Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Yurisprudensi

Pidato Syekh yang Mulia Atha' bin Khalil Abu ar-Rasytah mengenai Hasil Pemantauan Hilal Ramadan Tahun 1434 H

July 08, 2013
2358
استمع للمقال

Kepada saudara-saudara pengemban dakwah yang tulus dan ikhlas...

Dan kepada seluruh kaum Muslim di mana pun berada di muka bumi ini...

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS al-Baqarah [2]: 183)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

"Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu." (QS al-Baqarah [2]: 185)

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Abu al-Qasim SAW bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

"Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Jika penglihatan kalian terhalang, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari." (HR Bukhari)

Diriwayatkan pula oleh Muslim dari Abu Hurairah RA, dengan riwayat bahwa Nabi SAW bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعَدَدَ

"Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Jika penglihatan kalian terhalang, maka sempurnakanlah hitungannya." (HR Muslim)

Setelah melakukan pemantauan hilal Ramadan yang diberkati pada malam ini, malam Selasa, maka tidak terbukti adanya rukyatul hilal secara syar'i. Oleh karena itu, besok Selasa adalah penyempurna bulan Sya'ban insya Allah, dan lusa hari Rabu adalah hari pertama bulan Ramadan yang diberkati tahun 1434 H, yang bertepatan dengan tanggal 10 Juli 2013 M.

Kami memohon kepada-Nya SWT agar menerima ibadah puasa dan salat malam dari kaum Muslim, serta mengampuni dosa-dosa kita semua yang telah lalu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang melakukan salat malam pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari dan Muslim)

Wahai saudara-saudaraku yang mulia, sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan puasa Ramadan pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriah. Ramadan adalah bulan di mana Allah menurunkan Al-Qur'an:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)." (QS al-Baqarah [2]: 185)

Sebagaimana Ramadan juga merupakan bulan di mana Allah memuliakan umat ini dengan kemenangan dan penaklukan yang nyata. Perang Badar al-Kubra terjadi pada tanggal 17 Ramadan, di mana kaum musyrik Makkah mengalami kekalahan besar... Kemudian terjadi pertempuran-pertempuran menentukan lainnya di bulan mulia ini, mulai dari Penaklukan Makkah (Fathu Makkah) pada tanggal 20 Ramadan tahun 8 H, hingga Pertempuran al-Buwayb (dekat kota Kufah saat ini) yang merupakan Yarmuk-nya Persia, di mana kaum Muslim menang di bawah kepemimpinan al-Mutsanna pada tanggal 14 Ramadan tahun 31 H. Kemudian Penaklukan Amorium (Fathu 'Amurriyah) di bawah kepemimpinan al-Mu'tashim pada tanggal 17 Ramadan tahun 223 H, dan Pertempuran Ain Jalut di mana kaum Muslim mengalahkan Tartar pada tanggal 25 Ramadan tahun 658 H, serta berbagai kemenangan lainnya di bulan mulia ini...

Demikianlah, puasa digandengkan dengan Al-Qur'an al-Karim yang tidak ada kebatilan di dalamnya, baik dari depan maupun dari belakang... Puasa digandengkan dengan penaklukan dan kemenangan... Puasa digandengkan dengan jihad... Puasa digandengkan dengan penerapan hukum-hukum Allah... Setiap orang yang memiliki penglihatan dan mata hati menyadari bahwa hukum-hukum Allah SWT tidak terpisahkan satu sama lain, baik itu ibadah, jihad, muamalah, akhlak, perilaku, maupun hudud dan jinayat... Semuanya berasal dari sumber cahaya yang sama. Barangsiapa yang merenungkan ayat-ayat Al-Kitab al-Karim akan mendapati hal itu dengan sangat jelas, dan hal ini juga tampak nyata dalam ayat-ayat puasa serta ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Berikut penjelasannya:

Allah SWT menurunkan ayat-ayat puasa dalam Surah al-Baqarah - Juz 2 pada bagian kedua yang dimulai dengan firman-Nya SWT:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ...

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi..." (QS al-Baqarah [2]: 177)

Sampai firman-Nya SWT:

أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

"Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya." (QS al-Baqarah [2]: 202)

Dengan merenungkan ayat-ayat ini, tampak jelas bahwa ia mencakup hukum-hukum tentang kebajikan (al-birr) dan iman, kisas, wasiat, ayat-ayat puasa, doa... serta para penguasa (al-hukkam) dan memakan harta dengan cara yang batil, kemudian berperang di jalan Allah dan haji. Maka hukum-hukum Allah itu saling berkaitan erat satu sama lain. Tidak ada perbedaan antara satu hukum dengan hukum lainnya, tidak pula antara satu kewajiban dengan kewajiban lainnya. Zat yang menjelaskan tentang ibadah adalah Zat yang sama yang menjelaskan tentang muamalah, sanksi (uqubat), politik, dan jihad. Dia juga menjelaskan tentang akhlak, makanan, pakaian, dan lainnya. Semuanya berada pada tingkat kekuatan yang sama dalam hal pelaksanaan dan keterikatan. Kewajiban dalam ibadah sama seperti kewajiban dalam muamalah, sebagaimana kewajiban dalam sanksi, dan sebagaimana kewajiban dalam pembaiatan Khalifah, jihad, serta seluruh hukum lainnya.

Tidak boleh ada pemisahan di antara hukum-hukum tersebut dalam kondisi apa pun, karena Islam adalah satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Dakwah kepadanya adalah satu untuk menerapkannya dalam negara, kehidupan, dan masyarakat. Oleh karena itu, barangsiapa yang memisahkan ayat-ayat Allah, dan menyerukan pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme), atau pemisahan agama dari politik, maka ia telah melakukan dosa besar dan kejahatan agung yang akan menyeret pelakunya pada kehinaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat.

Sebagai penutup, sesungguhnya Allah SWT telah menyebutkan tentang doa di antara lima ayat puasa dalam Surah al-Baqarah, Allah SWT berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS al-Baqarah [2]: 186)

Penyisipan di antara dua hal yang berkaitan merupakan dalil atas agungnya hal yang menyisip tersebut. Allah SWT memerintahkan puasa, kemudian memerintahkan doa, lalu menyempurnakan ayat-ayat puasa untuk mengagungkan kedudukan doa. Maka perbanyaklah doa di bulan Ramadan. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits syarif yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang dizalimi, doanya diangkat di atas awan, dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan Tuhan Azza wa Jalla berfirman: 'Demi kemuliaan-Ku, Aku pasti akan menolongmu meski setelah beberapa waktu'." Penyebutan doa di antara ayat-ayat puasa adalah indikasi dorongan untuk melakukannya di bulan puasa, penjelasan tentang keutamaannya, serta kabar gembira tentang dikabulkannya doa, karena Allah itu Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan.

Sebagai penutup dari penutup, sebagaimana kita harus bersungguh-sungguh dalam berpuasa agar Allah rida kepada kita dan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu, kita juga harus bersungguh-sungguh dalam beramal untuk melanjutkan kehidupan Islam (isti'naful hayah al-Islamiyyah) dengan menegakkan Khilafah Rasyidah agar kita menjadi orang-orang yang menang di dunia dengan menerapkan hukum-hukum Allah, bernaung di bawah panji Rasulullah SAW, panji al-Uqab, panji Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah. Kita pun berharap menjadi orang-orang yang menang di akhirat dengan izin-Nya SWT, bernaung di bawah naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Kami memohon kepada-Nya SWT agar menerima puasa dan salat malam kita di bulan mulia ini, yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Kami berharap bulan Ramadan mendatang tidak datang kecuali Khilafah Rasyidah 'ala minhajin nubuwwah telah menaungi dan memuliakan kita, serta mengembalikan umat ini menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS Ali Imran [3]: 110)

Dan hendaknya ada Khalifah di tengah-tengah kita sebagaimana sabda Nabi SAW:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ، يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ، وَيُتَّقَى بِهِ...

"Sesungguhnya seorang Imam (Khalifah) itu laksana perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya..." (HR Muslim dari Abu Hurairah RA)

Serta hendaknya Khalifah telah menumpas para thaghut di tanah Syam, menyelamatkan kaum Muslim di sana—baik orang tua, wanita, maupun anak-anak—dari kenajisan para thaghut dan orang-orang zalim... Dan kita berada di belakangnya untuk menyingkirkan semua thaghut dari tanah Islam, serta menerapkan hukum-hukum Islam di dalamnya, sehingga lenyaplah fitnah di Mesir dan selain Mesir yang diakibatkan oleh tidak diterapkannya hukum-hukum Allah SWT... Kemudian beliau memimpin kita untuk membebaskan Palestina, seluruh Palestina, dari kenajisan negara Yahudi, sehingga kembalilah al-Quds, tempat Isra' dan Mikraj Rasulullah SAW, menjadi mulia dengan Islam dan tentara Islam... Kita juga berperang di belakangnya untuk membebaskan Kashmir dan sisa negeri-negeri Muslim lainnya yang diduduki oleh kaum kafir penjajah, sehingga tidak tersisa sejengkal pun tanah Islam kecuali bernaung di bawah panji Islam.

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

"Dan pada hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS ar-Rum [30]: 4-5)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Saudara Kalian, Atha' bin Khalil Abu ar-Rasytah

Amir Hizbut Tahrir

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda