah.

  3. Kemudian ada hal lain yang menyibukkan pikirannya. Ia mengetahui bahwa pagar tembok lemah di area teluk di sekitar Konstantinopel. Meskipun bangsa Romawi menyadari lemahnya pagar tembok di sisi teluk, mereka merasa tenang karena kapal-kapal Muslim tidak akan bisa mencapai mereka karena pintu masuk teluk ditutup dengan rantai besi. Namun Al-Fatih—semoga Allah membukakan jalan baginya—mencapai sebuah keputusan untuk meluncurkan kapal-kapal melalui permukaan bukit (Galata) yang berhadapan dengan pagar tembok dari sisi teluk (Golden Horn). Ia memasang kayu-kayu di permukaan bukit, menyiramkan minyak dan lemak dalam jumlah besar, lalu meluncurkan kapal-kapal di atasnya. Dalam satu malam ia berhasil menurunkan 70 kapal ke teluk. Hal itu sangat mengejutkan bangsa Romawi. Ketika pagi tiba dan mereka melihat kapal-kapal Muslim berada di teluk, hati mereka dipenuhi ketakutan. Kemenangan dan penaklukan pun diraih, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Wahai saudara-saudara, sesungguhnya aku ingin mengulang kembali sebagian kisah penaklukan Konstantinopel kepada kalian karena tiga alasan:

Pertama, sebagai bentuk pengingat agar setiap orang yang memiliki mata dapat melihat bagaimana keagungan Islam dan kaum Muslim saat Islam mereka diterapkan. Saat itulah kekufuran tidak akan memiliki pijakan, melainkan kebenaranlah yang akan menjulang tinggi setinggi kumandang azan (Allahu Akbar). Dan hal itu telah terjadi, di mana Persia dan Bizantium tunduk di hadapannya. Dan segera akan menyusul dalam waktu dekat, insya Allah, saudara kembar Bizantium yaitu Roma, sebagai pembenaran atas bagian lain dari bisyarah Rasulullah ﷺ mengenai penaklukan Roma...

Adapun yang kedua, agar hati kalian merasa tenang dengan terwujudnya tiga bisyarah Rasulullah ﷺ lainnya sebagaimana telah terwujudnya bisyarah yang pertama. Beliau ﷺ telah memberi kita kabar gembira tentang penaklukan Konstantinopel, penaklukan Roma, kembalinya Khilafah ala Minhajin Nubuwwah, serta memerangi Yahudi dan mengalahkan mereka dengan kekalahan yang telak... Rasulullah ﷺ tidaklah berbicara menurut hawa nafsunya, melainkan itu adalah wahyu yang diwahyukan. Tiga bisyarah Rasulullah ﷺ yang tersisa akan terwujud dengan izin-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Namun hal itu tidak terwujud dengan turunnya malaikat dari langit yang memberikannya kepada kita secara cuma-cuma. Melainkan sunatullah adalah kita menolong agama Allah maka Allah akan menolong kita, yakni dengan menegakkan syariat-Nya, meninggikan bangunan Daulah-Nya, mempersiapkan kekuatan semampu kita, kemudian berjihad di jalan-Nya. Saat itulah bumi akan bersinar dengan tiga bisyarah yang tersisa dan bumi akan bersinar kembali dengan Khilafah yang baru...

Adapun yang ketiga, bahwasanya Barat kafir bersama para pengkhianat dari kalangan Arab dan Turki telah berhasil meruntuhkan Khilafah pada tahun 1342 H - 1924 M. Mereka menganggap keruntuhan ini sebagai tandingan bagi penaklukan Konstantinopel, yang kemudian mengembalikan kekuatan Barat kafir yang sempat hilang. Maka fokus utama Barat adalah mengerahkan segala upaya agar Khilafah tidak kembali lagi, agar kekuatan yang telah mereka raih kembali tidak hilang. Apalagi mereka kini telah menjadi penjajah atas negeri-negeri kaum Muslim. Mereka mengawasi gerakan-gerakan di negeri kaum Muslim. Ketika pengumuman berdirinya Hizbut Tahrir dilakukan pada tahun 1372 H - 1953 M dan menjadi jelas bagi Barat bahwa pilar amal Hizb serta al-qadhiyah al-mashiriyyah (persoalan hidup dan mati)-nya adalah mengembalikan Khilafah kembali, dan bahwa Hizb sangat bersungguh-sungguh dalam amalnya, maka Barat memerintahkan para penguasa anteknya untuk melarang Hizb dan mengejarnya dengan penangkapan serta penyiksaan hingga syahid di beberapa wilayah, kemudian dengan hukuman penjara yang lama bahkan hingga seumur hidup di wilayah lainnya... Kemudian mereka menambahkan metode kebohongan, pemalsuan, dan pengubahan fakta tanpa rasa malu sedikit pun... Agar fitnah-fitnah ini memiliki pengaruh dalam dugaan mereka, mereka menjadikan orang-orang yang melakukannya adalah orang-orang yang bernama dengan nama-nama Muslim dan berpakaian dengan pakaian mereka. Lalu beberapa orang yang meninggalkan dakwah, orang yang melanggar janji (nakitsin), dan orang yang dijatuhi sanksi yang dulunya pernah berada di dalam Hizb ikut berjalan bersama mereka dalam fitnah-fitnah ini... Demikianlah, berbagai golongan ini bersatu dalam fitnah, pemalsuan, dan pengubahan fakta, yang masing-masing memiliki peran: orang kafir, orang munafik, para penyebar berita bohong (murjifun), kemudian sekelompok kecil dari orang-orang yang meninggalkan dakwah, orang yang dijatuhi sanksi, orang yang melanggar janji, serta orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit. Mereka semua bersatu dalam makar terhadap Hizb dan memfitnahnya. Mereka melangkah dengan langkah-langkah beracun dan membiasakan diri berbohong dalam setiap tahapan mereka. Setiap kali mereka gagal dalam satu kebohongan, mereka membawa kebohongan lainnya. Para pecandu dusta itu lupa atau pura-pura lupa bahwa para syabab Hizb memiliki kejernihan berpikir, kecepatan pemahaman, dan kecerdasan yang mendalam yang membuat mereka mampu membedakan mana yang buruk dan mana yang baik, sehingga mereka tidak membiarkan satu pun kebohongan masuk ke dalam barisan mereka... Demikianlah, meskipun berbagai sarana penghias fitnah mereka gunakan, dan meski industri kosmetik untuk memalsukan fakta telah mereka upayakan dengan susah payah, semua itu tidak mendapatkan telinga yang mau mendengar baik dari para syabab Hizb maupun dari orang-orang Muslim yang berakal. Sebaliknya, hal itu hanyalah:

أَوْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئاً

"Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu pun." (QS. An-Nur [24]: 39)

Bersamaan dengan setiap makar jahat, keburukan yang mereka tanam, dan perbuatan buruk yang mereka lakukan terhadap Hizb dan kepemimpinannya dengan dugaan bahwa mereka akan memengaruhi Hizb, maka dugaan mereka justru akan membinasakan mereka sendiri, dan kemudian mereka akan berbalik dengan izin Allah dalam keadaan merugi dan tidak mendapatkan kebaikan apa pun, betapa pun panjangnya kebohongan, tipu daya, dan makar mereka:

وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ

"Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri." (QS. Fathir [35]: 43)

Mereka akan mendapatkan akibatnya di sisi Allah betapa pun pekatnya fitnah dan makar mereka:

وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ

"Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya." (QS. Ibrahim [14]: 46)

Sebagai penutup, sesungguhnya sikap-sikap teguh kalian, wahai saudara-saudara, yang konsisten di atas kebenaran, yang jernih dan kuat dalam menghadapi serangan bertubi-tubi terhadap dakwah yang haq, benar-benar mengingatkan kita pada sikap para Sahabat—semoga Allah merida mereka—sebagai bentuk meneladani sikap Rasulullah ﷺ yang penuh hikmah dan agung dalam menghadapi kesulitan... Demikianlah sikap kalian, sikap yang kokoh dan teguh yang tidak melemah karena cobaan dan tidak goyah dalam fitnah. Sebaliknya, tekad kalian semakin kuat dan kerongkongan kalian lantang menyuarakan kebenaran. Kalian melihat ke dunia sekali dan melihat ke akhirat berkali-kali. Maka selamat bagi Hizb karena memiliki kalian, dan selamat bagi kalian karena berada di dalam Hizb:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ * لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. An-Nur [24]: 37-38)

Sebagai akhir dari penutup, saya memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar realisasi bisyarah-bisyarah Rasulullah ﷺ terus berlanjut, sehingga kembalilah Khilafah umat ini, dan kemudian membebaskan Al-Quds-nya, serta menaklukkan Roma sebagaimana saudara kembarnya telah mendahuluinya... Sebagai pembenaran atas hadis-hadis Rasulullah ﷺ... Sebagaimana kami memohon kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala agar membekali kami dengan pertolongan dari sisi-Nya, sehingga kami dapat memperbagus amal dan menyempurnakannya, lalu kami menjadi layak untuk mendapatkan pertolongan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

"Dan di hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Ar-Rum [30]: 4-5)

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Kamis, 7 Jumadil Ula 1441 H Bertepatan dengan 2 Januari 2020 M

Saudara Kalian,

Ata bin Khalil Abu al-Rashtah Amir Hizbut Tahrir

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda