<video src="https://htmedia.htcmo.info/HTAmeer/2009/Ameer_OlamaConf21072009.mp4" controls="controls" width="800" height="488" type="video/mp4"></video>
Allah SWT berfirman: ( إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ) (Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama).
Rasulullah ﷺ bersabda: « العلماء ورثة الأنبياء » (Ulama adalah pewaris para Nabi). HR Abu Dawud dan Tirmidzi dari jalur Abu Darda’ radhiyallahu 'anhu.
Wahai para ulama yang mulia:
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Alhamdulillah wash-sholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man walaah.
Saya ingin memulai dengan ayat yang mulia dan hadits yang agung ini untuk menjelaskan kedudukan seorang alim (ulama) yang bermanfaat ilmunya dan ikhlas dalam amalnya, ( قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ ) (Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran).
Selanjutnya, wahai para ulama yang mulia,
Anda sekalian mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ diutus dengan Islam yang agung, bukan hanya untuk dibaca oleh lisan saja, tetapi untuk diterapkan kepada manusia di muka bumi. Maka, harus ada Daulah (Negara) yang menegakkan hukum-hukumnya (hudud), menerapkan aturannya, memperjuangkan Islam dengan sebenar-benarnya perjuangan (haqqa jihadih), menegakkan keadilan, dan menyebarkan kebaikan ke seluruh penjuru dunia. Ini adalah hal yang jelas dan terang dalam Sirah Rasulullah ﷺ: Beliau berdakwah kepada Allah di Makkah al-Mukarramah dengan penuh bashirah (pandangan yang jelas), dan meminta nushrah (pertolongan) dari para kabilah dan ahli kekuatan lebih dari sepuluh kali, hingga Allah SWT menolongnya melalui kaum Anshar dari Madinah al-Munawwarah. Maka terjadilah Hijrah dan berdirilah Daulah (Negara), lalu terjadi Fath (penaklukan) dan penyebaran Islam melalui dakwah dan jihad.
Kemudian setelah beliau, digantikan oleh para Khulafa ar-Rasyidin, mereka mengikuti petunjuk beliau ﷺ dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad hingga datang kepada mereka keyakinan (kematian). Daulah Islam, yakni Daulah Khilafah, terus berlangsung pada masa Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan Utsmaniyyah, hingga kaum kafir penjajah—yang dipimpin oleh Britain saat itu—dengan kerja sama beberapa pengkhianat dari Arab dan Turki, berhasil menghancurkan Khilafah, pada hari seperti ini 88 tahun yang lalu, yaitu pada 28 Rajab 1342 H, bertepatan dengan 3 Maret 1924 M.
Wahai para ulama yang mulia:
Sepanjang masa Khilafah mereka, kaum Muslimin selalu kuat karena Rabb mereka, mulia karena agama mereka. Ketika mereka mengucapkan satu kalimat, kalimat itu menggema di seluruh penjuru dunia, dan ketika mereka melakukan satu perbuatan, ia menanamkan rasa takut di hati orang-orang kafir:
Khalifah mereka berbicara kepada awan agar menumpahkan hujan di mana pun ia kehendaki, karena hasilnya akan kembali kepada kaum Muslimin, di mana pun bendera Khilafah dinaungi oleh hujan tersebut. Penguasa Romawi berani menyerang negeri Muslimin, lalu ia mengirim surat ancaman kepada Harun, Khalifah kaum Muslimin. Khalifah tidak melihatnya layak dijawab di lembaran terpisah, melainkan menjawabnya di belakang suratnya: "Jawabannya adalah apa yang engkau lihat, bukan apa yang engkau dengar." Ia lalu memimpin sendiri pasukannya, menundukkan pengancam itu, dan membuatnya merasakan akibat dari perbuatannya. Seorang wanita yang dizalimi oleh seorang panglima Romawi berteriak, "Wahai Mu'tashim!" Khalifah pun meresponsnya dengan mengirimkan pasukan yang ia pimpin sendiri, mengalahkan musuhnya, menghukum orang yang menzalimi wanita itu, dan mengembalikan kehormatan serta keamanannya. Ketika bahaya dari orang jahat yang memotong jalan kaum Muslimin, mengganggu wanita dan anak-anak semakin parah, Qutaibah, panglima kaum Muslimin, menangkapnya. Orang jahat itu menawarkan tebusan besar untuk dibebaskan. Tebusan itu begitu besar sehingga beberapa pembantu panglima Muslim melihatnya dapat menutupi kebutuhan kaum Muslimin dan meminta panglima melepaskannya dengan imbalan tebusan tersebut. Panglima menjawab: "Tidak, demi Allah, jangan sampai ada wanita Muslimah yang ketakutan lagi karenanya..." Raja Perancis ditawan, dan Perancis tidak menemukan siapa pun untuk dimintai pertolongan demi menyelamatkan rajanya dari penawanan selain Khalifah kaum Muslimin, Sulaiman al-Qanuni rahimahullah.
Demikianlah kaum Muslimin sepanjang masa Khilafah mereka: tuan dunia, pemimpin kebaikan, bahkan yang terdepan dalam segala hal:
Mereka yang terdepan dalam industri. Mereka menciptakan manjaniq (ketapel raksasa), senjata berat pada masanya, dan mereka menghancurkan tembok Tha'if pada masa Rasulullah ﷺ dan Daulah mereka saat itu adalah daulah yang masih muda, di tahun kedelapan Hijriah. Mereka membuat meriam raksasa pada masa Muhammad al-Fatih rahimahullah dan menggunakannya untuk menghancurkan tembok Konstantinopel...
Mereka yang terdepan dalam ilmu pengetahuan. Keunggulan mereka dalam fisika, kimia, matematika, dan astronomi diakui oleh musuh sebelum kawan. Cukuplah sebagai saksi atas kekuatan ilmu dan industri mereka, bahwa mereka menghadiahkan sebuah jam buatan mereka kepada Charlemagne, Kaisar Frank, raja para raja Eropa saat itu. Ketika jam itu berdentang dan pintunya terbuka..., para pengawalnya, yang merupakan elit masyarakat, mengira itu buatan jin dan dipenuhi oleh jin!
Mereka yang terdepan dalam memilih dan membaiat penguasa. Pada saat para penguasa dunia saat itu bertindak layaknya dewa terhadap rakyat mereka, rakyat tidak ditanya pendapatnya tentang penguasa mereka—bagaimana mungkin mereka ditanya tentang dewa-dewa mereka?!—'Abdurrahman bin 'Auf mendatangi rumah-rumah di Madinah, bertanya kepada laki-laki dan perempuan siapa yang akan mereka pilih sebagai Khalifah: Apakah 'Ali yang mereka pilih atau 'Utsman radhiyallahu 'anhuma?
Mereka yang terdepan dalam memberikan hak kepada setiap pemilik hak, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan perempuan yang tadinya dimiliki, dijual-beli, tidak bernilai dan tidak berharga—atau seperti saat ini, hanya komoditas untuk kesenangan dan materi iklan—telah dimuliakan oleh Islam. Islam menjadikannya bebas dan mulia, memiliki dzimmah maliah (hak kepemilikan harta) yang independen, memiliki pendapat..., seorang yang alim, faqih, dan memiliki kedudukan.
Kaum Muslimin juga terdepan dalam masalah ekonomi dan kehidupan yang layak. Rakyat menikmati kepemilikan umum (milkîyah ‘âmmah), urusan mereka diurus oleh kepemilikan negara (milkîyah daulah), dan kepemilikan pribadi (milkîyah khâshshah) mereka dilindungi dan dijaga. Zakat diberikan kepada yang berhak, sehingga pada beberapa waktu, tidak ditemukan fakir miskin yang berhak menerima zakat. Sementara hari ini, ada orang yang hidup dari tumpukan sampah, bahkan di negara-negara yang menganggap diri mereka maju secara ekonomi...
Ini adalah sebagian kebaikan yang kita miliki di masa Khilafah kita. Lalu, bagaimana keadaan kita setelah Khilafah kita hilang?
Kita tercerai-berai, dan negeri kita yang satu terpecah menjadi lebih dari lima puluh kepingan, masing-masing disebut Daulah (negara) atau Duwailah (negara kecil).
Kekayaan kita dirampok. Kita adalah negeri energi ("minyak dan gas"), namun kekayaan itu ditarik ke tangan kafir penjajah untuk menerangi negeri mereka dan menggerakkan pabrik mereka dengan energinya. Sementara di negeri kita, listrik sering terputus, orang-orang hidup dengan lilin, dan pabrik kita, meskipun sedikit dan rapuh, tidak tercukupi energinya seperti pabrik di negeri Barat!
كالعيس في البَيْداء يقتلها الظما ... والماء فوق ظهورها محمول
(Bagaikan unta di padang pasir yang mati kehausan... sementara air berada di atas punggungnya)
Negeri kita dicerobohi dan menjadi rampasan bagi setiap orang yang tamak. Tanah kita dikurangi dari ujung-ujungnya, bahkan dari intinya. Palestina, bumi Isra’ Mi’raj, bumi kiblat pertama, dan tanah suci ketiga, bumi yang diberkahi, diduduki oleh Yahudi, dan mereka melakukan kerusakan dan kejahatan. Kashmir diduduki oleh Hindu, dan mereka melakukan pertumpahan darah yang suci, serta melakukan kejahatan brutal. Siprus dipisahkan dari tanah induk (Turki), dan kafir Yunani menguasai sebagian besar darinya. Timor Timur dipisahkan dari tanah induk (Indonesia). Kaukasus, dengan Chechnya dan Ingushetia-nya..., diduduki oleh Rusia, dan mereka menumpahkan darah... Kemudian Amerika menduduki Iraq dan Afghanistan dan melampaui batas dengan menyerang Pakistan... Dan masih banyak lagi... Sementara para penguasa di negeri Muslimin hanya menonton dan bersenang-senang seolah-olah apa yang terjadi berada di kepulauan Waqwaq, bukan di negeri Muslimin. Itu karena mereka telah meninggalkan Islam di belakang punggung mereka, dan mereka mencapai kekuasaan melalui penunjukan dari penjajah. Mereka adalah alat-alat penjajah dalam kehinaan dan kerendahan, pengurangan wilayah, dan penyerangan yang menimpa negeri kita...
Adapun dari segi kedaulatan dan kepemimpinan, kaum Muslimin tidak hanya turun dari posisi tuan dunia, tetapi mereka menjadi ekor umat-umat lain, tidak memiliki nilai apa pun (la fil 'airi wa la fin nafir). Persoalan mereka dibahas di luar negeri mereka, oleh tangan-tangan asing, hingga kerendahan dan kehinaan mencapai batas di mana para penguasa di negeri Muslimin bergantung pada Obama untuk menekan Yahudi agar menghentikan pembangunan permukiman! Padahal seharusnya mereka menghilangkan entitas Yahudi dengan berperang di medan tempur.
Beginilah kita dulu, dan beginilah kita sekarang. Adakah jalan untuk perbaikan?
Wahai para ulama yang mulia:
Urusan ini tidak akan diperbaiki kecuali dengan apa yang memperbaiki awalnya, yaitu kembalinya Khilafah Rasyidah ‘ala minhajin nubuwwah (di atas metode kenabian) di negeri-negeri Muslimin. Ini adalah masalah mendasar (mashiriyyah) kaum Muslimin. Dengannya mereka akan mulia dan meraih kemenangan di dua negeri (dunia dan akhirat), dengan izin Allah. Tanpanya, mereka akan terhina dan menjadi seperti anak yatim di meja makan orang-orang tercela (al-li’âm). Perbaikan urusan Ummah adalah dengan kembalinya Khilafah Rasyidah ini, dan bai’at kepada Khalifah Rasyid, yang akan menyatukan umat Islam, menegakkan keadilan, dan menyebarkan kebaikan. Dengan demikian, setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, akan hidup dalam kelapangan, dalam keamanan dan ketenangan, menjadi hamba Allah, kuat karena Rabbnya, mulia karena agamanya, tidak takut celaan pencela dalam urusan Allah. Pada saat itu, kaum Muslimin akan meraih kebaikan bumi dan kebaikan langit. Bumi akan mengeluarkan kekayaannya, dan langit akan menurunkan kebaikannya, ( وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ) (Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi).
Wahai para ulama yang mulia:
Mendirikan Khilafah bukan hanya masalah mendasar karena ia adalah sumber kemuliaan kaum Muslimin, rahasia kekuatan dan kekukuhan mereka semata, tetapi karena ia adalah fardhu (kewajiban), sungguh suatu kewajiban, dari awal hingga akhir. Ia adalah tali penyelamat bagi Muslim dari kematian jahiliyyah. Rasulullah ﷺ bersabda: « مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً » (Barangsiapa melepaskan tangannya dari ketaatan, ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah (alasan), dan barangsiapa meninggal dunia sementara di lehernya tidak ada bai’ah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah). HR Muslim dari jalur Abdullah bin Umar. Siapa yang tidak membaiat Khalifah ketika Khalifah itu ada, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah. Dan siapa yang tidak bekerja untuk mewujudkan Khalifah agar ia bisa membaiatnya, jika Khalifah belum ada, maka ia juga mati dalam keadaan mati jahiliyyah. Karena hadits yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ datang dengan lafazh umum di dua tempat, yaitu "barangsiapa meninggal dunia (man mâta)" dan lafazh "bai'ah" (bai'atun). Hal ini karena “man” termasuk sighah al-‘umûm (bentuk yang menunjukkan keumuman), sehingga mencakup setiap Muslim hingga hari kiamat. Dan karena kata “bai’ah” adalah nakirah dalam konteks nafi (peniadaan), maka ia mencakup bai'ah kepada Khalifah jika ia ada, dan bai’ah kepada Khalifah yang harus diupayakan keberadaannya jika ia tidak ada. Dalam semua kondisi ini, jika seorang Muslim meninggal dunia sementara di lehernya tidak ada bai’ah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah, yang menunjukkan betapa besar dosanya dalam masalah ini.
Para Sahabat ridhwanullahi ‘alaihim memahami hal itu. Mereka sibuk membaiat Khalifah Rasulullah ﷺ sebelum mereka menguburkan jenazah Rasulullah ﷺ, padahal menguburkan mayat adalah fardhu. Akan tetapi, para Sahabat melihat bahwa kewajiban mengangkat Khalifah lebih utama daripada kewajiban menguburkan mayat. Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin pagi, dan jenazahnya tetap belum dimakamkan pada malam Selasa dan siang Selasa sampai kaum Muslimin selesai membaiat Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, yaitu Bai'at al-In'iqad di Saqifah pada hari wafatnya ﷺ, dan Bai'at ath-Tha'ah di Masjid pada hari Selasa. Kemudian Rasulullah ﷺ dimakamkan pada tengah malam, malam Rabu. Artinya, pemakaman Rasulullah ﷺ ditunda hingga Abu Bakar dibaiat, baik bai'at in'iqad maupun bai'at tha'ah. Hal ini menunjukkan pentingnya mewujudkan Khalifah dan membaiatnya.
Wahai para ulama yang mulia:
Islam tanpa Daulah tidak mungkin diterapkan secara menyeluruh, karena hukum-hukumnya tidak mungkin diterapkan tanpa Khalifah. Hudud tidak akan ditegakkan, futuhât (penaklukan) tidak akan dibuka, dan bîdhah al-Islam (keutuhan Islam) tidak akan terpelihara kecuali dengan Imam, yaitu Khalifah. Benarlah sabda Rasulullah ﷺ: « وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ » (Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya). Muttafaq 'alaih. Pentingnya Daulah bagi Islam telah tampak di hadapan para Sahabat ridhwanullahi ‘alaihim. Ketika Amirul Mukminin Umar radhiyallahu 'anhu mengumpulkan mereka untuk menetapkan tanggal yang akan mereka jadikan sebagai penanggalan, mereka berdiskusi untuk mencari peristiwa besar yang akan menjadi permulaan penanggalan. Ada yang mengusulkan kelahiran Rasulullah ﷺ, ada yang mengusulkan kenabian Rasulullah ﷺ, dan ada pula yang mengusulkan peristiwa Hijrah. Kemudian Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Mari kita jadikan penanggalan dari tanggal Hijrah, karena di dalamnya terdapat Daulah kaum Muslimin, dan kemuliaan mereka..." Maka para Sahabat menyetujuinya, padahal kelahiran Rasulullah ﷺ adalah peristiwa agung, dan kenabian Rasulullah ﷺ juga peristiwa agung, tetapi para Sahabat memilih Hijrah dan berdirinya Daulah Islam sebagai permulaan tahun Hijriah.
Wahai para ulama yang mulia:
Hizbut Tahrir telah menyadari bahwa Khilafah adalah masalah mendasar bagi kaum Muslimin, dan mendirikannya adalah fardhu, sungguh suatu fardhu. Oleh karena itu, Hizbut Tahrir telah bekerja untuk mendirikan Khilafah, dan masih terus melakukannya, sejak setengah abad yang lalu. Selama itu, ia menghadapi gangguan, penangkapan, penjara, dan penyiksaan yang bahkan menyebabkan syahidnya sejumlah pemudanya di beberapa negeri Islam. Meskipun demikian, ia tetap teguh pada kebenaran, tidak takut celaan pencela dalam urusan Allah, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, jujur, dan ikhlas dengan izin-Nya. Hingga, dengan izin Allah, ia berhasil menjadikan Khilafah sebagai opini umum di kalangan kaum Muslimin dan tuntutan nyata bagi mereka, meskipun ada segala bentuk kebohongan dan makar dari kaum kafir dan agen-agen mereka. ( وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ ) (Sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar, padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya).
Selanjutnya, Khilafah kini mulai terlihat di hadapan mata Hizb, dan kami sungguh berharap kepada Allah SWT untuk memuliakan kami agar kami termasuk dari tentaranya dan orang-orang yang menegakkan urusannya, sehingga kami meraih kemenangan yang besar.
Wahai para ulama yang mulia:
Kami mencintai kebaikan bagi kami dan bagi Anda sekalian. Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: « لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُ لِنَفْسِهِ » (Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri). Kami ingin Anda sekalian berbagi keutamaan agung ini bersama kami, dengan bekerja untuk mendirikan Khilafah. Siapa yang lebih utama daripada para ulama dalam menunaikan kewajiban yang agung ini? Sesungguhnya seorang alim yang bertakwa dan suci lebih berhak dan layak untuk urusan ini. Posisi mereka adalah di barisan terdepan dalam setiap lokasi kebaikan. Oleh karena itu, kami tidak hanya ingin mengatakan kepada Anda sekalian, "Bantulah kami, dukunglah kami, dan tolonglah kami," tetapi kami mengatakan kepada Anda sekalian, di atas itu, sebelum itu, dan setelah itu, "Bekerjalah bersama kami dan berbagilah kebaikan ini bersama kami." Sesungguhnya kami yakin dengan pertolongan dan bantuan Allah, dan semakin dekatnya terbit fajar Khilafah yang baru. Sungguh, kemuliaan Islam dan kaum Muslimin, dengan izin Allah, tidak jauh dari kita. Ini pasti akan terjadi, dengan izin Allah, sebagai pembenaran atas janji-Nya SWT kepada hamba-hamba-Nya yang shalih: ( وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون ) (Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik). Dan sebagai realisasi kabar gembira dari Rasul-Nya ﷺ tentang kembalinya Khilafah setelah mulkan jabriyah (kekuasaan diktator) yang sedang kita jalani. Ahmad meriwayatkan dari jalur Hudzaifah bin al-Yaman, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: « تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعَهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعَهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ » (Akan ada kenabian di antara kalian selama Allah menghendakinya ada, kemudian Dia mengangkatnya jika Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah (di atas metode kenabian), dan ia akan ada selama Allah menghendakinya ada, kemudian Dia mengangkatnya jika Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada mulkan ‘âdhdhân (kekuasaan yang menggigit/otoriter), dan ia akan ada selama Allah menghendakinya ada, kemudian Dia mengangkatnya jika Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada mulkan jabrîyah (kekuasaan diktator), dan ia akan ada selama Allah menghendakinya ada, kemudian Dia mengangkatnya jika Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Kemudian beliau diam).
Sebagai penutup, saya memohon kepada Allah SWT agar muktamar Anda sekalian ini menjadi mukadimah bagi terbitnya fajar Khilafah, sehingga bumi bersinar dengan kemuliaan dan kekuatan kaum Muslimin, kembalinya Ummah mereka sebagai sebaik-baik Ummah yang dilahirkan untuk manusia, dan kembalinya Daulah mereka sebagai Daulah pertama di dunia dalam kebaikan dan keberkahan, dalam hukum dan keadilan, dalam industri dan ilmu pengetahuan, serta dalam stabilitas dan keamanan:
( وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ ) (Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang).
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh